array(2) {
  [0]=>
  object(stdClass)#53 (6) {
    ["_index"]=>
    string(7) "article"
    ["_type"]=>
    string(4) "data"
    ["_id"]=>
    string(7) "3635910"
    ["_score"]=>
    NULL
    ["_source"]=>
    object(stdClass)#54 (9) {
      ["thumb_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2023/01/05/untung-belum-sempat-beraksi_silv-20230105070415.jpg"
      ["author"]=>
      array(1) {
        [0]=>
        object(stdClass)#55 (7) {
          ["twitter"]=>
          string(0) ""
          ["profile"]=>
          string(0) ""
          ["facebook"]=>
          string(0) ""
          ["name"]=>
          string(13) "Intisari Plus"
          ["photo"]=>
          string(0) ""
          ["id"]=>
          int(9347)
          ["email"]=>
          string(22) "plusintisari@gmail.com"
        }
      }
      ["description"]=>
      string(131) "Seorang perempuan berkendara menuju peternakan sahabatnya. Namun selama perjalanan ia diikuti sebuah van yang hendak mencelakainya."
      ["section"]=>
      object(stdClass)#56 (8) {
        ["parent"]=>
        NULL
        ["name"]=>
        string(8) "Kriminal"
        ["show"]=>
        int(1)
        ["alias"]=>
        string(5) "crime"
        ["description"]=>
        string(0) ""
        ["id"]=>
        int(1369)
        ["keyword"]=>
        string(0) ""
        ["title"]=>
        string(24) "Intisari Plus - Kriminal"
      }
      ["photo_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2023/01/05/untung-belum-sempat-beraksi_silv-20230105070415.jpg"
      ["title"]=>
      string(28) "Untung, Belum Sempat Beraksi"
      ["published_date"]=>
      string(19) "2023-01-05 19:04:44"
      ["content"]=>
      string(33038) "

Intisari Plus - Seorang perempuan berkendara menuju peternakan sahabatnya. Namun selama perjalanan ia diikuti sebuah van yang hendak mencelakainya.

--------------------

Di antara hari-hari yang datang dan pergi setiap bulan, Sabtu keempat merupakan hari yang paling ditunggu-tunggu Anna, meski terkadang ia selalu diliputi rasa cemas. Seperti biasa hari itu jatah bagi kedua anaknya, Jerry dan Carolina, untuk berkumpul dengan ayah mereka alias mantan suami Anna. Maklum, perannya sebagai single parent sekaligus direktur perusahaan yang sedang berkembang membuatnya tidak lagi punya banyak waktu untuk bersantai. Itulah sebabnya hari ini Anna mencoba pulang kantor lebih awal untuk menghindari lalu lintas akhir minggu yang macet. Apalagi ia diundang menginap di peternakan milik Daniel, sahabatnya, sehingga ia berharap dapat meninggalkan kantor tepat pukul 17.00.

Namun, saat jam mejanya menunjukkan pukul 16.37, rekan kerjanya Filip, menyerahkan dokumen setebal 12 halaman dengan permasalahan rumit yang harus segera ia tandatangani sebelum diserahkan pada klien. Kekesalannya kian menjadi ketika Filip mengingatkannya bahwa mereka telah kehilangan dua kontrak pada minggu terakhir. Toh, Anna mencoba tetap tenang, menyembunyikan kejengkelan yang mulai memuncak.

Setiap Jumat peristiwa serupa sering terjadi. Sementara di siang hari tidak banyak kesibukan yang ia tangani namun saat akan meninggalkan meja kerja, seketika ada tugas baru yang cukup menyita waktu yang harus segera ditanganinya. Dengan sekilas pandang, Anna tahu tidak mungkin keluar kantor sebelum pukul 18.00.

Ia membaca pelan-pelan halaman pertama, sambil memberikan beberapa koreksi. Pengalaman mengajarkan, sedikit kesalahan yang dibuat menjelang akhir Minggu akan berakibat fatal bahkan bisa menimbulkan sesal yang berkepanjangan di sepanjang minggu berikutnya. Saat halaman terakhir selesai, ia melirik jam mejanya. Pukul 17.51.

Bergegas ia keluar ruangan, kemudian menjatuhkan bundel dokumen di meja Filip. Sebenarnya ia curiga tugas itu mestinya sudah ada di pagi hari, tapi sengaja ditahan hingga sore hari. Ia menduga Fil mencoba melakukan pembalasan karena iri atas promosi yang diterimanya beberapa bulan lalu.

 

Perceraian yang tak terduga

Dalam perjalanan ke lantai parkir di bawah tanah, ia mencoba menghitung keterlambatan yang mengganggu rencana perjalanan akhir pekannya. Setelah membuka pintu Audi merah metaliknya, ia melemparkan tas kerja ke kursi belakang, dan segera meluncur ke jalan raya yang arusnya mulai ramai. Selain ke jalan, matanya sempat mengamati bagaimana para pekerja kantor, lelaki perempuan, tua muda, berderet-deret di sepanjang trotoar, seperti semut pekerja, antre menunggu angkutan umum. Entah bus kota maupun metro mini. Sesekali bila ada taksi menepi, kerumunan orang itu berebut masuk. Begitulah fenomena sosial yang sudah menjadi pemandangan umum setiap jam pulang kantor di ibu kota ini.

Radio mobil yang dinyalakannya menyiarkan berita pukul 6. Krisis moneter yang melanda sebagian besar negara-negara Asia Tenggara masih menjadi topik utama. PM Malaysia melancarkan tuduhan bahwa George Soros, spekulan valas internasional, adalah biang dari bencana ekonomi dan merosotnya nilai tukar mata uang lokal terhadap dolar AS. Diberitakan pula, dalam suatu kesempatan Mahatir menantang Soros untuk adu debat. Namun ternyata forum perdebatan yang ditunggu banyak kalangan itu tak kunjung terjadi, sementara krisis moneter justru semakin menjadi-jadi. Di tengah situasi sedemikian itu, muncul silang pendapat dari para pakar ekonomi tentang perlu tidaknya campur tangan IMF dalam membantu mengatasi krisis moneter yang dialami pemerintah Indonesia. Tak urung, hiruk pikuk itu malah membuat rakyat kecil kebingungan.

Berita olahraga didominasi seputar penyelenggaraan SEA Games 1997 di Jakarta. Disusul kemudian dialog lewat telepon dengan seorang tokoh lembaga konsumen yang isinya mempertanyakan penarikan dana olah raga lewat stiker yang masih berlanjut meski pesta olah raga tersebut sudah usai.

