array(2) {
  [0]=>
  object(stdClass)#53 (6) {
    ["_index"]=>
    string(7) "article"
    ["_type"]=>
    string(4) "data"
    ["_id"]=>
    string(7) "3643309"
    ["_score"]=>
    NULL
    ["_source"]=>
    object(stdClass)#54 (9) {
      ["thumb_url"]=>
      string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2023/01/05/malaikat-pemusnah_irina-iriserj-20230105050607.jpg"
      ["author"]=>
      array(1) {
        [0]=>
        object(stdClass)#55 (7) {
          ["twitter"]=>
          string(0) ""
          ["profile"]=>
          string(0) ""
          ["facebook"]=>
          string(0) ""
          ["name"]=>
          string(13) "Intisari Plus"
          ["photo"]=>
          string(0) ""
          ["id"]=>
          int(9347)
          ["email"]=>
          string(22) "plusintisari@gmail.com"
        }
      }
      ["description"]=>
      string(149) "Seorang pria menemukan sekeranjang jamur dan langsung menumisnya. Namun ia malah menderita sakit yang hebat karena telah memakan 'malaikat pemusnah'."
      ["section"]=>
      object(stdClass)#56 (8) {
        ["parent"]=>
        NULL
        ["name"]=>
        string(8) "Kriminal"
        ["show"]=>
        int(1)
        ["alias"]=>
        string(5) "crime"
        ["description"]=>
        string(0) ""
        ["id"]=>
        int(1369)
        ["keyword"]=>
        string(0) ""
        ["title"]=>
        string(24) "Intisari Plus - Kriminal"
      }
      ["photo_url"]=>
      string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2023/01/05/malaikat-pemusnah_irina-iriserj-20230105050607.jpg"
      ["title"]=>
      string(17) "Malaikat Pemusnah"
      ["published_date"]=>
      string(19) "2023-01-05 17:06:39"
      ["content"]=>
      string(18941) "

Intisari Plus - Seorang pria menemukan sekeranjang jamur di mobilnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung menumisnya. Namun akibatnya ia menderita sakit yang hebat karena telah memakan “malaikat pemusnah”.

--------------------

Laki-laki tua itu berdiri dengan sabar dan sikap merendah. Topinya yang lusuh terlihat rapi dalam kepitan. Tangannya yang kasar karena biasa dipakai bertani, mencangking sekeranjang kecil jamur.Cahaya dari bar rumah perkumpulan itu menjadikan lekak-lekuk wajah orang Slav itu seperti pahatan. 

Kolonel White, sekretaris gedung perkumpulan, keluar dari pintu kaca, lalu menyerocos. 

"Sore, Jan. Pelayan bilang kau ingin ketemu aku .... Ah, jamur." White menggosok-gosok tangannya yang pendek gemuk, sementara matanya yang sipit memancarkan keserakahan. Lelaki tua itu mengangguk. 

"Barangkali saya bisa bicara dengan Kolonel ... ?" Bahasa Inggrisnya ganjil dan terbata-bata. Lawan bicaranya mengangguk tidak sabar. 

"Ada apa?" 

Jan ragu-ragu, seperti sulit mencari kata-kata yang ingin dikeluarkannya. 

"Kebun saya - tempat saya tanam sayuran dan pelihara angsa - kawatnya diambil dan orang-orang itu - mereka bawa mesin besar dan membajaknya ...." 

"Buldozer," sergah White. "Betul, di situ akan dibuat fairway baru ke green 14. Itu 'kan sudah diputuskan sejak lama. Kamu sudah diberitahu." 

"Tidak paham. Saya cuma punya kebun itu untuk tanam sayuran. Istri saya menjualnya di pasar. Nafkah kami cuma dari situ. Jamur tumbuh di hutan, di ujung. Pohon birch bagus ditebang juga ...." 

"Ya, ya ..., sayang ya. Tapi seperti aku sudah bilang, kalian sebetulnya sudah beruntung mendapat kamp untuk tempat tinggal. Banyak pengungsi lain tidak seberuntung kalian."

 

Demi kenyamanan main golf 

Pria tua itu memandang ke tanah. Bangsanya sudah bergenerasi-generasi terbiasa dicabik-cabik perang dan kerusuhan. Penyerbu-penyerbu negerinya berbeda-beda, mulai orang Mongol sampai Turki, orang Swedia sampai Prusia, tapi mereka sama saja. 

Tanah miliknya yang tidak luas diambil alih untuk digabung dengan tanah petani-petani lain menjadi tanah pertanian kolektif dalam revolusi tidak berdarah tahun 1956. Lalu ia dan istrinya pindah ke Inggris karena putranya sudah mempunyai mata pencaharian di sana. Akhirnya mereka menemukan kedamaian dalam sebuah kamp Polandia yang besar. Namun sekarang sekali lagi mereka akan dicabut dari sana. 

Kolonel mengulurkan tangannya. "Terima kasih jamurnya. Berapa?" tanyanya sambil merogoh-rogoh saku. 

"Saya tidak terima bayaran. Tanah itu sekarang punya Kolonel." 

White tertawa meringkik seperti kuda. 

"Bukan punyaku, Pak Tua. Milik Tormount Golf Club. Nih beli slivovitz atau vodka sana." 

Jan tidak mempedulikan kepingan uang itu. 

Senja bulan September itu bertambah dingin dan White tadi meninggalkan segelas double scotch di barnya. Ia berdiri dengan tidak sabar. 

"Di tempat bekas pohon-pohon birch, jamur-jamur akan tubuh lagi, ketika mesin sudah pergi. Jamur beracun juga, Malaikat Pemusnah. 140 Susah membedakannya. Banyak orang tidak bisa. Kalau dimakan, mati." 

"Ya, ya, pasti kami akan berhati-hati. Kalau ragu-ragu, kami akan berkonsultasi kepadamu/' kata White meledek. 

Orang-orang seperti ini memang mesti diperlakukan seperti anak-anak atau orang pandir, pikir White yang tidak pernah mau tahu kesulitan orang lain. 

Diambilnya keranjang kecil berisi jamur-jamur putih berkilat. Air liurnya terbit membayangkan kelezatannya dalam hidangan sarapan. 

