array(5) {
  [0]=>
  object(stdClass)#77 (6) {
    ["_index"]=>
    string(7) "article"
    ["_type"]=>
    string(4) "data"
    ["_id"]=>
    string(7) "3834090"
    ["_score"]=>
    NULL
    ["_source"]=>
    object(stdClass)#78 (9) {
      ["thumb_url"]=>
      string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2023/08/29/129-1974-21-ingat-kursi-merahjp-20230829120545.jpg"
      ["author"]=>
      array(1) {
        [0]=>
        object(stdClass)#79 (7) {
          ["twitter"]=>
          string(0) ""
          ["profile"]=>
          string(0) ""
          ["facebook"]=>
          string(0) ""
          ["name"]=>
          string(5) "Ade S"
          ["photo"]=>
          string(54) "http://asset-a.grid.id/photo/2019/01/16/2423765631.png"
          ["id"]=>
          int(8011)
          ["email"]=>
          string(22) "ade.intisari@gmail.com"
        }
      }
      ["description"]=>
      string(142) "Suatu hari Jeanne berencana untuk datang ke rumah suaminya demi meminta tunjangan bagi anak-anaknya. Sejak itu, ia tidak pernah kembali lagi.
"
      ["section"]=>
      object(stdClass)#80 (8) {
        ["parent"]=>
        NULL
        ["name"]=>
        string(8) "Kriminal"
        ["show"]=>
        int(1)
        ["alias"]=>
        string(5) "crime"
        ["description"]=>
        string(0) ""
        ["id"]=>
        int(1369)
        ["keyword"]=>
        string(0) ""
        ["title"]=>
        string(24) "Intisari Plus - Kriminal"
      }
      ["photo_url"]=>
      string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2023/08/29/129-1974-21-ingat-kursi-merahjp-20230829120545.jpg"
      ["title"]=>
      string(13) "'Ingat Kursi'"
      ["published_date"]=>
      string(19) "2023-08-29 12:05:57"
      ["content"]=>
      string(22569) "

Intisari Plus - Suatu hari Jeanne berencana untuk datang ke rumah suaminya demi meminta tunjangan bagi anak-anaknya. Sejak itu, ia tidak pernah kembali lagi.

----------

Jeanne berkata kepada ibunya, “Pokoknya dia harus memberikan tunjangan penuh pada anak-anakku. Tiap bulan. Dia bapak mereka. Aku tidak akan kembali tanpa kepastian bahwa dia akan membayar uang nafkah untuk anak-anaknya.” Sang ibu hendak mencegah. Ia yakin bahwa itu tidak mudah dan mustahil. Namun ia malah berkata, “Jaga dirimu baik-baik!”

Suatu nasihat yang baik namun tidak bermanfaat. Jeanne meninggalkan ibunya dan berangkat menerobos bagian Paris yang dikuasai tentara Jerman. Hari itu tanggal 28 Maret 1944.

Jeanne tidak kembali sorenya. Sang ibu tidak dapat tidur malam itu. Ia telah mengganti pakaian main kedua cucunya dengan piama. Sebagai orang yang tahu benar dengan situasi di kota, ibu Jeanne khawatir jangan-jangan anaknya ditangkap Gestapo dan dimakan hidup-hidup.

“Siapa namanya, Bu, putri Anda? Nama setelah dia menikah maksud kami,” tanya polisi keesokan harinya. Setelah Jeanne tidak kembali setelah ditunggu semalaman, ibunya pagi-pagi sekali melaporkan perihal masalah itu ke polisi.

“Putri Jeanne de Bernardi de Sigoyer,” jawabnya. Polisi sangat terkesan oleh gelar putri di depan nama Jeanne. Gelar itu mungkin menyiratkan bahwa mungkin sang Putri ketika itu bersama dengan Pangeran. Kecuali kalau, misalnya, ia berbohong pada ibunya dan sebenarnya malahan pergi dari Paris.

“Mengapa dia pergi dari Paris?” tanya sang ibu. 

“Menghindari Gestapo, misalnya,” jawab polisi mengemukakan kemungkinan lain.

“Tetapi mengapa dia mesti meninggalkan anak-anaknya?” Pertanyaan ibu Jeanne tidak berjawab ketika meninggalkan pos polisi.

Tidak lama kemudian polisi sudah berhasil mendapat kepastian bahwa Jeanne tidak ditangkap oleh Gestapo atau pihak keamanan Prancis. Jadi Jeanne hilang begitu saja, singkatnya.

Tetapi detektif-detektif polisi Prancis mendatangi juga kediaman sang Pangeran. Besar dan luas, kediamannya itu berada di barat daya kota; di pangkal Boulevard de Bercy, tidak jauh dari Gare de Lyon. Menghadapi petugas-petugas polisi, sang Pangeran sangat ramah. Jawaban-jawabannya lancar. Tidak satu hal pun memberikan kesan bahwa ada yang disembunyikannya.

Kata Pangeran Alain de Bernardi de Sigoyer, dia dan istrinya tidak dapat hidup bersama dengan bahagia. Istrinya baru mengajukan permohonan pada pengadilan untuk bercerai. Sang Pangeran tidak menyetujuinya, meskipun dia juga tidak melarang atau menghalang-halanginya. Memang benar istrinya kemarin datang ke kediamannya. Ia menghampirinya untuk minta tunjangan nafkah bagi kedua anak mereka yang kini ada bersama ibu Jeanne. Sang Pangeran mengatakan dia tidak sanggup mengurusi anak-anaknya dari Jeanne.

Sang Putri kemudian pergi entah ke mana, kalau dia tidak langsung pulang kepada anak-anaknya. Polisi menyimpulkan bahwa sang Pangeran mengatakan sebenarnya. Pokoknya, apa pun yang terjadi pada diri Putri Jeanne, bukan Pangeran Alain-lah yang bertanggung jawab. Polisi sudah berniat untuk mencari sisik melik lenyapnya Jeanne ke arah lain. Namun kemudian diperoleh kisikan bahwa Pangeran Alain Jules Antoine Romain Gaspard de Bernardi de Sigoyer sebenarnya tidak berhak atas gelar kebangsawanan itu. Dia penipu dan kolaborator musuh.

Salah satu segi yang menguntungkan bagi profesinya ialah Alain sangat peka terhadap detail. Misalnya, untuk menyembunyikan tampang mukanya yang persegi dan kasar seperti petani dusun antik, Alain sengaja menumbuhkan cambang dan janggut lancip.

Sejak usia 17 tahun, Alain berurusan dengan polisi dan keluar masuk pengadilan. Namun bukan penjara. Itu karena setiap kali diadili dan divonis bersalah, Alain berhasil melarikan diri. Ia bahkan keluar dari Prancis, hingga ke Jerman, Austria, Rumania, dan Bulgaria. Alain menyamar sebagai apa saja, dari kuli, jongos hotel, sampai profesor muda dari sebuah lembaga media di Strasbourg.

Dunia Alain memang dipenuhi dengan tipuan dan khayal. Sekali Alain menyatakan dirinya sebagai keturunan langsung dari advokat yang membela suami Marie Antoinette. Tetapi yang benar ialah bahwa kaum de Bernardi berasal dari keluarga kreol yang mendiami pulau jajahan Prancis Reunion di Lautan Hindia. Alain sendiri seorang petualang yang kelicikan akalnya sejalan dengan kebejatan akhlaknya. Alain seorang manusia sadis pula.

Praktik menyiksa korban-korbannya sudah dilakukan paling tidak sejak tahun 1938. Awal tahun itu seorang lelaki yang mengaku bernama Petrov Gantcheff, dari Bulgaria, melapor pada polisi. Dia baru saja berhasil melarikan diri dari sebuah rumah pertanian di mana dia disiksa dengan kejam. Saat datang melapor, ia telanjang bulat kecuali tangannya yang masih mengenakan borgol.

Katanya kepada polisi, dia mula-mula pasang iklan dikoran untuk menjual mobilnya. Petrov diundang ke sebuah rumah pertanian. Ia mengira undangan tersebut untuk membicarakan masalah jual beli tentunya. Tetapi di rumah itu dia justru dipukuli oleh dua orang lelaki dan seorang wanita. Ketiganya merupakan tim penyiksa. Gantcheff ditelanjangi (ketika itu musim dingin) dan dirantai pada sebuah kursi di ruang bawah tanah. Dengan ancaman senjata api dan besi pengumpil, Gantcheff dipaksa untuk menulis surat pada istrinya bahwa dia pergi ke luar negeri. Tetapi karena surat itu mengandung janji-janji untuk kepentingan salah satu anggota tim, Gantcheff bersikeras tidak mau menandatangani suratnya. 

Akibatnya, dia dipukuli habis-habisan oleh kedua laki-laki penyiksa. Ketika kedua laki-laki itu pergi dari rumah, Gantcheff berhasil melepaskan diri dari kursi. Tetapi untuk bisa melarikan diri, dia terpaksa memukul wanitanya hingga pingsan.

Polisi lalu menggerebek rumah pertanian itu dan menangkap penghuni-penghuninya. Pemimpin trio penyiksa itu de Bernardi. Sedangkan laki-laki yang satu lagi bernama Lucien Richard. Dia ini ternyata pelarian dari tempat penampung orang-orang yang sakit jiwa. Si wanita katanya pembantu rumah tangga di sana. Menunggu pengusutan lebih lanjut, ketiganya ditahan di dalam rumah.

Di dalam rumah itu juga polisi menemukan sejumlah barang milik seorang turis Amerika yang ada di dalam daftar orang hilang. Nama orang Amerika itu Rothumil Richnowski, dilaporkan hilang sejak November sebelummya. Sementara itu polisi mendapat laporan dari seorang wanita Polandia yang pernah berkencan dengan Richnowski. Wanita itu pernah mendapat surat yang ditanda tangani oleh Richnowski. Karena tulisannya menurut wanita Polandia tersebut bukan tulisan Richnowski, ia tidak mau memberikan uang yang diminta oleh surat tersebut.

Di rumah yang penuh rahasia di Lembah Chevreuse itu polisi juga menemukan sebuah lubang yang baru saja digali di lantai ruang bawah tanah. Dari dasarnya, polisi menemukan sejumlah kaleng bekas yang karatan dan sampah dapur. Ada laporan bahwa beberapa hari sebelumnya de Bernardi membeli asam belerang. Tetapi akan digunakan untuk apa, itu tidak diketahui. Bernardi sendiri pernah bercerita kepada seorang teman wanitanya, bahwa dia sudah mengubur turis Amerika tersebut di atas. Tetapi mengingat begitu banyaknya khayalan dalam cerita-cerita de Bernardi, cerita penguburan turis Amerika itu tidak dapat dicek kebenarannya. De Bernardi kemudian dipindahkan ke sebuah penampungan di Clermont, di tengah-tengah antara Paris dan Amiens.

4 bulan kemudian, bersama penghuni lainnya, de Bernardi berhasil melarikan diri dari tahanan dan menuju sebuah tempat parkir mobil. Keduanya ditunggu oleh seorang wanita muda yang duduk di belakang kemudi mobil yang sudah dinyalakan mesinnya. Penjaga-penjaga tempat penampungan mengatakan bahwa sehari sebelumnya de Bernardi dikunjungi oleh seorang wanita.

Hari berikutnya de Bernardi mengatakan kepada wartawan, dia melarikan diri dari tempat penampungan untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan masih waras. Menurut de Bernardi, mobilnya dikendarai oleh seorang laki-laki yang menyamar sebagai wanita.

“Saya akan terus ke Inggris atau ke Swiss,” kata de Benardi. Si wartawan belum sempat memberikan suatu reaksi apa pun ketika de Bernardi kabur kembali dengan mobilnya.

Dalam bulan-bulan pertama setelah pecah Perang Dunia II, de Bernardi memang terus dibayang-bayangi oleh Kepolisian Prancis. Tetapi dengan jatuhnya Prancis, de Bernardi muncul kembali di Paris. Kali ini ia menyamar sebagai pedagang anggur dan minuman untuk tentara pendudukan yang kantongnya tebal-tebal. Di antara pedagang-pedagang besar anggur Prancis, de Bernardi menonjol karena lagaknya bak orang yang mempunyai gelar kebangsawanan. Ia mengaku memiliki sejumlah puri dan ladang anggur.

Lewat de Bernardi, pedagang-pedagang anggur Prancis menemukan perantara yang menjual produk mereka kepada orang-orang Jerman. Tentu saja, orang-orang Jerman itu mau membeli dengan harga mahal. Sampai-sampai de Bernardi perlu membuka toko dan gudang anggur yang besar di Paris. Uang mengalir ke rekening de Bernardi secepat kotak dan tahang meninggalkan gudang-gudang anggur. 

Hingga di sinilah isi berkas-berkas polisi yang digali untuk pencarian wanita yang kawin dengan Pangeran de Bernardi. April dan Mei 1944 berlalu. Di bulan Juni, terjadi perebutan daratan Normandia oleh pasukan-pasukan Sekutu. Baru 2 bulan kemudian tank-tank menderu memasuki Paris kembali.

Dalam 2 bulan itu sang Pangeran bekerja keras untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang mulai berubah dalam waktu singkat. De Bernardi berdiri di tepi Sungai Seine untuk mengelu-elukan barisan tank. Tetapi hari itu juga de Bernardi ditangkap.

Hari belum usai saat de Bernardi dinyatakan sebagai kolaborator dan pengkhianat. Ia dijebloskan ke dalam Penjara Fresnes. Mungkin penghuni penjara lainnya akan berputus asa. Tetapi de Bernardi yang pernah berpindah-pindah penampungan itu tidak patah semangat. Hari-hari itu dihabiskannya dengan menulis surat-surat yang panjang. Semua surat-surat itu dibaca polisi. Tampaknya cukup bersih dan tidak bersalah. Kecuali satu.

Surat ini ditulis oleh de Bernardi 8 bulan setelah penangkapannya. Alamatnya kepada Nona Irene Lebeau yang pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga sebelum Jeanne pergi dari rumah de Bernardi. Surat itu minta agar Nona Lebeau mengurusi barang-barang di rumah de Bernardi dan bagaimana seharusnya barang-barang itu diurus. Mengenai beberapa pakaian yang masih tergantung di lemari, de Bernardi menambahkan catatan kecil, bunyinya, “Awas dan ingat kursi merah!”

Detektif-detektif mendatangi rumah Nona Lebeau. Mereka yakin bahwa ia pasti paham mengenai catatan kecil itu. Nona Lebeau menyangkal. Tetapi ketika ditangkap dan dibawa ke markas polisi, Nona Lebeau menyatakan bersedia bekerja sama dan mengungkapkan segala pengalamannya selama bergaul dengan de Bernardi. Padahal polisi belum membeberkan soal tuduhan mereka pada Nona Lebeau.

Nona Lebeau tetap tinggal di markas polisi di Quaides Orfevres ketika petugas-petugas polisi memeriksa gudang anggur de Bernardi di Paris. Mula-mula mereka menemukan beberapa tong dan tahang. Isinya bukan anggur melainkan tanah yang berbau lumut. Polisi yakin bahwa tanah itu berasal dari penggalian semacam sumur atau lubang. Tetapi tanahnya ternyata tidak semuanya bisa dipakai untuk menimbun sumur itu lagi.

Tentu karena sumur itu pasti telah digunakan untuk menyembunyikan sesuatu. Polisi segera mencari bekas sumur. Sumur itu berhasil ditemukan di tempat yang sama. Polisi menemukan kain-kain yang ternyata membungkus sebuah mayat yang sudah hampir menjadi tanah. Karena sudah dalam keadaan terurai, maka hanya dapat diketahui bahwa itu mayat seorang wanita.

Penyelidikan lebih lanjut pada pakaian-pakaian yang sudah compang-camping juga mengungkapkan bahwa itu adalah mayat seorang wanita. Kemudian polisi mendapat kepastian bahwa itu adalah pakaian yang dikenakan oleh Jeanne de Bernardi ketika dia meninggalkan rumah ibunya pada tanggal 28 Maret 1944.

Sambil menggigit-gigit kuku jarinya, Nona Irene Lebeau mengatakan kepada pemeriksanya bahwa dia adalah kekasih de Bernardi. Mereka berhubungan sejak sebelum Jeanne meninggalkan rumah de Bernardi dan membawa anak-anak. Diceritakan pula bagaimana kejamnya Pangeran palsu itu dari waktu ke waktu menyiksa istrinya.

Lalu pada tanggal 28 Maret 1944, Jeanne de Bernardi datang di rumah de Bernardi. Ia minta tunjangan nafkah bagi kedua anaknya yang dirawat oleh ibu Jeanne. Nona Lebeau menyaksikan bagaimana kedua suami istri itu bertengkar.

“Jeanne duduk di kursi merah,” kata Nona Lebeau pada detektif-detektif yang mendengarkan dengan saksama. “Tiba-tiba Alain bangkit dari duduknya dan pergi ke belakang kursi. Ia melilitkan seutas tali ke leher Jeanne. Tali lalu ditarik dengan keras. Matilah Jeanne karena tercekik.”

Nona Lebeau mengatakan dia sudah berusaha mencegah perbuatan Alain itu.

“Tetapi saya tidak kuasa melarang dia. Tidak seorang pun bisa mencegah dia. Ketika saya mencobanya juga, dia mengatakan akan membunuh saya.”

“Mengapa Alain membunuh Jeanne?” tanya polisi.