Ketika Anna mencoba mengganti channel ke stasiun radio lain yang terdengar justru kabar buruk. Tadi malam terjadi sebuah perampokan berdarah yang menimpa seorang pengusaha kaya di rumahnya kawasan Kayangan Indah. Korban tewas mengenaskan dengan tiga lubang peluru di tubuhnya, sementara kawanan perampok berhasil menggondol uang sebesar Rp 1 miliar. Pikiran Anna makin hanyut dalam keprihatinan, tak heran ia kemudian mematikan radionya. Ia jadi berpikir, bagaimana bila ia menyalakan radio sepanjang tahun. Bisa jadi bukan hiburan yang didapat, melainkan stres.

Seakan mencoba menepis segala perasaan yang muncul, begitu mobilnya memutari Bundaran HI, Anna mulai membayangkan akhir pekannya kali ini. Pikirannya menerawang ke peristiwa lebih dari setahun yang lalu, ketika Hari, suaminya, dengan jujur mengaku ingin bercerai setelah bertemu dengan seorang wanita. Sampai sekarang ia masih belum mengerti semua itu bisa terjadi setelah mereka bersama selama 7 tahun. Ia belum pernah merasa sekaget atau semarah itu. Hati kecilnya merasa dikhianati. Orang tuanya pun sempat kecewa, menyaksikan akhir tragis perkawinan putri mereka yang selama ini menjadi kebanggaan keluarga.

Namun lambat laun ia menyadari. Sejak dipromosikan sebagai direktur, memang makin sedikit waktu yang mereka luangkan bersama. Mungkin juga Hari merasa minder karena penghasilannya sebagai suami makin kecil saja dibandingkan gaji sang istri. Entah penyebab mana yang benar, Anna tidak tahu persis. Apalagi ia mulai berkaca pada kenyataan, sepertiga perkawinan di daerahnya berakhir dengan perceraian atau perpisahan.

Perceraian mereka berlangsung dengan damai. Hari mengalah atas semua tuntutannya. Flat di Kejora Regency, Audi metalik buatan tahun 1996, dan anak-anak, yang diperbolehkan berlibur bersama ayahnya pada minggu keempat. Selama ini perjanjian itu berjalan lancar. Masing-masing selalu mencoba menepati putusan yang telah dibuat.

Sabtu siang Hari akan menjemput anak-anak mereka di sekolah, dan sebagaimana biasa, ia akan mengantarkan kembali ke rumah sekitar pukul 19.00 Minggu petang. Saat itu, Anna biasanya akan menghabiskan waktu berjalan-jalan selama mungkin untuk membuang rasa kesepiannya. Meski ia terkadang lelah mental, bertanggung jawab membesarkan dua anak tanpa suami, ia sering kehilangan bila berjauhan. Flatnya terasa “mati” tanpa kehadiran kedua buah hatinya.

 

Untung ada Daniel

Sejauh ini Anna belum juga punya pacar. Tak seorang pun dari staf senior di kantor mau mengajak berhubungan lebih serius kecuali sekadar makan siang bersama. Masuk akal, karena hanya 3 orang di antara mereka yang masih lajang. Satu-satunya orang yang pernah diharapkan menjalin hubungan serius ternyata hanya menginginkan dirinya di malam hari.

Sejak lama Anna telah memutuskan, seringan atau sesingkat apa pun hubungan dengan rekan sejawat, pasti hanya akan berakhir dengan kepedihan. Menurutnya, selain sangat sombong, pria juga sulit dimengerti. Bayangkan, suatu saat seorang pria tersenyum-senyum saat menatap seorang perempuan. Tapi bila kemudian perempuan itu melakukan kesalahan kecil, mereka akan segera mencapnya sebagai perempuan gampangan.

Anna menggeram ketika sampai di perempatan lampu merah. Bayangkan, selama 20 menit ia baru berjalan sejauh 2 km. Ia membuka kotak konsol di samping tempat duduknya, meraba-raba dalam kegelapan mencari kaset. Begitu menemukan satu, ia pun memasukkannya ke dalam tape mobil sambil berharap kaset itu berisi lantunan suara Pavarotti. Ternyata, justru Gloria Gaynor yang melengking dalam I will Survive. Anna tersenyum, pikirannya melayang ke Daniel.

Ia dan Daniel pernah kuliah bersama di Fakultas Ekonomi Universitas Indonusa awal 1980-an, tak heran bila mereka berteman baik. Persahabatan itu terus terjalin bahkan setelah Daniel bertemu Rani yang lebih muda beberapa tahun. Daniel dan Rani menikah segera setelah lulus. Sekembalinya dari bulan madu Daniel mengambil alih manajemen peternakan milik ayahnya di Jawa Tengah. Perkawinan mereka membuahkan tiga anak yang lahir berturutan. Anna - sebagai sahabat - dipercaya menjadi ibu baptis Sofia, putri sulung mereka.

Terkadang, Anna iri melihat rumah tangga Daniel yang tenang selama 12 tahun perkawinan. Ia pun yakin mereka tidak pernah punya keinginan untuk bercerai. Sebaliknya, Rani dan Daniel berpendapat, meskipun bercerai kehidupan Anna tidak akan kurang berarti atau menarik.

Berakhir pekan di peternakan bukan kali pertama dilakukannya. Ia sering diundang menginap oleh Daniel, tapi dari 2 atau 3 undangan, Anna hanya memenuhi satu kali saja. Bukan ia tidak suka lebih sering bersama-sama mereka, tapi ia hanya tidak ingin memanfaatkan kebaikan mereka.

Kali ini pun ada alasan khusus untuk berkunjung, ia ingin beristirahat setelah satu minggu yang melelahkan. Minggu ini dua kontrak gagal ditindaklanjuti. Belum lagi Jerry dikeluarkan dari tim sepak bola, sedangkan Carolina terus ribut mengatakan bahwa ayahnya tidak keberatan ia menonton TV, meski ia seharusnya belajar untuk persiapan masuk sekolah.

 

Korban kucing hitam

Lampu merah menjadi hijau. Anna mengeluh, selama sejam dalam perjalanan ia baru menempuh 7 km. Ini pun belum keluar dari wilayah kota. Ketika sampai pada jalan terbagi atas beberapa lajur, sekilas melihat ke papan petunjuk. Tindakan itu dilakukannya lebih karena kebiasaan, lantaran ia hafal sekali setiap jengkal jalur jalan menuju peternakan Daniel. Ia mencoba menambah kecepatan mobil, tapi gagal, karena semua lajur jalan sama padatnya.