Jan menjauh dengan gontai, tanpa menyadari keindahan matahari merah yang terbenam di tanah yang sudah dicemari bajakan, sementara pohon-pohon yang semampai menjadi silhuet. Pikirannya melayang dengan penuh kerinduan ke desanya yang sepi di Polandia Kecil, tempat ia dilahirkan, ke angsa-angsanya dan babinya, ke semua yang ia tinggalkan di balik pohon buah-buahan. Kini rumput pun mereka tidak punya untuk makanan angsa mereka yang tinggal satu-satunya, Stanislaus, kesayangan istrinya. 

Jan menyangkutkan topinya ke balik pintu. Tanpa mencuci tangan ia menjatuhkan dirinya ke kursi tua yang sudah patah pernya. Ia mendorong piring setup sayuran yang dihidangkan istrinya dan duduk sambil bengong. 

Istrinya menggelengkan kepala dengan sedih lalu mengambil cangkul dari balik lemari. Beberapa jengkal tanah yang tersisa di depan pintu mungkin bisa dipakai menanam bawang. 

Sejam kemudian, ketika ia masuk untuk membuat kopi, dilihatnya suaminya masih dalam posisi yang sama, tapi kepalanya menunduk, dagunya menempel ke dada. Beberapa tetes air liur menitik dari mulutnya.

 

Merusak pemandangan saja 

Dentang bel ambulans yang melewati gubuk-gubuk Nissen di kamp itu sayup-sayup terdengar dari bar yang terang-benderang di gedung perkumpulan. Lingkaran-lingkaran asap biru mengambang di atas kepala anggota-anggota perkumpulan yang sedang asyik mendiskusikan fairway baru. 

Pembuatan fairway itu sangat kontroversial. Beberapa anggota sampai hampir mau mengundurkan diri. Ada yang bilang, keringkan saja dengan baik fairway lama yang biasa kebanjiran. Ukurannya yang 270 yard ( kira-kira 243 m) itu cocok untuk permainan mereka. 

Sebagian lagi ingin fairway baru yang mendekati green dengan agak mendaki. Mereka yang anti fairway baru mengemukakan Jan dan kebunnya sebagai argumentasi untuk memperkuat alasan mereka. 

Namun bagi White, keberadaan kamp Polandia cuma merupakan perusak pemandangan. Kamp itu sejajar dengan hampir seluruh fairway 13, dibatasi dengan kawat berkarat dan seng bergelombang yang sudah usang. Selain itu semak-semak berduri di balik pagar merupakan surga bagi kelinci yang suka datang ke fairway untuk membotaki rumput atau membuat lubang dari gorong-gorong sehingga air merembes ke fairway 14.

 

Patah hati 

Kolonel terbiasa bangun pagi. Ia senang berada di lapangan golf pagi-pagi saat tidak ada orang Seperti yang dikatakan Jan, jamur-jamur sudah tumbuh lagi. Ia bertekad, selain dia tidak boleh ada orang lain yang memanennya. 

Saat berjalan-jalan di pagi yang cerah dan berembun itu matanya memandang dengan bangga lapangan golf yang dianggapnya paling bagus di Inggris: permukaan yang gelombangnya sempurna, hutan-hutan yang berkelok dan lapangan rumput seperti beludru tempat bendera-bendera kecil berkibar ditiup angin. 

Ketika ia mendekati fairway baru, ia kesal melihat sudah ada orang lain di sana. Sosok yang pendek kekar itu berjalan dengan langkah berat dan sering membungkuk untuk memungut sesuatu dari tanah. Ketika ia mendekat, dilihatnya seorang wanita tua yang kepalanya dilibat dengan syal hitam. Di lengannya tergantung keranjang. Wanita itu berkeliaran sekitar tunggul-tunggul kayu di ujung fairway baru. 

Ketika melihat Kolonel datang, wanita itu menegakkan tubuhnya dan berdiri diam. Di belakangnya terdapat pagar kawat baru yang hampir menempel pada salah satu gubuk Nissen. Jendela-jendelanya yang kecil dicat mencolok, memakai tirai berbunga-bunga dari kain murah. 

"Sir," katanya perlahan sekali. Nadanya bukan bertanya ataupun menyalami. 

"Ayo kembali ke kamp," kata Kolonel keras. Sikap wanita itu ganjil. 

"Sebentar lagi ada orang main. Kamu bisa kena bola." "Anu ... Jan suami saya. Kami tinggal di sini...." Ia menunjuk ke gubuk-gubuk Nissen. 

"Kenapa Jan?" 

"Dia tiba-tiba sakit. Ambulans datang." 

"Oh, kasihan. Kenapa dia?" 

"Jantungnya." 

"Sudahlah, jangan risau. Dokter-dokter zaman sekarang pandai, kok. Lagipula kamu tidak punya banyak tanah lagi untuk dicangkul sekarang,"katanya enteng saja. "Betapapun juga kalian beruntung ada di Inggris, rumah sakit gratis." 

"Tidak ada rumah sakit yang bisa sembuhkan," kata wanita itu seperti kepada dirinya sendiri. 

"Omong kosong," katanya keras. "Mana kamu bisa tahu." 

"Saya tahu. Saya perempuan. Istrinya. Saya tahu semua. Hatinya patah." 

"Omong kosong. Mana ada orang yang hatinya patah. Sudahlah, mudah-mudahan ia cepat sembuh." 

Wanita itu menyorongkan keranjangnya. 

"Kata Jan, Bapak suka jamur." 

Kolonel agak kaget. "Oh terima kasih - terima kasih banyak." Ia mengambil sekeping uang logam dari sakunya. 

"Salam buat Jan. Belikan dia buah anggur." 

Ketika mengambil keranjang itu, Kolonel terkejut sekejap melihat mata hitam wanita itu yang memancarkan kelicikan.

 

Enak ditumis 

Ia lupa peristiwa itu ketika tiba di rumah perkumpulan dan bertemu dengan dokter setempat yang sedang menunggu teman main golf. Dokter itu minum terlalu banyak martini dan lebih sering berada di lapangan golf daripada melaksanakan tugasnya. Tidak mempunyai dedikasi pada pekerjaannya, pikir Kolonel. 