“Entahlah,” kata Nona Lebeau. “Tetapi saya rasa, agar Jeanne tidak dapat menuntut bagian warisan untuk anak-anak mereka apabila pengadilan menjatuhkan keputusan perceraian.”

Menurut hukum Prancis, warisan itu besarnya 50%. Dengan demikian tali di leher Jeanne gunanya untuk mencegah jatuhnya kekayaan ratusan juta frank ke tangan Jeanne dan anak-anak mereka.

“Tetapi mengapa Jeanne menuntut perceraian?”

Nona Lebeau yang berusia 23 tahun itu memerah pipinya. “De Bernardi suka tidur dengan saya.”

Alain de Bernardi lalu dipanggil dari Penjara Fresnes. Apa saja yang diperbuatnya dalam masa perang bermunculan di koran-koran Prancis. De Bernardi seorang kolaborator, pengkhianat bangsa, dan manusia sadis. Khalayak ramai yakin bahwa turis Amerika itu pasti dibunuh dan disingkirkan oleh de Bernardi. Pasalnya, dia itu tidak pernah tampak hidup kembali, seperti Jeanne.

Irene Lebeau sendiri digambarkan koran-koran Prancis sebagai perempuan sundal yang merusak kebahagiaan hidup wanita Prancis yang terhormat. Koran menulis jika ia jatuh ke tangan de Bernardi yang bejat akhlaknya. Mengenai pembunuhan Jeanne, Nona Lebeau dicap sebagai pembantu yang terlibat dalam perbuatan terkutuk de Bernardi, yakni membunuh ibu dari anak-anaknya.

Natal 1946 sudah di ambang pintu ketika de Bernardi dan Nona Lebeau diajukan ke pengadilan. Nona Lebeau menjelaskan bagaimana dia pada tahun 1940 sebagai gadis desa berusia 17 tahun diterima sebagai pembantu rumah tangga de Bernardi oleh Jeanne. Ia membantu mengurusi anak-anak majikannya. 3 tahun kemudian lahir seorang de Bernardi lagi. Bukan anak Jeanne, melainkan anak Nona Irene.

Ketika itulah Jeanne pergi membawa anak-anaknya dari Alain de Bernardi dan pindah ke rumah ibunya. Ia mulai menghubungi pengacara-pengacara untuk membantu menguruskan perceraiannya dengan de Bernardi.

Cerita Irene Lebeau didengarkan dengan saksama oleh segenap hadirin yang memenuhi ruang pengadilan. Mata hadirin kadang-kadang tertuju pada sebuah kursi bercat merah yang merupakan saksi bisu kematian Jeanne de Bernardi.

“Tuan de Bernardi duduk menghadapi nyonya yang duduk di kursi merah itu,” kata Irene Lebeau lirih tapi terdengar jelas dalam pengadilan, “Tiba-tiba Tuan bertanya, sambil mengacungkan jarinya pada saya, kepada Nyonya: apakah saya kekasih kawannya. Jawab Nyonya, ‘Saya tidak mau mengatakannya.’

“Lalu, masih sambil tersenyum-senyum tuan mengeluarkan sepotong kain dari sakunya dan berkata kepada Nyonya, ‘Bagaimana seandainya engkau kucekik karena hal ini?’ Jeanne membiarkan Alain melilitkan kain itu di lehernya. Saya melonjak bangkit hendak menghampirinya. Tetapi Tuan menolak, menjauhkan saya, dan tiba-tiba ikatan di keliling leher Jeanne dikunci. Kain ditarik kuat-kuat, sambil menekankan lututnya di belakang sandaran kursi. Tangan nyonya terkulai. Tamatlah sudah. Tuan berkata kepada saya, ‘Engkau juga akan saya buat jadi begini, kalau engkau mengatakan sesuatu mengenai hal ini.’ Saya lalu membantunya membawa jenazah Nyonya ke sebuah truk kecil.”

Demikian cerita Nona Lebeau yang terus dipegangnya hingga akhir. Berlainan dengan cerita terdakwa lainnya.

De Bernardi dibela oleh Jacques Isorni yang juga membela Marsekal Petain.

“Perempuan petani inilah yang membunuh istriku,” demikian kata de Bernardi dengan tegas. “Jeanne tidak mati tercekik seperti kata dokter-dokter, melainkan ditembak oleh dia dari samping saya. Irene Lebeau membunuh istri saya. Dia menggunakan revolver yang disembunyikan dalam anjing-anjingan dari kain. Kalau kalian perlu bukti, temukanlah pelurunya dalam tubuh istriku.”

De Bernardi menceritakan, bagaimana sebenarnya (sesudah dia setuju bercerai) keduanya berniat rujuk kembali. Keadaan bahagia ini terganggu oleh kehadiran Irene Lebeau di rumah de Bernardi. Kedua wanita itu, menurut de Bernardi, mulai berselisih memperebutkan de Bernardi. De Bernardi beranjak mau pergi meninggalkan keduanya, tetapi diikuti oleh Lebeau. Untuk itu Lebeau mendapat tamparan keras di mukanya dari Jeanne. Tiba-tiba Lebeau mengeluarkan revolver dan Jeanne ditembaknya. Jenazah Jeanne kemudian disingkirkan oleh Lebeau dengan bantuan seorang iparnya yang bernama Heyraud. Entah dibawa ke mana jenazah Jeanne oleh keduanya.

Hakim ketua bertanya pada Nona Lebeau, apakah ada yang hendak dikatakannya lagi. Nona Lebeau menjawab tiga patah kata, “Itu semuanya bohong!”

Mendengar itu de Bernardi meloncat dari tempat duduknya sambil berteriak, “Hei, akuilah, akuilah saja! Kamu tahu pasti siapa yang benar!” De Bernardi lalu jatuh pingsan.

Perkembangan pengadilan selanjutnya ialah menampilkan saksi untuk menyatakan bahwa Irene Lebeau seorang perempuan jalang. Seorang serdadu bernama Marcel Cloy mengatakan bahwa Nona Lebeau pernah melahirkan bayi dan dia sendirilah bapak bayi itu. Mereka bermaksud menikah, tetapi Nona Lebeau senantiasa menunda-nunda pernikahan itu.

“Mengapa?” tanya pengadilan. 

“Karena de Bernardi menghendaki demikian,” kata Nona Lebeau. 

Setelah itu pembela masing-masing mempersoalkan kursi merah yang merupakan saksi bisu selama berlangsungnya pengadilan. Pembela de Bernardi menyatakan bahwa sandaran kursi terlalu rendah, sehingga de Bernardi tidak mungkin dapat berbuat seperti dikemukakan oleh Nona Lebeau. Untuk membuktikan, pembela mengundang panitera supaya duduk di kursi merah. Kemudian lehernya diikat oleh pembela.

Pembela Nona Lebeau langsung menangkis pembelaan de Bernardi. Dia berdiri di belakang kursi merah, memegang tali di leher panitera yang segera mulai merasa kesakitan sambil berkata, “Mengapa de Bernardi tidak bisa menurunkan tangannya sedikit saja?”

Sidang yang dilanjutkan hingga jauh malam itu lalu mendengarkan keterangan kedokteran forensik. De Bernardi terjebak oleh akalnya sendiri: tidak sebutir peluru pun ditemukan dalam mayat yang sudah hampir menjadi tanah. Senin 23 Desember 1946, setelah bersidang selama 30 menit, juri memutuskan bahwa de Bernardi bersalah. Irene Lebeau tidak bersalah.

De Bernardi dipertemukan dengan “Tuan Guillotine” di halaman Sante Prison pada tanggal 28 Mei 1947.

(LEONARD GBIBBLE)

Baca Juga: Pembunuhnya Suka Wanita Muda

 

" ["url"]=> string(56) "https://plus.intisari.grid.id/read/553834090/ingat-kursi" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1693310757000) } } [1]=> object(stdClass)#81 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3835263" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#82 (9) { ["thumb_url"]=> string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2023/08/04/informasi-melimpah-yang-membuat-20230804052613.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#83 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(5) "Ade S" ["photo"]=> string(54) "http://asset-a.grid.id/photo/2019/01/16/2423765631.png" ["id"]=> int(8011) ["email"]=> string(22) "ade.intisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(150) "Edwin L. Burdick tinggal di rumah mewah. Setelah peristiwa tragis, muncul kesaksian yang mengungkapkan kehidupannya yang penuh skandal dan amoralitas." ["section"]=> object(stdClass)#84 (8) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["show"]=> int(1) ["alias"]=> string(5) "crime" ["description"]=> string(0) "" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2023/08/04/informasi-melimpah-yang-membuat-20230804052613.jpg" ["title"]=> string(48) "Informasi Melimpah yang Membuat Polisi Kewalahan" ["published_date"]=> string(19) "2023-08-04 17:26:22" ["content"]=> string(24305) "

Intisari Plus - Edwin L. Burdick, usahawan sukses di Buffalo, New York tinggal di sebuah rumah mewah dan menjadi anggota klub-klub sosial terkemuka. Setelah peristiwa tragis, muncul laporan dan kesaksian yang mengungkapkan kehidupannya yang penuh skandal dan amoralitas.

----------

Edwin L. Burdick terkenal di kalangan atas di kota Buffalo, New York. Ia seorang usahawan yang mempunyai karier cukup gemilang.

Burdick memulai usahanya pada usia 18 tahun. Tak lama kemudian ia telah dapat mengambil oper dan memiliki sebuah badan penerbit majalah perdagangan The Roller Mill. Setelah itu ia mendirikan “The Buffalo Envelope Company” yang mempekerjakan tak kurang dari 10 orang, dan memproduksi paling sedikit 400.000 sampul tiap hari.

Dalam resepsi-resepsi kalangan terkemuka ia dan istrinya yang cantik, Alice HulI, hampir selalu diundang. Sebaliknya Mr. dan Mrs. Burdick kerap kali mengadakan pesta ramah tamah di tempat kediaman mereka di Ashland Avenue, sebuah rumah yang mewah dengan 14 kamar. Dan Burdick menjadi anggota berbagai club untuk memperluas hubungan sosial, di antaranya Elmwood Dancing Club dan Red Jacket Golf Club.

Selama 17 tahun suami istri Burdick tampaknya hidup bahagia. Sampai akhirnya pada hari Jumat tanggal 27 Februari 1903 Burdick mati terbunuh di kamarnya.

Begitu berita tentang kematiannya tersiar, banyak laporan, kesaksian-kesaksian, dan perkiraan-perkiraan disampaikan kepada polisi. Hampir semua keterangan-keterangan itu memberi gambaran bahwa kehidupan Burdick dan kawan-kawan di sekelilingnya penuh skandal dan amoralitas.

Koran-koran mengungkapkan aneka macam praktik yang menurut mereka terjadi di belakang pintu Elmwood Dancing Club dengan anggotanya terpilih dan terbatas. Para pria dan wanita yang telah kawin, berkumpul di situ untuk melewatkan waktu dalam suasana romantis, bemesra-mesraan tapi tidak perlu dengan suami atau istri mereka sendiri.

Masuknya informasi-informasi ini barangkali untuk sebagian dirangsang oleh situasi terbunuhnya Edwin L. Burdick.

Mayat Burdick ditemukan pada jam 8.30 pagi oleh ibu mertuanya, Mrs. Maria Hull yang tinggal di rumah menantunya. Segera wanita itu mengundang dokter keluarga untuk memeriksa mayat. Kemudian memberitahukan kejadian pembunuhan itu kepada polisi. Petugas resmi yang datang adalah komandan detektif Patrick V. Cusack, anak buahnya James Sullivan dan seorang dokter, Dr. John Howland.

Burdick hanya memakai hem dan celana dalam. Kepala dan mukanya menunjukkan bekas-bekas penganiayaan berat. Setelah memeriksa mayat, Dr. Howland menyatakan sebagai berikut: “Korban meninggal akibat pukulan pada kepalanya. Senjata pembunuh berupa benda pipih yang cukup berat. Saat kematian kira-kira jam 12 atau 1 malam.”

Beberapa hal dalam kamar tempat terjadinya pembunuhan menarik perhatian polisi. Di atas meja terletak dua gelas yang telah diminum, sebuah botol alkohol setengah kosong dan beberapa potong keju Camembert.

Jas dan celana Burdick terletak di atas sandaran kursi. Dalam sakunya terdapat sebuah revolver terisi peluru sedangkan dalam saku lain ditemukan sebuah dompet, yang padat berisi uang. Polisi memperoleh kesan bahwa Burdick sebelumnya sudah merasa dirinya terancam hingga merasa perlu membawa senjata api. 

Dua orang wanita pembantu rumah tangga Burdick, tak dapat memberi keterangan apapun yang berharga bagi polisi. Mereka tak tahu apakah majikannya malam itu menerima tamu di kamarnya. Ditanya soal dua gelas, minuman keras dan keju di atas meja, mereka hanya bisa menjawab, bahwa Burdick rupanya mengambil sendiri makanan itu dari dapur.

Sementara itu polisi, dapat memperoleh keterangan yang berharga dari ibu mertua korban walaupun sedikit saja. Menurut Mrs. Hull adanya gelas dan keju itu berarti bahwa Burdick malam itu pasti menerima tamu. Sebab Burdick tak pernah minum sendirian lagi pula sama sekali tak suka keju Camembert.

“Di mana Mrs, Burdick? Mengapa ia tak ada di rumah?”, tanya detektif Sullivan tanpa pikir panjang bahwa pertanyaan ini bisa menyinggung perasaan Mis. Hull.

Jawab wanita itu, sudah sejak kira-kira dua bulan Mrs. Burdick singgah di Atlantic City dan menginap di hotel Traymore. Mrs. Hull telah memberitahukan kematian Burdick kepada istrinya, yang ia harapkan segera akan datang.

Komandan Cusack tertarik pada jawaban ini, mengingat bahwa mayat Burdick ditemukan hanya dengan pakaian dalam dan di kamar terdapat minuman keras dengan dua gelas saja. Dan pertemuan berduaan ini terjadi di kamar tidur. Maka ia bertanya, mengapa Mrs. Burdick pergi. Apakah ia telah atau berniat bercerai dari suaminya, barangkali karena Burdick mempunyai seorang kekasih.

Mrs. Hull sama sekali tak memperlihatkan perasaan tersinggung mendapat pertanyaan demikian. Ia hanya menjawab tak tahu menahu soal itu dan mempersilahkan para detektif menghubungi pengacara anaknya perempuan, yaitu Mr. Arthur Reed Penneli.

Keyakinan Cusack bahwa dalam perkara pembunuhan itu pasti soal percintaan, semakin kuat karena di seluruh rumah sama sekali tak terdapat tanda-tanda yang menunjuk ke arah pencurian atau perampokan.

Apalagi Cusack menemukan sebuah foto seorang wanita molek umur tiga puluhan dengan tulisan ”Dengan iringan cinta, Gertrude". Di samping foto yang ditemukan dalam laci meja Burdick itu, para detektif menemukan pula guntingan koran terbitan beberapa minggu yang lalu berisi berita tentang perceraian seorang pengusaha kaya di Cleveland, George Warren, dari istrinya. Helen. Berita itu berakhir dengan sebuah kalimat yang menyatakan bahwa Mrs. Warren akan segera pulang ke kota asalnya, Buffalo.

Kini Cusack dan Sullivan kembali ke markas. Di sana segera menghubungi rumah Mr. Arthur Reed Pennell lewat telepon. Istrinya mengatakan bahwa Mr. Pennell sedang ke air terjun Niagara dengan mobilnya yang baru, dan barangkali menginap di Prospect Hotel. Dengan alamat hotel ini polisi kirim telegram agar Pennell pulang secepat mungkin.

Sementara itu Cusack mencari keterangan pada Charles Park, kompanyon Burdick dalam usahanya dengan “Buffalo Envelope Company”. Charles Park dengan nada penuh kejujuran menyatakan bahwa pembunuhan Burdick jelas tak ada sangkut pautnya dengan perusahaannya.

Tentang keadaan keluarga Burdick ia tak tahu banyak karena hubungan antara dia dan keluarga itu bersifat hubungan sebagai kompanyon perusahaan. Hanya ia mendengar bahwa Burdick dan istrinya akhir-akhir ini tampaknya tak begitu baik.

Lebih jauh Park menyatakan bahwa Burdick di kantornya sering mendapat kunjungan dari seorang laki-laki bernama Boland. Burdick pernah mengatakan kepada Park, bahwa hubungannya dengan Boland sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan perusahaan. “Soal pribadi, bahkan sangat pribadi”, Burdick menambahkan.

Dari rumah Park, para detektif mampir sebentar di kantor Dr. Howland untuk menanyakan, apakah pukulan keras yang mematikan Burdick itu, bisa dilakukan oleh seorang wanita. Jawab sang dokter: Tidak mustahil, sebab tulang tengkorak Burdick ternyata tak begitu keras.

Jumat sore Arthur Reed Pennell, pengacara Mrs. Burdick telah sampai di Buffalo dan segera datang di kantor polisi. Orangnya tampan, umur empat puluhan, berkumis, dagunya kokoh. Tingkah lakunya penuh kepercayaan diri, pandai bicara. Bukan tanpa sebab ia dipandang sebagai salah seorang ahli hukum yang paling cemerlang di Buffalo. 

“Saya telah mendengar tentang nasib tragis yang menimpa Burdick itu. Bantuan apa yang dapat saya berikan kepada Anda?", tanya Pennell kepada Cusack.

