Intisari-Online.com - Loeb dan Leopold adalah anak dari keluarga jutawan yang hidup bergelimang harta sejak kecil. Keduanya bercita-cita untuk menjadi penjahat terhebat di abadnya. Maka mereka pun membuat rencana penculikan, pembunuhan, dan pemerasan.
----------
Dalam sejarah peradilan perkara Loeb dan Leopold, yang terjadi pada tahun 1924, sangat terkenal. Dianggap merupakan tonggak dalam sejarah kriminologi. Entah berapa banyak buku dan artikel-artikel yang memperdebatkan kasus dua anak muda itu. Mereka dianggap semacam “makhluk jadi-jadian” karena jenis kejahatan mereka.
Keduanya anak jutawan yang sejak kecil bergelimang dalam kemewahan. Natham Leopold, 19 tahun, sangat berbakat. la termuda di antara mahasiswa-mahasiswa pilihan di Universitas Chicago. Spesialisasinya filsafat dan bahasa. la pandai bicara Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, Latin, Yunani kuno dan modern, bahkan Sansekerta. Hobinya ornitologi (ilmu tentang burung). Ayahnya adalah wakil presiden perusahaan Sears Roebuck yang bergerak di bidang pengiriman paket pos.
Leopold dan Loeb saling mengenal ketika mereka sekolah di Harvard School. Keduanya berasal dari Universitas Michigan.
Loeb tak kalah cemerlang. Ayahnya adalah pemilik pabrik kotak. Pada usia 17 tahun Loeb lulus menjadi sahabat karib. Proses saling memengaruhi terjadi. Sampai akhirnya mereka bercita-cita menjadi penjahat hebat.
Mula-mula dua anak muda itu melakukan serentetan kejahatan keciI-kecilan. Menipu dalam permainan kartu, melaporkan berita palsu perihal kebakaran, mencuri uang dan mesin tik. Semua berjalan lancar hingga dua anak itu mulai bosan dan menginginkan suatu perbuatan yang lebih hebat: membunuh. Agar tampak fantastis, pembunuhan itu akan mereka gabungkan dengan penculikan dan pemerasan.
Sebagai calon korban, mula-mula dipertimbangkan adik Loeb sendiri, kemudian bahkan ayah salah satu anak muda itu. Tapi akhirnya diputuskan untuk mengambil sembarang anak di Harvard School. Di sana banyak anak orang-orang kaya dan terpandang.
Kejahatan yang akan mereka lakukan harus sempurna, dalam arti tidak mungkin terbongkar. Maka rencana mereka persiapkan secermat-cermatnya. Tidak boleh ada lubang yang dapat ditembus oleh faktor kebetulan.
Memakai mobil sendiri jelas berbahaya. Maka akan digunakan mobil sewaan dan sebagai penyewa, mereka akan menggunakan alamat palsu. Untuk ini mereka memesan kamar di sebuah hotel atas nama Morton B. Allard. Mereka pun membuka rekening bank khusus.
Korban akan dihantam dengan pahat, lalu dicekik dengan tali. Dalam menjeratkan tali, dua pemuda itu bersepakat bahwa masing-masing akan menarik satu ujung — untuk membagi tanggung jawab agar sama rata.
Setelah dibunuh, korban akan dihancurkan mukanya dengan zat asam. Lalu dibuang ke rawa-rawa di suatu tempat sunyi yang sering dikunjungi Leopold bila sedang mengamati tingkah laku burung-burung. Baru setelah itu mereka akan menelepon ayah korban untuk minta uang tebusan sebesar 10.000 dolar.
Paling sulit adalah siasat untuk memperoleh uang tebusan tanpa terjebak oleh polisi. Taktik mereka memang licik.
Pada kontak pertama lewat telepon, mereka akan mengatakan kepada ayah korban agar menunggu sampai keesokan harinya. Pada telepon kedua mereka akan memerintahkan sang ayah datang ke sebuah toko obat di 63rd Street dan menunggu telepon ketiga di sana.
Pada saat itu mereka akan minta agar sang ayah naik kereta api jam 15.18 di Stasiun Sentral. Waktu yang disediakan bagi ayah korban untuk mengejar kereta sangat sempit hingga pasti tidak ada kesempatan menghubungi polisi. Dalam kereta, ayah korban akan menemukan sepucuk surat. Lewat surat ini Leopold dan Loeb memintanya untuk melempar uang tebusan pada saat kereta api berjalan melintasi pabrik Champion Company Factory.
Begitulah apa yang dibayangkan kedua anak muda tersebut bagaimana kejahatan sempurna akan terlaksana. Masyarakat akan heboh dan ramai membicarakan penculikan itu. Mereka akan bertanya-tanya apakah korban masih hidup, ada di mana, dan siapa penculiknya. Dan hanya mereka berdua saja — Loeb dan Leopold — yang tahu apa sebenarnya yang terjadi.
Hari H ditentukan tanggal 21 Mei 1924. Leopold dan Loeb menyewa sebuah mobil merek Willys-Knight. Mereka menuju Harvard School. Muncul seorang anak, tapi ia menghilang lagi. Muncul anak kedua — ternyata saudara sepupu Loeb sendiri. Namanya Bobbie Franks.
“Hei Bob,” seru Loeb kepada anak yang baru keluar dari halaman sekolah itu. Ia pun kemudian menawarkan apakah Bobbie mau menumpang mobilnya untuk pulang ke rumah. Tadinya Bobbie tak mau. Tapi setelah Leopold dan Loeb berpura-pura meminta pendapatnya tentang raket tenis yang akan dibelinya, akhirnya Bobbie ikut juga.
Dan terwujudlah rencana dua anak muda itu. Pahat bekerja. Bobbie pingsan dan berlumuran darah. Pahat bekerja berkali-kali. Setelah gelap, mayat dibawa ke tempat yang telah direncanakan di sebelah selatan Chicago, kira-kira sejauh 30 km. Di tengah jalan, mereka berhenti sebentar untuk makan sore. Mayat ditelanjangi, zat asam bekerja, dan mayat korban dimasukkan ke dalam rawa-rawa.
Setelah itu kedua pembunuh kembali ke kota dan langsung ke rumah Loeb. Di sana keduanya membakar pakaian korbannya dalam tungku. Selesai makan malam dengan seluruh keluarga, Loeb pergi ke rumah Leopold. Pada saat itulah mereka menelepon ayah korban, Jacob Franks.
“Anak Tuan diculik. Jangan takut, ia baik-baik saja. Tunggu perintah-perintah selanjutnya. Jangan sekali-kali menghubungi polisi.” Pesan ini disampaikan oleh Leopold yang mengaku bernama George Johnson lewat telepon.
Hari berikutnya Leopold dan Loeb mencuci lantai mobil sewaan. Mereka melakukannya di jalan masuk dalam halaman rumah keluarga Leopold. Sopir keluarga Leopold, Sven Englund menawarkan bantuannya untuk mencuci mobil. Tapi ditolak oleh Leopold yang mengatakan bahwa mobil sewaan itu ketumpahan anggur merah.
Kini dua anak muda itu melaksanakan rencana pemerasan. Leopold pergi ke Stasiun Sentral dan membeli karcis masuk kereta api yang direncanakan. Ia menempatkan surat terakhir kepada Jacob Franks di atas rak bagasi. Lalu menanti saat ia harus menelepon ayah korban yang pagi itu sudah menerima surat pertama dari para penculik.
Inti isi surat itu bahwa Bobbie Frank sehat walafiat. Jangan sekali-sekali menghubungi polisi jika menghendaki anaknya tetap hidup. Sebelum tengah hari agar menyediakan uang tebusan 10.000 dolar yang terdiri dari lembaran-lembaran uang lama. Yang 2.000 dalam bentuk pecahan 20 dolar, sisanya dalam bentuk pecahan 50 dolar. Jika sampai terselip uang baru atau ditandai, maka anaknya akan mati. Uang hendaknya dimasukkan dalam kotak karton yang berat, terkunci aman, dibungkus dengan kertas putih. Bungkus harus disegel. Setelah jam 13.00 supaya siap menunggu telepon.
Surat berakhir dengan penjelasan bahwa hubungan dengan Jacob Franks bersifat bisnis murni. Jika sampai melanggar syarat yang telah ditentukan, Bobbie Frank akan mati.
“Yours truly, George Johnson” demikian tertanda di akhir surat yang diketik itu.