Kemarin dulu, Kolonel ingat pada peribahasa: "Makan sebuah apel sehari akan menjauhkan dokter dari kita." Maka itu ia berkata kepada dokter, "Main golf sebabak sehari menjauhkan dokter dari pasien-pasiennya." Ia merasa kata-katanya itu lucu, tetapi dokter itu tidak tertawa. 

Kolonel baru tiba di ramahnya selewat tengah malam. Ketika keluar dari mobilnya, ia melihat keranjang berisi jamur di bangku belakang. Ia memutuskan untuk menumisnya buat mengisi perutnya yang sudah lapar lagi. 

Ia memang bujangan. "Istri itu kemewahan yang mahal," katanya selalu. Ia mampu mengurus dirinya sendiri dan bisa makan kapan saja ia mau. Selesai makan, ia merasa lelah dan pergi tidur, meninggalkan piring-piring di bak cuci piring. 

Sesaat sebelum subuh ia terbangun karena perutnya sakit sekali. Ia berusaha keras untuk turun dari ranjang dan pergi ke dapur menyeduh teh. Setelah mengisi ketel di keran, tungkainya tidak kuat menyangga tubuhnya. Ia mencoba menjambret pinggiran bak. Jarinya menyentuh keranjang bekas jamur. Dua jamur kecil yang tertinggal di dasar keranjang menggelinding ke lantai. Tiba-tiba rasa panik menyerangnya. Jamur-jamur yang diberikan wanita tua jelek itu kepadanya! Jangan-jangan jamur beracun. 

Apa namanya menurut Jan? Malaikat Pemusnah. Mungkin wanita tua itu tidak memiliki kemampuan membedakannya dan memungut jamur yang keliru.

 

Sama seperti di ensiklopedia 

Lalu pikiran lain hinggap di otaknya. Jangan-jangan wanita itu tahu. la ingin membalas dendam atas penderitaan suaminya. Dasar orang asing keparat. Mereka semua sama saja: histeris dan tidak bisa dipercaya. Dari dulu ia berkeyakinan bahwa bersimpati kepada mereka tidak ada gunanya. 

Rasa sakit di perut dan dadanya agak berkurang. Ia berusaha untuk mencapai kursi. Mungkin cuma pencernaannya terganggu karena makan terlalu larut. Ia tidak pernah sakit. Ia tidak suka orang sakit. Kerja keras langsung akan mengusir sakit. Namun akhir-akhir ini kadang-kadang ia merasa napasnya sesak. Mungkin ia perlu melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Ia tidak mempunyai dokter yang biasa memeriksa kesehatannya. Satu-satunya dokter yang dikenalnya adalah si pemalas di gedung perkumpulan. 

Sambil menunggu air mendidih, sebaiknya ia memeriksanya di ensiklopedia di ruang sebelah, kalau-kalau memang ada yang namanya Malaikat Pemusnah atau cuma khayalan orang goblok. Ia mengambil buku yang diperlukannya dari rak dan membuka di bagian Fungi. Ya, ada dengan gambarnya. "Malaikat Pemusnah" atau "Topi Kematian". 

Menurut ensiklopedia itu: "Ukuran dan penampilannya seperti jamur, tapi warna kisi-kisinya krem, bukan coklat dan ada volvanya dekat pangkal tubuhnya." 

Ia terus membaca: "Tidak ada gejala keracunan selama 6 sampai 20 jam kemudian. Kemudian terasa sakit perut hebat ...." 

Seakan-akan bersimpati pada kata-kata yang tercetak, White merasakan kejang-kejang perut yang lebih menyakitkan dari yang pertama. Mulutnya terasa pahit. Ketakutan hebat diikuti dengan kemarahan yang membuta karena mempercayai orang lain, meluap ketika ia berusaha mendekati telepon. Dengan gugup ia mencari nomor telepon dokter di buku telepon. 

Baru semenit kemudian seorang perempuan menjawab. Kata-kata White berhamburan saat ia menjelaskan apa yang terjadi dan apa yang ia curigai. Perempuan itu menjawab, "Suami saya sedang pergi menolong orang yang melahirkan. Saya tidak tahu kapan ia akan kembali, tetapi saya akan menelepon rumah sakit untuk memanggilkan ambulans." 

"Suruh mereka cepat datang." Suaranya penuh ketakutan dan kemarahan kepada semua orang. 

Rasa sakitnya berkurang saat ia meletakkan gagang telepon. la menghirup tehnya. Tapi tangannya gemetar keras sehingga teh panas tumpah menyiram pahanya. Ia akan menuntut wanita jelek itu dengan tuduhan mencoba membunuhnya. Kedua telapak tangannya berkeringat, tetapi tubuhnya terasa dingin sekali. Tangan kirinya sulit digerakkan ... kenapa belum datang juga .... 

Tiba-tiba kesakitan yang luar biasa mencengkeramnya lagi. Rasa sakitnya bergerak ke dada kiri. Jantungnya berdegup keras, menyebur-nyemburkan darah lewat nadi-nadinya. 

Kegelapan yang pekat menutup pandangannya .... 

 

Stanislaus tidak usah dikurung lagi 

Kematian Kolonel menimbulkan kehebohan di gedung perkumpulan. Namun ia bukan orang yang populer dan peristiwa itu segera tenggelam dikalahkan oleh kenyataan bahwa fairway yang baru segera kebanjiran seperti yang lama, bahkan lebih parah. Diputuskanlah untuk memindahkan kembali pagar kawat ke tempatnya semula. Ketika Anna memberitahu kabar ini ke suaminya, Jan, yang sedang di rumah sakit, wajah lelaki tua itu berseri-seri. Istirahat ternyata mengembalikan kesehatannya. Beberapa hari kemudian ia diperbolehkan pulang. 

Tanah yang dicabik-cabik buldozer tidak lama kemudian bisa ditanami lagi. Namun tentu saja perlu waktu lama untuk menumbuhkan pohon-pohon birch. 

Stanislaus si angsa sudah dibebaskan dari kandangnya dan bisa mencari rumput lagi. 

Sementara itu, menurut pemeriksaan mayat, Kolonel meninggal akibat stroke, sehingga tidak dilakukan penyelidikan lebih lanjut. * (Judy Chard) 

Catatan: 

fairway = bagian lapangan golf antara tempat pemukulan bola golf pertama di tiap hole dan lapangan hijau.

 green = lapangan hijau 

volva = selaput pada pangkal rubuh jamur.