“Dari percakapan dengan Mrs. HulI, saya mendapat kesan bahwa hubungan antara Burdick dengan istrinya akhir-akhir ini begitu baik. Tentang soal ini, Mrs. HulI menyarankan agar saya mencari keterangan dari Anda?”, Cusack menjawab.

“Baiklah. Tapi sebetulnya saya ragu, apakah persoalan-persoalan pribadi yang dipertanyakan Mrs. Burdick kepada saya sebagai pengacaranya, dapat begitu saja saya buka di hadapan Anda”, kata Pennell.

“Persoalannya bisa kita pandang dari segi lain”, Cusack menjelaskan, “Kiranya anda tak akan berkeberatan untuk memberi keterangan apakah dalam perkara pembunuhan ini ada soal wanita".

Argumen ini rupanya berhasil meyakinkan Pennell. “Memang", kata pengacara itu. “Demi tegaknya keadilan dan lancarnya pengusutan perkara pembunuhan ini, baiklah saya katakan, bahwa Mrs. Burdick minta jasa saya agar dapat bercerai dari suaminya atas dasar-dasar hukum. Saya bisa menyebut nama 3 orang wanita yang berhubungan dengan Burdick”.

“Apakah salah satu di antaranya bernama Gertrude?”

“Anda telah tahu?”, kata Pennell keheranan. “Memang. Nama lengkapnya Gertrude Paine, seorang janda yang telah bercerai dari suaminya. Ia piaraan Burdick".

“Lalu siapa itu Helen Warren dari Cleveland?"

Pennell lebih terheran lagi, “Banyak juga yang telah anda ketahui! Ya, dia juga. Dan karena Burdick- lah wanita itu bercerai dari suaminya”.

Lalu Pennell menambahkan nama wanita ketiga, Marian Hutchinson yang biasa membantu Burdick pada perusahaan sampul. Tapi di mana alamat ketiga wanita itu, Pennell tidak tahu. Tetapi ia yakin, mereka pasti masih di Buffalo.

“Mereka akan saya temukan”, Cusack menggumam, untuk kemudian berpamitan dari Pennell sambil mengucapkan terima kasih.

Memang, hari berikutnya polisi telah menemukan alamat wanita-wanita itu — setidak-tidaknya dua di antara mereka, ialah Mrs. Helen Warren dan Mrs. Gertrude Paine.

Melihat Mrs. Warren para detektif terpesona. Selera Burdick sungguh tidak murahan sejauh menyangkut segi fisik wanita pilihannya. Mrs. Helen yang berambut keemasan dan bertubuh mungil itu, memang memiliki kecantikan yang luar biasa. Demikian pula Mrs. Gertrude Paine, yang tinggal dalam sebuah apartemen, tak jauh dari hotel tempat Mrs. Warren menginap.

Tetapi kedua-duanya menyangkal keras sangkaan polisi terhadap diri mereka. Cusack dan Sullivan dicaci maki habis-habisan oleh kedua wanita itu. Mereka menyangkal pernah menjadi kekasih Burdick. Tetapi yang lebih penting lagi, baik Mrs. Helen maupun Mrs. Gertrude dapat memberikan alibi yang tak tergoyahkan. Sejumlah saksi menguatkan pernyataan mereka, bahwa pada saat pembunuhan Burdick, mereka berada di tempat yang letaknya beberapa kilometer dari Buffalo menghadiri sebuah party.

Masih ada satu harapan, barang kali wanita yang bernama Marian Hutchinson dapat memberi penjelasan tentang pembunuhan Burdick. Kebetulan hari itu juga — Sabtu, sehari setelah terjadinya pembununuhan — datang seorang bernama Henry Jeddo di kantcr polisi. Pekerjaannya menyewakan kereta yang ditarik kuda itu. Ia mengatakan bahwa pada hari Jumat malam, keretanya ditumpangi seorang wanita yang pernah bekerja pada Buffalo Envelope Company dan ciri-cirinya cocok dengan gambaran yang diberikan oleh Arthur Reed Pennell kepada polisi. Ia menyatakan kesediaannya membantu polisi mencarinya.

Sementara itu lebih banyak informasi-informasi yang masuk di markas polisi. Lebih-lebih setelah pada hari Sabtu acara-acar memuat berbagai skandal yang pernah terjadi dj Elmwood Dancing Club dan pada hari Minggu para pendeta di gereja mengucapkan khotbah yang berapi-api tentang kebejatan moral kaum lelaki di kota Buffalo.

Akibatnya, pada hari Senin kantor Cusack kebanjiran laporan yang berisi aneka macam cerita tentang penyelewengan suami A atau istri B. Sampai Cusack mengeluh karena kantornya menjadi seperti kantor penasehat perkawinan saja. Namun sebagian besar cerita-cerita itu banyak sedikit ada hubungannya dengan tingkah laku almarhum Burdick.

Dalam pada itu Mrs. Burdick telah kembali dari Atlantic City. Wanita yang baru saja menjadi janda itu, perawakannya ramping, bahkan agak kurus. Sepasang mata berwarna hitam bersinar dari wajahnya yang cantik. Mrs. Burdick mengenakan pakaian hitam tanda berkabung. Ia menerima Cusack dan Sullivan dengan sikap serius dan muka sedih yang membuat kedua petugas itu merasa terharu.

“Saya dengan senang hati ingin membantu Anda. Tetapi lebih baik lain kali, jika hati saya sudah agak reda. Hubungi saja Mr. Pennell. Keterangan-keterangan yang dapat saya berikan kepada Anda, dia pun dapat memberikannya. Dan ia pasti bersedia memberi segala bantuan”.

Sementara itu, pada hari Senin itu juga, pemilik kereta berkuda, Henry Jeddo bersama dengan seorang anak buah Cusack mencari Marian Hutchinson di pinggiran kota Buffalo. Dan' berhasil.

Seperti halnya dengan Mrs, Helen dan Gertrude, Marian Hutchinson pun seorang wanita cantik. Rambutnya merah, tubuhya padat, berisi, kepribadiannya memancarkan kewanitaan buas yang penuh gairah.

Kata-kata pertama yang diucap oleh wanita itu di hadapan Cusack adalah dampratan ganas karena merasa terhina ditahan seperti seorang penjahat. Tetapi polisi berhasil meredakannya. Dan Marian Hutchinson memberikan keterangan dengan jujur.

Memang ia pernah bekerja pada Buffalo Envelope Company, katanya. Tetapi kemudian ia keluar setelah berhasil mengumpulkan sejumlah modal. Dengan uang yang ia kumpulkan dengan susah payah itu, ia bermaksud menempuh karir sebagai penjanji.

Kadang ia memang berhubungan dengan Burdick sewaktu bekerja di perusahaannya. Tetapi hubungan itu sama sekali tak mempunyai corak romantis. Pertemuan-pertemuannya dengan Burdick selalu berlangsung di tempat terbuka, dihadapan umum.

Desas-desus seolah-olah ia pernah menerima bantuan finansial dari Burdick adalah omong kosong. Ia memiliki cukup harta dan tak memerlukan bantuan dari siapa pun juga.

Memang, pada hari Jumat malam ia menumpang kereta Henry Jeddo, “Adakah undang-undang yang melarang seseorang naik kereta ke Ashland Avenue?”, ia bertanya dengan nada mengejek. “Ketika itu saya dan rekan-rekan saya menjanji di rumah seorang teman. Jam satu malam saya telah sampai di rumah. Saya bisa mengajukan sekarang suami-istri sebagai saksi mata. Toh bukan salah saya jika latihan nyanyi itu berlangsung di sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari rumah Burdick.

Lalu wanita itu menyebutkan sejumlah nama orang-orang yang dapat diminta kesaksiannya tentang apa yang ia katakan kepada polisi. Menjelang sore jelaslah sudah  bahwa alibi yang diajukan oleh Marian Hutchinson tak bisa diganggu gugat.

Selasa berlalu tanpa dipanen keterangan-keterangan baru yang berharga. Tapi Rabu sore jalannya pengusutan mengalami perkembangan baru berkat informasi dari Charles Parks kompanyon Burdick yang telah disebutkan di atas.

Ia menelepon polisi. Katanya: “Anda masih ingat itu orang bersama Boland yang beberapa kali mengunjungi Burdick di kantonya? Nah, kini saya tahu siapa dia sebenarnya. Sore ini di kantor datang beberapa cek dari bank, yaitu cek Burdick dari bulan Februari. Sekalipun tak berhak, saya memberanikan diri untuk memeriksanya. Salah satu cek itu, dikeluarkan tiga minggu yang lalu dan dialamatkan kepada Agen Detektif Boland, dengan catatan, untuk pembayaran penuh jasa-jasa yang telah diberikan. Cek itu dikirimkan ke New York City Bank".

Informasi ini menimbulkan teka-teki di benak komandan Cusack. Menurut keterangan-keterangan yang diperoleh sampai kini. Burdick tampaknya lebih cocok menjadi sasaran penyelidikan seorang detektif. Tetapi menurut informasi dari Charles Parks,  Burdick malahan menyewa detektif untuk menyelidiki sesuatu. Apa sebenarnya yang terjadi?

Segera Cusack kirim kawat ke Broadway 220, alamat Boland Detective Agency, untuk minta keterangan tentang jasa yang diminta almarhum Burdick. Jawaban dengan telegram datang hari berikutnya. Bunyinya: Burdick minta penyelidikan alasan-alasan untuk perceraian, harap kirim orang ke New York untuk peroleh detail-detail.

Kamis malam detektif Sullivan telah sampai di New York dan hari berikutnya langsung menemui James Boland. Sullivan merasa seperti seorang petinju yang mendapat pukulan knock out ketika mendengar keterangan dari detektif swasta itu. Keterangan itu menghancurkan semua teori yang ia susun dengan Cusack sampai saat itu.

Lebih dari tiga bulan yang lalu demikian Boland. “Burdick datang di kantor saya membawa seberkas surat-surat yang ia temukan di rumahnya. Surat-surat itu tertuju kepada istrinya dan berasal dari seorang ahli hukum di Buffalo bernama Arthur Reed Pennell. Dari surat-surat itu jelas bahwa sejak beberapa waktu Pennel dan Mrs. Burdick menjaiin hubungan cinta gelap. Burdick minta kepada saya untuk mencari bukti-bukti yang kokoh tentang hal itu agar ia dapat menceraikan istrinya'’.

Boland berhasil mengumpulkan data-data tanpa banyak kesukaran. Alice Hull Burdick memang kekasih Pennell. Pernah Boland menguntit Pennell dan Alice sampai ke sarang percintaan mereka di Buffalo. Kira-kira akhir Desember 1902, dua bulan sebelum terbunuh, Burdick secara terang-terangan menuduh istrinya berzina. Inilah sebabnya maka Mrs. Burdick lalu pergi ke Atlantik City.

Burdick minta agar Boland meneruskan menguntit istrinya. Hasilnya sama. Beberapa kali Boland membayangi perjalanan Mrs. Burdick ke New York, di mana wanita Itu berkencan dengan Pennell di beberapa hotel.

Pada suatu malam Boland  berdiri di dekat Pennell yang sedang pesan minuman di sebuah bar. Dalam keadaan mabuk, Pennell berkata kepada pelayan bar, “Ada seorang musuh yang hendak kubunuh di Buffalo; biar aku kemudian digantung”.

Hal ini diberitahukan oleh Boland kepada Burdick, yang sejak itu senantiasa membawa senjata.

Beberapa minggu yang lalu, Burdick kirim cek kepada Boland, dengan sepucuk surat yang menyatakan bahwa ia (Burdick) sudah siap untuk menyerahkan seluruh persoalan kepada pengacaranya. Istri saya dan Pennell sudah mengetahui maksud saya”, Burdick mengakhiri suratnya.

Informasi ini membuat persoalan menjadi jelas. Rupanya Pennell sebagai seorang pengacara terhormat di Buffalo, takut namanya menjadi tercemar di mata umum jika Burdick melaksanakan niatnya. Inilah yang mendorong Pennell untuk mendatangi Burdick, entah dengan maksud agar Burdick mengurungkan proses perceraian dengan istrinya, entah untuk membunuhnya. Bagaimana pun berakhir dengan terbunuhnya Burdick.

Untuk mengelabui polisi, Pennell rupanya lalu meletakkan botol minuman keras, dua gelas dan keju Camembert tanpa mengetahui bahwa Burdick sama sekali tak suka makan keju jenis itu.

Untuk lebih menyesatkan penyelidikan polisi, kemudian Pennell masih menyebutkan nama-nama tiga orang wanita sambil memberi kesan kepada polisj bahwa wanita-wanita itu mempunyai hubungan gelap dengan Burdick.

Sullivan segera mengawatkan informasi baru ini kepada komandannya, Cusack. Sementara itu yang terakhir ini telah menyelidiki Pennell dan menanyakan alibi. Ternyata alibi yang dikemukakan pengacara itu amat lemah. Satu-satunya saksi yang menyatakan bahwa Pennell pada saat kejadian berada di tempat lain, nanyalah istrinya sendiri yang tampak gugup.

Cusack sebenarnya bermaksud seketika itu juga menahan Pennell. Tapi ia dicegah oleh atasannya yang belum begitu yakin akan keterlibatan pengacara terhormat itu dalam pem- bunuhan Burdick.

Atasan yang masih ragu-ragu itu, berjanji akan menjatuhkan keputusannya pada hari Senin 9 Maret. Dan keputusan itu berbunyi: Setuju Pennell ditahan.

Cusack dan Sullilvan buru-buru pergi ke kantor sang pengacara. Ternyata ia tidak ada. Di rumahnya juga tak ditemukan.

Ternyata satu jam sebelum Cusack dan Sullivan datang, Arthur Reed Pennell dan istrinya pergi naik mobil mereka yang baru. Menurut saksi-saksi mata, ketika sampai di sebuah tempat dengan jurang di sisi jalan, mobil Pennell menyerong ke kanan denga tajamanya dan mencebur ke dalam jurang Gehres Quarry. Suami-istri Pennell mati seketika.

Bahwa kejadian ini adalah peristiwa bunuh diri, tampaknya tak dapat diragukan. Pengacara terhormat itu rupanya merasa tak kuat menanggung aib jika percintaannya dengan Mrs. Burdick sampai tersingkap lewat pengadilan.

Beberapa orang saksi, di bawah sumpah menyatakan bahwa sehari sebelum terjadjnya “keceakaan”, mereka melihat Pennell berjalan kaki, menyelidiki tempat “kecelakaan" itu dengan teliti. Dan dalam saku Pennell ditemukan guntingan halaman dari majalah-majalah —semuanya memuat sajak-sajak tentang bunuh diri.

Sebuah kalimat dari salah satu di antara sajak-sajak itu dicoret tebal bawahnya. Kalimat itu berbunyi: Tertegun sering aku, melihat lelaki kuat dan wanita-wanita lembut hati dengan hati tabah tanpa ketakutan menyongsong Maut Agung.

(Charles Boswell & Lewis Thomson)

Baca Juga: Kaleng 'Hamil'

 

" ["url"]=> string(93) "https://plus.intisari.grid.id/read/553835263/informasi-melimpah-yang-membuat-polisi-kewalahan" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1691169982000) } } [2]=> object(stdClass)#85 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3835219" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#86 (9) { ["thumb_url"]=> string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2023/08/04/rumah-mesum-di-fifteenth-street-20230804052307.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#87 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(5) "Ade S" ["photo"]=> string(54) "http://asset-a.grid.id/photo/2019/01/16/2423765631.png" ["id"]=> int(8011) ["email"]=> string(22) "ade.intisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(125) "Seorang pengacara dan anggota Kongres mendapati istrinya selingkuh dengan seorang jaksa. Semua itu berawal dari sebuah surat." ["section"]=> object(stdClass)#88 (8) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["show"]=> int(1) ["alias"]=> string(5) "crime" ["description"]=> string(0) "" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2023/08/04/rumah-mesum-di-fifteenth-street-20230804052307.jpg" ["title"]=> string(31) "Rumah Mesum di Fifteenth Street" ["published_date"]=> string(19) "2023-08-04 17:23:29" ["content"]=> string(27200) "

Intisari Plus - Daniel E. Sickles, seorang pengacara dan anggota Kongres mendapati istrinya selingkuh dengan seorang jaksa. Semua itu berawal dari sebuah surat yang mengungkap perselingkuhannya.

----------

Dalam sejarah peradilan Amerika Serikat tercatat suatu perkara peradilan yang terkenal: perkara Key — Sickles. Masyarakat gempar ketika proses peradilan berlangsung dan akhirnya keputusan dijatuhkan. Kegemparan itu bukan saja karena dalam perkara pembunuhan ini terdakwa adalah seorang tokoh terkemuka — antara lain ia anggota Kongres, sahabat pribadi Presiden ke-15 Amerika Serikat James Buchanan, dan diplomat. Tetapi juga karena terdakwa itu kemudian dibebaskan walaupun jelas bahwa ia sengaja membunuh korbannya.

Bagi kita sekarang, sukar masuk akal pembebasan itu seperti akan kita lihat nanti. Tetapi perkara ini terjadi di Amerika lebih dari 100 tahun yang lalu. Kisahnya sebagai berikut.

Daniel E. Sickles sekitar tahun 1850 sedang menanjak karirnya. Ia terkenal di New York sebagai pengacara cemerlang dan duduk dalam badan legislatif serta dewan penasehat New York City. Ketika James Buchanan dikirim ke Inggris sebagai duta besar, ia memilih Sickles sebagai Sekretaris Pertamanya.

