array(2) {
  [0]=>
  object(stdClass)#53 (6) {
    ["_index"]=>
    string(7) "article"
    ["_type"]=>
    string(4) "data"
    ["_id"]=>
    string(7) "3835219"
    ["_score"]=>
    NULL
    ["_source"]=>
    object(stdClass)#54 (9) {
      ["thumb_url"]=>
      string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2023/08/04/rumah-mesum-di-fifteenth-street-20230804052307.jpg"
      ["author"]=>
      array(1) {
        [0]=>
        object(stdClass)#55 (7) {
          ["twitter"]=>
          string(0) ""
          ["profile"]=>
          string(0) ""
          ["facebook"]=>
          string(0) ""
          ["name"]=>
          string(5) "Ade S"
          ["photo"]=>
          string(54) "http://asset-a.grid.id/photo/2019/01/16/2423765631.png"
          ["id"]=>
          int(8011)
          ["email"]=>
          string(22) "ade.intisari@gmail.com"
        }
      }
      ["description"]=>
      string(125) "Seorang pengacara dan anggota Kongres mendapati istrinya selingkuh dengan seorang jaksa. Semua itu berawal dari sebuah surat."
      ["section"]=>
      object(stdClass)#56 (8) {
        ["parent"]=>
        NULL
        ["name"]=>
        string(8) "Kriminal"
        ["show"]=>
        int(1)
        ["alias"]=>
        string(5) "crime"
        ["description"]=>
        string(0) ""
        ["id"]=>
        int(1369)
        ["keyword"]=>
        string(0) ""
        ["title"]=>
        string(24) "Intisari Plus - Kriminal"
      }
      ["photo_url"]=>
      string(112) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2023/08/04/rumah-mesum-di-fifteenth-street-20230804052307.jpg"
      ["title"]=>
      string(31) "Rumah Mesum di Fifteenth Street"
      ["published_date"]=>
      string(19) "2023-08-04 17:23:29"
      ["content"]=>
      string(27200) "

Intisari Plus - Daniel E. Sickles, seorang pengacara dan anggota Kongres mendapati istrinya selingkuh dengan seorang jaksa. Semua itu berawal dari sebuah surat yang mengungkap perselingkuhannya.

----------

Dalam sejarah peradilan Amerika Serikat tercatat suatu perkara peradilan yang terkenal: perkara Key — Sickles. Masyarakat gempar ketika proses peradilan berlangsung dan akhirnya keputusan dijatuhkan. Kegemparan itu bukan saja karena dalam perkara pembunuhan ini terdakwa adalah seorang tokoh terkemuka — antara lain ia anggota Kongres, sahabat pribadi Presiden ke-15 Amerika Serikat James Buchanan, dan diplomat. Tetapi juga karena terdakwa itu kemudian dibebaskan walaupun jelas bahwa ia sengaja membunuh korbannya.

Bagi kita sekarang, sukar masuk akal pembebasan itu seperti akan kita lihat nanti. Tetapi perkara ini terjadi di Amerika lebih dari 100 tahun yang lalu. Kisahnya sebagai berikut.

Daniel E. Sickles sekitar tahun 1850 sedang menanjak karirnya. Ia terkenal di New York sebagai pengacara cemerlang dan duduk dalam badan legislatif serta dewan penasehat New York City. Ketika James Buchanan dikirim ke Inggris sebagai duta besar, ia memilih Sickles sebagai Sekretaris Pertamanya.

Berangkatlah mereka ke Inggris — Buchanan yang masih membujang seorang diri, sedangkan Sickles didampingi istrinya yang masih muda-belia dan belum lagi berumur 20 tahun, Teresa Bagioli. Teresa berdarah Italia. Ayahnya seorang maestro opera yang cukup terkenal di New York pada waktu itu.

Buchanan yang belum beristri memerlukan seorang wanita yang pada kesempatan-kesempatan resmi dapat bertindak sebagai nyonya rumah di Kedutaan Besar AS di London. Pilihannya jatuh pada Teresa walaupun wanita ini sebetulnya terlalu muda untuk tugas tersebut. Tetapi ternyata Teresa tidak mengecewakan. Tingkah lakunya serba luwes dan menawan hati. Dan Teresa cantik sekali — rambutnya hitam, mata biru, kulit kuning kecoklat-coklatan dan tubuh ramping penuh kewanitaan. Belum pernah diplomasi AS di Inggris begitu penuh semarak seperti waktu itu.