Baca Juga: Penghuni Terakhir

 

" ["url"]=> string(62) "https://plus.intisari.grid.id/read/553643309/malaikat-pemusnah" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1672938399000) } } [1]=> object(stdClass)#57 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3606048" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#58 (9) { ["thumb_url"]=> string(105) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/12/10/dihabisi-mantan-suamijpg-20221210024539.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#59 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(124) "Sekelompok bandit asal Polandia meresahkan warga Prancis. Polisi memburu mereka dengan bantuan mantan perwira asal Polandia." ["section"]=> object(stdClass)#60 (8) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["show"]=> int(1) ["alias"]=> string(5) "crime" ["description"]=> string(0) "" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(105) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/12/10/dihabisi-mantan-suamijpg-20221210024539.jpg" ["title"]=> string(21) "Dihabisi Mantan Suami" ["published_date"]=> string(19) "2022-12-10 14:45:47" ["content"]=> string(36389) "

Intisari Plus - Sekelompok bandit asal Polandia meresahkan warga Prancis. Polisi memburu mereka dengan bantuan mantan perwira asal Polandia.

--------------------

Empat tahun terakhir ini sebuah gerombolan tak dikenal yang terdiri atas orang asing melakukan perampokan terhadap lima farm (areal pertanian) di Prancis Utara. Setiap kali dengan modus yang sama. 

Yang jadi sasaran selalu farm yang terpencil dan dikelola oleh orang tua. Tindak kejahatan itu pun selalu terjadi pada malam hari pasaran. Korban yang diincar selalu petani yang habis panen sehingga memiliki banyak uang. Mereka membunuh siapa saja, termasuk anak-anak. Model tumpas habis itu membuat mereka sulit dikenali.

Dalam setiap kasus, para tetangga korban melihat sebuah mobil dengan bak terbuka. Seorang bocah berusia 12 tahun mengaku pernah melihat seorang laki-laki bermata satu. Yang lain bilang, mereka memakai topeng hitam. Tapi yang pasti, setiap korban digorok lehernya.

Laporan dari kelompok pekerja tambang asal Polandia di Lille pun masih kabur. Menurut para pekerja itu, mereka adalah geng Stan si Pembunuh. Namun, ketika polisi menanyai para pekerja tambang itu satu per satu, tak ada yang mengaku pernah mendengar tentang itu. 

Pada peristiwa tindak kejahatan di dekat Rheims, seorang gadis pelayan yang tidur di loteng sempat lolos. la orang pertama yang selamat. Si gadis mendengar para pembunuh itu berbicara bahasa Polandia. Melalui sebuah lubang, ia sempat melihat para penjahat memakai topeng. Salah satu dari mereka matanya cuma satu, sedangkan satunya lagi - yang badannya besar - mukanya berbulu. Karena itulah polisi menjuluki mereka si “Berewok” dan “Mata Satu”.

 

Dua kali coba bunuh diri 

Berbulan-bulan kemudian tak terjadi peristiwa apa-apa sampai salah seorang detektif dari tim pengintaian mendapat informasi penting. Di Hotel Beausejour, di sudut Jl. de Birague, ia mendapati sebuah kelompok yang mencurigakan, termasuk di dalamnya si Berewok dan Mata Satu.

Si Berewok dan istrinya menyewa sebuah kamar secara mingguan tetapi hampir tiap malam mereka memberi tumpangan menginap kepada beberapa kawan senegaranya. 

Hari berikutnya sebuah koran memuat temuan itu. Sehari setelah itu Inspektur Maigret menerima surat dengan tulisan tangan: Anda tidak akan pernah menangkap Stan. Awas. Sebelum Anda mendapatkannya, ia akan membunuh banyak orang.

Maigret yakin, isi surat itu tidak bohong.

“Hati-hati,” nasihat atasannya. “Jangan buru-buru melakukan penangkapan. Orang yang sudah menggorok 16 leher dalam empat tahun, tidak akan ragu-ragu memuntahkan peluru jika terdesak.”

Itu sebabnya Janvier ditugaskan menyamar sebagai pelayan di Kedai Barrel of Burgundy, di seberang Jl. de Birague. Lukas menyamar sebagai kakek yang tinggal di seberang Hotel Beausejour. Mereka melakukan pengintaian.

Tiga bulan berlalu sampai Michael Ozep muncul. Pertemuan pertamanya dengan Maigret terjadi empat hari yang lalu. Ia mendatangi markas besar dan memaksa bertemu inspektur. Begitu masuk kantor inspektur, ia mengentakkan kaki, membungkuk, dan merentangkan tangannya, lalu berkata, “Michael Ozep, mantan perwira Angkatan Bersenjata Polandia, sekarang guru senam di Paris ....”

Si Polandia itu terus nyerocos bicara. Ia menjelaskan dirinya berasal dari keluarga kaya yang tidak dapat kembali ke negerinya untuk mengambil kekayaannya. Ia sangat putus asa karena hingga kini tak bisa menyesuaikan diri dan hidup menderita.

“Tahu tidak, Tuan Maigrette, saya telah memutuskan untuk bunuh diri.”

“Gila orang ini,” pikir Maigret dalam hati.

“Saya sudah mencobanya tiga minggu yang lalu dengan terjun ke Sungai Seine, tapi petugas memergoki lalu menarik saya keluar.”

Maigret masuk ke ruangan sebelah lalu menelepon regu penjaga sungai untuk mengecek. Ternyata cerita itu benar.

“Enam hari kemudian saya coba melakukan lagi dengan gas, tapi tukang pos datang membawa surat dan membuka pintu. Saya sungguh ingin mati saja. Saya sudah tak berharga. Karena itu saya pikir Anda perlu orang semacam saya.”

“Untuk apa?”

“Membantu menangkap Stan si Pembunuh.”

Maigret mengerutkan dahi. “Kau mengenalnya?” 

“Tidak. Saya hanya mendengar. Sebagai orang Polandia saya marah kalau bangsa saya melanggar hukum di negeri orang. Saya akan senang kalau melihat Stan dan gengnya tertangkap. Dalam penangkapan pasti ada korban. Lebih baik yang mati itu saya, sebab saya memang sudah kepingin mati.”