Berangkatlah mereka ke Inggris — Buchanan yang masih membujang seorang diri, sedangkan Sickles didampingi istrinya yang masih muda-belia dan belum lagi berumur 20 tahun, Teresa Bagioli. Teresa berdarah Italia. Ayahnya seorang maestro opera yang cukup terkenal di New York pada waktu itu.

Buchanan yang belum beristri memerlukan seorang wanita yang pada kesempatan-kesempatan resmi dapat bertindak sebagai nyonya rumah di Kedutaan Besar AS di London. Pilihannya jatuh pada Teresa walaupun wanita ini sebetulnya terlalu muda untuk tugas tersebut. Tetapi ternyata Teresa tidak mengecewakan. Tingkah lakunya serba luwes dan menawan hati. Dan Teresa cantik sekali — rambutnya hitam, mata biru, kulit kuning kecoklat-coklatan dan tubuh ramping penuh kewanitaan. Belum pernah diplomasi AS di Inggris begitu penuh semarak seperti waktu itu.

Tetapi Teresa mempunyai satu kelemahan, ialah terlalu suka menantang kejantanan dan luar biasa pandai bermain-main dengan lelaki. Dalam resepsi-resepsi di kedutaan dan upacara-upacara penandatanganan perjanjian-perjanjian resmi banyak diplomat jatuh hati pada Teresa. Tetapi selama di Inggris tak terjadi atau, sedikitnya tidak diketahui peristiwa-peristiwa yang mencemarkan namanya.

Ketika Buchanan kembali ke Amerika, Dan Sickles dan Teresa ikut pulang pula. Buchanan tak lama kemudian terpilih sebagai Presiden AS dan Sickles menjadi anggota Kongres dari New York. Tahun 1857 berlangsung inaugurasi Buchanan sebagai Presiden. Pada waktu itu juga Sickles bersama istrinya pindah ke Washington, menempati rumah mewah di Sixteenth Street.

Ketika itu Teresa yang 11 tahun lebih muda dari suaminya, berumur 21 tahun. Kewanitaannya makin matang sementara minatnya terhadap kaum laki-laki sedikit pun tak berkurang.

Salah satu di antara kenalan-kenalan pertama suami-istri Sickles sejak tinggal di Washington ialah Philip Barton Key, jaksa distrik Columbia. Umurnya 40 tahun, berperawakan tegap dan amat tampan. Ia sudah duda, anaknya 4 orang.

Tetapi kehadiran anak-anak ini baginya bukan penghalang untuk meneruskan kariernya sebagai hidung belang, di samping sebagai peminum dan penggemar sport naik kuda.

Sifatnya sebagai Don Juan terkenal diantara para suami yang selalu waspada terhadapnya. Sebagai pendatang baru, rupanya Sickles tidak mengetahui hal itu. Tanpa menaruh curiga ia menganggap Key sebagai salah seorang sahabat terbaik. Kerapkali lelaki itu berkunjung ke rumah Sickles di Sixteenth Street. Tidak hanya jika Sickles ada di rumah atau sedikitnya di dalam kota Washington, tetapi juga jika ia sebagai anggota Kongres sedang bertugas ke New York.

Pada awal tahun 1858, baru saja pulang dari perjalanan dinas, Sickles mendapat laporan dari seorang kenalan. Kenalan ini curiga terhadap Key yang dilihatnya bersama-sama dengan Mrs. Sickles keluar dari sebuah losmen, selagi Mr Sickles berada di New York.

Sickles marah sekali, tidak terhadap istrinya tetapi kepada pelapor yang bermaksud baik itu.

Sickles tahu betul bahwa istrinya genit dan bebas dalam pergaulan dengan lelaki tetapi sedikitpun tak pernah sangsi akan kesetiaannya Sampai di rumah Dan Sickles menceritakan “fitnah’’ yang didengarnya dari kenalan itu kepada Teresa.

Terasa mengakui terus terang bahwa ia memang ke sebuah losmen bersama Key tetapi hanya untuk makan malam.

“Sekali lagi, aku tak percaya omongan itu. Kamu istriku yang setia. Untuk menghindari percakapan orang, baiklah lain kali kau jangan keluar rumah dengan seorang lelaki jika saya sedang ke luar kota”.

Satu tahun berlalu tanpa Dan Sickles mendengar sesuatu yang mencemarkan nama istrinya. Sebagai anggota Kongres Sickles semakin tertelan oleh kegiatan-kegiatannya. Pada waktu itu memang banyak permasalahan, antara lain soal budak belian, soal hak-hak negara bagian, ancaman bahaya perang saudara. Untuk menjajaki pendapat para pemilih yang diwakilinya, Sickles semakin sering pergi ke New York dan menginap berhari-hari di sana.

Kamis tanggal 24 Februari 1859. Hari itu Sickles mengadakan jamuan malam di rumahnya di Sixteenth Street. Di antara para undangan tampak Philip Barton Key. teresa duduk di sampingnya tetapi ia tidak memberinya perhatian yang lebih besar dari yang diberikannya kepada tamu-tamu pria lain.

Menjelang akhir jamuan malam, seorang pelayan menyampaikan sepucuk surat kepada Dan Sickles. Tanpa membacanya — karena sedang asyik berbicara dengan para tamu — surat itu dimasukkannya ke dalam saku.

Baru tengah malam sebelum tidur, Dan Sickles ingat akan surat itu. Isinya ternyata menyangkut perzinaan istrinya. Penulis surat yang hanya membubuhkan inisial namanya, R.P.G., tidak ia kenal. Tetapi kali ini Dan Sickles rupanya percaya akan kebenaran laporan. Tangannya gemetar dan mukanya pucat ketika ia membaca baris-baris berikut yang rupanya ditulis oleh tangan wanita:

 

HON. DANIEL SICKLES

DEAR SIR,

Dengan hati sedih saya menyampaikan beberapa baris berikut ini kepada Anda. Tetapi saya merasa wajib melakukan itu. Tak sampai hati saya melihat Anda begitu dipermainkan.

Seorang bandot (kata ini boleh saya gunakan, karena ia sama sekali bukan seorang gentleman) bernama Philip Barton Key menyewa sebuah rumah seorang negro bernama John A. Gray di Fifteenth Street semata-mata sebagai tempat pertemuan antara dia dengan istri Anda. Ia menggantungkan seutas tali di jendela sebagai tanda untuk istri Anda, bahwa ia ada di dalam. Dan ia membiarkan pintu tak terkunci hingga istri Anda dapat masuk. Sungguh kata saya, ia menggauli istri Anda seperti Anda sendiri.

Inilah sekedar laporan saya. Terserah selanjutnya kepada Anda.

Hon Daniel Sickles

Dear Sir.

 

Keesokan harinya, Jumat tanggal 25 Februari, jam 9 pagi, Sickles ke Capitol. Ia mencari sahabat karibnya Woolridge, seorang pegawai Dewan Perwakilan dan memperlihatkan surat kaleng di atas kepadanya.

Sambil mencoba menenangkan, Woolridge menyatakan, bahwa beberapa bulan sebelumnya, ia memang pernah mendengar desas-desus tak baik tentang Key dan Teresa. Tetapi Woolridge tak mau memberitahu Sickles karena merasa belum pasti akan kebenaran percakapan orang itu. Takut meretakkan hubungan antara Sickles dan istrinya dengan berita yang belum pasti.

“Saya sendiri juga pernah mendengar informasi semacam. Tetapi saya waktu itu tolol. Tidak berterima kasih, tapi malahan mencaci-maki informan”, Sickles bergumam.

Akhirnya Dan Sickles minta kepada Woolridge untuk mengecek kebenaran surat R.P.G.

Hari berikutnya, Sabtu tanggal 26 Februari, Woolridge telah datang dengan hasil-hasil penyelidikannya.

Memang Philip Barton Key menyewa rumah di 15th Street sebagai tempat kencan dengan Teresa dan semata-mata untuk tujuan ini. Yang diperlengkapi dengan mebel dan peralatan-peralatan lain hanya sebuah kamar tidur. Biasanya Teresa datang ke situ menjelang sore. Datang pergi, mukanya selalu dikerudungi tetapi orang-orang sekitar toh mengenalinya.

Bukan saja orang-orang sekitar, tetapi pelayan-pelayan rumah Sickles sendiri mengetahui hubungan asmara antara Teresa dan Key.

Sebab Key berani datang di rumah Sickles dan bercumbuan dengan Teresa di situ. Bahkan pernah mereka berdua mengunci diri di kamar tidur — sementara para pelayan sambil menahan ketawa pasang telinga, untuk mendengarkan apa yang kiranya terjadi di dalam.

Key menyewa pula kamar di Cosmos Club yang terletak di seberang taman depan rumah Sickles. Dari sebuah jendela di Cosmos Club itu Key mempunyai pandangan pada rumah Sickles. Dari jendela itulah, dengan sebuah teropong jarak jauh yang biasa digunakan oleh penonton opera, Key mengamati pintu rumah Sickles. Begitu melihat Teresa keluar ke jalan, segera Key turun untuk menyertainya.

Kadang-kadang Key lewat di depan rumah Sickles dan mengangkat sapu tangannya naik turun tiga kali. Ini kode, bahwa ia sedang menuju ke rumah di 15th Street dan bahwa Teresa diharapkan segera menyusulnya ke sana.

Dengan hati yang patah Sickles terhuyung-huyung menyeret merah padam ia berkata dengan nada formal kepada istrinya: “Nyonya, silakan ke kamar nyonya sekarang ini juga!” Pucat dan ketakutan Teresa menuruti perintah suaminya tanpa membantah sedikitpun.

Kepada istrinya yang duduk gemetar di ujung ranjang, Sickles berkata: “Apakah ini mempunyai arti bagimu?” Bertanya demikian, Sickles menaik-turunkan saputangan tiga kali. “Atau ini: sebuah rumah di Fifteenth Street? Atau lagi ini: seutas tali yang tergantung dari jendela? Atau ini: seorang lelaki yang mengamati rumahku dengan teropong opera? Seorang lelaki bernama Philip Parton Key?”

Teresa memerah mukanya, kemudian pucat lesi. Ia meraih gelas meja dekat ranjang dan berusaha mengisinya dengan air dari sebuah kan. Tetapi pada saat itu tenaganya hilang. Gelas dan kan jatuh berdering di lantai dan Teresa jatuh terkulai di atas ranjang. Ia pingsan.

Sickles menyuruh seorang pelayan menolongnya. Setelah sadar kembali, Teresa mengakui semua penyelewengannya dengan Key. Ia mencoba meringankan kesalahannya dengan alasan bahwa tubuhnya mendambakan cinta tapi, sejak terpilih menjadi anggota Kongres, tampaknya Dan tak cukup waktu untuk memberinya kepuasan penuh-penuh. Sickles mendekat hendak menamparnya, tetapi akhirnya menahan diri.

“Pukullah! Pukul aku!”. Teresa menangis. “Aku sepantasnya kau pukuli”.

“Tidak”, kata Sickles. “Aku punya hukuman lain bagimu”. Duduklah di situ, pada mejamu, dan tulis semua kecemaranmu, sampai hal yang sekecil-kecilnya. Setelah itu kamu harus meninggalkan rumah ini dan kembali pada orang 'tuamu. Kamu bukan istriku lagi”.

Teresa menurut segala perintah itu. Dan Sickles menghendaki agar seorang pelayan menyaksikan (dari jauh, tapi masih melihat jelas) Teresa menulis pengakuannya. Ini ia maksud sebagai saksi, bahwa Teresa membuat pengakuannya tanpa paksaan apapun, apalagi siksaan.

Dokumen pengakuan Teresa masih tersimpan seperti adanya. Di dalamnya tercermin keadaan mental penulisnya yang tercekam ketakutan. Di sana-sini isinya meloncat-loncat, ditulis dengan gaya telegram. Dengan beberapa kutipan lengkap, inti pengakuan itu sebagai berikut.

Teresa mengakui sering ke rumah di 15th Street dengan Mr. Key, entah berapa kali. Rumah itu kosong, tak ada makanan ataupun minuman. Kamar dihangatkan dengan tungku api.

“Mulai ke sana akhir Januari. Di sana berduaan dengan Mr. Key. Biasanya di sana satu jam atau lebih. Di tingkat dua ada ranjang. Saya melakukan yang biasa diperbuat perempuan jahat. Keintiman mulai dimusim dingin, ketika saya datang dari New York… Bertemu 12 kali atau lebih, pada jam-jam yang berlainan”.

Lalu Teresa menceritakan hubungannya yang terakhir. “Rabu yang lalu ke sana, antara jam 2 dan 3. Saya bertemu dengan Mr. Key di 15th Street. Masuk lewat pintu belakang. Masuk ke kamar tidur yang sama, dan di sana omong-omong secara tak pantas. Saya menanggalkan pakaian. Mr. Key jtiga menanggalkan pakaian. Ini terjadi hari Rabu, 23 Februari 1859.”

“Mr. Key pernah mencium saya di rumah, ini beberapa kali. Saya tidak menyangkal bahwa kami pernah berhubungan di rumah ini (musim sergi setahun yang lalu, di ruang tamu di atas sofa. Mr. Sickles kadang-kadang keluar kota dan kadang-kadang di Capitol. Saya kira hubungan intim mulai bulan April atau Mei 1858”.

Demikian seterusnya, pengakuan itu melukiskan secara mendetail pakaian yang ia kenakan pada waktu-waktu mengunjungi Mr. Key. Mr. Key pernah menggunakan kendaraan Mr. Sickles. Pernah mampir di rumah Mr. Sickles tanpa sepengetahuan yang akhir ini dan itu terjadi setelah Mr. Sickles memperingatkan Teresa jangan menerima Key atau pergi berduaan dengannya jika Mr. Sickles tak ada di rumah.

“Ini pengakuan sesuai kenyataan, saya tulis sendiri tanpa paksaan Mr. Sickles, tanpa pengampunan atau hadiah, dan tanpa ancaman darinya. Ini saya tulis di kamar tidur saya, dengan pintu terbuka dan pelayan saya menyaksikan dari luar kamar.”

Teresa Bagioli Washington, D.C, 26 Februari, 1859.

Selesai menulis pengakuannya, sore itu juga Teresa meninggalkan rumah dan pulang ke New York, sesuai dengan perintah Sickles.

Malam itu Sickles seorang diri di rumah. Tapi hari berikutnya, atas undangannya, dua orang sahabat karib mendatanginya di rumah Minggu 27 Februari. Kedua sahabat itu jalah Woolridge yang telah kita temui di atas, dan seorang politikus bernama Butterworth. Bertiga mereka duduk di bibliotik Mr. Sickles yang memberi pandangan ke jalan di luar.

Sickles membuka hatinya. Ia merasa seluruh hidup dan kariernya hancur karena kelakuan istrinya. Tapi Butterworth menyatakan sama sekali tak pernah mendengar tentang penyelewengan Teresa.

Ia menasehatkan kepada Sickles untuk menjaga jangan sampai berita yang mencemarkan nama keluarga Sickles ini tersiar di kalangan luas, apalagi di New York mengingat bahwa Sickles adalah anggota Kongres dari kota ini. Woolridge pun sependapat dengan Butterworth.

Selama pembicaraan ini Sickles memandang ke luar jendela. Tiba-tiba ia bangkit dari kursinya, sambil menunjuk ke arah luar dengan tangan gemetar. Ternyata di jalan di depan rumah tanpa Philip Burton Key sedang berjalan mondar-mandir sambil mengeluarkan sapu tangannya dan mengangkat benda ini naik turun tiga kali. Kode rahasia bagi Teresa.

Rupanya Key tidak tahu bahwa asmaranya dengan Teresa telah diketahui oleh Sickles apalagi bahwa sang kekasih sudah diusir keluar kota oleh suaminya. “Lihat, bangsat itu!” Sickles berteriak. “Ya, Tuhan, ini sungguh menjijikan!”

Apa yang terjadi dikemudian, tak begitu jelas karena para saksi, terutama Woolridge dan Butterworth, tak banyak memberikan keterangan. Entah karena mereka tak mau memberikan kesaksian-kesaksian yang memberatkan Sickles, entah karena takut tersangkut-sangkut dalam perkaranya.

Bagaimanapun juga, menurut rekonstruksi berdasarkan keterangan-keterangan yang ada, pada garis besarnya urutan kejadian adalah sebagai berikut.

Setelah melihat Key mondar-mandir, Sickles tiba-tiba berdiri dan meninggalkan ruangan bibliotik. Sesaat kemudian ia muncul lagi dan telah mengenakan mantel tebal walaupun bulan Februari itu hawanya tidak begitu dingin. Katanya ia mau ke Cosmos Club sebentar. Bersama Sickles, kedua tamunya pun tentu saja pergi pula.

Sickles menemui Key dan berteriak mengguntur: “Key, bangsat kau. Kamu telah mencemarkan rumahku kau harus mati!” Pada saat itu juga Sickles merogoh saku mantolnya lalu menodongkan pistol Colt. Ia menembak Key dan melukainya ringan, Sickles mencoba menembak lagi, tapi pistolnya macet.

Beberapa orang di antaranya Butterworth dan Woolridge, melihat kejadian ini dari kejauhan, tetapi tak ada yang turun tangan. Menurut sementara saksi, Key setelah terluka, bergumul dengan Sickles dan memukul kepala penyerangnya dengan teropong.