Tetapi Teresa mempunyai satu kelemahan, ialah terlalu suka menantang kejantanan dan luar biasa pandai bermain-main dengan lelaki. Dalam resepsi-resepsi di kedutaan dan upacara-upacara penandatanganan perjanjian-perjanjian resmi banyak diplomat jatuh hati pada Teresa. Tetapi selama di Inggris tak terjadi atau, sedikitnya tidak diketahui peristiwa-peristiwa yang mencemarkan namanya.

Ketika Buchanan kembali ke Amerika, Dan Sickles dan Teresa ikut pulang pula. Buchanan tak lama kemudian terpilih sebagai Presiden AS dan Sickles menjadi anggota Kongres dari New York. Tahun 1857 berlangsung inaugurasi Buchanan sebagai Presiden. Pada waktu itu juga Sickles bersama istrinya pindah ke Washington, menempati rumah mewah di Sixteenth Street.

Ketika itu Teresa yang 11 tahun lebih muda dari suaminya, berumur 21 tahun. Kewanitaannya makin matang sementara minatnya terhadap kaum laki-laki sedikit pun tak berkurang.

Salah satu di antara kenalan-kenalan pertama suami-istri Sickles sejak tinggal di Washington ialah Philip Barton Key, jaksa distrik Columbia. Umurnya 40 tahun, berperawakan tegap dan amat tampan. Ia sudah duda, anaknya 4 orang.

Tetapi kehadiran anak-anak ini baginya bukan penghalang untuk meneruskan kariernya sebagai hidung belang, di samping sebagai peminum dan penggemar sport naik kuda.

Sifatnya sebagai Don Juan terkenal diantara para suami yang selalu waspada terhadapnya. Sebagai pendatang baru, rupanya Sickles tidak mengetahui hal itu. Tanpa menaruh curiga ia menganggap Key sebagai salah seorang sahabat terbaik. Kerapkali lelaki itu berkunjung ke rumah Sickles di Sixteenth Street. Tidak hanya jika Sickles ada di rumah atau sedikitnya di dalam kota Washington, tetapi juga jika ia sebagai anggota Kongres sedang bertugas ke New York.

Pada awal tahun 1858, baru saja pulang dari perjalanan dinas, Sickles mendapat laporan dari seorang kenalan. Kenalan ini curiga terhadap Key yang dilihatnya bersama-sama dengan Mrs. Sickles keluar dari sebuah losmen, selagi Mr Sickles berada di New York.

Sickles marah sekali, tidak terhadap istrinya tetapi kepada pelapor yang bermaksud baik itu.

Sickles tahu betul bahwa istrinya genit dan bebas dalam pergaulan dengan lelaki tetapi sedikitpun tak pernah sangsi akan kesetiaannya Sampai di rumah Dan Sickles menceritakan “fitnah’’ yang didengarnya dari kenalan itu kepada Teresa.

Terasa mengakui terus terang bahwa ia memang ke sebuah losmen bersama Key tetapi hanya untuk makan malam.

“Sekali lagi, aku tak percaya omongan itu. Kamu istriku yang setia. Untuk menghindari percakapan orang, baiklah lain kali kau jangan keluar rumah dengan seorang lelaki jika saya sedang ke luar kota”.

Satu tahun berlalu tanpa Dan Sickles mendengar sesuatu yang mencemarkan nama istrinya. Sebagai anggota Kongres Sickles semakin tertelan oleh kegiatan-kegiatannya. Pada waktu itu memang banyak permasalahan, antara lain soal budak belian, soal hak-hak negara bagian, ancaman bahaya perang saudara. Untuk menjajaki pendapat para pemilih yang diwakilinya, Sickles semakin sering pergi ke New York dan menginap berhari-hari di sana.

Kamis tanggal 24 Februari 1859. Hari itu Sickles mengadakan jamuan malam di rumahnya di Sixteenth Street. Di antara para undangan tampak Philip Barton Key. teresa duduk di sampingnya tetapi ia tidak memberinya perhatian yang lebih besar dari yang diberikannya kepada tamu-tamu pria lain.

Menjelang akhir jamuan malam, seorang pelayan menyampaikan sepucuk surat kepada Dan Sickles. Tanpa membacanya — karena sedang asyik berbicara dengan para tamu — surat itu dimasukkannya ke dalam saku.

Baru tengah malam sebelum tidur, Dan Sickles ingat akan surat itu. Isinya ternyata menyangkut perzinaan istrinya. Penulis surat yang hanya membubuhkan inisial namanya, R.P.G., tidak ia kenal. Tetapi kali ini Dan Sickles rupanya percaya akan kebenaran laporan. Tangannya gemetar dan mukanya pucat ketika ia membaca baris-baris berikut yang rupanya ditulis oleh tangan wanita:

 

HON. DANIEL SICKLES

DEAR SIR,

Dengan hati sedih saya menyampaikan beberapa baris berikut ini kepada Anda. Tetapi saya merasa wajib melakukan itu. Tak sampai hati saya melihat Anda begitu dipermainkan.