Maigret hanya bisa mengatakan, “Tinggalkan alamatmu. Saya akan tulis surat.”

Michael Ozep tinggal di Jl. des Tournelles, tak jauh dari Jl. de Birague. Menurut laporan detektif yang melakukan pengecekan, semua cerita Ozep tentang dirinya memang benar.

Meski demikian, lewat surat resmi Maigret tetap menolak tawaran jasanya. Sejak itu masih dua kali lagi Ozep datang ke markas, minta bertemu Inspektur Maigret.

Tahu-tahu pagi itu, Ozep duduk di meja Maigret, di depan kedai Barrel of Burgundy saat sang inspektur sedang melakukan pengecekan rutin.

“Saya ingin membuktikan pada Anda, Tuan Maigrette, bahwa saya bisa dimanfaatkan. Saya telah mengikuti Anda selama tiga hari hingga saya dapat menyebut apa saja yang Anda lakukan selama itu. Saya tahu pelayan yang baru saja membawakan anggur itu anak buah Anda dan satu lagi di jendela di seberang sana.”

“Anda bukan orang Polandia, Tuan Maigrette. Saya sungguh ingin membantu Anda sebab saya tak ingin nama baik negeri saya ternoda.”

Ozep terus mengoceh, berusaha meyakinkan Maigret bahwa jasanya diperlukan, sampai akhirnya Maigret tak tahan lagi.

“Dengar, Ozep.” 

“Ya, Tuan Maigrette?”

“Kalau kamu terlihat lagi di sekitar jalan ini, kamu saya tangkap!” 

“Anda menolak tawaran yang saya ...?” 

“Pergi atau saya tangkap sekarang juga di sini!”

Ozep berdiri, mengentakkan kaki, membungkuk, dan pergi dengan baik-baik. Maigret melirik salah satu detektif yang berada di dekatnya lalu memberi isyarat agar mengikuti si guru senam aneh.

Janvier yang sedari tadi sudah menantikan kesempatan segera menyampaikan pesan. “Lukas baru saja menelepon. la melihat ada beberapa pucuk senjata di kamar itu. Semalam ada lima orang Polandia tidur di kamar sebelah dan pintu di antara kedua kamar itu dibiarkan terbuka. Beberapa di antara mereka tidur di lantai ... siapa orang yang bercakap-cakap dengan Anda tadi?”

“Bukan siapa-siapa .... Berapa yang tidur di Iantai?” 

Maigret pulang ke markas. Ternyata Ozep sudah ada di sana.

 

Hidup foya-foya

Maigret menambahkan berbagai informasi yang diperoleh dalam minggu pengintaian. Laporan sebelumnya menyebutkan, geng itu terdiri atas empat atau lima orang. Tapi mungkin mereka juga punya kaki tangan yang tugasnya menyelidiki farm dan pasar calon sasaran. Enam atau tujuh orang, sesuai dengan jumlah orang yang ada di Jl. de Birague itu.

Hanya tiga orang yang menyewa kamar secara teratur: Boris Soft, yang dijuluki polisi sebagai si Berewok, sepertinya ia suami wanita berambut pirang itu; Olga Tzerewski, 28 tahun, kelahiran Vilno. Sasha Vorontsov, dikenal sebagai si Mata Satu. Boris si Berewok dan Olga tinggal sekamar. Sasha si Mata Satu di kamar sebelahnya. 

Wanita muda itu berbelanja setiap pagi. Si Berewok jarang keluar, sehari-hari cuma tidur-tiduran dan membaca. Mata Satu sering keluar jalan-jalan. la berhenti di bar-bar tapi tak pernah berbicara dengan siapa pun.

Sedangkan yang lain datang dan pergi dalam rombongan empat atau lima orang. Malam hari terkadang mereka tidur di lantai. Ini bukan hal aneh di banyak hotel kelas bawah. Mereka bergabung untuk menyewa kamar bersama-sama.

Tentang mereka yang datang dan pergi itu, Maigret punya beberapa catatan: si Kimia, disebut begitu karena ia pernah bekerja di pabrik bahan kimia, biasa berjam-jam menyusuri jalan-jalan di Paris untuk mencari nafkah. Si Bayam, dinamai demikian karena suka memakai topi hijau, yang keluar malam hari sekadar mendapatkan uang tip dengan membukakan pintu mobil di depan deretan bar di Montmartre. Si Gendut, laki-laki bertubuh kecil tetapi gemuk.

Maigret memandangi catatan itu lalu menuliskan lagi rincian yang penting, “Mereka seperti pendatang yang tak punya uang dan bekerja serabutan. Tapi di kamar-kamar itu selalu tersedia vodka, terkadang makanan berlimpah. Mungkin geng itu tahu sedang diawasi tapi pura-pura tak tahu. Jika salah satu dari mereka adahh Stan, tentulah si Berewok atau Mata Satu.”

la membawa laporan itu ke atasannya.

“Tidak ada yang istimewa. Saya yakin bandit itu mengenali salah satu dari kita dan mereka menikmatinya. Mereka keluar-masuk hotel dengan enaknya ....”

“Kamu punya rencana?” 

“Begini. Saya sedang menunggu peristiwa penting. Kalau peristiwa itu betul terjadi, segalanya sudah siap, saya bisa mengambil manfaat.”

“Jadi, kamu menunggu sebuah ... peristiwa?” Atasannya tersenyum. la memahami anak buahnya ini.

“Saya yakin, mereka memang geng Stan si Pembunuh. Yang ingin saya ketahui, kenapa Stan menulis surat pada saya? Mungkin cuma mulut besar. Para pembunuh boleh dikata punya kebanggaan profesi. Tapi siapa di antara mereka adalah Stan? Mengapa memakai nama samaran yang lebih berbau Amerika daripada Polandia?”

“Saya butuh waktu sebelum membuat kesimpulan. Ini baru sebuah awal .... Dua atau tiga hari terakhir ini saya mulai menangkap kondisi kejiwaan mereka. Sangat berbeda dengan bandit Prancis. Mereka butuh uang, bukan untuk meninggalkan negeri ini, tapi untuk makan-minum, tidur atau tidur-tiduran, merokok, bergosip, dan minum vodka. Setelah melakukan tindak kejahatan, mereka hidup seperti itu sampai uangnya habis lalu merampok lagi. Kini saya dapat merasakan hal itu. Saya sedang menunggu. ‘Peristiwa’ itu bahkan sudah di sini.”