“Sialan,” ia menggerutu begitu teringat tidak membawa bingkisan untuk keluarga Daniel. “Ini memalukan!” ia makin kesal mengingat selama ini Daniel dan Rani tidak pernah lupa membawa buah tangan bila mengunjunginya. Ia mengharap ada yang dapat ia beli di tengah perjalanannya, tapi ia ingat di sepanjang jalur itu hanya ada sebuah bengkel. Medan berat lalu lintas yang telah ditempuhnya tak ingin ia jalani lagi, meski ia juga tidak sanggup datang dengan tangan kosong.

Ketika sampai di putaran masuk ke lajur tengah, untuk pertama kalinya ia berhasil memacu mobilnya hingga kecepatan lebih dari 50 km. Mencoba sedikit santai, Anna membiarkan pikirannya mengalir tenang bersama musik.

Tanpa sempat diantisipasi sebelumnya, mendadak sebentuk bayangan hitam melintas cepat menyeberang jalan. Ban mobilnya berdecit beradu aspal jalan. Ia telah bereaksi secepat mungkin menginjak pedal rem, tapi terlambat. Tak terhindarkan lagi, terdengar benturan keras tatkala bemper depan mobilnya menumbuk benda itu, disusul guncangan yang keras.

Dengan sedikit gemetar, Anna memundurkan mobilnya ke tempat ia menabrak binatang itu. Ia berharap hewan itu masih hidup. Lalu lintas masih tetap ramai. Dari balik jendela mobil ia melihat sosok hitam yang ternyata kucing terbaring di rerumputan. Dengan penuh rasa bersalah ia keluar mobilnya, menghampiri tubuh yang tergolek tanpa nyawa. Anna merasa sangat sedih. Ia tidak sanggup membayangkan bila hal ini sampai terjadi pada dua kucing kesayangannya di rumah. Perlahan ia mengangkat bangkai itu lalu meletakkannya di pinggir selokan.

“Maafkan aku,” gumamnya. Ia masih menyempatkan melihatnya untuk terakhir kali sebelum masuk ke mobil. Ia kembali ke jalan, ditemani lantunan Gloria Gaynor. Ia segera mematikan kaset dan mencoba berhenti merasa berbuat bodoh menubruk kucing malang itu. Ia menunggu arus jalan agak longgar untuk kembali ke jalur lambat. Beberapa menit kemudian ia berhasil kembali memacu mobilnya, meski ia masih gelisah akibat menubruk kucing.

Mobilnya melaju pada kecepatan 50 km/jam ketika ia sadar ada sepasang lampu yang bersinar terang terpantul dari kaca spion. Ia mengangkat tangannya untuk melindungi matanya dari paparan sinar yang menyilaukan. Ia mengurangi kecepatan agar mobil itu bisa mendahuluinya, tapi tampaknya si pengemudi tidak tertarik melakukannya. Anna mulai penasaran, apakah ada yang salah dengan mobilnya? Apakah lampu mobilnya tidak menyala? Ataukah ada percikan api? Ataukah….

Ia menambah kecepatan, mencoba mengambil jarak dengan mobil di belakangnya. Namun, mobil itu tetap bertahan beberapa meter di belakangnya. Sebentar-sebentar Anna melihat melalui kaca spion dalam, tapi sinar mobil yang sangat terang menyulitkannya untuk melihat wajah si pengemudi. Begitu matanya mulai terbiasa, tampak mobil yang mengikutinya adalah mobil van hitam besar dengan seorang anak muda di belakang kemudi. Selain itu, ia melihat si anak muda seperti melambai-lambaikan tangannya. Ia tak mengerti apa maksudnya.

Maka begitu mendekati jalan putar, Anna kembali memperlambat mobil untuk memberi kesempatan pada van hitam memasuki lajur cepat. Lagi-lagi kesempatan itu tidak dimanfaatkan, si anak muda bertahan mengikuti di belakang, sementara pendar lampu besarnya belum juga dimatikan. Anna menunggu sampai ada cukup ruang di lajur lalu lintas sebelah kanan. Ketika ada satu ruang kosong pas untuk satu mobil, dengan kesal ia menginjak pedal gas dalam-dalam, memotong garis marka jalan dan memacu ke lajur cepat.

Ah, akhirnya ia berhasil meloloskan diri dari kejaran van hitam itu. Ia baru akan bersantai dan berpikir tentang Sofia, yang selalu menunggu kesempatan dibacakan cerita, ketika tiba-tiba matanya dibutakan oleh nyala lampu besar yang muncul kembali di kaca spion. Kali ini, jarak antara mereka lebih dekat dibandingkan sebelumnya.

Ia melambat, van itu pun melambat. Ia menambah kecepatan, van itu pun bertindak serupa. Bingung dengan apa yang harus dilakukan lagi, ia mulai melambaikan tangan dengan liarnya ke setiap pengendara sepeda motor yang melewatinya. Tapi, nihil, mereka tak peduli dengan kesulitannya. Wanita berambut ikal ini putus asa lantaran gagal menarik perhatian orang lain. Tiba-tiba ia ingat telah bergabung dengan persatuan mobil yang mengingatkannya untuk memasang telepon mobil. Tapi apa mau dikata ia baru merencanakan memasang alat itu minggu depan, padahal semestinya ia bisa melakukannya dua minggu yang lalu. Ia hanya bisa menyesal.

Keringat memenuhi dahinya. Usaha yang dilakukan berikutnya, secepat mungkin berpindah ke lajur cepat di sebelahnya. Van itu pun membelok cepat ke lajur yang sama sambil terus berusaha menempel begitu dekat. Seandainya Anna kurang hati-hati menginjak remnya, terbuka kemungkinan terjadi tabrakan hebat.

Kecepatannya mencapai 90 km/jam, van itu pun masih mampu mengimbanginya. Ia menekan pedal gas makin dalam, kecepatannya mencapai 100 km, tapi jarak antara mereka pun masih tetap tak cukup dimasuki sebuah mobil.

 

Perkosaan dan pembunuhan

Diselimuti rasa panik, Anna menyalakan lampu besar, lampu darurat, bahkan menekan klakson pada siapa saja yang mengalangi jalannya. Ia hanya berharap, ada polisi yang melihatnya lalu menilangnya karena telah melampaui batas kecepatan. Baginya, didenda akan lebih baik daripada mengalami kecelakaan karena dikejar anak muda. Mobilnya terus berlari hingga melewati 110 km/jam, tapi van itu tetap tak bergeming.