Jacob Franks menyediakan uang dalam kotak seperti diminta oleh para penculik. Tetapi pada waktu ayah yang malang itu menunggu telepon berikutnya, terjadi peristiwa kebetulan yang membuat rencana “kejahatan sempurna” itu jadi berantakan.
Faktor pengganggu itu ialah penemuan mayat seorang anak Iaki-laki oleh sejumlah pekerja yang kebetulan menyeberangi rawa-rawa. Mereka juga menemukan kacamata yang bingkainya terbuat dari tanduk.
Setelah mendapatkan laporan-laporan, polisi segera menghubungi Jacob Franks. Barangkali itu mayat anaknya. Tapi ayah malang, yang sedang menanti-nanti telepon dari para penculik, tidak percaya. Bukankah penculik menegaskan bahwa Bobbie masih sehat walafiat dan tidak akan dilukai selama ayahnya taat semua perintah para penculik?
Sesaat kemudian penculik menelepon untuk menyampaikan instruksi selanjutnya. Jacob Franks akan dijemput dengan taksi kuning sesuai dengan rencana “kejahatan sempurna”. Baru saja Franks mau berangkat, polisi menelepon bahwa identitas mayat sudah diketahui. Itu adalah mayat Bobie Franks.
Maka ketika Leopold menelepon toko obat di 63rd Street, Jacob Franks tidak ada. Keluar dari toko obat, Leopold melihat koran dengan berita “Mayat Anak Tidak Dikenal Ditemukan di Rawa-Rawa”. Menyadari bahwa rencananya gagal, Leopold mengembalikan mobil sewaan lalu pulang. Baik dia maupun sahabatnya tetap yakin bila perbuatannya tidak akan terbongkar. Siapa akan mencurigai mereka, anak keluarga baik-baik yang kaya raya. Lagi pula Loeb merupakan saudara Bobbie Franks.
Masyarakat Chicago gempar mendengar berita penculikan dan pembunuhan kejam dengan rencana pemerasan yang amat keji itu. Seluruh kekuatan detektif dikerahkan untuk mencari pembunuh. Pihak kejaksaan menugaskan Robert Crowe untuk memimpin pengusutan kejahatan.
Petunjuk-petunjuk yang ada hanya sedikit, seperti surat penculik, kacamata, dan seorang saksi yang melihat mobil merek Willys-Knight dekat Harvard School pada hari penculikan. Usaha mencari mobil seperti itu milik “George Johnson” mengakibatkan kejadian tragis. Seorang Iaki-laki bunuh diri karena kebetulan namanya sama dan memiliki mobil merek itu.
Para detektif amatir membuat pencarian makin ramai. Loeb, yang masih saudara dengan Bobbie Franks dan bekas murid Harvard School, pun berusaha melontarkan berbagai kemungkinan untuk mengecoh. Ia mengatakan mungkin anak itu dibunuh oleh guru yang kesulitan uang. Teori ini menyebabkan tiga orang guru Harvard School ditahan.
Tapi kesimpangsiuran pengusutan tak berlangsung lama. Penjual kacamata yang ditemukan di tempat kejadian, mengatakan hanya ada tiga orang yang membeli kacamata jenis itu. Mereka adalah seorang langganan yang berada di Eropa, seorang nenek, dan Natham Leopold.
Ketika ditanya apakah itu kacamatanya, Leopold menjawab mungkin ya jika kacamata miliknya tidak ada di rumah. Polisi mengikutinya pulang dan memang kacamata Leopold tidak ada. Pemuda ini mengatakan barangkali kacamatanya jatuh pada waktu itu mengobservasi burung di rawa-rawa. la mau mendemonstrasikan di depan polisi bahwa benda itu gampang jatuh. Tapi demonstrasinya tidak berhasil. Kacamata itu tidak mau jatuh.
Polisi belum menaruh curiga, namun mereka bertanya di mana Leopold berada pada tanggal 21 Mei. Dijawab, ia dan Loeb sore itu pesiar dengan dua orang gadis ke sebuah taman hiburan. Ketika ditanya, Loeb juga memberikan keterangan yang sama. Jawaban ini memang telah dipersiapkan oleh dua anak muda tersebut.
Jaksa Robert Crowe belum puas dengan hasil interviu. Maka ia bertanya kepada Leopold, mesin tik merek apa yang dipakainya. Jaksa tahu, mesin tik yang digunakan oleh penculik untuk menulis surat pemerasan adalah merek Underwood. Leopold menjawab mesin tiknya merek Hammond. Kamar Leopold diperiksa, tapi mesin tiknya tidak ada.
Polisi tahu bahwa Leopold dan beberapa temannya sering menulis catatan kuliah dengan mesin tik. Maka mereka mengambil beberapa lembar kertas ketikan dari kamar Leopold. Hasil pemeriksaan para ahli menunjukkan bahwa catatan-catatan Leopold dan surat penculik diketik dengan mesin tik yang sama. Leopold mengatakan bahwa mesin tiknya hilang beberapa bulan yang lalu. Tapi pembantu rumah tangga menyebutkan bahwa 2 minggu yang lalu masih melihat mesin tik majikannya.
Rencana kejahatan yang “kedap detektif” sudah goyah dengan sendirinya. Satu kesaksian lagi membuatnya hancur berantakan. Sven Englund, sopir keluarga Leopold melaporkan bahwa mobil Leopold selama sore tanggal 21 Mei itu ada di dalam garasi.
“Waktu itu mobil saya reparasi dan cuci,” kata si sopir. Sven Englund bermaksud menolong anak majikannya. Ia tidak tahu bahwa pernyataannya itu malah menghancurkan alibi Leopold.
Seperti dikatakan di atas, Leopold menyatakan kepada polisi bahwa tanggal 21 Mei sore ia membawa mobilnya pesiar ke sebuah taman. Lebih parah lagi bagi Leopold, sang sopir menambahkan jika pada tanggal 22 Mei pagi ia melihat Loeb dan Leopold mencuci lantai mobil yang tak dikenalnya. Mereka mencucinya untuk membersihkan noda-noda merah.
Dickie Loeb lebih dulu menyerah kalah. la mengakui perbuatannya. Tapi menurutnya, Leopold yang menghantamkan pukulan maut. Leopold tadinya tetap menyangkal. Tapi setelah Crowe mengatakan bahwa Loeb sudah mengaku, maka ia pun bertekuk lutut. Hanya menurut dia, pembunuhan dilakukan oleh Leopold.
Orang tua Leopold dan Loeb mencari pembela bagi anak mereka. Pilihan jatuh pada Clarence Darrow, salah seorang pengacara terbesar di Amerika. la tinggal di Chicago dan bersahabat dengan keluarga Loeb.
Selama 40 tahun Darrow membela kaum lemah dan miskin hingga terkenal sebagai pembela besar di negaranya. Dan ia terkenal sebagai penentang gigih hukuman mati.
Mula-mula Darrow ragu untuk menerima tugas pembelaan Leopold dan Loeb. Itu karena mereka anak orang kaya raya. Seluruh rakyat muak dengan kejahatan teramat keji yang dilakukan dua anak muda itu dan mengharapkan mereka dihukum seberat-beratnya. Pembelaan Darrow dengan itu akan mendapat penolakan. Masyarakat akan menuduh bahwa Darrow dibeli oleh orang tua Loeb dan Leopold. Mereka akan berteriak bahwa uang dapat membeli segala-galanya.
Tapi Darrow yang pernah menyelamatkan sekitar seratus orang tertuduh dari hukuman mati itu, akhirnya menerima permintaan orang tua Leopold dan Loeb. Sebab menurutnya, orang kaya juga berhak atas pembelaan di depan hukum. Akan berhasilkah dia?
Darrow mempersiapkannya dengan Jaksa Crowe. Sang jaksa sadar, satu-satunya pembelaan yang bisa diajukan adalah bahwa Leopold dan Loeb abnormal jiwanya. Maka ia berusaha keras mengumpulkan bukti bahwa dua anak muda itu secara mental sehat dan dapat dituntut pertanggungjawaban atas perbuatan mereka. Jaksa Crowe mendatangkan sejumlah psikiater untuk memeriksa para tertuduh. Pemeriksaan dilakukan di Hotel La Salle, tempat Leopold dan Loeb ditahan.
Darrow minta kesempatan mengunjungi kliennya tapi ditolak oleh jaksa. Maka ia mencari akal, yaitu minta kepada pengadilan agar memerintahkan penahanan Leopold dan Loeb di penjara setempat. Permintaannya dikabulkan. Dengan itu para tertuduh kini berada dalam kekuasaan kepala penjara, hingga sang pembela dapat mengunjunginya. Bagi Darrow ini kemenangan pertama.