“Di mana?” 

“Di ruang tunggu. Laki-laki yang memanggil saya ‘Maigrette’ dan ingin membantu melakukan penangkapan kendati taruhannya nyawa. Menurut dia, itu cuma cara lain untuk bunuh diri.”

“Sinting?!”

“Bisa jadi. Atau mungkin dia kaki tangan Stan yang memakai cara itu agar bisa memantau apa yang sedang kita kerjakan.” 

“Akan kau terima tawarannya?” 

“Saya kira begitu.” Maigret beranjak ke pintu.

 

Malu bertemu wanita

“Duduklah,” kata Maigret. “Langsung saja, apa kamu masih tetap dengan rencanamu untuk mati?”

“Ya.” 

“Kamu mau kalau saya minta menemui Mata Satu lalu menembak kakinya?”  

“Ya. Tapi saya harus dibekali pistol.” 

“Bagaimana kalau saya menyuruhmu menemui si Berewok atau Mata Satu dan bilang pada mereka, kamu punya informasi penting yaitu bahwa polisi akan menangkap mereka?”

“Senang sekali. Saya akan menunggu sampai Mata Satu lewat di jalan itu dan akan saya lakukan tugas saya.”

“Baik. Saya akan memberimu tugas. Sebentar lagi kita pergi bersama ke Jl. Saint Antonie. Saya akan tunggu di luar. Kamu naik ke kamar itu dan cari saat wanita itu sedang sendirian. Katakan padanya, kamu orang Polandia, kebetulan mendengar kabar kalau polisi akan menyerbu hotel malam ini.”

Ozep terdiam. 

“Kamu takut?” 

“Tidak. Hanya ... saya pemalu terhadap wanita. Mereka itu pandai, jauh lebih pandai dari kita laki-laki. la akan tahu kalau saya bohong. Kalau ia tahu saya bohong, muka saya merah. Kalau muka saya merah ....”

Maigret diam, mencoba  memahami penjelasan aneh itu. 

“Saya lebih baik bicara dengan laki-laki saja. Dengan orang yang berewokan itu atau siapalah.”

Maigret tidak menjawab. 

“Saya sedih. Anda justru minta yang ....” 

“Lupakan saja.” 

“Apa?” 

“Kubilang, lupakan .... Di mana kamu kenal Olga Tzerewski, wanita itu?” 

“Saya tidak mengerti maksud Anda ...”

“Jawab!” 

“Saya tidak kenal. Andai kata kenal, saya akan mengatakannya.”

“Di mana kamu kenal dia?” 

“Sumpah, Tuan Maigrette, saya…”

“Di mana kamu kenal dia?” 

“Mengapa Anda tiba-tiba bersikap begitu pada saya?”

“Sudahlah, jangan banyak bicara.” 

“Tuan, tolonglah!” 

“Aku minta kamu pergi, temui wanita itu dan katakan padanya kami akan melakukan penggerebekan malam ini.” 

“Kalau saya menolak?” 

“Aku tak mau lihat tampangmu lagi.” 

“Anda sungguh akan menangkap mereka malam ini?” 

“Ya.” 

“Oke, saya pergi!” 

“Ke mana?” 

“Menemui wanita itu.” 

“Sebentar! Kita pergi sama-sama.”

“Lebih baik saya pergi sendiri. Kalau salah satu di antara mereka melihat kita, nanti ketahuan kalau saya membantu polisi.” 

Tanpa buang waktu Maigret bergegas turun tangga dan meloncat masuk taksi. 

“Sudut Jl. de Birague dan Jl. Saint-Antonie, cepat saja.”

 

Mengintip kehidupan orang lain

Sore itu cuaca panas. Maigret turun dari taksi lalu masuk ke rumah di sudut jalan itu. Di lantai dua ia membuka pintu tanpa mengetuk lebih dulu. Ia mendapati Lukas duduk di dekat jendela, masih sebagai orang tua. 

“Ada kabar baru, inspektur?”

“Apa sudah ada orang rumah itu yang lewat?” 

Kamar itu dipilih karena posisinya strategis; kedua kamar di Hotel Beausejour yang dihuni orang-orang Polandia itu mudah terlihat.

Dalam cuaca yang panas itu semua jendela dari kedua kamar itu terbuka, menampakkan pemandangan seorang gadis sedang tidur di ranjang.

“Wow, Lukas. Sepertinya kau kebagian pekerjaan yang tidak terlalu menjemukan.”

“Saat ini ada dua orang di kamar itu. Laki-laki itu sedang berpakaian. Seperti biasa ia tidur-tiduran sepanjang pagi.”

“Itu si Berewok?” 

“Ya. Ada tiga orang saat makan siang: si Berewok, si wanita, dan Mata Satu. Mata Satu pergi setelah makan. Lalu si Berewok beranjak dan berpakaian ....Ya! Ia memakai baju bersih. Ini jarang terjadi.”

Maigret berjalan mendekati jendela. Si lelaki berewok itu sedang memakai dasi. Tampak bibirnya bergerak saat di depan cermin. Di belakangnya si wanita beberes, mengumpulkan kertas-kertas, mematikan kompor, membersihkan sebuah foto di dinding dari debu.

“Andai kita tahu apa yang mereka bicarakan!” Lukas mendesah.

“Seharusnya kita punya seorang pembaca bibir yang bisa berbahasa Polandia,” kata Maigret. 

Sungguh pengalaman aneh berada dalam kamar seperti itu, mengintip kehidupan orang, mengamati gerak-gerik mereka.

“Sebentar! Si Berewok mau pergi.” 

Tak ada cium selamat jaIan di seberang sana. Laki-laki itu menghilang dari pandangan, sesaat kemudian muncul di trotoar berjalan menuju Place de la Bastille.

Sementara wanita itu mengambil peta dari laci dan menggelarnya di atas meja. 

Dari atas mereka melihat Ozep muncul. Dia tampak berjalan ragu-ragu, wara-wiri di trotoar, sementara detektif yang membuntutinya pura-pura hendak membeli ikan di kedai di Jl. Saint Antonie.

“Kamu tahu apa yang dia cari?” tanya inspektur pada Lukas. 