Tanpa peringatan, dengan cerdik ia kembali ke lajur tengah sambil melepaskan pedal gas. Sekarang untuk pertama kalinya ia sejajar dengan pengemudi van. Rupanya keadaan itu pun dimanfaatkan si anak muda yang berjaket kulit hitam. Anna melihat anak muda itu menunjuk-nunjuk ke arahnya dengan nada mengancam. Ia membalas dengan mengepalkan tinju lalu kembali memacu mobilnya. Van itu kembali mengejarnya. Mereka berdua layaknya dua pelari dalam Olimpiade yang tidak pernah merelakan pesaingnya mencuri kesempatan untuk menang.

Tiba-tiba, ia ingat sesuatu, mendadak pula perutnya mulas beberapa saat. “Ya, ampun,” ia berteriak ketakutan. Beberapa bulan yang lalu di jalur jalan yang dilewatinya telah terjadi pembunuhan terhadap seorang perempuan. Korban lebih dulu diperkosa sebelum dibunuh dengan sebilah pisau bergerigi dan kemudian dibuang di selokan. Beberapa minggu setelah kejadian di sepanjang jalur dipasang beberapa tanda yang mengingatkan setiap pengemudi yang mempunyai informasi tentang pembunuhan itu diminta menghubungi polisi melalui nomor telepon tertentu. Namun sekarang tanda-tanda itu telah disingkirkan, meski polisi belum juga menemukan pelaku pembunuhan. Anna mulai gugup ketika ingat pada peringatan polisi bagi pengendara wanita untuk, “Tidak berhenti di jalan”.

Beberapa menit kemudian ia melihat papan penunjuk jalan yang sangat dikenalnya. Ternyata, ia sampai di tempat lebih awal ketimbang yang diperkirakan sebelumnya. Berarti, kurang 3 km lagi ia akan meninggalkan jalan raya memasuki jalan kecil menuju peternakan. Meski sedikit lega, ia terus berharap agar saat ia berbelok, van itu tidak mengikutinya.

Segera diputuskan masuk ke lajur cepat dan memacu mobil semampunya. Telapak tangannya basah oleh keringat dingin. Dengan membaca sekilas pal jalan, ia tahu telah melewati 2 km terakhir. Tinggal 1 km lagi. Melalui spion, terlihat van hitam masih membuntuti di belakangnya. Anna harus memilih saat yang benar-benar tepat. Ia melirik lajur kiri, agar pada saatnya ia bisa langsung berbelok memotong ke kiri.

Audi bertahan di lajur paling kanan dengan kecepatan 100 km. Beruntung, saat jarak antara mereka cukup jauh. Begitu mendapat kesempatan untuk membebaskan diri, Anna langsung memotong jalan dengan kecepatan tinggi. Bisa dibayangkan, mobil di lajur yang lain pun tersentak, harus berhenti mendadak. Bunyi derit rem diiringi teriakan dan makian kemarahan pengemudinya makin meramaikan jalanan malam itu. Tapi Anna tidak peduli, ia harus memusatkan pandangannya ke jalan kecil menuju peternakan.

Ia tersenyum puas sekaligus lega. Ia mulai merasa aman meneruskan perjalanan, karena van hitam itu tidak tampak. Rupanya, ia meneruskan perjalanan bersama arus lalu lintas yang terus mengalir.

Tawanya seketika terhenti, berubah menjadi jeritan ketika dari kaca spion ia melihat sorot lampu yang memotong tajam deretan kendaraan. Wajah wanita paruh baya yang cantik ini berubah menjadi pucat pasi. Van besar itu terlihat bergoyang tidak stabil ke kiri-kanan saat melintasi gundukan rumput pembatas dan meluncur ke jalur antiselip. Hampir saja mobil itu terperosok ke selokan. Berkat kesigapan pengemudinya, van itu berhasil tegak kembali, melaju hanya beberapa meter di belakang Anna. Kembali lampu besarnya berpendar, mengusik pandangan.

Kurang dari satu kilometer lagi ia akan sampai di persimpangan. Artinya, ia harus memutuskannya sekarang. Di tengah jeratan kepanikan yang luar biasa ia mencoba memilih langkah terbaik. Kota terdekat sekitar 12 km dari jalan raya, sedangkan peternakan hanya 7 km. Tapi 5 km pertama adalah jalan desa yang sepi, gelap, dan dingin. Indikator bahan bakar menunjukkan persediaan bahan bakar mobil hampir kosong, namun menurut perkiraannya, masih cukup untuk mencapai salah satu dari dua pilihan tersebut.

Tinggal 100 m lagi, Anna memutuskan langsung ke peternakan. Meski jalur itu gelap dan sepi, ia kenal betul setiap belokan dan putaran di sana. Ia juga yakin, pengejarnya tidak mengenal medan di sana sebaik dirinya. Begitu tiba di peternakan, pikirnya, ia masih punya kesempatan untuk bersiap-siap menangkapnya. Dengan hanya membayangkan rumah peternakan pun, Anna sudah merasa tenang.

Di bawah terang sinar bulan, ia menggenggam erat kemudi mobil. Namun, beberapa menit berikutnya rasa bimbang menyergap benaknya. Benarkah keputusan yang dibuatnya? Dari spion, ia melihat van tak kenal menyerah untuk mengikutinya. Sambil menahan napas, ia mengganti gigi persneling dan memacu kendarannya, mencoba membuat jarak 70 m, kalau perlu 100 m di depan pengejarnya. Sayang, semua itu hanya bisa dilakukan selama beberapa detik. Lampu yang telah mulai diakrabinya kembali muncul.

Di setiap belokan Anna bisa cukup punya waktu memisahkan diri sebelum van itu kembali menyusul meski dengan terguncang-guncang ke kanan-kiri sebelumnya. Sambil tak lupa terus berdoa semoga mobilnya tak mogok kehabisan bensin, Anna memeriksa pal jalan. Ia telah menempuh sekitar 2 km, jarak dari persimpangan hingga ke peternakan masih 5 km. Ia mulai memperhatikan setiap pal sepersepuluh kilometer yang dilewatinya. Ia khawatir van itu akan mendahuluinya dan memaksanya ke pinggir. Cara satu-satunya adalah berjalan di tengah.

Satu kilometer telah terlewati lagi, van itu masih terus menempel.