Sementara itu dalam masyarakat sudah beredar desas-desus tentang apa kiranya yang akan diperbuat oleh pembela. Perkiraan orang, Darrow akan mengatakan para tertuduh memang bersalah, tapi tidak waras jiwanya. Lalu diusahakan agar setelah dinyatakan bersalah, mereka dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Setelah selang beberapa tahun, keduanya bisa dibebaskan. Dan pembela akan menerima imbalan uang yang sangat banyak.
Darrow tahu bahwa desas-desus tersebut akan sangat merugikan pembelaannya. Maka ia mesti berhati-hati dalam mengambil langkah.
Mula-mula Darrow diam-diam menjajaki opini publik dengan menyebar penyelidik-penyelidik. Hasilnya, 60 persen responden memberi jawaban “ya” atas pertanyaan “apakah mereka harus digantung”. Kemudian Darrow minta kepada orang tua Leopold dan Loeb untuk menyiarkan pernyataan bahwa pembela tidak akan berusaha membebaskan anak mereka. la hanya akan membuktikan bahwa mereka tidak waras jiwa. Kini ternyata 60 persen responden bisa menerima seandainya kedua tertuduh hanya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Darrow mempersiapkan senjata-senjata pembelaannya. Kebetulan himpunan Psikiater Amerika sedang mengadakan pertemuan di Philadelphia. Darrow mendatangkan 7 orang spesialis ilmu jiwa dari himpunan tersebut untuk memeriksa Leopold dan Loeb.
Perkara Leopold dan Loeb mulai disidangkan pada tanggal 21 Juli, dengan Hakim Pimpinan John Robert Caverly. 3.000 orang berebut untuk mendapatkan tempat di dalam ruang pengadilan yang hanya bisa menampung 300 kursi.
Para tertuduh masuk ruang sidang. Keduanya bermuka dingin dan tampak tenang. Pakaiannya bersih dan rapi. “Ini pertunjukan kami. Penonton tidak boleh kecewa,” kata mereka kepada seorang wartawan. Tidak kelihatan menyesal, bahkan keduanya tampak gembira karena menjadi pusat perhatian.
Darrow membuka pidatonya. la menyatakan kedua kliennya bersalah dan mohon diperbolehkan mengajukan bukti-bukti yang meringankan hukuman.
Siasat Darrow cerdik sekali. Sebab pernyataannya berarti bahwa soal apakah kliennya harus dihukum mati ataukah dipenjara seumur hidup bukanlah wewenang 12 juri. Juri-juri itu berasal dari kelompok awam. Hakimlah yang berwenang untuk memutuskan soal keputusan penjara atau hukuman mati. Dan Darrow tahu bahwa sang hakim orang yang berpengalaman, tanpa prasangka, bijaksana, dan berperikemanusiaan.
Pembukaan pidato Darrow bagaikan ledakan bom dan Jaksa Crowe langsung bangkit untuk protes. Darrow main curang, katanya. la tidak bisa langsung saja menyatakan kliennya bersalah, lalu minta keringanan hukuman! “Keringanan adalah pembelaan,” jawab Darrow seakan meledek Crowe.
“Pembelaan Darrow bertolak dari filsafat hidupnya yang berbahaya,” tukas jaksa. “Dalam hukum tidak ada apa yang disebut tingkat-tingkat tanggung jawab mental. Pengadilan tidak punya kekuasaan untuk mendengar kesaksian tentang kondisi mental tertuduh. Manusia bertanggung jawab penuh atas akibat-akibat perbuatannya atau sama sekali tidak.”
Tapi dengan tenang Darrow mengajukan argumen-argumennya. Dia tidak bermaksud memberikan bukti yang tak terbantahkan bahwa kedua kliennya sakit jiwa. la hanya ingin menunjukkan suatu keadaan mental yang tidak tercakup oleh definisi hukum tentang sakit jiwa. Itu pemahaman soal baik atau buruk dan kemampuan memilih salah satunya.
Ia tidak mengajukan pembelaan. Namun ia mengajukan pernyataan yang harus didengar demi meringankan hukuman bagi seseorang yang dinyatakan bersalah.
Lalu Darrow menggugat suasana dalam menghadapi perkara ini. Jaksa dan masyarakat menjadi kawanan serigala haus darah yang siap merobek-robek kedua kliennya. Padahal hukuman mati seharusnya kita jatuhkan, tidak dengan lantang, marah, ataupun benci, tapi dengan iba, haru serta menyesal bahwa hukuman itu terpaksa dijatuhkan. Darrow menggugat suasana kejam dan tidak berperikemanusiaan itu.
Menanggapi pidato ini, Hakim Caverly menyatakan akan mendengarkan apa yang ingin dikemukakan pembeIa. Maka dimulailah pertarungan memperebutkan nyawa Leopold dan Loeb.
Riwayat hidup mereka ditelusuri sampai masa bayi. Oleh jaksa diajukan seorang saksi, salah satunya adalah seorang profesor hukum Universitas Chicago. Profesor menyatakan, sehari setelah pembunuhan itu Leopold memperdebatkan dengannya soal pembunuhan dengan penculikan serta pemerasan.
Kawan-kawan tertuduh memberikan kesaksian tentang tingkah laku dan obrolan mereka.
Dibuktikan bahwa surat pemerasan dan catatan kuliah Leopold ditulis dengan mesin tik yang sama. Para dokter menerangkan bahwa sebelum dibunuh, Bobbie Franks menjadi korban perbuatan homoseksual.
Penyelidikan atas jalannya kejahatan dengan semua tahap-tahapnya itu membuktikan bahwa perbuatan Leopold dan Loeb semua telah direncanakan sebelumnya. Bukan itu saja.
Setelah melakukan perbuatan terkutuk, kedua tertuduh sedikit pun tidak memperlihatkan air mata tanda penyesalan. Mereka bahkan merasa bangga. Mereka sungguh tidak patut diberi belas kasihan atau keringanan.
Penuturan kisah hidup Leopold dan Loeb oleh jaksa membuat seluruh masyarakat Amerika makin keras berteriak menuntut hukuman gantung.
Pembela mengajukan enam saksi ahli, semuanya dokter-dokter spesialis. Antara lain Dr. Karl Bowman, bekas dosen penyakit mental di Harvard University; Dr. Bernard Glueck, direktur klinik psikologi dari penjara terkenal Sing Sing; Dr. William Healy dari Yayasan Hakim Baker.
Menurut mereka, Loeb sangat terpengaruh oleh wanita pengasuhnya, yang berwatak keras dan terlalu banyak menuntut dari anak itu. Seringkali Loeb takut dimarahi atau mendapat hukuman. Akibatnya sejak kecil ia terbiasa berbohong bila berbuat tidak baik, tanpa menyesalinya. Di umur 10 tahun, anak itu sering berkhayal yang tidak-tidak.
la membayangkan dirinya sebagai penjahat cemerlang di abadnya, begitu hebat hingga tidak mungkin tertangkap oleh detektif-detektif terhebat di dunia.
Leopold juga korban didikan wanita pengasuhnya. Wanita itu kerap kali mendorong Leopold untuk mencuri, dengan tujuan agar bisa memeras anak itu. Sang pengasuh menanamkan pengertian-pengertian abnormal tentang baik dan buruk.
Di sekolah Leopold sangat menonjol kecerdasannya. Tapi ia memandang Loeb sebagai anak dengan kelebihan-kelebihan yang melampaui bakatnya sendiri. Keduanya menjadi sahabat karib dan Leopold merasa tidak bisa hidup tanpa persahabatan Loeb. Dalam khayalan Leopold, Loeb adalah raja dan Leopold merupakan budak beliannya yang bersedia melakukan semua perintahnya.
Pada suatu ketika kedua sahabat itu membuat perjanjian. Masing-masing pihak bersedia melakukan fantasi yang ada di benak mereka.
Kemudian dibuat perjanjian lain lagi, yaitu Loeb mempunyai kekuasaan penuh atas Leopold.
Apa pun yang diminta Loeb, jika itu dimintanya “demi perjanjian”, maka Leopold wajib melaksanakannya.
Leopold mempunyai pandangan bahwa apa pun yang memberi kenikmatan kepadanya adalah baik. Bila terjadi sebaliknya, maka hal itu dianggapnya buruk. Ia tidak percaya pada norma-norma moral. Leopold, yang belajar filsafat, terpengaruh oleh ide-ide filsuf Nietzsche dengan manusia super-nya. Baginya Loeb adalah manusia super itu.