Bahwa Key bersembunyi di belakang sebuah pohon dan melempar Sickles dengan teropongnya. Bagaimanapun juga, Sickles menembak lagi Key, kali ini dengan pistol kecil yang dikeluarkan dari sakunya yang lain. Key terkapar di tanah. Kemudian Sickles menempelkan moncong senjatanya pada kepala korbannya. Sekali lagi Sickles berteriak: “Key, kau telah mencemari rumahku kau harus mati”.

Key berusaha bangkit meminta-minta jangan ditembak. Tapi Sickles tak menghiraukannya. Pelatuk pestol ditariknya dan Key terdiam dan tak berkutik lagi. Ia diangkut ke Cosmos Club dan meninggal setengah jam kemudian.

Sickles sementara itu dengan tenang kembali ke rumahnya, mencuci tangannya lalu menyerahkan diri kepada Jaksa Agung Amerika Serikat. Dengan perasaan enggan, Jaksa Agung memerintahkan agar Sickles dipenjarakan. Tetapi cara-cara penahanan anggota Kongres ini sangat lunak. Ia tak dimasukkan ke dalam sel, tapi mendapat kamar yang bagus di markas penjaga penjara. Para anggota kabinet banyak yang menjenguknya di situ. Presiden Buchanan sendiri tidak mengunjunginya di penjara, tetapi menghiburnya dengan sepucuk surat.

Sidang yang mengadili perkara Sickles membuat para wartawan bahagia, karena koran mereka akan sangat laku, tetapi menempatkan para petugas pengadilan pada posisi yang sulit.

Jaksa Robert Ould misalnya, yang bertindak sebagai penuntut menghadapi kesulitan berikut. Ia adalah pengganti almarhum Philip Barton Key sebagai jaksa distrik Columbia. Jika ia mengajukan tuntutan keras, namanya akan hancur di mata Partai Demokrat yang pada waktu itu sedang berkuasa dan dalam mana Ould tergabung. Tapi jika tuntutannyai tidak keras, ia akan dikecam sebagai penegak hukum yang lemah. Dengan hati-hati sekali ia memilih jalan tengah, Rekwisitoarnya mantap, tetapi pada akhirnya ia toh minta agar tertuduh dibebaskan.

Proses dimulai pada tanggal 4 April 1859 dan berlangsung selama 3 minggu. Sebagian besar waktu dihabiskan untuk menyeleksi juri. Sickles dibela oleh 3 orang advokat terkemuka, satu di antaranya Edward M. Stanton, tahun berikutnya akan terpilih menjadi Jaksa Agung dibawah Presiden Buchanan dan pada tahun 1862 akan menjadi Menteri Pertahanan dalam kabinet Lincoln.

Dalam pembelaan para pengacara terus terang mengakui bahwa klien mereka telah membunuh Key, tetapi mereka mengemukakan bahwa Sickles layak berbuat demikian karena Key memperdayakan Teresa kedalam perzinahan dengannya.

Para pembela menyebut “hukum tak tertulis” dan ini terjadi untuk pertama kali di Amerika dalam suatu perkara yang menarik perhatian seluruh negara. Seorang suami demikian kata mereka mempunyai hak untuk membunuh seorang lelaki yang kedapatan berzina dengan istrinya. Suatu pendapat yang aneh bagi pengertian hukum kita yang hidup di abad 20. Para pembela bahkan sampai mengemukakan keyakinan mereka, bahwa pembunuhan dengan alasan seperti itu tidak hanya dibenarkan kalau sang suami menangkap basah lelaki itu pada saat sedang berzina dengan istrinya, tetapi juga tanpa menangkap basah. Yang pokok bukanlah bagaimana cara memergok, tetapi kenyataan bahwa orang itu sungguh-sungguh telah berzina dengan istrinya. Dan kesaksian-kesaksian bahwa Key telah berzina dengan Teresa memang melimpah.

Alasan kedua yang diajukan para pembela ialah bahwa Sickles “sedang dalam keadaan gila” pada waktu membunuh korbannya. Alasan seperti ini di zaman kita kerap kali dilontarkan di ruang pengadilan, tetapi di Amerika sebelum proses Sickles belum pernah diajukan. Jaksa Ould mencoba menangkis alasan ini, tapi tanpa banyak hasil. Sejumlah sahabat dan kenalan Sickles memberi kesaksian tentang keadaannya “seperti orang linglung” (“aberrated”) setelah membaca surat kaleng dari R.P.G. tersebut diatas. “Ia berbuat seperti orang gila”, demikian pernyataan seorang saksi dibawah sumpah, “Saya takut kalau-kalau ia menjadi gila untuk selama-lamanya”, kata seorang lagi.

Sebelas di antara 12 juri sudah dapat menentukan sikap selagi mereka masih duduk di ruang pengadilan. Hanya seorang yang lebih dari satu jam lamanya tetap ragu-ragu. Anggota juri yang saleh ini berlutut di sudut ruang sidang juri dan berdoa mohon bimbingan Tuhan dalam perkara ini. Dan akhirnya ia berdiri dan menjatuhkan keputusan yang sama dengan pendapat rekan-rekannya “Tidak bersalah”.

Sorak sorai meledak ketika keputusan ini diumumkan dan Hakim Crawford membebaskan Sickles dari tahanan. Oleh para sahabatnya Sickles segera, dipikul di atas pundak dan dibawa keluar gedung pengadilan.

Di jalan para sahabat itu berdansa dan menari-nari, melepaskan kuda dari kereta Sickles dani menarik sendiri kendaraan itu. Sickles diarak ke rumahnya seperti seorang pahlawan. Menjadi lebih populer lagi nama Sickles ketika pada bulan Juli 1859 ia menerima lagi Teresa sebagai istrinya. Kepada orang-orang yang mengecam tindakannya ini, Sickles berkata: “Sepanjang pengetahuan saya tidak ada pasal atau ranya. Ada pula yang mengatakan kode moral yang menyatakan bahwa mengampuni seorang wanita adalah perbuatan hina”.

Teresa meninggal beberapa tahun kemudian. Sementara itu suaminya menjadi anggota Kongres sampai tahun 1861. Ketika Perang Saudara pecah, Sickles kembali ke New York untuk menyusun pasukan ”Excelsior Brigade”. la mula-mula mendapat pangkat kolonel dalam Union Army, kemudian naik menjadi Brigadir Jendral dan pada tahun 1863 ia menjadi Mayor Jendral. Dalam salah satu pertempuran yang ia pimpin, separuh dari anak buahnya tewas sedangkan ia sendiri kehilangan salah satu kakinya yang terpaksa dipotong setelah terluka oleh ledakan granat.

Karier Sickles sebagai tentara berakhir di sini. Setelah itu pada tahun 1865 ia dikirim oleh pemerintah A.S. dengan suatu tugas rahasia ke Amerika Latin. Tahun 1869 ia ditunjuk sebagai Duta besar untuk Spanyol.

Sebagai seorang diplomat Sickles tidak berhasil sedangkan dalam kehidupan pribadinya ia ternyata tak tahu diri. Di bidang kehidupan seks ia tidak lebih saleh dari pada almarhum Philip Burton Key. Selama tahun pertama kediamannya di Madrid, Sickles mempunyai seorang kekasih ternama, yaitu Ratu Elisabeth II sendiri hingga beberapa waktu diplomat AS itu di Eropa terkenal sebagai ”Le Roi Americain de l Espagne” (Raja Amerika di tahta Spanyol). Tahun 1870 Isabella meninggalkan suaminya dan merelakan tahtanya kepada puteranya, Alphonso XII.

Sickles tetap menjabat Duta besar AS untuk Spanyol sampai tahun 1873. Sementara itu pada tahun 1871 ia menikah dengan seorang wanita dari lingkungan istana Sepanyol, Senorit Carmina Creagh.

Sekembalinya ke negaranya, Sickles beberapa tahun menjadi ketua Panitia Monumen-monumen AS dan tahun 1890 menjadi anggota Kongres lagi. Selama tahun-tahun terakhir hidupnya Sickles terus menerus mengalami kesulitan keuangan. la meninggal pada tahun 1914 pada usia 89 tahun.

(Bahan dari: Secret of the House on Fifteenth Street, tulisan Charles Boswell & Lewis Thompson)

Baca Juga: Kekasihnya Tewas di Jalanan

 

" ["url"]=> string(76) "https://plus.intisari.grid.id/read/553835219/rumah-mesum-di-fifteenth-street" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1691169809000) } } [3]=> object(stdClass)#89 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3799236" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#90 (9) { ["thumb_url"]=> string(111) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2023/07/28/15-perkara-loeb-dan-leopoldjpg-20230728054141.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#91 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(5) "Ade S" ["photo"]=> string(54) "http://asset-a.grid.id/photo/2019/01/16/2423765631.png" ["id"]=> int(8011) ["email"]=> string(22) "ade.intisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(142) "Dua orang anak bercita-cita untuk menjadi penjahat terhebat di abadnya. Maka mereka pun membuat rencana penculikan, pembunuhan, dan pemerasan." ["section"]=> object(stdClass)#92 (8) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["show"]=> int(1) ["alias"]=> string(5) "crime" ["description"]=> string(0) "" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(111) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2023/07/28/15-perkara-loeb-dan-leopoldjpg-20230728054141.jpg" ["title"]=> string(24) "Perkara Loeb dan Leopold" ["published_date"]=> string(19) "2023-07-28 17:41:50" ["content"]=> string(37051) "

Intisari-Online.com - Loeb dan Leopold adalah anak dari keluarga jutawan yang hidup bergelimang harta sejak kecil. Keduanya bercita-cita untuk menjadi penjahat terhebat di abadnya. Maka mereka pun membuat rencana penculikan, pembunuhan, dan pemerasan.

----------

Dalam sejarah peradilan perkara Loeb dan Leopold, yang terjadi pada tahun 1924, sangat terkenal. Dianggap merupakan tonggak dalam sejarah kriminologi. Entah berapa banyak buku dan artikel-artikel yang memperdebatkan kasus dua anak muda itu. Mereka dianggap semacam “makhluk jadi-jadian” karena jenis kejahatan mereka.

Keduanya anak jutawan yang sejak kecil bergelimang dalam kemewahan. Natham Leopold, 19 tahun, sangat berbakat. la termuda di antara mahasiswa-mahasiswa pilihan di Universitas Chicago. Spesialisasinya filsafat dan bahasa. la pandai bicara Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, Latin, Yunani kuno dan modern, bahkan Sansekerta. Hobinya ornitologi (ilmu tentang burung). Ayahnya adalah wakil presiden perusahaan Sears Roebuck yang bergerak di bidang pengiriman paket pos.

Leopold dan Loeb saling mengenal ketika mereka sekolah di Harvard School. Keduanya berasal dari Universitas Michigan.

Loeb tak kalah cemerlang. Ayahnya adalah pemilik pabrik kotak. Pada usia 17 tahun Loeb lulus menjadi sahabat karib. Proses saling memengaruhi terjadi. Sampai akhirnya mereka bercita-cita menjadi penjahat hebat.

Mula-mula dua anak muda itu melakukan serentetan kejahatan keciI-kecilan. Menipu dalam permainan kartu, melaporkan berita palsu perihal kebakaran, mencuri uang dan mesin tik. Semua berjalan lancar hingga dua anak itu mulai bosan dan menginginkan suatu perbuatan yang lebih hebat: membunuh. Agar tampak fantastis, pembunuhan itu akan mereka gabungkan dengan penculikan dan pemerasan.

Sebagai calon korban, mula-mula dipertimbangkan adik Loeb sendiri, kemudian bahkan ayah salah satu anak muda itu. Tapi akhirnya diputuskan untuk mengambil sembarang anak di Harvard School. Di sana banyak anak orang-orang kaya dan terpandang.

Kejahatan yang akan mereka lakukan harus sempurna, dalam arti tidak mungkin terbongkar. Maka rencana mereka persiapkan secermat-cermatnya. Tidak boleh ada lubang yang dapat ditembus oleh faktor kebetulan.

Memakai mobil sendiri jelas berbahaya. Maka akan digunakan mobil sewaan dan sebagai penyewa, mereka akan menggunakan alamat palsu. Untuk ini mereka memesan kamar di sebuah hotel atas nama Morton B. Allard. Mereka pun membuka rekening bank khusus. 

Korban akan dihantam dengan pahat, lalu dicekik dengan tali. Dalam menjeratkan tali, dua pemuda itu bersepakat bahwa masing-masing akan menarik satu ujung — untuk membagi tanggung jawab agar sama rata.

Setelah dibunuh, korban akan dihancurkan mukanya dengan zat asam. Lalu dibuang ke rawa-rawa di suatu tempat sunyi yang sering dikunjungi Leopold bila sedang mengamati tingkah laku burung-burung. Baru setelah itu mereka akan menelepon ayah korban untuk minta uang tebusan sebesar 10.000 dolar.

Paling sulit adalah siasat untuk memperoleh uang tebusan tanpa terjebak oleh polisi. Taktik mereka memang licik.

Pada kontak pertama lewat telepon, mereka akan mengatakan kepada ayah korban agar menunggu sampai keesokan harinya. Pada telepon kedua mereka akan memerintahkan sang ayah datang ke sebuah toko obat di 63rd Street dan menunggu telepon ketiga di sana.

Pada saat itu mereka akan minta agar sang ayah naik kereta api jam 15.18 di Stasiun Sentral. Waktu yang disediakan bagi ayah korban untuk mengejar kereta sangat sempit hingga pasti tidak ada kesempatan menghubungi polisi. Dalam kereta, ayah korban akan menemukan sepucuk surat. Lewat surat ini Leopold dan Loeb memintanya untuk melempar uang tebusan pada saat kereta api berjalan melintasi pabrik Champion Company Factory.

Begitulah apa yang dibayangkan kedua anak muda tersebut bagaimana kejahatan sempurna akan terlaksana. Masyarakat akan heboh dan ramai membicarakan penculikan itu. Mereka akan bertanya-tanya apakah korban masih hidup, ada di mana, dan siapa penculiknya. Dan hanya mereka berdua saja — Loeb dan Leopold — yang tahu apa sebenarnya yang terjadi.

Hari H ditentukan tanggal 21 Mei 1924. Leopold dan Loeb menyewa sebuah mobil merek Willys-Knight. Mereka menuju Harvard School. Muncul seorang anak, tapi ia menghilang lagi. Muncul anak kedua — ternyata saudara sepupu Loeb sendiri. Namanya Bobbie Franks.

“Hei Bob,” seru Loeb kepada anak yang baru keluar dari halaman sekolah itu. Ia pun kemudian menawarkan apakah Bobbie mau menumpang mobilnya untuk pulang ke rumah. Tadinya Bobbie tak mau. Tapi setelah Leopold dan Loeb berpura-pura meminta pendapatnya tentang raket tenis yang akan dibelinya, akhirnya Bobbie ikut juga.

Dan terwujudlah rencana dua anak muda itu. Pahat bekerja. Bobbie pingsan dan berlumuran darah. Pahat bekerja berkali-kali. Setelah gelap, mayat dibawa ke tempat yang telah direncanakan di sebelah selatan Chicago, kira-kira sejauh 30 km. Di tengah jalan, mereka berhenti sebentar untuk makan sore. Mayat ditelanjangi, zat asam bekerja, dan mayat korban dimasukkan ke dalam rawa-rawa.

Setelah itu kedua pembunuh kembali ke kota dan langsung ke rumah Loeb. Di sana keduanya membakar pakaian korbannya dalam tungku. Selesai makan malam dengan seluruh keluarga, Loeb pergi ke rumah Leopold. Pada saat itulah mereka menelepon ayah korban, Jacob Franks. 

“Anak Tuan diculik. Jangan takut, ia baik-baik saja. Tunggu perintah-perintah selanjutnya. Jangan sekali-kali menghubungi polisi.” Pesan ini disampaikan oleh Leopold yang mengaku bernama George Johnson lewat telepon.

Hari berikutnya Leopold dan Loeb mencuci lantai mobil sewaan. Mereka melakukannya di jalan masuk dalam halaman rumah keluarga Leopold. Sopir keluarga Leopold, Sven Englund menawarkan bantuannya untuk mencuci mobil. Tapi ditolak oleh Leopold yang mengatakan bahwa mobil sewaan itu ketumpahan anggur merah.

Kini dua anak muda itu melaksanakan rencana pemerasan. Leopold pergi ke Stasiun Sentral dan membeli karcis masuk kereta api yang direncanakan. Ia menempatkan surat terakhir kepada Jacob Franks di atas rak bagasi. Lalu menanti saat ia harus menelepon ayah korban yang pagi itu sudah menerima surat pertama dari para penculik. 

Inti isi surat itu bahwa Bobbie Frank sehat walafiat. Jangan sekali-sekali menghubungi polisi jika menghendaki anaknya tetap hidup. Sebelum tengah hari agar menyediakan uang tebusan 10.000 dolar yang terdiri dari lembaran-lembaran uang lama. Yang 2.000 dalam bentuk pecahan 20 dolar, sisanya dalam bentuk pecahan 50 dolar. Jika sampai terselip uang baru atau ditandai, maka anaknya akan mati. Uang hendaknya dimasukkan dalam kotak karton yang berat, terkunci aman, dibungkus dengan kertas putih. Bungkus harus disegel. Setelah jam 13.00 supaya siap menunggu telepon.

Surat berakhir dengan penjelasan bahwa hubungan dengan Jacob Franks bersifat bisnis murni. Jika sampai melanggar syarat yang telah ditentukan, Bobbie Frank akan mati.