Tiba-tiba dari arah depan muncul sebuah mobil. Ia menyalakan lampu besar dan menekan klakson kencang-kencang. Mobil itu membalas dengan melakukan hal yang sama. Sempat terpikir olehnya, mana yang lebih baik, menabrak mobil itu atau membiarkan lehernya digorok? Namun akhirnya, Anna memperlambat mobilnya dan agak menepi saat mereka saling berpapasan. Ia memeriksa pal jalan, tinggal 2 km.

Kadang Anna memperlambat kecepatannya dan kemudian menambah kecepatan di setiap belokan jalan yang dikenalnya. Ia berharap van itu tidak cukup punya ruang untuk sejajar dengannya. Ia mencoba memikirkan apa yang akan dilakukan begitu melihat rumah peternakan. Perjalanannya tinggal 0,5 km lagi. Laju mobilnya agak terhambat oleh banyaknya lubang jalan dan gundukan tanah, yang menurut Daniel sulit diperbaiki.

 

Membawa penjahat sepanjang jalan!

“Gerbang!” Mendadak sontak ia ingat pada gerbang peternakan. Gerbang itu biasanya telah terbuka bila Daniel tahu ia akan datang. Tapi pernah juga Daniel lupa membukakan untuknya, sehingga ia harus keluar dari mobil untuk membukanya sendiri. Tapi tidak, ia tidak mau mempertaruhkan nyawanya untuk melakukan tugas itu sekarang.

Jika gerbang itu tertutup, ia lebih baik meneruskan perjalanan hingga ke kota terdekat. Lebih aman bila ia berhenti di Crimson Kipper yang biasanya ramai pengunjung di Jumat malam seperti sekarang. Lebih baik lagi bila ia dapat menemukan kantor polisi. Namun, saat memeriksa panel bahan bakar, “Aduh,” serunya begitu melihat jarum sudah mendekati garis merah. Berarti, ia tidak mungkin melanjutkan perjalanan ke desa terdekat.

Ia hanya berdoa agar Daniel ingat untuk membiarkan gerbang tetap terbuka. Meski pesimis dapat meninggalkan pengejarnya cukup lama, di sebuah tikungan ia berbelok cepat. Selama beberapa ratus meter berikutnya jarak mereka malah lebih dekat dibandingkan sebelumnya. Ia tidak berani menginjak pedal rem atau ia akan tertubruk. Kalau sampai celaka, tidak ada orang yang bisa diharapkan pertolongannya.

Ia kembali mengecek pal meter. Tinggal 1 km lagi. 

“Semoga gerbang itu terbuka. Harus terbuka!” serunya. Saat berbelok di tikungan berikut, di kejauhan ia sudah melihat bentuk rumah peternakan itu. “Terima kasih Tuhan!” teriaknya lega, ketika melihat sinar lampu di lantai bawah.

Begitu teringat kembali akan gerbangnya, ia berkomat-kamit, “Ya Tuhan, tolong biarkan pintu gerbangnya terbuka.” Ia tahu apa yang harus dilakukannya saat tiba di tikungan yang terakhir. “Semoga gerbangnya terbuka! Ayo terbuka!” Dalam keadaan tak menentu ia berjanji, “Aku tidak akan minta apa-apa lagi, tidak akan.” Ia berbelok cepat di tikungan kurang dari semeter di depan van hitam. “Aduh, tolong, tolong bukakan gerbangnya,” ketika ia melihat bayangan bentuk gerbangnya.

Gerbang itu terbuka lebar! 

Pakaiannya kuyup oleh keringat. Dengan kecepatan tinggi, meski sempat menyenggol kotak surat, Audi merah ini langsung melesat masuk pekarangan. Hanya beberapa puluh sentimeter di belakangnya, tanpa ragu van hitam itu pun mengikutinya. Tiap sebentar melirik ke spion, Anna terus menekan klakson mobil sambil menjerit-jerit memanggil-manggil Daniel. Gundukan dan lubang tanah membuat Audi terpelanting ke kanan-kiri. Deru mesin mobil, klakson membubarkan kumpulan gagak yang terbang dari ranting pohon dengan pekikan yang memekakkan telinga.

Mendengar keributan itu, tiba-tiba lampu teras rumah itu dinyalakan. Lampu mobil Anna pun tersorot langsung ke rumah, klakson mobil masih berbunyi nyaring. Meski melihat Daniel keluar dari pintu depan, Anna tidak juga memperlambat mobilnya. Demikian pula van di belakangnya. Sekitar 50 m di depan rumah ia mulai mengedip-ngedipkan lampu ke arah Daniel. Terang saja si empunya rumah penasaran dan kebingungan. 

Sekitar 20 m dari rumah, seketika Anna menginjak rem. Setelah menyeberangi jalan berbatu di depan rumah, Audi berhenti tepat di depan jajaran pot bunga di bawah jendela dapur. Derit rem terdengar di belakangnya. Pria berjaket kulit di dalam van itu rupanya belum mengenal medan di situ sehingga tidak bisa bereaksi dengan cepat. Begitu roda mobilnya menyentuh pekarangan berbatu, ia kehilangan kendali. beberapa menit kemudian terdengar benturan keras, van itu menubruk bagian belakang Audi. Mobil Anna pun terdorong menyentuh dinding rumah dan memecahkan kaca-kaca jendela dapur.

Anna segera melompat keluar mobilnya sambil berteriak, “Daniel! Ambil senapan, ambil senapan!” ia menunjuk ke mobil van di belakangnya. “Penjahat itu terus menguntitku sepanjang 20 km.”

Tak dinyana, pria berjaket itu juga melompat keluar van lalu melangkah menghampiri mereka berdua. Tak kuat menahan takut, Anna lari ke dalam rumah, diikuti Daniel yang bergegas mengambil senapan berburu miliknya. Selanjutnya, Daniel kembali ke depan untuk menghadapi tamu tak diundang yang telah berada dekat bagian belakang mobil Audi.

Senapan berburu sudah tersandang di pundak, dengan moncong terarah ke perut anak muda tersebut. “Jangan bergerak atau kutembak!” ucapnya tenang. Beberapa menit kemudian ia baru ingat, bahwa senapan itu kosong. Adegan tegang itu disaksikan Anna dari jauh di belakang Daniel.

“Bukan aku! Bukan aku!” teriak anak muda berjaket kulit itu saat Rani muncul di pintu. 

“Ada apa ini?” seru Rani gemetar.