Dalam psychiatric reports tentang kedua anak itu, para dokter ahli menyatakan bahwa Leopold dan Loeb menunjukkan divergensi patologis yang mencolok. Artinya terdapat celah antara kehidupan intelektual dan kehidupan emosional mereka. Sama sekali tidak mampu memberi tanggapan emosional sedikit pun sebagaimana mestinya. Perasaan Leopold tidak tergetar sedikit pun ketika ia menculik dan membunuh anak yang masih saudaranya sendiri. Dalam hati ia bahkan tertawa ketika melihat ibunya mengumpat-umpat pembunuh Bobby Franks.
Tentu semua itu dibantah oleh tim jaksa yang menampilkan pula saksi-saksi ahli. Sebulan penuh pertempuran antara para psikiater berlangsung di ruang pengadilan. Sampai tiba saatnya Darrow mengajukan pembelaannya yang terakhir.
Pledoi Darrow, yang memakan waktu 3 hari, adalah yang paling terkenal di antara pidato pembelaannya.
Pada awal pembelaannya, Darrow menarik simpati publik dengan menyesalkan bahwa kedua kliennya anak jutawan. Sering kali uang dapat berbuat segala-galanya. Tapi dalam hal Leopold dan Loeb, uang malah merugikan. Kekayaan orang tua mereka membuat pembelaannya lemah. Sebab orang berprasangka bahwa Darrow mendapat bayaran dan sogokan melimpah. Oh, seandainya kedua kliennya anak keluarga miskin, pembelaannya akan lebih didengar.
Lalu ia memperingatkan hakim akan tanggung jawabnya. Seperti dikatakan, dengan langsung menyatakan kedua kliennya bersalah, Darrow menarik mereka dari kekuasaan 12 juri dan menempatkan mereka dalam tangan hakim. Bila Leopold dan Loeb sampai dihukum gantung, maka hakimlah yang bertanggung jawab penuh atas hal itu. Dia sendirian dalam hal ini.
Kemudian argumen demi argumen dibentangkannya untuk menghancurkan pembuktian jaksa.
Dikatakan oleh penuntut bahwa kedua kliennya kejam dan Ialim. Kekejaman dapat diukur dengan kesakitan yang dilakukannya pada korban. Darrow menekankan bahwa pembunuhan terjadi cepat tanpa penyiksaan. Sebelum mengetahui apa yang terjadi, Bobbie Franks sudah tidak sadarkan diri akibat pukulan.
Darrow tidak membenarkan perbuatan para klien. Tapi hal di atas perlu diingat bila orang mau berbicara tentang kekejaman.
Kekejaman juga dapat diukur berdasarkan motif pembunuhan. Misalnya karena dendam, benci, marah, dan sebagainya. Tapi motif-motif tersebut sama sekali tidak ditemukan pada Loeb dan Leopold. Pembunuhan ini, kata Darrow, tanpa makna, tanpa manfaat, tanpa tujuan, dan tanpa motif.
Motif “ingin mendapat uang” seperti dituduhkan oleh jaksa, sama sekali tidak bisa diterima. Sebaliknya, Leopold dan Loeb uangnya melimpah. Pada saat pembunuhan Loeb mempunyai uang sekitar 3.000 dolar dan kapan saja ia dapat minta cek pada sekretaris ayahnya, atas instruksi ayahnya sendiri. Leopold menerima cek sebesar 125 dolar setiap bulan dan bisa mendapatkan uang bila ia membutuhkannya. Ketika Leopold berencana untuk keliling Eropa, ayahnya segera memberinya uang 3.000 dolar.
Tidak ada motif dendam atau kebencian, tidak ada motif uang, juga tidak ada motif lainnya. Dan tanpa motif, pembunuhan ini hanya bisa diartikan sebagai perbuatan tanpa makna, tanpa tujuan dari anak yang sakit mental. Mereka meraba-raba dalam kegelapan dan didorong oleh kekuatan tertentu yang sekarang ini barangkali kita belum mampu menjajakinya secara memadai.
Darrow tidak minta belas kasihan, tapi hanya minta hukum dilaksanakan. Ada 3 kemungkinan hukuman bagi para kliennya: mati di tiang gantung, penjara seumur hidup, atau penjara sekurang-kurangnya 14 tahun.
Hukum tertulis sudah terlampaui oleh semakin halusnya perasaan perikemanusiaan orang-orang yang berpikiran maju dan menentang hukuman mati. Pilihan atas berbagai kemungkinan hukuman ada di tangan hakim.
Tuduhan jaksa bahwa pembunuhan sudah direncanakan 6 bulan sebelumnya, yaitu ketika Leopold beli mesin tik, sama sekali tidak masuk akal. Sebab anak itu tidak pernah main sembunyi dengan mesin tiknya, yang kerap kali ia pinjamkan kepada teman-temannya.
Terus-menerus Darrow dengan berbagai cara menunjukkan bahwa perbuatan kliennya sama sekali tidak memiliki motif. Mereka membunuh bukan karena uang, bukan karena iri atau benci. Mereka membunuh Bobbie Franks seperti membunuh seekor lalat atau nyamuk - semata-mata karena ingin pengalaman.
Mereka membunuh karena memang itulah keadaan kedua anak muda itu, akibat faktor-faktor dari masa lalu. Darrow melukiskan proses pertumbuhan jiwa Leopold dan Loeb. Ia memanfaatkan sebaik-baiknya keterangan-keterangan para saksi ahli jiwa.
Loeb pada masa kanak-kanak tersiksa oleh tekanan-tekanan batin karena sikap pengasuhnya yang terlalu keras. Ia suka bersembunyi, berbohong, membuat tipu muslihat. Muak dengan buku-buku bermutu yang disodorkan sang pengasuh, ia mencari pelarian dan hiburan dengan buku-buku detektif dan kejahatan. Kebiasaan berbohong dan tipu muslihat dipupuk dengan cerita-cerita tentang kejahatan. Sampai akhirnya ia bercita-cita untuk menjadi penjahat paling cemerlang di abadnya.
Tentang Leopold, Darrow memaparkan pengaruh filsafat Nietzsche atas anak yang mempunyai bakat-bakat cemerlang ini. Leopold keranjingan ide manusia super-nya Nietzsthe. Dia percaya bahwa dirinya dan Loeb adalah manusia-manusia super.
Darrow mengambil contoh betapa hebatnya pengaruh ide-ide yang merasuki seseorang. Di New York, seorang ayah bernama Freeman keranjingan cerita tentang Nabi Abraham. Nabi Abraham mengurbankan anaknya pada Tuhan. Freeman membuat altar di rumahnya dan menggorok Ieher anaknya yang masih bayi untuk dikurbankan kepada Tuhan. Leopold juga termasuk orang yang terpengaruh pada gagasan-gagasan tertentu.
Darrow menunjuk pada kenyataan bahwa saksi-saksi ahli dari pihak jaksa hanya selama beberapa jam memeriksa tertuduh dalam waktu berminggu-minggu.
Menanggapi tuntutan jaksa agar para tertuduh tidak diberi belas kasihan, seperti apa yang mereka lakukan pada korbannya, Darrow berkomentar,
“Jika negara tempat saya berteduh ini tidak lebih baik hati, tidak lebih berperikemanusiaan, tidak lebih berperasaan halus, tidak lebih pandai dari perbuatan kedua klien saya ini, maka saya sangat menyesal hidup sekian lama di negara ini.”
Satu nada dasar terjalin dalam seluruh pembelaan Darrow: proses pertumbuhan seorang anak menjadi dewasa, tidak terperikan. Dan dalam proses pertumbuhan Leopold dan Loeb telah terjadi sesuatu. Akibatnya adalah kedua anak muda yang malang itu dibenci, dicemooh, dan dikucilkan. Masyarakat berteriak-teriak meminta darah mereka.
Dengan suara berbisik yang hampir tidak terdengar, Darrow mengakhiri pembelaannya:
“Saya mengajukan pembelaan untuk masa depan di mana kebencian dan kekejaman tidak lagi menguasai hati manusia. Masa di mana kita dengan akal budi, penilaian dan pengertian dapat belajar bahwa setiap jiwa patut diselamatkan dan bahwa belas kasih adalah perbuatan tertinggi manusia.”
Ketika Darrow turun dari mimbar, ruang sidang sunyi senyap selama 2 menit. Banyak dari hadirin yang mengusap air mata.