“Laki-laki kecil itu? Tidak.”

“Ia mencari saya. Ia bilang saya harus ada di sekitar sini dan kalau berubah pikiran ....”

Terlambat. Michael Ozep sudah masuk ke hotel itu. Maigret dan Lukas bisa membayangkannya. Ozep naik tangga mencapai lantai satu…

“la masih ragu-ragu,” kata Maigret. Seharusnya pintu sudah dibuka. “Ia sampai di depan pintu. la akan mengetuk. la mengetuk ... lihat!”

Si gadis pirang beranjak lalu memasukkan peta ke laci meja sebelum berjalan ke pintu. Beberapa saat Maigret dan Lukas tidak melihat apa-apa. Kedua orang itu berada di tempat yang tak terlihat. Tiba-tiba wanita itu muncul. la buru-buru mendekati jendela, menutupnya, lalu menarik gorden.

Lukas berpaling ke inspektur dengan senyum penuh tanda tanya. “Nah, ini!” la tertawa. Tetapi senyumnya langsung pudar begitu melihat Maigret tampak tidak peduli dengan peristiwa itu.

“Jam berapa sekarang, Lukas?” 

“Sepuluh lewat tiga menit.”

“Menurut kamu, apa ada kemungkinan salah satu anggota geng pulang ke hotel satu jam mendatang?” 

“Saya tidak tahu pasti. Mungkin si Bayam, kalau ia tahu si Berewok pergi. Anda tampak tidak suka.” 

“Saya tidak suka cara dia menutup jendela.”

“Anda mencemaskan si kecil Polandia?”

Maigret diam saja.

 

Tewas digorok

“Jam berapa, Lukas?” 

“Dua puluh lewat tiga menit. Anda mau memeriksa apa yang terjadi?” 

“Belum. Teleponlah Pak Direktur dan katakan saya minta dikirim 20 orang pasukan bersenjata, segera. Kepung Hotel Beausejour dan suruh tunggu aba-aba dari saya.”

“Anda merasa akan terjadi apa-apa?” tanya Lukas. 

Pandangan Maigret terus tertuju ke jendela dengan gorden beludru merah tua itu. Ketika kembali, Lukas mendapati inspektur masih di tempat yang sama dengan dahi berkerut. 

Tiba-tiba Maigret mengangkat alis matanya. “O, ya, kalau gadis itu sedang bersama laki-laki, apa ia menutup jendela?” 

“Tidak pernah.” 

“Kalau begitu ia tidak curiga ada kamu di sini.”

“Gadis itu mungkin menganggap saya hanya orang tua yang bodoh saja.”

“Kalau begitu, bukan gadis itu yang punya ide menutup jendela tetapi orang yang masuk itu.”

“Ozep?” 

“Ozep atau siapa pun. Orang yang masuk itu pasti menyuruh dia menutup jendela dulu sebelum muncul di depan si gadis.”

Maigret tiba-tiba memungut topinya di kursi, mengosongkan kepala cangklong dengan telunjuknya. 

“Mau ke mana, Bos?” 

“Menunggu pasukan kita tiba di sini.... Lihat! Dua polisi ada di dekat halte bus. Beberapa di sebelah taksi yang diparkir. Kalau saya berada di kamar itu selama lima menit dan belum membuka jendela, kalian masuk saja.”

“Sudah bawa senjata ...?” 

Beberapa saat kemudian Lukas melihat Maigret menyeberang jalan. la juga melihat Detektif Janvier memperhatikan Maigret. Tak berapa lama, jendela di seberang jalan itu terbuka. Maigret memberi tanda agar Sersan Lukas bergabung. 

Lukas berjalan menuju hotel itu. la masuk ke kamar tetapi langkahnya terhenti ketika menemukan mayat wanita dengan kaki terpentang. Leher wanita itu digorok, seperti korban-korban Stan lainnya. Darah berceceran di mana-mana.

Gambar yang tergantung di dinding itu ternyata foto Olga. 

“Apakah ini ulah Ozep?” tanya Lukas.

Maigret mengangkat bahu, diam terpaku di tengah ruangan. 

“Apa ciri-ciri Ozep perlu saya beri tahukan pada kawan-kawan untuk mencegah dia meninggalkan hotel? Saya akan menaruh orang di atap, kalau-kalau ....”

“Lakukan.” 

“Saya perlu menghubungi Direktur?” 

“Sebentar saja.” 

Bukan pekerjaan mudah untuk berbicara dengan Maigret dalam kondisi seperti ini: ia merasa tolol telah mengerahkan sejumlah besar pasukan bersenjata ketika semuanya sudah terlambat.

“Apa anggota geng yang kembali boleh saya tangkap?” 

Maigret mengangguk acuh tak acuh. Lukas pun keluar.

 

Ada yang tidak klop

“Di mana Maigret?” tanya inspektur kepala kepada Lukas ketika turun dari mobil.

“Di kamar nomor 19 lantai dua.” Inspektur kepala itu mendapati Maigret duduk di kursi di tengah ruangan, dua langkah dari mayat wanita itu.

“Oke, Maigret! Tampaknya kita dalam kesulitan!” 

“Ya.” 

“Jadi, si pembunuh yang terkenal itu bukan siapa-siapa melainkan pria yang menawarkan jasanya pada kamu! Harus diakui, Maigret, kamu terlalu gampang percaya; Ozep itu mencurigakan ....”

Kening Maigret berkerut dan rahangnya menegang. 

“Menurut kamu, ia tidak berusaha keluar dari hotel ini?” 

“Saya yakin tidak,” kata Maigret. 

“Kamu belum menyelidiki hotel ini?” 

“Belum.” 

“Kamu mengira ia akan membiarkan dirinya ditangkap dengan mudah?” 

Maigret mengalihkan pandangannya dari jendela ke direktur. 

“Ada sesuatu dalam kasus ini yang tidak klop. Kalau Ozep itu Stan, tidak ada alasan mengapa ia ....” suara Maigret bergetar. 

“Saya akan menengok dulu apa yang dikerjakan orang kita di luar sana,” kata inspektur kepala. Mereka menangkap si Bayam. Ketika diberi tahu kalau Olga tewas terbunuh, mukanya langsung pucat; sebaliknya, ia cuek saat mereka bicara tentang Ozep. 