Yours truly, George Johnson” demikian tertanda di akhir surat yang diketik itu.

Jacob Franks menyediakan uang dalam kotak seperti diminta oleh para penculik. Tetapi pada waktu ayah yang malang itu menunggu telepon berikutnya, terjadi peristiwa kebetulan yang membuat rencana “kejahatan sempurna” itu jadi berantakan.

Faktor pengganggu itu ialah penemuan mayat seorang anak Iaki-laki oleh sejumlah pekerja yang kebetulan menyeberangi rawa-rawa. Mereka juga menemukan kacamata yang bingkainya terbuat dari tanduk.

Setelah mendapatkan laporan-laporan, polisi segera menghubungi Jacob Franks. Barangkali itu mayat anaknya. Tapi ayah malang, yang sedang menanti-nanti telepon dari para penculik, tidak percaya. Bukankah penculik menegaskan bahwa Bobbie masih sehat walafiat dan tidak akan dilukai selama ayahnya taat semua perintah para penculik?

Sesaat kemudian penculik menelepon untuk menyampaikan instruksi selanjutnya. Jacob Franks akan dijemput dengan taksi kuning sesuai dengan rencana “kejahatan sempurna”. Baru saja Franks mau berangkat, polisi menelepon bahwa identitas mayat sudah diketahui. Itu adalah mayat Bobie Franks.

Maka ketika Leopold menelepon toko obat di 63rd Street, Jacob Franks tidak ada. Keluar dari toko obat, Leopold melihat koran dengan berita “Mayat Anak Tidak Dikenal Ditemukan di Rawa-Rawa”. Menyadari bahwa rencananya gagal, Leopold mengembalikan mobil sewaan lalu pulang. Baik dia maupun sahabatnya tetap yakin bila perbuatannya tidak akan terbongkar. Siapa akan mencurigai mereka, anak keluarga baik-baik yang kaya raya. Lagi pula Loeb merupakan saudara Bobbie Franks.

Masyarakat Chicago gempar mendengar berita penculikan dan pembunuhan kejam dengan rencana pemerasan yang amat keji itu. Seluruh kekuatan detektif dikerahkan untuk mencari pembunuh. Pihak kejaksaan menugaskan Robert Crowe untuk memimpin pengusutan kejahatan.

Petunjuk-petunjuk yang ada hanya sedikit, seperti surat penculik, kacamata, dan seorang saksi yang melihat mobil merek Willys-Knight dekat Harvard School pada hari penculikan. Usaha mencari mobil seperti itu milik “George Johnson” mengakibatkan kejadian tragis. Seorang Iaki-laki bunuh diri karena kebetulan namanya sama dan memiliki mobil merek itu.

Para detektif amatir membuat pencarian makin ramai. Loeb, yang masih saudara dengan Bobbie Franks dan bekas murid Harvard School, pun berusaha melontarkan berbagai kemungkinan untuk mengecoh. Ia mengatakan mungkin anak itu dibunuh oleh guru yang kesulitan uang. Teori ini menyebabkan tiga orang guru Harvard School ditahan.

Tapi kesimpangsiuran pengusutan tak berlangsung lama. Penjual kacamata yang ditemukan di tempat kejadian, mengatakan hanya ada tiga orang yang membeli kacamata jenis itu. Mereka adalah seorang langganan yang berada di Eropa, seorang nenek, dan Natham Leopold.

Ketika ditanya apakah itu kacamatanya, Leopold menjawab mungkin ya jika kacamata miliknya tidak ada di rumah. Polisi mengikutinya pulang dan memang kacamata Leopold tidak ada. Pemuda ini mengatakan barangkali kacamatanya jatuh pada waktu itu mengobservasi burung di rawa-rawa. la mau mendemonstrasikan di depan polisi bahwa benda itu gampang jatuh. Tapi demonstrasinya tidak berhasil. Kacamata itu tidak mau jatuh.

Polisi belum menaruh curiga, namun mereka bertanya di mana Leopold berada pada tanggal 21 Mei. Dijawab, ia dan Loeb sore itu pesiar dengan dua orang gadis ke sebuah taman hiburan. Ketika ditanya, Loeb juga memberikan keterangan yang sama. Jawaban ini memang telah dipersiapkan oleh dua anak muda tersebut.

Jaksa Robert Crowe belum puas dengan hasil interviu. Maka ia bertanya kepada Leopold, mesin tik merek apa yang dipakainya. Jaksa tahu, mesin tik yang digunakan oleh penculik untuk menulis surat pemerasan adalah merek Underwood. Leopold menjawab mesin tiknya merek Hammond. Kamar Leopold diperiksa, tapi mesin tiknya tidak ada.

Polisi tahu bahwa Leopold dan beberapa temannya sering menulis catatan kuliah dengan mesin tik. Maka mereka mengambil beberapa lembar kertas ketikan dari kamar Leopold. Hasil pemeriksaan para ahli menunjukkan bahwa catatan-catatan Leopold dan surat penculik diketik dengan mesin tik yang sama. Leopold mengatakan bahwa mesin tiknya hilang beberapa bulan yang lalu. Tapi pembantu rumah tangga menyebutkan bahwa 2 minggu yang lalu masih melihat mesin tik majikannya.

Rencana kejahatan yang “kedap detektif” sudah goyah dengan sendirinya. Satu kesaksian lagi membuatnya hancur berantakan. Sven Englund, sopir keluarga Leopold melaporkan bahwa mobil Leopold selama sore tanggal 21 Mei itu ada di dalam garasi.

“Waktu itu mobil saya reparasi dan cuci,” kata si sopir. Sven Englund bermaksud menolong anak majikannya. Ia tidak tahu bahwa pernyataannya itu malah menghancurkan alibi Leopold.

Seperti dikatakan di atas, Leopold menyatakan kepada polisi bahwa tanggal 21 Mei sore ia membawa mobilnya pesiar ke sebuah taman. Lebih parah lagi bagi Leopold, sang sopir menambahkan jika pada tanggal 22 Mei pagi ia melihat Loeb dan Leopold mencuci lantai mobil yang tak dikenalnya. Mereka mencucinya untuk membersihkan noda-noda merah.

Dickie Loeb lebih dulu menyerah kalah. la mengakui perbuatannya. Tapi menurutnya, Leopold yang menghantamkan pukulan maut. Leopold tadinya tetap menyangkal. Tapi setelah Crowe mengatakan bahwa Loeb sudah mengaku, maka ia pun bertekuk lutut. Hanya menurut dia, pembunuhan dilakukan oleh Leopold.

Orang tua Leopold dan Loeb mencari pembela bagi anak mereka. Pilihan jatuh pada Clarence Darrow, salah seorang pengacara terbesar di Amerika. la tinggal di Chicago dan bersahabat dengan keluarga Loeb.

Selama 40 tahun Darrow membela kaum lemah dan miskin hingga terkenal sebagai pembela besar di negaranya. Dan ia terkenal sebagai penentang gigih hukuman mati. 

Mula-mula Darrow ragu untuk menerima tugas pembelaan Leopold dan Loeb. Itu karena mereka anak orang kaya raya. Seluruh rakyat muak dengan kejahatan teramat keji yang dilakukan dua anak muda itu dan mengharapkan mereka dihukum seberat-beratnya. Pembelaan Darrow dengan itu akan mendapat penolakan. Masyarakat akan menuduh bahwa Darrow dibeli oleh orang tua Loeb dan Leopold. Mereka akan berteriak bahwa uang dapat membeli segala-galanya.

Tapi Darrow yang pernah menyelamatkan sekitar seratus orang tertuduh dari hukuman mati itu, akhirnya menerima permintaan orang tua Leopold dan Loeb. Sebab menurutnya, orang kaya juga berhak atas pembelaan di depan hukum. Akan berhasilkah dia?  

Darrow mempersiapkannya dengan Jaksa Crowe. Sang jaksa sadar, satu-satunya pembelaan yang bisa diajukan adalah bahwa Leopold dan Loeb abnormal jiwanya. Maka ia berusaha keras mengumpulkan bukti bahwa dua anak muda itu secara mental sehat dan dapat dituntut pertanggungjawaban atas perbuatan mereka. Jaksa Crowe mendatangkan sejumlah psikiater untuk memeriksa para tertuduh. Pemeriksaan dilakukan di Hotel La Salle, tempat Leopold dan Loeb ditahan.

Darrow minta kesempatan mengunjungi kliennya tapi ditolak oleh jaksa. Maka ia mencari akal, yaitu minta kepada pengadilan agar memerintahkan penahanan Leopold dan Loeb di penjara setempat. Permintaannya dikabulkan. Dengan itu para tertuduh kini berada dalam kekuasaan kepala penjara, hingga sang pembela dapat mengunjunginya. Bagi Darrow ini kemenangan pertama.

Sementara itu dalam masyarakat sudah beredar desas-desus tentang apa kiranya yang akan diperbuat oleh pembela. Perkiraan orang, Darrow akan mengatakan para tertuduh memang bersalah, tapi tidak waras jiwanya. Lalu diusahakan agar setelah dinyatakan bersalah, mereka dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Setelah selang beberapa tahun, keduanya bisa dibebaskan. Dan pembela akan menerima imbalan uang yang sangat banyak.

Darrow tahu bahwa desas-desus tersebut akan sangat merugikan pembelaannya. Maka ia mesti berhati-hati dalam mengambil langkah.

Mula-mula Darrow diam-diam menjajaki opini publik dengan menyebar penyelidik-penyelidik. Hasilnya, 60 persen responden memberi jawaban “ya” atas pertanyaan “apakah mereka harus digantung”. Kemudian Darrow minta kepada orang tua Leopold dan Loeb untuk menyiarkan pernyataan bahwa pembela tidak akan berusaha membebaskan anak mereka. la hanya akan membuktikan bahwa mereka tidak waras jiwa. Kini ternyata 60 persen responden bisa menerima seandainya kedua tertuduh hanya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Darrow mempersiapkan senjata-senjata pembelaannya. Kebetulan himpunan Psikiater Amerika sedang mengadakan pertemuan di Philadelphia. Darrow mendatangkan 7 orang spesialis ilmu jiwa dari himpunan tersebut untuk memeriksa Leopold dan Loeb.

Perkara Leopold dan Loeb mulai disidangkan pada tanggal 21 Juli, dengan Hakim Pimpinan John Robert Caverly. 3.000 orang berebut untuk mendapatkan tempat di dalam ruang pengadilan yang hanya bisa menampung 300 kursi.

Para tertuduh masuk ruang sidang. Keduanya bermuka dingin dan tampak tenang. Pakaiannya bersih dan rapi. “Ini pertunjukan kami. Penonton tidak boleh kecewa,” kata mereka kepada seorang wartawan. Tidak kelihatan menyesal, bahkan keduanya tampak gembira karena menjadi pusat perhatian.

Darrow membuka pidatonya. la menyatakan kedua kliennya bersalah dan mohon diperbolehkan mengajukan bukti-bukti yang meringankan hukuman. 

Siasat Darrow cerdik sekali. Sebab pernyataannya berarti bahwa soal apakah kliennya harus dihukum mati ataukah dipenjara seumur hidup bukanlah wewenang 12 juri. Juri-juri itu berasal dari kelompok awam. Hakimlah yang berwenang untuk memutuskan soal keputusan penjara atau hukuman mati. Dan Darrow tahu bahwa sang hakim orang yang berpengalaman, tanpa prasangka, bijaksana, dan berperikemanusiaan.

Pembukaan pidato Darrow bagaikan ledakan bom dan Jaksa Crowe langsung bangkit untuk protes. Darrow main curang, katanya. la tidak bisa langsung saja menyatakan kliennya bersalah, lalu minta keringanan hukuman! “Keringanan adalah pembelaan,” jawab Darrow seakan meledek Crowe.

“Pembelaan Darrow bertolak dari filsafat hidupnya yang berbahaya,” tukas jaksa. “Dalam hukum tidak ada apa yang disebut tingkat-tingkat tanggung jawab mental. Pengadilan tidak punya kekuasaan untuk mendengar kesaksian tentang kondisi mental tertuduh. Manusia bertanggung jawab penuh atas akibat-akibat perbuatannya atau sama sekali tidak.”

Tapi dengan tenang Darrow mengajukan argumen-argumennya. Dia tidak bermaksud memberikan bukti yang tak terbantahkan bahwa kedua kliennya sakit jiwa. la hanya ingin menunjukkan suatu keadaan mental yang tidak tercakup oleh definisi hukum tentang sakit jiwa. Itu pemahaman soal baik atau buruk dan kemampuan memilih salah satunya.

Ia tidak mengajukan pembelaan. Namun ia mengajukan pernyataan yang harus didengar demi meringankan hukuman bagi seseorang yang dinyatakan bersalah. 

Lalu Darrow menggugat suasana dalam menghadapi perkara ini. Jaksa dan masyarakat menjadi kawanan serigala haus darah yang siap merobek-robek kedua kliennya. Padahal hukuman mati seharusnya kita jatuhkan, tidak dengan lantang, marah, ataupun benci, tapi dengan iba, haru serta menyesal bahwa hukuman itu terpaksa dijatuhkan. Darrow menggugat suasana kejam dan tidak berperikemanusiaan itu.

Menanggapi pidato ini, Hakim Caverly menyatakan akan mendengarkan apa yang ingin dikemukakan pembeIa. Maka dimulailah pertarungan memperebutkan nyawa Leopold dan Loeb.

Riwayat hidup mereka ditelusuri sampai masa bayi. Oleh jaksa diajukan seorang saksi, salah satunya adalah seorang profesor hukum Universitas Chicago. Profesor menyatakan, sehari setelah pembunuhan itu Leopold memperdebatkan dengannya soal pembunuhan dengan penculikan serta pemerasan.

Kawan-kawan tertuduh memberikan kesaksian tentang tingkah laku dan obrolan mereka. 

Dibuktikan bahwa surat pemerasan dan catatan kuliah Leopold ditulis dengan mesin tik yang sama. Para dokter menerangkan bahwa sebelum dibunuh, Bobbie Franks menjadi korban perbuatan homoseksual.

Penyelidikan atas jalannya kejahatan dengan semua tahap-tahapnya itu membuktikan bahwa perbuatan Leopold dan Loeb semua telah direncanakan sebelumnya. Bukan itu saja. 

Setelah melakukan perbuatan terkutuk, kedua tertuduh sedikit pun tidak memperlihatkan air mata tanda penyesalan. Mereka bahkan merasa bangga. Mereka sungguh tidak patut diberi belas kasihan atau keringanan. 

Penuturan kisah hidup Leopold dan Loeb oleh jaksa membuat seluruh masyarakat Amerika makin keras berteriak menuntut hukuman gantung. 

Pembela mengajukan enam saksi ahli, semuanya dokter-dokter spesialis. Antara lain Dr. Karl Bowman, bekas dosen penyakit mental di Harvard University; Dr. Bernard Glueck, direktur klinik psikologi dari penjara terkenal Sing Sing; Dr. William Healy dari Yayasan Hakim Baker.

Menurut mereka, Loeb sangat terpengaruh oleh wanita pengasuhnya, yang berwatak keras dan terlalu banyak menuntut dari anak itu. Seringkali Loeb takut dimarahi atau mendapat hukuman. Akibatnya sejak kecil ia terbiasa berbohong bila berbuat tidak baik, tanpa menyesalinya. Di umur 10 tahun, anak itu sering berkhayal yang tidak-tidak.

la membayangkan dirinya sebagai penjahat cemerlang di abadnya, begitu hebat hingga tidak mungkin tertangkap oleh detektif-detektif terhebat di dunia.

Leopold juga korban didikan wanita pengasuhnya. Wanita itu kerap kali mendorong Leopold untuk mencuri, dengan tujuan agar bisa memeras anak itu. Sang pengasuh menanamkan pengertian-pengertian abnormal tentang baik dan buruk.

Di sekolah Leopold sangat menonjol kecerdasannya. Tapi ia memandang Loeb sebagai anak dengan kelebihan-kelebihan yang melampaui bakatnya sendiri. Keduanya menjadi sahabat karib dan Leopold merasa tidak bisa hidup tanpa persahabatan Loeb. Dalam khayalan Leopold, Loeb adalah raja dan Leopold merupakan budak beliannya yang bersedia melakukan semua perintahnya.

Pada suatu ketika kedua sahabat itu membuat perjanjian. Masing-masing pihak bersedia melakukan fantasi yang ada di benak mereka.

Kemudian dibuat perjanjian lain lagi, yaitu Loeb mempunyai kekuasaan penuh atas Leopold.

Apa pun yang diminta Loeb, jika itu dimintanya “demi perjanjian”, maka Leopold wajib melaksanakannya.

Leopold mempunyai pandangan bahwa apa pun yang memberi kenikmatan kepadanya adalah baik. Bila terjadi sebaliknya, maka hal itu dianggapnya buruk. Ia tidak percaya pada norma-norma moral. Leopold, yang belajar filsafat, terpengaruh oleh ide-ide filsuf Nietzsche dengan manusia super-nya. Baginya Loeb adalah manusia super itu.

Dalam psychiatric reports tentang kedua anak itu, para dokter ahli menyatakan bahwa Leopold dan Loeb menunjukkan divergensi patologis yang mencolok. Artinya terdapat celah antara kehidupan intelektual dan kehidupan emosional mereka. Sama sekali tidak mampu memberi tanggapan emosional sedikit pun sebagaimana mestinya. Perasaan Leopold tidak tergetar sedikit pun ketika ia menculik dan membunuh anak yang masih saudaranya sendiri. Dalam hati ia bahkan tertawa ketika melihat ibunya mengumpat-umpat pembunuh Bobby Franks.