Tiba kini giliran Jaksa Crowe untuk memberikan tanggapan akhir. Pidato sanggahannya makan waktu 2 hari. Tapi ternyata ia tidak mampu menghapuskan kesan mendalam yang telah ditanamkan pembela.
Pada tanggal 10 September hakim menjatuhkan keputusan hukuman penjara seumur hidup bagi Leopold dan Loeb. Saat mengumumkan keputusannya, hakim menanggapi argumentasi-argumentasi dari segi ilmu kejiwaan. Yaitu bahwa para tertuduh tidak normal jiwanya dan itulah yang mendorong mereka untuk berbuat kejahatan.
Menentukan kadar tanggung jawab perbuatan manusia adalah di luar tugas serta kemampuan pengadilan.
Namun hakim mengakui bahwa analisa yang cermat tentang riwayat hidup para tertuduh, keadaan mental, emosional, dan etika mereka, sangat penting dan merupakan sumbangan yang amat berharga bagi kriminologi. Masalah tanggung jawab manusia dan hubungannya dengan hukuman peradilan sangat luas ruang lingkupnya dan bukan hanya menyangkut tertuduh dalam perkara ini. Masalah ini pantas menjadi pemikiran badan legislatif— bukannya badan yudikatif.
Pertimbangan utama mengapa dijatuhkan hukuman penjara seumur hidup dan bukannya hukuman mati, adalah usia para tertuduh yang masih muda belia, 18 dan 19 tahun. Keputusan ini sejalan dengan kemajuan hukum kriminal di seluruh dunia dan sesuai dengan rasa perikemanusiaan yang makin halus. Di samping itu juga sesuai dengan preseden-preseden di Illinois yang dalam sejarah peradilannya hanya mencatat dua perkara di mana anak muda dihukum mati. Pengadilan tidak berkeinginan menambah jumlah itu.
Demikianlah berakhir perkara Leopold dan Loeb yang dianggap sebagai tonggak dalam sejarah kriminologi. Sebab ketika itulah untuk pertama kali suatu sidang pengadilan dapat leluasa menjajaki kondisi mental dan psikis para tertuduh, mencoba menyelidikinya, bebas dari kekangan pengertian-pengertian hukum yang berlaku tentang tanggung jawab. Mengenai nasib selanjutnya dari para tertuduh, Leopold lebih beruntung dari Loeb. Yang terakhir ini mati ditikam oleh sesama narapidana pada tahun 1936.
Riwayat Leopold dikisahkannya sendiri dalam bukunya Life Plus Ninety-Nine Years (Hidup plus 99 Tahun). Tahun 1924 ia masuk penjara Joliet. Anak cemerlang yang pada tahun 1924 dikenal sebagai makhluk jadi-jadian ini, dalam penjara mengabdikan hidupnya kepada masyarakat narapidana. Ia mempelajari sistem hukuman yang bersifat mendidik dan mengadakan reformasi di bidang ini. Belajar radiologi dan psikiatri. Memelopori pendirian bagian riset sosiologis untuk menyelidiki kemungkinan mengetahui reaksi-reaksi narapidana setelah dibebaskan. Dalam Perang Dunia, Leopold mengajukan diri sebagai kelinci percobaan untuk pengamatan cara kerja pil malaria. Ia belajar berbagai bahasa dan menjadi anggota terkemuka dari the Fellowshop of American Medical Technologists.
Setelah 25 tahun dalam penjara, ia mohon dibebaskan agar bisa lebih leluasa mengabdikan dirinya. Tapi permohonannya ditolak. Ia diminta untuk menunggu 12 tahun lagi. Akhirnya pada tahun 1958 ia dibebaskan. Leopold memilih kegiatan di suatu koloni lepra di Amerika Selatan.
(Rupert Furneaux)
Baca Juga: Mereka Diangkut dengan Kereta Jenazah
" ["url"]=> string(69) "https://plus.intisari.grid.id/read/553799236/perkara-loeb-dan-leopold" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1690566110000) } } [1]=> object(stdClass)#46 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3246453" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#47 (9) { ["thumb_url"]=> string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2022/04/20/akhir-dendam-seorang-pelacurjpg-20220420050845.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#48 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(133) "Saat melayat seorang kenalannya yang meninggal karena serangan jantung, Kapten Leopold bertemu dengan keluarga dan tetangga almarhum." ["section"]=> object(stdClass)#49 (8) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["show"]=> int(1) ["description"]=> string(0) "" ["alias"]=> string(5) "crime" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2022/04/20/akhir-dendam-seorang-pelacurjpg-20220420050845.jpg" ["title"]=> string(30) "Akhir Dendam Seorang 'Pelacur'" ["published_date"]=> string(19) "2022-04-26 14:36:03" ["content"]=> string(32476) "
Intisari Plus - Saat melayat seorang kenalannya yang meninggal karena serangan jantung, Kapten Leopold bertemu dengan keluarga dan tetangga almarhum. Beberapa hari berselang, salah satu tetangga almarhum dibunuh. Beberapa alibi tampak sudah diatur dengan rapi untuk menutupi pembunuhnya.
---------------------------------------
Menjelang hari ulang tahunnya, Kapten Polisi Leopold malah murung. Mungkin karena ia teringat masa pensiunnya yang akan tiba dua belas bulan lagi.
Pagi itu, setiba di kantornya, kemurungannya bertambah, mendengar Sersan Connie Trent menyampaikan berita buruk. Marty Doyle, pensiunan letnan di regu kebakaran, semalam meninggal tiba-tiba akibat serangan jantung.
Marty lebih muda daripada Leopold, cuma ia sudah minta pensiun pada umur 55. Sebetulnya, Leopold tidak terlalu akrab dengannya, tetapi karena Marty orang baik, Leopold merasa perlu melayat untuk menyatakan belasungkawa kepada istri Marty. Seingat Leopold, Marty mempunyai seorang putri yang sejak awal tahun ini ia dengar pindah ke kota lain.
Cantik, tapi misterius
Jumat sore itu Leopold dan istrinya yang 27 tahun lebih muda, Molly, pergi ke rumah duka. Greta Doyle, yang berpakaian hitam sederhana, berdiri di dekat peti jenazah.
"Terima kasih atas kedatangan kalian," katanya sambil mencoba tersenyum. Umur Greta mungkin sekitar 50-an, tetapi wajahnya masih cantik, walaupun tubuhnya terlalu montok.
"Ketika sedang menonton televisi, Marty mengeluh lengan dan dadanya sakit," cerita Greta. "Kemudian ia pingsan. Waktu ambulans datang, mereka sudah tidak bisa menolong. Semuanya berlangsung cepat sekali. Sejam setelah Marty mengeluh sakit, saya sudah harus menelepon June untuk memberi tahu ayahnya sudah meninggal.
"Putri Anda ada di sini?" tanya Leopold. Greta menunjuk ke putrinya yang cantik, yang sudah dikenal suami-istri Leopold dalam pesta perpisahan dengan Marty Doyle tahun sebelumnya. June mengenakan baju biru dan sedang hamil.
Saat itu tetangga sebelah rumah Greta menghampiri untuk menyatakan belasungkawa. Greta memperkenalkan suami-istri itu kepada Leopold dan Molly. Roy Kingsley berwajah tampan dan jauh lebih jangkung daripada Brenda, istrinya. Leopold dan Molly lantas menghampiri June yang sedang duduk sendirian.
"Mungkin Anda lupa kepada saya. Saya Kapten Leopold dari markas besar. Saya kenalan lama ayah Anda," Leopold memperkenalkan diri.
June beranjak untuk berdiri, tetapi Leopold mencegahnya. "Terima kasih," katanya. "Dokter bilang, dua minggu lagi saya akan melahirkan."
Setelah berbicara basa-basi, Leopold bertanya, "Di mana Anda tinggal sekarang?"
June ragu-ragu sejenak. "Philadelphia."
"Saya hampir tidak pernah bertemu dengan ayah Anda setelah ia pensiun, jadi saya tidak tahu Anda menikah."
"Saya tidak menikah," jawab June sambil memandangi jari-jarinya.
"Oh, ...!" seru Leopold yang merasa salah bicara. "Maaf, saya ...."
"Tidak apa-apa. Anda bukan yang pertama."
Molly buru-buru menyelamatkan suasana dengan bertanya, "Anda akan kembali ke Philadelphia setelah pemakaman, June?"
"Saya akan melewatkan akhir minggu di sini dan baru kembali pada hari Senin."