Seorang bandot (kata ini boleh saya gunakan, karena ia sama sekali bukan seorang gentleman) bernama Philip Barton Key menyewa sebuah rumah seorang negro bernama John A. Gray di Fifteenth Street semata-mata sebagai tempat pertemuan antara dia dengan istri Anda. Ia menggantungkan seutas tali di jendela sebagai tanda untuk istri Anda, bahwa ia ada di dalam. Dan ia membiarkan pintu tak terkunci hingga istri Anda dapat masuk. Sungguh kata saya, ia menggauli istri Anda seperti Anda sendiri.

Inilah sekedar laporan saya. Terserah selanjutnya kepada Anda.

Hon Daniel Sickles

Dear Sir.

 

Keesokan harinya, Jumat tanggal 25 Februari, jam 9 pagi, Sickles ke Capitol. Ia mencari sahabat karibnya Woolridge, seorang pegawai Dewan Perwakilan dan memperlihatkan surat kaleng di atas kepadanya.

Sambil mencoba menenangkan, Woolridge menyatakan, bahwa beberapa bulan sebelumnya, ia memang pernah mendengar desas-desus tak baik tentang Key dan Teresa. Tetapi Woolridge tak mau memberitahu Sickles karena merasa belum pasti akan kebenaran percakapan orang itu. Takut meretakkan hubungan antara Sickles dan istrinya dengan berita yang belum pasti.

“Saya sendiri juga pernah mendengar informasi semacam. Tetapi saya waktu itu tolol. Tidak berterima kasih, tapi malahan mencaci-maki informan”, Sickles bergumam.

Akhirnya Dan Sickles minta kepada Woolridge untuk mengecek kebenaran surat R.P.G.

Hari berikutnya, Sabtu tanggal 26 Februari, Woolridge telah datang dengan hasil-hasil penyelidikannya.

Memang Philip Barton Key menyewa rumah di 15th Street sebagai tempat kencan dengan Teresa dan semata-mata untuk tujuan ini. Yang diperlengkapi dengan mebel dan peralatan-peralatan lain hanya sebuah kamar tidur. Biasanya Teresa datang ke situ menjelang sore. Datang pergi, mukanya selalu dikerudungi tetapi orang-orang sekitar toh mengenalinya.

Bukan saja orang-orang sekitar, tetapi pelayan-pelayan rumah Sickles sendiri mengetahui hubungan asmara antara Teresa dan Key.

Sebab Key berani datang di rumah Sickles dan bercumbuan dengan Teresa di situ. Bahkan pernah mereka berdua mengunci diri di kamar tidur — sementara para pelayan sambil menahan ketawa pasang telinga, untuk mendengarkan apa yang kiranya terjadi di dalam.

Key menyewa pula kamar di Cosmos Club yang terletak di seberang taman depan rumah Sickles. Dari sebuah jendela di Cosmos Club itu Key mempunyai pandangan pada rumah Sickles. Dari jendela itulah, dengan sebuah teropong jarak jauh yang biasa digunakan oleh penonton opera, Key mengamati pintu rumah Sickles. Begitu melihat Teresa keluar ke jalan, segera Key turun untuk menyertainya.

Kadang-kadang Key lewat di depan rumah Sickles dan mengangkat sapu tangannya naik turun tiga kali. Ini kode, bahwa ia sedang menuju ke rumah di 15th Street dan bahwa Teresa diharapkan segera menyusulnya ke sana.

Dengan hati yang patah Sickles terhuyung-huyung menyeret merah padam ia berkata dengan nada formal kepada istrinya: “Nyonya, silakan ke kamar nyonya sekarang ini juga!” Pucat dan ketakutan Teresa menuruti perintah suaminya tanpa membantah sedikitpun.

Kepada istrinya yang duduk gemetar di ujung ranjang, Sickles berkata: “Apakah ini mempunyai arti bagimu?” Bertanya demikian, Sickles menaik-turunkan saputangan tiga kali. “Atau ini: sebuah rumah di Fifteenth Street? Atau lagi ini: seutas tali yang tergantung dari jendela? Atau ini: seorang lelaki yang mengamati rumahku dengan teropong opera? Seorang lelaki bernama Philip Parton Key?”

Teresa memerah mukanya, kemudian pucat lesi. Ia meraih gelas meja dekat ranjang dan berusaha mengisinya dengan air dari sebuah kan. Tetapi pada saat itu tenaganya hilang. Gelas dan kan jatuh berdering di lantai dan Teresa jatuh terkulai di atas ranjang. Ia pingsan.