Tentu semua itu dibantah oleh tim jaksa yang menampilkan pula saksi-saksi ahli. Sebulan penuh pertempuran antara para psikiater berlangsung di ruang pengadilan. Sampai tiba saatnya Darrow mengajukan pembelaannya yang terakhir.

Pledoi Darrow, yang memakan waktu 3 hari, adalah yang paling terkenal di antara pidato pembelaannya.

Pada awal pembelaannya, Darrow menarik simpati publik dengan menyesalkan bahwa kedua kliennya anak jutawan. Sering kali uang dapat berbuat segala-galanya. Tapi dalam hal Leopold dan Loeb, uang malah merugikan. Kekayaan orang tua mereka membuat pembelaannya lemah. Sebab orang berprasangka bahwa Darrow mendapat bayaran dan sogokan melimpah. Oh, seandainya kedua kliennya anak keluarga miskin, pembelaannya akan lebih didengar. 

Lalu ia memperingatkan hakim akan tanggung jawabnya. Seperti dikatakan, dengan langsung menyatakan kedua kliennya bersalah, Darrow menarik mereka dari kekuasaan 12 juri dan menempatkan mereka dalam tangan hakim. Bila Leopold dan Loeb sampai dihukum gantung, maka hakimlah yang bertanggung jawab penuh atas hal itu. Dia sendirian dalam hal ini.

Kemudian argumen demi argumen dibentangkannya untuk menghancurkan pembuktian jaksa.

Dikatakan oleh penuntut bahwa kedua kliennya kejam dan Ialim. Kekejaman dapat diukur dengan kesakitan yang dilakukannya pada korban. Darrow menekankan bahwa pembunuhan terjadi cepat tanpa penyiksaan. Sebelum mengetahui apa yang terjadi, Bobbie Franks sudah tidak sadarkan diri akibat pukulan.

Darrow tidak membenarkan perbuatan para klien. Tapi hal di atas perlu diingat bila orang mau berbicara tentang kekejaman.

Kekejaman juga dapat diukur berdasarkan motif pembunuhan. Misalnya karena dendam, benci, marah, dan sebagainya. Tapi motif-motif tersebut sama sekali tidak ditemukan pada Loeb dan Leopold. Pembunuhan ini, kata Darrow, tanpa makna, tanpa manfaat, tanpa tujuan, dan tanpa motif.

Motif “ingin mendapat uang” seperti dituduhkan oleh jaksa, sama sekali tidak bisa diterima. Sebaliknya, Leopold dan Loeb uangnya melimpah. Pada saat pembunuhan Loeb mempunyai uang sekitar 3.000 dolar dan kapan saja ia dapat minta cek pada sekretaris ayahnya, atas instruksi ayahnya sendiri. Leopold menerima cek sebesar 125 dolar setiap bulan dan bisa mendapatkan uang bila ia membutuhkannya. Ketika Leopold berencana untuk keliling Eropa, ayahnya segera memberinya uang 3.000 dolar.

Tidak ada motif dendam atau kebencian, tidak ada motif uang, juga tidak ada motif lainnya. Dan tanpa motif, pembunuhan ini hanya bisa diartikan sebagai perbuatan tanpa makna, tanpa tujuan dari anak yang sakit mental. Mereka meraba-raba dalam kegelapan dan didorong oleh kekuatan tertentu yang sekarang ini barangkali kita belum mampu menjajakinya secara memadai.

Darrow tidak minta belas kasihan, tapi hanya minta hukum dilaksanakan. Ada 3 kemungkinan hukuman bagi para kliennya: mati di tiang gantung, penjara seumur hidup, atau penjara sekurang-kurangnya 14 tahun.

Hukum tertulis sudah terlampaui oleh semakin halusnya perasaan perikemanusiaan orang-orang yang berpikiran maju dan menentang hukuman mati. Pilihan atas berbagai kemungkinan hukuman ada di tangan hakim. 

Tuduhan jaksa bahwa pembunuhan sudah direncanakan 6 bulan sebelumnya, yaitu ketika Leopold beli mesin tik, sama sekali tidak masuk akal. Sebab anak itu tidak pernah main sembunyi dengan mesin tiknya, yang kerap kali ia pinjamkan kepada teman-temannya.

Terus-menerus Darrow dengan berbagai cara menunjukkan bahwa perbuatan kliennya sama sekali tidak memiliki motif. Mereka membunuh bukan karena uang, bukan karena iri atau benci. Mereka membunuh Bobbie Franks seperti membunuh seekor lalat atau nyamuk - semata-mata karena ingin pengalaman.

Mereka membunuh karena memang itulah keadaan kedua anak muda itu, akibat faktor-faktor dari masa lalu. Darrow melukiskan proses pertumbuhan jiwa Leopold dan Loeb. Ia memanfaatkan sebaik-baiknya keterangan-keterangan para saksi ahli jiwa.

Loeb pada masa kanak-kanak tersiksa oleh tekanan-tekanan batin karena sikap pengasuhnya yang terlalu keras. Ia suka bersembunyi, berbohong, membuat tipu muslihat. Muak dengan buku-buku bermutu yang disodorkan sang pengasuh, ia mencari pelarian dan hiburan dengan buku-buku detektif dan kejahatan. Kebiasaan berbohong dan tipu muslihat dipupuk dengan cerita-cerita tentang kejahatan. Sampai akhirnya ia bercita-cita untuk menjadi penjahat paling cemerlang di abadnya.

Tentang Leopold, Darrow memaparkan pengaruh filsafat Nietzsche atas anak yang mempunyai bakat-bakat cemerlang ini. Leopold keranjingan ide manusia super-nya Nietzsthe. Dia percaya bahwa dirinya dan Loeb adalah manusia-manusia super.

Darrow mengambil contoh betapa hebatnya pengaruh ide-ide yang merasuki seseorang. Di New York, seorang ayah bernama Freeman keranjingan cerita tentang Nabi Abraham. Nabi Abraham mengurbankan anaknya pada Tuhan. Freeman membuat altar di rumahnya dan menggorok Ieher anaknya yang masih bayi untuk dikurbankan kepada Tuhan. Leopold juga termasuk orang yang terpengaruh pada gagasan-gagasan tertentu.

Darrow menunjuk pada kenyataan bahwa saksi-saksi ahli dari pihak jaksa hanya selama beberapa jam memeriksa tertuduh dalam waktu berminggu-minggu. 

Menanggapi tuntutan jaksa agar para tertuduh tidak diberi belas kasihan, seperti apa yang mereka lakukan pada korbannya, Darrow berkomentar,

“Jika negara tempat saya berteduh ini tidak lebih baik hati, tidak lebih berperikemanusiaan, tidak lebih berperasaan halus, tidak lebih pandai dari perbuatan kedua klien saya ini, maka saya sangat menyesal hidup sekian lama di negara ini.”

Satu nada dasar terjalin dalam seluruh pembelaan Darrow: proses pertumbuhan seorang anak menjadi dewasa, tidak terperikan. Dan dalam proses pertumbuhan Leopold dan Loeb telah terjadi sesuatu. Akibatnya adalah kedua anak muda yang malang itu dibenci, dicemooh, dan dikucilkan. Masyarakat berteriak-teriak meminta darah mereka.

Dengan suara berbisik yang hampir tidak terdengar, Darrow mengakhiri pembelaannya:

“Saya mengajukan pembelaan untuk masa depan di mana kebencian dan kekejaman tidak lagi menguasai hati manusia. Masa di mana kita dengan akal budi, penilaian dan pengertian dapat belajar bahwa setiap jiwa patut diselamatkan dan bahwa belas kasih adalah perbuatan tertinggi manusia.”

Ketika Darrow turun dari mimbar, ruang sidang sunyi senyap selama 2 menit. Banyak dari hadirin yang mengusap air mata.

Tiba kini giliran Jaksa Crowe untuk memberikan tanggapan akhir. Pidato sanggahannya makan waktu 2 hari. Tapi ternyata ia tidak mampu menghapuskan kesan mendalam yang telah ditanamkan pembela.

Pada tanggal 10 September hakim menjatuhkan keputusan hukuman penjara seumur hidup bagi Leopold dan Loeb. Saat mengumumkan keputusannya, hakim menanggapi argumentasi-argumentasi dari segi ilmu kejiwaan. Yaitu bahwa para tertuduh tidak normal jiwanya dan itulah yang mendorong mereka untuk berbuat kejahatan. 

Menentukan kadar tanggung jawab perbuatan manusia adalah di luar tugas serta kemampuan pengadilan.

Namun hakim mengakui bahwa analisa yang cermat tentang riwayat hidup para tertuduh, keadaan mental, emosional, dan etika mereka, sangat penting dan merupakan sumbangan yang amat berharga bagi kriminologi. Masalah tanggung jawab manusia dan hubungannya dengan hukuman peradilan sangat luas ruang lingkupnya dan bukan hanya menyangkut tertuduh dalam perkara ini. Masalah ini pantas menjadi pemikiran badan legislatif— bukannya badan yudikatif.

Pertimbangan utama mengapa dijatuhkan hukuman penjara seumur hidup dan bukannya hukuman mati, adalah usia para tertuduh yang masih muda belia, 18 dan 19 tahun. Keputusan ini sejalan dengan kemajuan hukum kriminal di seluruh dunia dan sesuai dengan rasa perikemanusiaan yang makin halus. Di samping itu juga sesuai dengan preseden-preseden di Illinois yang dalam sejarah peradilannya hanya mencatat dua perkara di mana anak muda dihukum mati. Pengadilan tidak berkeinginan menambah jumlah itu.

Demikianlah berakhir perkara Leopold dan Loeb yang dianggap sebagai tonggak dalam sejarah kriminologi. Sebab ketika itulah untuk pertama kali suatu sidang pengadilan dapat leluasa menjajaki kondisi mental dan psikis para tertuduh, mencoba menyelidikinya, bebas dari kekangan pengertian-pengertian hukum yang berlaku tentang tanggung jawab. Mengenai nasib selanjutnya dari para tertuduh, Leopold lebih beruntung dari Loeb. Yang terakhir ini mati ditikam oleh sesama narapidana pada tahun 1936.

Riwayat Leopold dikisahkannya sendiri dalam bukunya Life Plus Ninety-Nine Years (Hidup plus 99 Tahun). Tahun 1924 ia masuk penjara Joliet. Anak cemerlang yang pada tahun 1924 dikenal sebagai makhluk jadi-jadian ini, dalam penjara mengabdikan hidupnya kepada masyarakat narapidana. Ia mempelajari sistem hukuman yang bersifat mendidik dan mengadakan reformasi di bidang ini. Belajar radiologi dan psikiatri. Memelopori pendirian bagian riset sosiologis untuk menyelidiki kemungkinan mengetahui reaksi-reaksi narapidana setelah dibebaskan. Dalam Perang Dunia, Leopold mengajukan diri sebagai kelinci percobaan untuk pengamatan cara kerja pil malaria. Ia belajar berbagai bahasa dan menjadi anggota terkemuka dari the Fellowshop of American Medical Technologists.

Setelah 25 tahun dalam penjara, ia mohon dibebaskan agar bisa lebih leluasa mengabdikan dirinya. Tapi permohonannya ditolak. Ia diminta untuk menunggu 12 tahun lagi. Akhirnya pada tahun 1958 ia dibebaskan. Leopold memilih kegiatan di suatu koloni lepra di Amerika Selatan.

(Rupert Furneaux)

Baca Juga: Mereka Diangkut dengan Kereta Jenazah

 

" ["url"]=> string(69) "https://plus.intisari.grid.id/read/553799236/perkara-loeb-dan-leopold" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1690566110000) } } [4]=> object(stdClass)#93 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3799242" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#94 (9) { ["thumb_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2023/07/28/13-gara-gara-seorang-bintang-fil-20230728053948.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#95 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(5) "Ade S" ["photo"]=> string(54) "http://asset-a.grid.id/photo/2019/01/16/2423765631.png" ["id"]=> int(8011) ["email"]=> string(22) "ade.intisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(147) "George Murray dan istrinya hidup bahagia. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan selamanya. Suatu hari, George ditemukan tewas tertembak di kamarnya." ["section"]=> object(stdClass)#96 (8) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["show"]=> int(1) ["alias"]=> string(5) "crime" ["description"]=> string(0) "" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2023/07/28/13-gara-gara-seorang-bintang-fil-20230728053948.jpg" ["title"]=> string(30) "Gara-Gara Seorang Bintang Film" ["published_date"]=> string(19) "2023-07-28 17:39:57" ["content"]=> string(22811) "

Intisari-Online.com - George Murray dan istrinya hidup bahagia. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan selamanya. Suatu hari, George ditemukan tewas tertembak di kamarnya.

----------

George Murray adalah seorang pengusaha sukses di San Juan, Filipina. Bagi wanita, ia adalah lelaki idaman: kaya, tampan, dan bertubuh atletis. Perusahaannya, ETRACO (singkatan dari Equipment Trading Company), bergerak di bidang perdagangan berbagai alat dan perlengkapan teknik. Murray bendahara dan sekaligus pemilik setengah dari kekayaaan perusahaan.

Lelaki ini berasal dari Kansas City, Amerika Serikat. Pernah menjadi penyelidik kriminal dalam ketentaraan AS. Untuk posisinya itu, ia bertugas di Eropa, ikut membongkar perdagangan barang-barang ilegal, termasuk narkotika. Ketika Perang Dunia II berakhir, George Murray berada di Filipina dan tetap tinggal di negara ini.

la pandai bergaul dan mempunyai koneksi luas di kalangan politisi muda di Filipina. Murray tidak banyak bicara tentang aktivitas perusahaannya. Kadang-kadang ia menghilang dengan kapal pesiarnya yang bernama Mistress. Namun beberapa waktu kemudian, dia pun muncul lagi. Salah satu kapalnya sering bertolak dari pelabuhan bila malam telah tiba.

George Murray menikah dengan seorang wanita Filipina bernama Esther del Rosario. Perkawinan dengan janda muda yang memiliki empat orang anak dari almarhum suaminya itu, terjadi pada tahun 1947. Esther seorang istri yang baik dan terhormat. Perkawinan pertamanya bahagia tapi suaminya tidak berumur panjang. 

Setelah beberapa waktu hidup menjanda, Esther tidak menolak lamaran pengusaha asal Amerika yang tampan lagi kaya itu. Perkawinan kedua ini pun membuat iri banyak wanita. Hubungan George Murray dengan istrinya sangat mesra. 

Ketika itu tanggal 13 Agustus 1949. Murray dan istrinya menikmati ketenangan suasana sore di rumahnya. Mendengarkan musik di radio. Dan bila musiknya enak didengar, mereka akan berdansa. 

Jam 11 malam George Murray pamit pada istrinya dan mengatakan bahwa ia akan ke Manila. Tidak lama, hanya mau menemui seorang relasi yang akan bertolak ke Hong Kong keesokan harinya.

Esther tidak bertanya apa-apa bila suaminya bepergian untuk urusan kerja. Dan Murray sendiri juga tidak pernah melibatkan istrinya dengan suka duka pekerjaannya sebagai pengusaha. Ketika Murray pamit akan ke Manila, Esther juga tidak bertanya mengapa urusan dengan relasi dari Hongkong itu tidak diselesaikan di siang hari. Tapi Esther tidak bisa menghilangkan kecurigaan bahwa jangan-jangan kepergian suaminya itu ada kaitannya dengan wanita lain. 

Setelah berpamitan, Murray berangkat dengan mobil Cadillacnya ke Manila. Langit agak mendung dan ketika hampir sampai di tempat tujuan, hujan pun turun. la gelisah ketika terlambat sampai di Riviera, sebuah klub malam. Tapi orang yang dicarinya ternyata masih duduk dan menunggu. Ia seorang bintang film. Namanya Carol Varga. 

Murray mengenal gadis muda belia yang berambut hitam dan bermata kelam ini sejak beberapa waktu lalu. Saat itu kapal pesiarnya, Mistress, disewa untuk pembuatan film Sagur. Dalam film tersebut, Carol merupakan pemeran utama. Murray dan Carol tertarik satu sama sama lain. Carol memang cantik. Dan Murray memiliki kelebihan-kelebihan yang sering digambarkan pada seorang tokoh utama dalam film: maskulin, dinamik, tampan, dan kaya.

Hubungan mesra pun terjalin. Murray dan Carol sering melakukan kencan rahasia. Hubungan asmara pun semakin erat. Dan semuanya itu disembunyikan oleh Murray dari istrinya.

Pertemuan pada tanggal 13 Agustus 1949 di Riviera juga penuh dengan kemesraan. Seperti sepasang suami istri yang sedang berbulan madu, mereka menikmati keintiman di lantai dansa. Diselingi duduk berdua sambil menyesap anggur.

“Aku ingin menikahimu, Carol,” kata Murray sambil membuai kekasihnya di lantai dansa.

“Kamu sudah beristri,” jawab gadis itu.

“Itulah masalahnya, namun aku bisa mencari jalan keluar. Bagaimana dengan kamu sendiri? Apakah kamu bersedia menjadi istriku?”

“Ya, jika kamu bebas, George.”

“Itulah kata-kata yang sejak lama kutunggu darimu.”