Pistol berperedam suara
Keesokan paginya, Sabtu, mereka menghadiri pemakaman. Setelah pemakaman selesai, Molly menerima undangan June untuk minum dulu di rumah ibunya. Di rumah Greta para tetangga sudah menyediakan makanan dan minuman untuk para pelayat. Leopold belum pernah datang ke rumah keluarga Doyle. Ia tidak menyangka akan menemukan rumah yang rapi tetapi sederhana itu diperlengkapi dengan peralatan serba modern. Ada video, telepon tanpa kabel di dapur, komputer pribadi.
Brenda Kingsley, tetangga sebelah, membantu melayani para tamu bersama suaminya, Roy, yang berumur 50-an dan pandai bergaul itu. Leopold sedang bercakap-cakap dengan Roy Kingsley ketika Greta, muncul di sisinya.
"Kapten, saya ingin meminta saran Anda. Harus saya apakan koleksi senjata Marty? Jumlahnya sih tidak banyak dan mungkin juga tidak berharga."
Dengan segala senang hati Leopold melihat koleksi itu. la diajak naik ke kamar suami-istri Doyle. Kamar itu sejuk dan membetahkan.
Greta mengambil senjata - senjata suaminya dari lemari. Semuanya disarungi kain. Dengan hati-hati ia membuka kain penutup itu satu per satu. Polisi memang sering mengumpulkan senjata api.
Leopold mendapati sebuah revolver dinas, sebuah .38 Smith & Wesson, sebuah Luger Jerman (kata Greta pemberian pamannya), sebuah Beretta kecil otomatis, sebuah Colt .45 dengan sarung yang sudah aus dan sebuah target pistol yang mengejutkan karena memakai alat peredam suara.
"Sebenarnya saya tidak boleh menceritakan kepada Anda. Pistol ini disita Marty dari seseorang yang ia curigai membakar rumah. Tapi orang itu memukulnya sampai pingsan, lalu kabur. Marty pikir konyol sekali, kalau kejadian itu ia ceritakan kepada atasannya. Jadi ia tutup mulut dan senjata itu ia simpan saja," cerita Greta seperti mau menangis. Leopold menghiburnya. Katanya, semua polisi pasti pernah menyesal karena melakukan perbuatan tolol.
"Meski tidak terlalu tinggi nilainya, koleksi ini bisa mendatangkan beberapa ratus dolar dari pedagang senjata. Kalau nanti Anda memutuskan untuk menjualnya, saya akan mengambil yang satu ini."
"Terima kasih. Saya akan mengingatnya," kata Gerda. Setelah itu Gerda membenahi lagi semua senjata koleksi almarhum suaminya.
Ketika mereka kembali ke lantai bawah, June tampak sedang bercakap-cakap dengan seorang pemuda berumur 20- an.
"Kapten, ini Pete Brody. Kami dulu sama-sama belajar di Community College," katanya memperkenalkan.
"Apa kabar, Pete?"
"Baik, Pak."
Leopold menduga-duga, berapa kira-kira umur June. Mungkin 25. Ketika Brenda Kingsley memanggil Brody untuk dimintai tolong mengangkut botol-botol kosong, ia berdua saja dengan June.
"Kapan kau pindah ke Philadelphia?" tanyanya.
"Sejak Maret. Ya, sejak saya hamil. Waktu itu saya pikir sebaiknya ayah dan ibu tidak tahu. Kebetulan teman saya di Philadelphia mempunyai apartemen. Saya tinggal bersama dia mencari nafkah sebagai pelayan restoran sampai bulan lalu."
"Maksudnya, orang tuamu tidak tahu kau hamil?" June menggelengkan kepala. "Tapi dasar nasib. Dua minggu sebelum melahirkan, ayah meninggal tiba-tiba dan saya harus pulang. Sekarang semua orang di kota ini tahu."
"Apakah kau berniat menikah?"
June membuang muka. "Tidak akan ada gunanya."
"Apakah ayah anak ini tahu kau hamil?"
"Saya tidak pernah memberi tahu."
Pete Brody kembali untuk meneruskan percakapannya dengan June dan Leopold menjauhkan diri. Menjelang tengah hari Leopold dan Molly minta diri seperti halnya tamu-tamu lain.
Mungkin ada maling
Sesaat sebelum pukul 21.50 pada hari Minggu, telepon di rumah Leopold berdering.
"Kapten Leopold? Ini June Doyle. Saya ingin berbicara dengan Anda. Saya menelepon dari rumah ibu saya. Tunggu ...." Ketika June kembali menelepon, ia berbisik, "Bisakah Anda menelepon saya beberapa menit lagi? Rasanya ada seseorang di beranda ...."
"Baik. Saya akan menelepon sebentar lagi." Setelah telepon ditaruh, Leopold baru ingat bahwa ia tidak tahu nomor telepon keluarga Doyle. Ia harus mencarinya dulu di buku telepon. Begitu tersambung, June langsung menjawab. "Tidak ada siapa-siapa, Kapten. Tadinya saya takut ada maling. Ibu sedang pergi dan saya sendirian saja."
"Ke mana ibumu?"
"Para ibu sedang rapat untuk merencanakan piknik pada Hari Buruh. Bu Kingsley membujuk ibu agar ikut. Supaya terhibur." Saat itu kedengaran June batuk dan menutup telepon sebentar. "Saya harap saya tidak masuk angin pada saat hampir melahirkan begini," kata June.
"Itu yang ingin kauceritakan pada saya, June?"
"Ehm, apa yang dikatakan ibu kepada Anda tentang keadaan ... tentang kehamilan saya?"
"Ia tidak berkata sepatah pun. Mengapa?"
"Saya pikir ...." Saat itu kedengaran lonceng berdentang sayup-sayup di tempat June, sebab hari tepat pukul 21.00. "Saya pikir mungkin ia bercerita sesuatu kepada Anda. Ia hampir tidak mengajak saya berbicara sejak saya datang."
"Saya tidak pernah dekat dengan orang tuamu, June. Saya cuma rekan sekerja ayahmu. Tapi saya tahu ia mencintaimu."
"Itulah sebabnya maka saya pergi. Saya pikir ia bisa mati kalau tahu saya hamil."
"Ibumu tidak berkata apa-apa."
"Baiklah kalau begitu. Maaf saya mengganggu Anda, Kapten. Saya ingin berdamai dengan ibu sebelum berangkat besok. Saya perlu diyakinkan oleh seseorang."
Mereka saling mengucapkan selamat malam, lalu June tiba-tiba berkata bahwa di luar ada mobil polisi menyorotkan lampu merah.
"Jangan-jangan benar ada maling," katanya.
"Saya akan mengecek ke markas besar," kata Leopold.
Menurut keterangan markas besar, mobil patroli 911 datang sebab tetangga sebelah rumah Doyle menelepon 911. Leopold berpesan agar ia dikabari kalau sudah diketahui mengapa 911 dipanggil. Lima menit kemudian Leopold diberi tahu bahwa di 145 Mapledale, yaitu rumah yang terletak di sebelah kediaman keluarga, Doyle, ada seorang pria kulit putih tewas ditembak. Pria itu belum diidentifikasi secara resmi, tapi tampaknya ia pemilik rumah bernama Roy Kingsley.
Segera Leopold memacu kendaraannya ke sana. Saat ia tiba sudah ada empat mobil polisi ditambah sebuah kendaraan unit teknisi. Sersan Connie Trent pun hadir di situ.
"Ada apa Connie?"
"Seorang pria bernama Roy Kingsley ditembak sekali di kepalanya. Ia tergeletak di dalam rumahnya, dekat ambang pintu depan. Ketika 911 tiba, mereka menemukan pintu terpentang lebar."
Leopold belum lama diperkenalkan kepada Roy Kingsley dan hampir tidak pernah berbicara dengannya, tetapi ia shock juga melihat pria itu sudah menjadi mayat.
Dekat sebelah tangan Roy tergeletak telepon yang kabelnya panjang sekali. Ketika 911 datang, ia baru meninggal beberapa menit, sebab panggilan untuk 911 diterima pukul 21.00.25.
Leopold membungkuk untuk memeriksa mayat itu. Kening Roy Kingsley ditembusi peluru. Di wajahnya ada bekas mesiu yang menandakan tembakan dilakukan dari jarak cukup dekat.
Saat itu Connie sudah mengirim dua mobil polisi untuk menyelidiki daerah sekitar rumah.