“Telepon polisi!” Daniel berujar singkat disusul dengan masuknya Rani ke dalam rumah.

Daniel perlahan mendekati pria itu sambil tetap mengarahkan senapan ke perut sang “tamu”.

“Bukan aku! Bukan aku!” ia berteriak lagi, sambil menunjuk Audi merah metalik milik Anna. “Ia di dalam mobil!” Sambil dengan cepat menoleh ke arah Anna. “Aku melihatnya menyelinap masuk ketika kamu berhenti di pinggir jalan. Apalagi yang harus kulakukan? Kamu tidak pernah mau menghentikan mobil!”

Daniel melangkah mendekati Audi, lalu meminta anak muda itu untuk membuka pintu mobil pelan-pelan. Di bawah ancaman senjata, anak muda itu membuka pintu, namun seketika ia melompat mundur. Mereka bertiga menatap seorang laki-laki meringkuk di lantai mobil. Di tangan kanannya tergenggam mata pisau panjang dengan pinggiran bergerigi. Daniel memindahkan arah sasaran tembak kepadanya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Sayup-sayup di kejauhan terdengar bunyi sirene polisi mendekat. Sementara Anna, sang wanita karier, janda cantik, ibu dua orang anak ini melongo terbengong-bengong tanpa bisa berkata sepatah kata pun. (Jeffrey Archer)

Baca Juga: Rahasia Angka 17

 

" ["url"]=> string(72) "https://plus.intisari.grid.id/read/553635910/untung-belum-sempat-beraksi" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1672945484000) } } [1]=> object(stdClass)#57 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3643309" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#58 (9) { ["thumb_url"]=> string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2023/01/05/malaikat-pemusnah_irina-iriserj-20230105050607.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#59 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(149) "Seorang pria menemukan sekeranjang jamur dan langsung menumisnya. Namun ia malah menderita sakit yang hebat karena telah memakan 'malaikat pemusnah'." ["section"]=> object(stdClass)#60 (8) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["show"]=> int(1) ["alias"]=> string(5) "crime" ["description"]=> string(0) "" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2023/01/05/malaikat-pemusnah_irina-iriserj-20230105050607.jpg" ["title"]=> string(17) "Malaikat Pemusnah" ["published_date"]=> string(19) "2023-01-05 17:06:39" ["content"]=> string(18941) "

Intisari Plus - Seorang pria menemukan sekeranjang jamur di mobilnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung menumisnya. Namun akibatnya ia menderita sakit yang hebat karena telah memakan “malaikat pemusnah”.

--------------------

Laki-laki tua itu berdiri dengan sabar dan sikap merendah. Topinya yang lusuh terlihat rapi dalam kepitan. Tangannya yang kasar karena biasa dipakai bertani, mencangking sekeranjang kecil jamur.Cahaya dari bar rumah perkumpulan itu menjadikan lekak-lekuk wajah orang Slav itu seperti pahatan. 

Kolonel White, sekretaris gedung perkumpulan, keluar dari pintu kaca, lalu menyerocos. 

"Sore, Jan. Pelayan bilang kau ingin ketemu aku .... Ah, jamur." White menggosok-gosok tangannya yang pendek gemuk, sementara matanya yang sipit memancarkan keserakahan. Lelaki tua itu mengangguk. 

"Barangkali saya bisa bicara dengan Kolonel ... ?" Bahasa Inggrisnya ganjil dan terbata-bata. Lawan bicaranya mengangguk tidak sabar. 

"Ada apa?" 

Jan ragu-ragu, seperti sulit mencari kata-kata yang ingin dikeluarkannya. 

"Kebun saya - tempat saya tanam sayuran dan pelihara angsa - kawatnya diambil dan orang-orang itu - mereka bawa mesin besar dan membajaknya ...." 

"Buldozer," sergah White. "Betul, di situ akan dibuat fairway baru ke green 14. Itu 'kan sudah diputuskan sejak lama. Kamu sudah diberitahu." 

"Tidak paham. Saya cuma punya kebun itu untuk tanam sayuran. Istri saya menjualnya di pasar. Nafkah kami cuma dari situ. Jamur tumbuh di hutan, di ujung. Pohon birch bagus ditebang juga ...." 

"Ya, ya ..., sayang ya. Tapi seperti aku sudah bilang, kalian sebetulnya sudah beruntung mendapat kamp untuk tempat tinggal. Banyak pengungsi lain tidak seberuntung kalian."

 

Demi kenyamanan main golf 

Pria tua itu memandang ke tanah. Bangsanya sudah bergenerasi-generasi terbiasa dicabik-cabik perang dan kerusuhan. Penyerbu-penyerbu negerinya berbeda-beda, mulai orang Mongol sampai Turki, orang Swedia sampai Prusia, tapi mereka sama saja. 

Tanah miliknya yang tidak luas diambil alih untuk digabung dengan tanah petani-petani lain menjadi tanah pertanian kolektif dalam revolusi tidak berdarah tahun 1956. Lalu ia dan istrinya pindah ke Inggris karena putranya sudah mempunyai mata pencaharian di sana. Akhirnya mereka menemukan kedamaian dalam sebuah kamp Polandia yang besar. Namun sekarang sekali lagi mereka akan dicabut dari sana. 

Kolonel mengulurkan tangannya. "Terima kasih jamurnya. Berapa?" tanyanya sambil merogoh-rogoh saku. 

"Saya tidak terima bayaran. Tanah itu sekarang punya Kolonel." 

White tertawa meringkik seperti kuda. 

"Bukan punyaku, Pak Tua. Milik Tormount Golf Club. Nih beli slivovitz atau vodka sana." 

Jan tidak mempedulikan kepingan uang itu. 

Senja bulan September itu bertambah dingin dan White tadi meninggalkan segelas double scotch di barnya. Ia berdiri dengan tidak sabar. 

"Di tempat bekas pohon-pohon birch, jamur-jamur akan tubuh lagi, ketika mesin sudah pergi. Jamur beracun juga, Malaikat Pemusnah. 140 Susah membedakannya. Banyak orang tidak bisa. Kalau dimakan, mati." 

"Ya, ya, pasti kami akan berhati-hati. Kalau ragu-ragu, kami akan berkonsultasi kepadamu/' kata White meledek. 

Orang-orang seperti ini memang mesti diperlakukan seperti anak-anak atau orang pandir, pikir White yang tidak pernah mau tahu kesulitan orang lain. 