Setengah jam kemudian Mata Satu pulang dan ditangkap di depan pintu hotel. Ia mengakui dengan tenang; tetapi ketika diberi tahu tentang kematian wanita itu, ia mencoba melepaskan diri dari borgol dan melompat ke tangga.

“Siapa yang melakukannya?” teriak Mata Satu. “Siapa pembunuhnya?” 

“Ozep alias Stan si Pembunuh.” 

Laki-laki itu langsung terdiam seperti kena sihir. Keningnya berkerut saat ia berkata, “Ozep?”

“Kau tidak ingin mengatakan kalau kau tidak tahu nama bos kamu yang sebenarnya ‘kan?” Inspektur kepala sendiri yang melontarkan pertanyaan itu di koridor. 

Anggota geng yang lain, si Kimia, datang. Ia menjawab semua pertanyaan dengan nada bingung sepertinya tidak pernah mendengar tentang wanita itu, Ozep, maupun Stan.

Maigret masih di atas dengan mayat itu. Ia mencoba mencari kunci untuk memahami apa yang telah terjadi.

“Baik ....” ia bergumam ketika Lukas mengatakan si Berewok juga sudah ditangkap. 

Tiba-tiba ia mengangkat kepalanya. “Kamu perhatikan tidak, Lukas? Ada empat orang yang ditangkap, tapi tak seorang pun melakukan perlawanan berarti. Sedangkah orang seperti Stan ....”

“Tapi karena Stan adalah Ozep ...,” 

“Kamu sudah menemukannya?” 

“Belum.” 

“Dengar, Lukas Mata Satu, si Bayam maupun si Berewok bukan Stan. Tapi aku yakin Stan masih ada di hotel ini.”

Lukas diam saja membiarkan inspektur bicara. 

“Jika Ozep itu Stan, ia tidak punya alasan ke sini untuk membunuh kaki tangannya. Kalau ia bukan Stan…”

Tiba-tiba Maigret bangkit, menghampiri dinding dan mengambil foto Olga. Ia merobek pita yang membingkainya. Tampak sederet kalimat di atas gambar wajah itu. Bunyinya: PERKARA KRIMIMAL YANG SUNGGUH KISAH NYATA; sedang yang di bawah: SI CANTIK POLANDIA DAN TEROR KELAS TINGGI.

Maigret tersenyum. “Kebanggaan,” katanya. “Mereka membeli majalah yang memuat foto itu di kios buku, lalu perempuan itu membingkainya.”

“Saya pernah melihat wajah perempuan itu. Garis besar kasusnya saya masih ingat. Beberapa klipingnya masih saya simpan. Di Amerika Tengah bagian barat, empat atau lima tahun yang lalu sebuah geng menyerang farm yang terpencil, menggorok leher... Persis seperti kasus kita ... dan pemimpin mereka wanita. Pers Amerika senang dapat mengungkap kekejiannya.”

“Lalu Stan ...?” 

“... adalah Olga. Kepastiannya, tunggu satu jam lagi. Kini saya tahu apa yang saya cari di  kantor. Mau ikut, Lukas?”

“Tapi Ozep?” tanya Lukas, setelah mereka duduk di taksi.

“Saya berharap menemukan sesuatu tentang dia. Kalau ia membunuh perempuan itu, mestinya ia punya motif. Dengar, Lukas, ketika saya menyuruhnya pergi menemui anggota geng yang lain, ia segera setuju. Tetapi waktu saya suruh menemui wanita itu, ia menolak. Tapi saya paksa dia. Itu artinya, anggota geng yang lain tidak mengenalnya, tapi wanita itu mengenalnya.”

Setengah jam kemudian kliping yang mereka cari ketemu.

“Baca ini! Pers Amerika memang bombastis - Si Iblis Wanita .... Si Polandia Maut ... Gadis, 23, Geng Penggorok Kepala ....”

Pers suka dengan ulah nekat gadis Polandia itu dan banyak memuat fotonya yang menarik. Pada usia 18 tahun Stephanie Polinskaja sudah dikenal oleh polisi Warsawa. Waktu itu ia berkenalan dengan seorang pria, lalu menikah dengan dia. Suaminya mencoba meredam sifat jahat dalam dirinya. Mereka punya seorang anak. Suatu hari sepulang kerja, ia menemukan istrinya minggat, membawa semua barang berharga. Kejinya, anaknya tewas dengan leher digorok.

“Kamu tahu siapa laki-laki itu?” tanya Maigret. 

“Ozep?” 

“Ini foto Ozep. Paham? Stephanie, nama samarannya Stan, berkeliaran di Amerika. Bagaimana ia melarikan diri dari penjara Amerika, saya tidak tahu. Kemudian ia melarikan diri ke Prancis, hidup di tengah-tengah bandit, dan kembali ke profesi lamanya.”

“Suaminya tahu dari surat kabar kalau istrinya ada di Paris dan polisi sedang mengikuti jejaknya. Apakah Ozep ingin menyelamatkan istrinya sekali lagi? Saya ragu. Saya lebih cenderung Ozep ingin memastikan bahwa perempuan yang telah membunuh anaknya itu tidak dapat menghindar dari hukuman. Itu sebabnya Ozep menawarkan jasanya. Ia tidak berani bekerja sendiri, ia butuh polisi untuk membantu. Kemudian malam ini saya memaksa tangan dia ....”

“Bertemu muka dengan mantan istrinya. Apa yang dapat ia lakukan? Membunuh atau dibunuh! Perempuan itu tentu tidak ragu-ragu menghabisi satu-satunya orang di luar geng yang dapat menjadi saksi perbuatan kriminalnya.”

“Karena itu Ozep membunuhnya. Mau tahu apa yang saya pikirkan? Saya berani bertaruh, Ozep pasti akan ditemukan di hotel mungkin dalam keadaan terluka. Sekarang kamu boleh kembali ke hotel dan ....” 

“Percuma!” ini suara Pak Inspektur Kepala. “Ozep sudah gantung diri di kamar kosong di lantai lima.” (Georges Simenon)

Baca Juga: Rambut Palsu Buka Kartu

 

" ["url"]=> string(66) "https://plus.intisari.grid.id/read/553606048/dihabisi-mantan-suami" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1670683547000) } } }