Connie mengantar Leopold ke ruang keluarga. Rumah itu lebih besar dan lebih mewah daripada rumah keluarga Doyle. Rupanya menjadi salesman mobil menghasilkan uang lebih banyak daripada menjadi polisi. Brenda Kingsley sedang menangis diam-diam, sementara Greta dan June Doyle berusaha menghiburnya.
"Saya keluar ketika melihat mobil-mobil polisi," cerita June.
"June menduga maling yang melakukannya," kata ibunya.
"Kami sedang mencarinya di sekeliling tempat ini," kata Leopold berusaha melegakan.
"Di mana kita bisa merasa aman, kalau di rumah saja bisa terjadi begini?" kata Ny. Kingsley dengan nada marah campur sedih.
Leopold tidak bisa menjawab apa-apa. Kemudian katanya, "Setahu saya, Anda, para ibu, tadi sedang rapat."
"Saya tidak jadi ikut," kata Greta. "Saya pergi bersama Brenda, tetapi setelah tiba di depan pintu rasanya saya tidak tahan menghadapi sekian banyak orang. Jadi saya berjalan sekeliling tempat ini sebentar, lalu pulang ke rumah. Waktu saya tiba, sudah ada dua mobil polisi. June berlari ke luar rumah untuk pergi ke sebelah."
Takut dikira yang bukan-bukan
Leopold meminta kepada Connie agar ia diperbolehkan berbicara berdua saja dengan Ny. Kingsley selama beberapa menit. Ia menginstruksikan Connie untuk meminta keterangan dari Greta dan June Doyle.
Begitu Connie membawa Greta dan June ke dapur, Brenda berkata kepada Leopold, "Baru kemarin saya mereka-reka, bagaimana Greta bisa hidup tanpa Marty. Eh, sekarang Roy juga meninggal."
"Suami Anda mempunyai musuh, Bu Kingsley? Barangkali Anda tahu ada orang yang ingin membunuhnya? Bekas rekan sekerjanya, mungkin?"
Ny. Kingsley menggelengkan kepala. "Semua orang senang pada Roy."
"Mungkin ada masalah dengan mobil yang dijualnya? Ada pembeli yang tidak puas, barangkali?"
Janda itu bergidik. "Mustahil orang dibunuh gara-gara hal itu?"
"Hal-hal kecil kadang-kadang mampu membuat orang mata gelap." Ny. Kingsley menyatakan, tidak ada orang atau masalah yang bisa menyebabkan orang sakit hati kepada suaminya.
"Bu Kingsley, apakah suami Anda mempunyai hubungan bisnis dengan Marty Doyle atau dengan orang lain?"
"Tidak. Kami cuma tetangga. Kami berempat akrab, tetapi tidak pernah ada urusan bisnis."
Connie masuk untuk memberi tahu Leopold bahwa mereka menahan seorang pria yang dipergoki menerobos kebun belakang rumah beberapa blok dari sana.
Leopold bangkit. "Nanti kita berbicara lagi, Bu Kingsley."
"Pria itu ada di mobil. Ia mengaku kenal keluarga Kingsley maupun Doyle. Jadi saya tidak membawanya masuk ke rumah," kata Connie ketika mereka keluar.
Di bangku belakang mobil polisi Leopold melihat seorang pemuda. Ia tidak lain daripada Pete Brody, teman sekolah June Doyle.
Leopold membuka pintu dan duduk di sebelah Brody. "Halo, Pete, kita bertemu kemarin."
"Halo, Kapten.”
"Saya tidak tahu kalau kau tinggal dekat-dekat tempat ini."
"Saya tinggal jauh dari sini. Tadi saya berkeliling-keliling dengan mobil, lalu turun untuk berjalan-jalan sebentar karena udara bagus."
"Ia membawa senjata?" tanya Leopold kepada polisi yang duduk di bangku depan.
"Tidak, Kapten."
"Eh, ada apa sih?" tanya Brody.
"Ada orang dibunuh. Roy Kingsley, tetangga June."
"Dibunuh?"
"Ya."
"Dirampok?"
"Kami belum tahu. Kenapa Anda bertanya? Sebelum terjadi pembunuhan, June mengira ada orang langak-longok."
"Hei! Jangan menuduh saya. Saya tidak berada dekat-dekat rumah ini."
"Anda dijumpai cuma beberapa blok dari sini. Tidak terlalu jauh."
Brody berdiam diri sambil memandang ke rumah Kingsley. Akhirnya ia berkata, "Kemarin June minta saya datang sebelum ia berangkat pulang. Saya pikir boleh juga. Soalnya, sejak dulu saya senang kepadanya."
"Di mana mobil Anda?"
"Saya parkir di Adams Street, tiga blok dari sini."
"Anda datang mengunjunginya, tetapi memarkir mobil Anda tiga blok dari sini?"
"Ya."
"Anda sudah sempat menemuinya?"
"Belum. Ketika saya tiba, saya lihat banyak mobil polisi. Jadi saya tidak jadi berkunjung."
Leopold terdiam sebentar, lalu bertanya, "Pete, mengapa kau memarkir mobilmu jauh-jauh dari sini?"
"Kalau orang melihat mobil saya di sini, bisa-bisa saya dikira ayah anak yang dikandungnya."
"Kau bukan ayah anak itu?"
"Bukan! June dan saya cuma berteman. Kami pernah beberapa kali berkencan."
Ada panggilan, tak ada pesan
Leopold keluar dari mobil dan meminta Connie mengantarkan Brody kembali ke mobilnya sambil berpesan agar Connie minta izin dengan sopan untuk menggeledah mobil Brody. Siapa tahu ada senjata.
Senin pagi Leopold mendapat laporan dari Connie bahwa di mobil Brody tidak ditemukan senjata. Para tetangga Kingsley yang lain tidak ada yang mendengar maupun melihat sesuatu. Saat itu mereka kebanyakan sedang menonton televisi atau sibuk di dapur.
Leopold meminta Connie pergi ke rumah tempat para ibu mengadakan rapat semalam, untuk mengecek pukul berapa Brenda datang dan pukul berapa ia pergi.
Sementara itu Fletcher dimintanya datang membawa pita hasil rekaman 911 semalam. la ingin mendengar rekaman itu, tetapi cuma bagian sekitar pukul 21.00.
Hubungan dari telepon Kingsley dilakukan pukul 21.00.25, tetapi tidak ada suara. Kedengarannya seperti ada bunyi gedebuk, tetapi samar sekali, sehingga Leopold ragu-ragu. Kata Sersan Fletcher, nomor telepon tidak perlu dilacak, sebab ada di layar. Ketika 911 tidak menerima berita apa-apa, cepat-cepat dikirimnya mobil. Waktu itu pukul 21.02.10.
"Saya masih berbicara dengan June Doyle ketika mobil itu tiba," kata Leopold. Kemudian ia melanjutkan, "Saya ingin bertanya perihal Pete Brody kepada June sebelum ia kembali ke Philadelphia."
Dari pemeriksaan dokter diketahui Kingsley meninggal akibat sebuah peluru yang masuk ke otaknya. Peluru itu ditembakkan dari jarak dekat dan arahnya dari bawah ke atas. Logamnya ditemukan dalam keadaan pipih. Diperkirakan peluru itu berkaliber .22.
Leopold menarik napas, lalu pergi ke rumah Greta Doyle. Wanita itu didapatinya hampir berangkat ke rumah sakit.
"June mulas akan melahirkan. Pete Brody membawanya ke rumah sakit dan saya akan menyusul," katanya.
"Saya akan ikut ke rumah sakit," kata Leopold. "Tapi boleh 'kan saya melihat kembali koleksi senjata Marty?"
"Untuk apa?"
"Roy Kingsley ditembak dan Anda memiliki banyak senjata di rumah. Saya harus mengecek dari pelbagai segi."
"Saya berani menjamin ia tidak ditembak dengan senjata koleksi Marty!" kata wanita itu dengan marah. Tapi ia mematikan juga mesin mobilnya untuk kembali ke rumah.
Greta memperlihatkan senjata-senjata Marty. Tampaknya tidak ada yang berubah dibandingkan dengan kemarin. Leopold mencium moncong pistol yang memakai peredam suara. Tampaknya seperti baru dibersihkan dan diminyaki.
"Marty sering membersihkan koleksinya," begitu keterangan jandanya.
Leopold kemudian bertanya, mengapa Brody yang membawa June ke rumah sakit. "Karena Brody datang pada saat June mulai mulas," jawab ibunya. Leopold juga menanyakan jenis hubungan June dengan Brody. "Silakan tanya kepada mereka saja," jawab ibu June. "Setahu saya mereka pernah berkencan."