Diambilnya keranjang kecil berisi jamur-jamur putih berkilat. Air liurnya terbit membayangkan kelezatannya dalam hidangan sarapan. 

Jan menjauh dengan gontai, tanpa menyadari keindahan matahari merah yang terbenam di tanah yang sudah dicemari bajakan, sementara pohon-pohon yang semampai menjadi silhuet. Pikirannya melayang dengan penuh kerinduan ke desanya yang sepi di Polandia Kecil, tempat ia dilahirkan, ke angsa-angsanya dan babinya, ke semua yang ia tinggalkan di balik pohon buah-buahan. Kini rumput pun mereka tidak punya untuk makanan angsa mereka yang tinggal satu-satunya, Stanislaus, kesayangan istrinya. 

Jan menyangkutkan topinya ke balik pintu. Tanpa mencuci tangan ia menjatuhkan dirinya ke kursi tua yang sudah patah pernya. Ia mendorong piring setup sayuran yang dihidangkan istrinya dan duduk sambil bengong. 

Istrinya menggelengkan kepala dengan sedih lalu mengambil cangkul dari balik lemari. Beberapa jengkal tanah yang tersisa di depan pintu mungkin bisa dipakai menanam bawang. 

Sejam kemudian, ketika ia masuk untuk membuat kopi, dilihatnya suaminya masih dalam posisi yang sama, tapi kepalanya menunduk, dagunya menempel ke dada. Beberapa tetes air liur menitik dari mulutnya.

 

Merusak pemandangan saja 

Dentang bel ambulans yang melewati gubuk-gubuk Nissen di kamp itu sayup-sayup terdengar dari bar yang terang-benderang di gedung perkumpulan. Lingkaran-lingkaran asap biru mengambang di atas kepala anggota-anggota perkumpulan yang sedang asyik mendiskusikan fairway baru. 

Pembuatan fairway itu sangat kontroversial. Beberapa anggota sampai hampir mau mengundurkan diri. Ada yang bilang, keringkan saja dengan baik fairway lama yang biasa kebanjiran. Ukurannya yang 270 yard ( kira-kira 243 m) itu cocok untuk permainan mereka. 

Sebagian lagi ingin fairway baru yang mendekati green dengan agak mendaki. Mereka yang anti fairway baru mengemukakan Jan dan kebunnya sebagai argumentasi untuk memperkuat alasan mereka. 

Namun bagi White, keberadaan kamp Polandia cuma merupakan perusak pemandangan. Kamp itu sejajar dengan hampir seluruh fairway 13, dibatasi dengan kawat berkarat dan seng bergelombang yang sudah usang. Selain itu semak-semak berduri di balik pagar merupakan surga bagi kelinci yang suka datang ke fairway untuk membotaki rumput atau membuat lubang dari gorong-gorong sehingga air merembes ke fairway 14.

 

Patah hati 

Kolonel terbiasa bangun pagi. Ia senang berada di lapangan golf pagi-pagi saat tidak ada orang Seperti yang dikatakan Jan, jamur-jamur sudah tumbuh lagi. Ia bertekad, selain dia tidak boleh ada orang lain yang memanennya. 

Saat berjalan-jalan di pagi yang cerah dan berembun itu matanya memandang dengan bangga lapangan golf yang dianggapnya paling bagus di Inggris: permukaan yang gelombangnya sempurna, hutan-hutan yang berkelok dan lapangan rumput seperti beludru tempat bendera-bendera kecil berkibar ditiup angin. 

Ketika ia mendekati fairway baru, ia kesal melihat sudah ada orang lain di sana. Sosok yang pendek kekar itu berjalan dengan langkah berat dan sering membungkuk untuk memungut sesuatu dari tanah. Ketika ia mendekat, dilihatnya seorang wanita tua yang kepalanya dilibat dengan syal hitam. Di lengannya tergantung keranjang. Wanita itu berkeliaran sekitar tunggul-tunggul kayu di ujung fairway baru. 

Ketika melihat Kolonel datang, wanita itu menegakkan tubuhnya dan berdiri diam. Di belakangnya terdapat pagar kawat baru yang hampir menempel pada salah satu gubuk Nissen. Jendela-jendelanya yang kecil dicat mencolok, memakai tirai berbunga-bunga dari kain murah. 

"Sir," katanya perlahan sekali. Nadanya bukan bertanya ataupun menyalami. 

"Ayo kembali ke kamp," kata Kolonel keras. Sikap wanita itu ganjil. 

"Sebentar lagi ada orang main. Kamu bisa kena bola." "Anu ... Jan suami saya. Kami tinggal di sini...." Ia menunjuk ke gubuk-gubuk Nissen. 

"Kenapa Jan?" 

"Dia tiba-tiba sakit. Ambulans datang." 

"Oh, kasihan. Kenapa dia?" 

"Jantungnya." 

"Sudahlah, jangan risau. Dokter-dokter zaman sekarang pandai, kok. Lagipula kamu tidak punya banyak tanah lagi untuk dicangkul sekarang,"katanya enteng saja. "Betapapun juga kalian beruntung ada di Inggris, rumah sakit gratis." 

"Tidak ada rumah sakit yang bisa sembuhkan," kata wanita itu seperti kepada dirinya sendiri. 

"Omong kosong," katanya keras. "Mana kamu bisa tahu." 

"Saya tahu. Saya perempuan. Istrinya. Saya tahu semua. Hatinya patah." 

"Omong kosong. Mana ada orang yang hatinya patah. Sudahlah, mudah-mudahan ia cepat sembuh." 

Wanita itu menyorongkan keranjangnya. 

"Kata Jan, Bapak suka jamur." 

Kolonel agak kaget. "Oh terima kasih - terima kasih banyak." Ia mengambil sekeping uang logam dari sakunya. 

"Salam buat Jan. Belikan dia buah anggur." 

Ketika mengambil keranjang itu, Kolonel terkejut sekejap melihat mata hitam wanita itu yang memancarkan kelicikan.

 

Enak ditumis 

Ia lupa peristiwa itu ketika tiba di rumah perkumpulan dan bertemu dengan dokter setempat yang sedang menunggu teman main golf. Dokter itu minum terlalu banyak martini dan lebih sering berada di lapangan golf daripada melaksanakan tugasnya. Tidak mempunyai dedikasi pada pekerjaannya, pikir Kolonel. 