Itulah keterangan Carol Varga tentang pertemuannya dengan George Murray malam itu. Dan Gadis ini menambahkan bahwa George malam itu dalam suasana mesra berkata, “Jika mati, aku berharap berada dalam pelukanmu.”

Ini kata-kata yang tidak akan mudah diucapkan oleh seorang laki-laki yang tahu kehalusan perasaan seorang kekasih. Tapi pada saat itu, kata Carol Varga, barangkali George Murray dalam keadaan agak mabuk. Pasalnya, ia terlalu banyak minum anggur. 

Menjelang jam 4 pagi, kedua kekasih itu berpisah. George Murray kembali ke San Juan. Ia langsung tidur begitu sampai di rumah karena terlalu lelah. Semua pakaiannya ditanggalkan, kecuali pakaian dalamnya.

Untuk terakhir kali ia memejamkan matanya. Sebab tak lama kemudian, sejumlah peluru mengakhiri hidupnya. Satu peluru menembus antara kedua matanya sehingga meninggalkan pecahan-pecahan tulang. Yang kedua melubangi sudut kanan mulutnya, membuat gigi-giginya menonjol keluar dari celah-celah bibir. Muka yang tampan itu berubah menjadi pemandangan yang mengerikan.

Seakan masih belum cukup, dua peluru lagi ditembakkan. Satu mengenai leher, satunya lagi menembus jantung. Kedua tembakan ini sebetulnya tidak perlu dilakukan sebab korban pasti sudah tidak bernyawa akibat dua tembakan sebelumnya. 

Bunyi tembakan membangunkan ketiga anjing boxer milik tuan rumah. Anjing-anjing itu menyalak keras. Penduduk San Juan bangun dalam suasana riuh karena pembunuhan yang terjadi pagi itu.

Polisi yang diberitahu lewat telepon pun segera datang. Mereka menjumpai Nyonya Murray yang bermuka muram. Keempat anaknya ketakutan dan semua berada di dekat nyonya yang malang itu.

Polisi memeriksa seluruh isi kamar. Jendela kamar terbuka. Gorden dan lantai dekat jendela basah karena air hujan yang masuk akibat tertiup angin. Tampaknya pembunuh menyelinap lewat jendela itu untuk masuk ke dalam kamar tidur yang terletak di tingkat atas. Rumah Murray bertingkat dua.

Senjata api yang digunakan untuk membunuh Murray tidak ditemukan di lokasi. Meja tulis almarhum dan laci-lacinya diperiksa. Di sana ditemukan beberapa berkas korespondensi. Di antara surat-surat itu, ada yang menjelaskan tentang aktivitas kapal Mistress.

Kapal milik Murray ini ternyata sering digunakan untuk penyelundupan. Seperti untuk mengangkut senapan-senapan, mesiu, radio, dan onderdil mobil. Semua itu dibawa ke pantai-pantai terpencil di Malaysia dan Indonesia. Penadahnya adalah kaum pemberontak dan perusuh.

Mengenai kejadian pagi itu, Nyonya Murray memberi keterangan sebagai berikut. “Ketika George datang dan naik ke ranjang, ia berpesan agar jangan dibangunkan sebelum jam 10.00 pagi. Saya tidak bisa tidur. Karena sudah pagi, saya turun ke lantai bawah. Saya kemudian membuat kopi. Ketika mau minum, saya mendengar suara tembakan dari atas. Saya lari ke atas dan berpapasan dengan pembantu. Saya ke kamar anak-anak. Ternyata mereka tidak apa-apa. Kemudian ke kamar kami, George sudah berlumuran darah. Saya menjerit ‘Kenapa kau, George?’ Tapi ia sudah meninggal.”

Kemudian Nyonya Murray menyuruh anak perempuannya yang paling tua untuk turun dan membangunkan Jose Tagle, sopir keluarga. Tagle diminta untuk segera memanggil dokter.

“Itu saja yang saya alami dan ketahui,” jawab wanita itu. 

Polisi bertanya apakah suaminya punya musuh.

“George memang punya beberapa musuh. Dan ia beberapa kali mendapat ancaman. Itulah sebabnya mengapa ia membawa revolver.” Tetapi senjata api milik Murray ini tidak dapat ditemukan.

Kegiatan Murray terkait perdagangan ilegal disorot polisi yang mencari titik terang dalam pengusutan peristiwa pembunuhan ini. Salah satu surat yang ditemukan di kamar Murray, diposkan di Hongkong. Pengirimnya, yang bernama Stewart, memesan amunisi M-1 kaliber 30 sebanyak 12.000 buah. Ia memintanya agar dikirim segera dengan kapal Mistress.

Masih ada surat lain, dari kapten Johnson, yang memberitahukan bahwa kiriman senjata dan amunisi sudah diterimanya dengan aman di suatu pantai di Malaysia. Johnson menambahkan, selama beberapa hari terakhir ia diawasi terus menerus oleh polisi Singapura. Johnson menyarankan kepada Murray agar berhati-hati.

Penyelidikan selanjutnya menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan Murray sejak bebas dari ketentaraan AS, memang meragukan. Ia berhenti dari dinas militer dengan rencana yang jelas. Pengetahuannya tentang kelebihan persediaan senjata dalam tentara AS di Filipina ia manfaatkan dengan baik.

Murray menjalin hubungan dengan orang-orang yang bisa membantunya dalam hal modal. Bisa dipahami bahwa mereka itu adalah petualang. Untuk kelancaran jalannya usaha mendapatkan senjata, Murray mendekati pula sejumlah politisi dan pejabat. Dengan memberi balas jasa, segalanya dapat berjalan dengan lancar. George Murray mendadak mempunyai semacam monopoli di Manila. Tanpa banyak kesulitan, ia dapat membayar kembali pinjaman-pinjamannya kepada relasi petualangnya.

Salah satu objek yang paling menguntungkan baginya ialah gudang alat-alat perang yang disebut Basis R. Gudang itu memiliki luas puluhan hektar. Murray berhasil mendapatkan kontrak dengan pemerintah Filipina untuk memindahkah persediaan barang-barang dari Basis R itu ke pos-pos tertentu.

Pengangkutan alat-alat perang oleh truk ETRACO ini kemudian menimbulkan kehebohan. Banyak material dan alat-alat lain hilang. Peti-peti yang seharusnya berisi senjata-senjata terbaru dari AS dan amunisi, ternyata hanya berisi kabel-kabel saja. Bahkan adakalanya peti itu kosong. Tidak ada pengecekan sistematis tentang peti dan kotak yang diangkut oleh perusahaan ETRACO itu. Peti-peti dalam keadaan terpaku rapat, bertumpuk-tumpuk, dan tertutup debu serta sarang Iaba-laba.

Skandal ini disorot oleh pers. Surat kabar setempat, Herald, menulis bahwa sejumlah tokoh-tokoh penting tersangkut dalam skandal ini. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai pengaruh di lingkungan pemerintahan. Karena itu, menurut surat kabar, para penyidik diingatkan untuk berhati-hati saat melakukan penyidikan terhadap para tokoh yang terlibat.

Polisi berhasil menyingkap tabir komplotan perdagangan ilegal yang sangat berani ini. Dengan itu, timbul berbagai dugaan perihal penyebab kematian George Murray. Kemungkinan kematiannya berkaitan erat dengan tokoh-tokoh perdagangan ilegal ini.

Apakah George Murray oleh relasi-relasinya dianggap mengetahui terlalu banyak rahasia sehingga mereka merasa lebih baik untuk menyingkirkannya? Barangkali lelaki ambisius ini menjadi tamak dan ingin memperoleh bagian keuntungan yang terlalu besar? Ataukah mungkin terjadi semacam adu kekuatan di kalangan komplotan dan Murray memeras Iawan-lawannya dengan pengetahuan tentang rahasia mereka?

Di samping mencari petunjuk-petunjuk soal kegiatan Murray sebagai pedagang ilegal, polisi tidak mengabaikan keterangan tentang jalannya pembunuhan.

Satu hal yang aneh adalah bahwa anjing-anjing boxer milik keluarga Murray tidak menyalak ketika pembunuh masuk dari jendela. Padahal hewan itu sangat peka pendengarannya dan juga galak pada orang asing.

Suara kecil sedikit saja bisa membuat anjing-anjing itu bangun dan menggonggong. Ketiga anjing boxer itu baru mulai ribut ketika mendengar suara tembakan dari kamar tidur majikannya. 

Selain itu, polisi juga tidak menemukan jejak-jejak asing di kebun maupun di rumah. Jendela kamar tidur memang terbuka hingga timbul kesan bahwa pembunuh masuk dari sana. Tapi tidak terlihat bekas-bekas tangan ataupun kaki orang yang memanjat masuk. Dan jendela juga tidak memperlihatkan tanda-tanda bekas didobrak dengan paksa. Andai jendela dicongkel, anjing-anjing yang tidur di bawah jendela itu pasti terbangun dan menyalak. Dan ini tidak terjadi.

Ada satu hal lagi yang menimbulkan kecurigaan. Nyonya Murray menerangkan kepada polisi bahwa begitu mendengar tembakan, ia lari ke atas ke kamar anak-anak dan suaminya. Ketika naik tangga, ia berpapasan dengan Maria Natal, pembantu rumah tangga mereka. Tetapi Maria Natal ini tidak dijumpai polisi ketika memeriksa rumah.

“Ke mana gadis pembantu rumah tangga itu, Nyonya Murray?”

“Tidak tahu. Saya kira, ia meninggalkan rumah karena ngeri melihat kejadian itu.”

“Apakah dia tidak berpamitan ketika meninggalkan rumah?” 

“Saya tidak melihatnya lagi sejak saya berpapasan dengannya di tangga.”

Nyonya Murray tampak tenang ketika memberikan keterangan ini. Tapi salah seorang anggota kepolisian, Faustos, tidak puas mendengar penjelasannya.

Dua hal lain juga membuatnya curiga. Pertama, keesokan harinya setelah peristiwa pembunuhan itu, polisi kembali ke rumah keluarga Murray, dan memeriksa lemari pakaian. Ia melihat sehelai gaun malam tergantung di sama dalam keadaan baru dicuci. Kedua, keadaan kamar berubah. Kondisi itu berbeda dengan pemandangan setelah kejadian yang difoto oleh polisi. Foto ini memperlihatkan dua sarung tangan putih tergeletak di lantai. Kini tinggal satu sarung tangan sebelah kiri saja. Rupanya yang sebelah kanan sudah disingkirkan. 

Polisi sudah berpesan kepada Nyonya Murray, bahwa benda-benda di dalam tempat kejadian tidak boleh disentuh dan dipindahkan sebelum kasus ini selesai.

Mengapa sarung tangan sebelah kanan itu disembunyikan? Apakah ada noda darahnya? Atau sarung tangan itu hangus karena mesiu? Mengapa gaun malam Nyonya Murray segera dicuci? Apakah untuk menghilangkan noda-noda darah?

Faustos beranggapan lebih baik tidak menanyai Nyonya Murray secara langsung. Ia merasa lebih baik untuk mendapatkan keterangan dari Maria Natal, si pembantu rumah tangga. Oleh karena itu, Maria Natal harus segera ditemukan. 

Faustos keluar rumah dan menjelajahi halamannya yang luas. Di sana banyak semak-semak. Di antara semak-semak itu terdapat jalan sempit. 

Faustos mengikuti jalan di tengah semak belukar ini. Ternyata ia sampai pada sebuah pintu kayu. Gerendelnya ia putar. Pintu terbuka dan Faustos melihat sebuah jalan berlapis plesteran semen. Ia mengikuti jalan itu hingga tiba di sebuah rumah yang tersembunyi di belakang pepohonan.

Pintu rumah ia ketuk. Seorang gadis membukakannya. Gadis itu ialah Maria Natal. Dalam kondisi ketakutan, Maria menceritakan apa yang diketahuinya. 

Ia disembunyikan oleh nyonya rumah di tempat itu, sebelum rombongan polisi tiba untuk mengadakan pemeriksaan. Menurut gadis ini, Nyonya Murray berpesan, “Kamu tinggal di sini, jangan sampai terlihat oleh siapa pun.”

Maria Natal tidak dibawa kembali ke rumah majikannya, tapi langsung diangkut ke markas polisi. Di sana ia dimintai keterangan dan harus menandatangani surat pernyataan. 

Kisah Maria Natal sebagai berikut. 

“Jam setengah lima pagi saya dibangunkan oleh Nyonya Murray. Ia masuk ke kamarnya sambil menggendong putra bungsunya yang tidak bisa tidur. ‘Eddie tidak bisa tidur, biar ia tidur dengan kami,’ katanya. Kemudian Nyonya Murray keluar. Kira-kira setengah menit kemudian, saya mendengar letusan tembakan. Saya keluar dan turun ke lantai bawah menuju ke kamar kecil. Saya melihat Nyonya Murray keluar dari kamar tidurnya. Ia turun ke lantai bawah, lalu kembali lagi ke atas. Ketika saya naik lagi ke lantai atas, saya melongok ke kamar tidur. Saya melihat Nyonya Murray berdiri di situ dengan anak-anaknya. Tuan Murray tergeletak di ranjang dan berlumuran darah.”

Selanjutnya, kata Maria, Nyonya Murray berpesan kepadanya: “Jika kamu ditanya, jawab bahwa kamu mendengar bunyi seperti letusan gas mobil dan bahwa kamu duga mendengar anjing-anjing menyalak. Katakan bahwa saya saat itu ada di dapur dan kamu berpapasan dengan saya di tangga ketika kamu turun ke lantai bawah.”

Maria tidak mendengar anjing menggonggong sebelum ada letusan tembakan. Dan sore harinya, ia telah menutup dan mengunci pintu menuju ke lantai atas.

Pembantu rumah tangga itu cukup awas mengamati kehidupan majikannya. Ia tahu bahwa Tuan Murray selalu membawa senjata api. Pada waktu tidur, senjata itu biasanya disimpan di bawah bantal atau diletakkan di atas meja; di samping ranjang. Sebelum berangkat ke Manila, pada tanggal 13 Agustus yang naas itu, Tuan Murray bertanya kepada istrinya apakah ia melihat revolvernya. Nyonya Murray mengaku tidak melihatnya.

Menurut Maria yang mendengar percakapan ini, Nyonya Murray berbohong. Sebab gadis itu melihat Nyonya Murray menyembunyikan senjata api itu di dalam kotak jahitnya.

Wanita ini, yang dengan lemah lembut dan sabar berusaha mempertahankan kemesraan hubungan dengan suaminya, ternyata tidak buta terhadap permainan suaminya. Ia masih bisa berdansa mesra dengan suami yang tidak setia itu. Tepat sebelum sang suami pergi menemui kekasih gelapnya di Riviera.

Setelah ditekan-tekan oleh polisi, sopir Nyonya Murray akhirnya memberikan keterangan tambahan. Begitu mendengar tembakan-tembakan, ia melongok dari jendela kamarnya di dekat garasi. Dan ia melihat bayangan seorang wanita di balkon, di luar kamar tidur majikannya. Wanita itu, tentunya Nyonya Murray, melemparkan sesuatu ke kandang anjing di bawah. Suaranya seperti sebuah logam yang dilemparkan dari atas.

Kandang anjing kemudian diperiksa. Ditemukan sebuah revolver, di dekat salah seekor anjing. Pemeriksaan senjata dan perbandingan dengan peluru-peluru yang ditemukan, membuktikan bahwa revolver itulah senjata untuk membunuh.

Nyonya Murray atas desakan polisi terpaksa menyerahkan sarung tangan sebelah kanan yang disembunyikannya.  Ketika diperiksa, ternyata terdapat sisa-sisa nitrat pada sarung tangan ini. Tentunya nitrat tersebut berasal dari ledakan peluru. Atas pertanyaan polisi, Nyonya Esther Murray mencoba memberikan keterangan lain. Katanya, dengan sarung tangan itu ia mengambil pupuk nitrat untuk tanaman-tanamannya di kebun.

Esther del Rosario Murray ditahan atas tuduhan membunuh suaminya. Proses peradilan menimbulkan banyak sensasi. Nyonya Murray tetap berpegang teguh pada pernyataannya yang semula bahwa suaminya dibunuh oleh orang yang masuk ke dalam rumah lewat jendela. Pembela berusaha menyelamatkan kliennya dengan teori pembunuhan oleh tokoh-tokoh yang berkaitan dengan perdagangan ilegal. 

Teori ini memang menarik, tapi bukti-buktinya tidak kuat. Bukti-bukti dan keterangan saksi mengarah pada Esther del Rosario Murray sebagai pembunuh. Wanita ini, yang dalam perkawinan pertama pernah merasakan cinta dan kebahagiaan, ingin mempertahankan kebahagiaan dengan suami keduanya. Awalnya ia mencoba dengan kelembutan. Namun ketika tidak berhasil, ia pun memilih jalan kekerasan. Ia memukul lebih dulu sebelum George Murray sempat menghancurkan kebahagiaannya dengan berselingkuh.

Hakim Ceferino de los Santos membacakan keputusan pengadilan. Sidang menyatakan tertuduh bersalah. Esther del Rosario Murray dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Beberapa kali permohonan naik banding diajukan. Tapi tidak berhasil. BuIan Oktober 1959 ia mulai menjalani hukumannya.

(Leonard Gribble)

Baca Juga: Siapakah Pembunuh Petani Kaya Itu

 

" ["url"]=> string(75) "https://plus.intisari.grid.id/read/553799242/gara-gara-seorang-bintang-film" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1690565997000) } } }