Di rumah sakit Leopold menemui perawat yang memberi tahu bahwa June belum melahirkan. Pete Brody sudah pergi. Leopold minta diri kepada Greta. Ia minta dikabari kalau bayi sudah lahir. "Saya mendoakan agar ibu dan anaknya baik-baik saja," katanya.
Greta menelepon ke markas besar hari Selasa pagi. Katanya, June dan bayi laki-lakinya sehat-sehat saja. Leopold berniat menjenguk sorenya.
Tiga orang tak punya alibi
Sementara itu Connie mendapat keterangan bahwa pada hari Minggu malam, bukan cuma Greta yang tidak muncul di rapat para ibu, tapi juga Brenda Kingsley! Berarti ia tidak mempunyai alibi pada saat suaminya terbunuh. Alasan Brenda: karena Greta tidak jadi ikut rapat, ia jadi segan, lalu mengendarai mobilnya ke Selat.
Sore itu Leopold bertemu June di rumah sakit. Ia memberi selamat, lalu mencari Greta di kantin.
"Saya akan pergi ke rumah Bu Kingsley. Apakah hubungannya dengan suaminya baik-baik saja?" tanyanya.
"Tampaknya begitu. Ah, jangan mencurigai Brenda. Ia pergi rapat waktu itu."
"Tidak. Ketika Anda tidak pergi, ia juga membatalkan rencananya." Tampaknya Greta ingin bertanya, tapi tidak jadi mengucapkannya. Ia cuma berkata, "Saya harap June bisa hidup baru sekarang, walaupun sulit sekali tanpa seorang suami. Ia tidak mau berbagi kesulitan dengan kami, Marty dan saya. Ia selalu yakin bisa mengelabui ayahnya."
"Anda mempunyai dugaan siapa ayah bayi itu?"
"Yang paling mungkin tampaknya Pete Brody, tapi entahlah."
Dari rumah sakit Leopold pergi ke Brenda Kingsley. Janda itu tampaknya enggan ditanya-tanyai. Mungkin ia juga merasa malu, karena ketahuan tidak jadi pergi rapat seperti yang diperkirakan.
Leopold minta maaf, karena mengganggu Brenda yang sedang sibuk mengurus persiapan pemakaman. Ia juga minta maaf karena pekerjaannya menuntut dia untuk mengajukan berbagai pertanyaan yang dalam percakapan sehari-hari mungkin kurang pantas untuk diajukan. Lalu katanya, "Suami Anda selalu setia kepada Anda?"
Brenda marah sekali. "Orang tidak dikenal, walau maling sekalipun tidak akan begitu saja masuk ke rumah orang, lalu menembak," kata Leopold. "Ada tiga hal yang terjadi dalam beberapa hari ini. Pertama, Marty Doyle meninggal karena serangan jantung. Kedua, kematiannya membuat putrinya terpaksa pulang dari Philadelphia dan ketahuanlah kalau ia hamil. Ketiga, suami Anda dibunuh orang. Peristiwa pertama menyebabkan peristiwa kedua. Apakah peristiwa kedua menyebabkan peristiwa ketiga?"
"Apa Anda bilang, Kapten? Kedatangan June menyebabkan kematian Roy?"
"Apakah ada hubungan di antara mereka, Bu Kingsley?"
"Umur Roy 51 dan June 24!"
"Pertanyaan saya masih berlaku, Bu Kingsley," kata Leopold seraya membuang pandangan keluar jendela. Ny. Kingsley tidak tahu bahwa umurnya dengan Molly berbeda 27 tahun. "Anda bisa menembak Roy bila mengetahui hubungan antara mereka. Greta Doyle juga bisa menembak Roy karena sakit hati atas perbuatan suami Anda terhadap putrinya. Bahkan Pete Brody pun bisa berbuat serupa kalau ia benar-benar mencintai June."
"Saya tidak bisa menolong Anda, Kapten. Silakan, tinggalkan saya." Lonceng di ruang depan berbunyi menandakan hari sudah pukul dua ketika Leopold meninggalkan rumah.
Tak kena dikelabui
Ketika June membuka matanya, didapatinya Leopold duduk di sebelah ranjangnya. June tersenyum. "Kalau Anda sering menjenguk saya begini, nanti orang mengira bayi ini anak Anda," katanya.
"Kalau memang anak saya, masalahnya mungkin lebih mudah, June," katanya. "Kingsley 'kan bapaknya?"
June membelalak. "Gila!" jawabnya. "Mana mungkin saya membunuhnya pada saat saya berbicara dengan Anda di telepon."
Leopold tersenyum sedih. "Kau bisa tercatat dalam buku kriminologi sebagai orang pertama yang membunuh sambil berbicara di telepon tak berkabel untuk membentuk alibi."
"Kau menelepon 911 karena tahu 911 akan merekam saat hubungan telepon dibuat dan mengakurkannya dengan saat kematian. Hal itu kaulakukan agar kau mempunyai alibi, supaya kau bisa berkata bahwa pada saat kematian Kingsley kau sedang berbicara dengan saya."
"Untuk meyakinkan saya bahwa kau memakai telepon di rumahmu, kau meminta saya menelepon kembali. Pada saat saya menelepon kembali itu, mungkin kau sudah berada di perjalanan ke rumah Kingsley sambil membawa telepon tanpa kabel, telepon yang saya lihat di rumah ibumu pada hari Sabtu. Telepon tanpa kabel biasanya bisa dipakai sampai kira-kira 30 m dari unit utamanya, walaupun ada yang kemampuannya lebih dan kurang dari itu. Rumah ibumu terletak berdekatan dengan rumah Kingsley.
"Ketika Kingsley membuka pintu, kau menembaknya dari dekat dengan pistol berperedam suara yang kauambil dari koleksi ayahmu. Sementara itu kau berbicara terus dengan saya. Untuk membungkam suara tembakan, kau bukan cuma mengandalkan peredam suara. Kau juga membekap telepon setelah berpura-pura batuk."
"Setelah Kingsley terjatuh, kau masuk untuk menghubungi 911 dengan telepon Kingsley, bukan dengan telepon tanpa kabel. Telepon tanpa kabel mungkin kaujepit di antara dagu dan leher. Ketika telepon Kingsley sudah menyambung ke 911, kau meletakkannya dekat mayat. Setelah itu kau kembali ke rumah ibumu dan mengakhiri pembicaraan dengan saya." Begitu kata Leopold kepada June.
"June, Kingsley tidak mungkin bisa memutar nomor telepon sambil berdiri jauh di muka pintu rumahnya."
"Bisa dong dia memutar nomor dulu, lalu membawa gagang telepon ke pintu," jawab June.
"Kalau begitu, suara tembakan akan terekam dalam pita rekaman," kata Leopold. Padahal pita rekaman cuma menangkap suara gedebuk gagang telepon yang kaujatuhkan ke permadani. Lagi pula, saya mendengar bunyi lonceng padahal tak ada lonceng di dekat telepon di rumahmu. Bunyi lonceng yang saya dengar itu sama seperti bunyi lonceng di ruang depan rumah Kingsley yang saya dengar tadi siang."
Leopold memegang lengan June. "Mengapa kau membunuhnya, June?" Putri Marty Doyle tidak mau memberi keterangan. la cuma menggeleng.
"Saya duga, ketika kau terpaksa kembali dan orang-orang tahu kau hamil, kau menemui Kingsley, tapi ia menolakmu."
June menangis. "Roy bilang, ia bukan ayah anak ini. Ia mengatai saya pelacur, padahal saya sudah banyak berkorban untuk dia!" Leopold sangat sedih. Sedih bagi June dan juga bagi putra June. Tapi ia hamba negara. Hukum tetap mesti ditegakkan.
Dalam perjalanan pulang, Leopold berpikir: Kalau saja Marty hidup seminggu lebih lama, kehamilan June mungkin tidak akan ketahuan dan konfrontasi dengan Kingsley bisa terhindarkan. Pikirannya masih dipenuhi hal itu, ketika ia masuk ke rumahnya. Tahu-tahu terdengar seruan, "Surprise!" Leopold baru ingat bahwa hari itu hari ulang tahunnya. Ia melihat berkeliling pada Molly, Fletcher, istri Fletcher, Connie, dan pacar wanita itu. Semua tersenyum dan Leopold pun tersenyum.
(Edward D. Hoch)
" ["url"]=> string(73) "https://plus.intisari.grid.id/read/553246453/akhir-dendam-seorang-pelacur" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1650983763000) } } }