Kemarin dulu, Kolonel ingat pada peribahasa: "Makan sebuah apel sehari akan menjauhkan dokter dari kita." Maka itu ia berkata kepada dokter, "Main golf sebabak sehari menjauhkan dokter dari pasien-pasiennya." Ia merasa kata-katanya itu lucu, tetapi dokter itu tidak tertawa. 

Kolonel baru tiba di ramahnya selewat tengah malam. Ketika keluar dari mobilnya, ia melihat keranjang berisi jamur di bangku belakang. Ia memutuskan untuk menumisnya buat mengisi perutnya yang sudah lapar lagi. 

Ia memang bujangan. "Istri itu kemewahan yang mahal," katanya selalu. Ia mampu mengurus dirinya sendiri dan bisa makan kapan saja ia mau. Selesai makan, ia merasa lelah dan pergi tidur, meninggalkan piring-piring di bak cuci piring. 

Sesaat sebelum subuh ia terbangun karena perutnya sakit sekali. Ia berusaha keras untuk turun dari ranjang dan pergi ke dapur menyeduh teh. Setelah mengisi ketel di keran, tungkainya tidak kuat menyangga tubuhnya. Ia mencoba menjambret pinggiran bak. Jarinya menyentuh keranjang bekas jamur. Dua jamur kecil yang tertinggal di dasar keranjang menggelinding ke lantai. Tiba-tiba rasa panik menyerangnya. Jamur-jamur yang diberikan wanita tua jelek itu kepadanya! Jangan-jangan jamur beracun. 

Apa namanya menurut Jan? Malaikat Pemusnah. Mungkin wanita tua itu tidak memiliki kemampuan membedakannya dan memungut jamur yang keliru.

 

Sama seperti di ensiklopedia 

Lalu pikiran lain hinggap di otaknya. Jangan-jangan wanita itu tahu. la ingin membalas dendam atas penderitaan suaminya. Dasar orang asing keparat. Mereka semua sama saja: histeris dan tidak bisa dipercaya. Dari dulu ia berkeyakinan bahwa bersimpati kepada mereka tidak ada gunanya. 

Rasa sakit di perut dan dadanya agak berkurang. Ia berusaha untuk mencapai kursi. Mungkin cuma pencernaannya terganggu karena makan terlalu larut. Ia tidak pernah sakit. Ia tidak suka orang sakit. Kerja keras langsung akan mengusir sakit. Namun akhir-akhir ini kadang-kadang ia merasa napasnya sesak. Mungkin ia perlu melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Ia tidak mempunyai dokter yang biasa memeriksa kesehatannya. Satu-satunya dokter yang dikenalnya adalah si pemalas di gedung perkumpulan. 

Sambil menunggu air mendidih, sebaiknya ia memeriksanya di ensiklopedia di ruang sebelah, kalau-kalau memang ada yang namanya Malaikat Pemusnah atau cuma khayalan orang goblok. Ia mengambil buku yang diperlukannya dari rak dan membuka di bagian Fungi. Ya, ada dengan gambarnya. "Malaikat Pemusnah" atau "Topi Kematian". 

Menurut ensiklopedia itu: "Ukuran dan penampilannya seperti jamur, tapi warna kisi-kisinya krem, bukan coklat dan ada volvanya dekat pangkal tubuhnya." 

Ia terus membaca: "Tidak ada gejala keracunan selama 6 sampai 20 jam kemudian. Kemudian terasa sakit perut hebat ...." 

Seakan-akan bersimpati pada kata-kata yang tercetak, White merasakan kejang-kejang perut yang lebih menyakitkan dari yang pertama. Mulutnya terasa pahit. Ketakutan hebat diikuti dengan kemarahan yang membuta karena mempercayai orang lain, meluap ketika ia berusaha mendekati telepon. Dengan gugup ia mencari nomor telepon dokter di buku telepon. 

Baru semenit kemudian seorang perempuan menjawab. Kata-kata White berhamburan saat ia menjelaskan apa yang terjadi dan apa yang ia curigai. Perempuan itu menjawab, "Suami saya sedang pergi menolong orang yang melahirkan. Saya tidak tahu kapan ia akan kembali, tetapi saya akan menelepon rumah sakit untuk memanggilkan ambulans." 

"Suruh mereka cepat datang." Suaranya penuh ketakutan dan kemarahan kepada semua orang. 

Rasa sakitnya berkurang saat ia meletakkan gagang telepon. la menghirup tehnya. Tapi tangannya gemetar keras sehingga teh panas tumpah menyiram pahanya. Ia akan menuntut wanita jelek itu dengan tuduhan mencoba membunuhnya. Kedua telapak tangannya berkeringat, tetapi tubuhnya terasa dingin sekali. Tangan kirinya sulit digerakkan ... kenapa belum datang juga .... 

Tiba-tiba kesakitan yang luar biasa mencengkeramnya lagi. Rasa sakitnya bergerak ke dada kiri. Jantungnya berdegup keras, menyebur-nyemburkan darah lewat nadi-nadinya. 

Kegelapan yang pekat menutup pandangannya .... 

 

Stanislaus tidak usah dikurung lagi 

Kematian Kolonel menimbulkan kehebohan di gedung perkumpulan. Namun ia bukan orang yang populer dan peristiwa itu segera tenggelam dikalahkan oleh kenyataan bahwa fairway yang baru segera kebanjiran seperti yang lama, bahkan lebih parah. Diputuskanlah untuk memindahkan kembali pagar kawat ke tempatnya semula. Ketika Anna memberitahu kabar ini ke suaminya, Jan, yang sedang di rumah sakit, wajah lelaki tua itu berseri-seri. Istirahat ternyata mengembalikan kesehatannya. Beberapa hari kemudian ia diperbolehkan pulang. 

Tanah yang dicabik-cabik buldozer tidak lama kemudian bisa ditanami lagi. Namun tentu saja perlu waktu lama untuk menumbuhkan pohon-pohon birch. 

Stanislaus si angsa sudah dibebaskan dari kandangnya dan bisa mencari rumput lagi. 

Sementara itu, menurut pemeriksaan mayat, Kolonel meninggal akibat stroke, sehingga tidak dilakukan penyelidikan lebih lanjut. * (Judy Chard) 

Catatan: 

fairway = bagian lapangan golf antara tempat pemukulan bola golf pertama di tiap hole dan lapangan hijau.

 green = lapangan hijau 

volva = selaput pada pangkal rubuh jamur.

Baca Juga: Penghuni Terakhir

 

" ["url"]=> string(62) "https://plus.intisari.grid.id/read/553643309/malaikat-pemusnah" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1672938399000) } } }