Sickles menyuruh seorang pelayan menolongnya. Setelah sadar kembali, Teresa mengakui semua penyelewengannya dengan Key. Ia mencoba meringankan kesalahannya dengan alasan bahwa tubuhnya mendambakan cinta tapi, sejak terpilih menjadi anggota Kongres, tampaknya Dan tak cukup waktu untuk memberinya kepuasan penuh-penuh. Sickles mendekat hendak menamparnya, tetapi akhirnya menahan diri.

“Pukullah! Pukul aku!”. Teresa menangis. “Aku sepantasnya kau pukuli”.

“Tidak”, kata Sickles. “Aku punya hukuman lain bagimu”. Duduklah di situ, pada mejamu, dan tulis semua kecemaranmu, sampai hal yang sekecil-kecilnya. Setelah itu kamu harus meninggalkan rumah ini dan kembali pada orang 'tuamu. Kamu bukan istriku lagi”.

Teresa menurut segala perintah itu. Dan Sickles menghendaki agar seorang pelayan menyaksikan (dari jauh, tapi masih melihat jelas) Teresa menulis pengakuannya. Ini ia maksud sebagai saksi, bahwa Teresa membuat pengakuannya tanpa paksaan apapun, apalagi siksaan.

Dokumen pengakuan Teresa masih tersimpan seperti adanya. Di dalamnya tercermin keadaan mental penulisnya yang tercekam ketakutan. Di sana-sini isinya meloncat-loncat, ditulis dengan gaya telegram. Dengan beberapa kutipan lengkap, inti pengakuan itu sebagai berikut.

Teresa mengakui sering ke rumah di 15th Street dengan Mr. Key, entah berapa kali. Rumah itu kosong, tak ada makanan ataupun minuman. Kamar dihangatkan dengan tungku api.

“Mulai ke sana akhir Januari. Di sana berduaan dengan Mr. Key. Biasanya di sana satu jam atau lebih. Di tingkat dua ada ranjang. Saya melakukan yang biasa diperbuat perempuan jahat. Keintiman mulai dimusim dingin, ketika saya datang dari New York… Bertemu 12 kali atau lebih, pada jam-jam yang berlainan”.

Lalu Teresa menceritakan hubungannya yang terakhir. “Rabu yang lalu ke sana, antara jam 2 dan 3. Saya bertemu dengan Mr. Key di 15th Street. Masuk lewat pintu belakang. Masuk ke kamar tidur yang sama, dan di sana omong-omong secara tak pantas. Saya menanggalkan pakaian. Mr. Key jtiga menanggalkan pakaian. Ini terjadi hari Rabu, 23 Februari 1859.”

“Mr. Key pernah mencium saya di rumah, ini beberapa kali. Saya tidak menyangkal bahwa kami pernah berhubungan di rumah ini (musim sergi setahun yang lalu, di ruang tamu di atas sofa. Mr. Sickles kadang-kadang keluar kota dan kadang-kadang di Capitol. Saya kira hubungan intim mulai bulan April atau Mei 1858”.

Demikian seterusnya, pengakuan itu melukiskan secara mendetail pakaian yang ia kenakan pada waktu-waktu mengunjungi Mr. Key. Mr. Key pernah menggunakan kendaraan Mr. Sickles. Pernah mampir di rumah Mr. Sickles tanpa sepengetahuan yang akhir ini dan itu terjadi setelah Mr. Sickles memperingatkan Teresa jangan menerima Key atau pergi berduaan dengannya jika Mr. Sickles tak ada di rumah.

“Ini pengakuan sesuai kenyataan, saya tulis sendiri tanpa paksaan Mr. Sickles, tanpa pengampunan atau hadiah, dan tanpa ancaman darinya. Ini saya tulis di kamar tidur saya, dengan pintu terbuka dan pelayan saya menyaksikan dari luar kamar.”

Teresa Bagioli Washington, D.C, 26 Februari, 1859.

Selesai menulis pengakuannya, sore itu juga Teresa meninggalkan rumah dan pulang ke New York, sesuai dengan perintah Sickles.

Malam itu Sickles seorang diri di rumah. Tapi hari berikutnya, atas undangannya, dua orang sahabat karib mendatanginya di rumah Minggu 27 Februari. Kedua sahabat itu jalah Woolridge yang telah kita temui di atas, dan seorang politikus bernama Butterworth. Bertiga mereka duduk di bibliotik Mr. Sickles yang memberi pandangan ke jalan di luar.

Sickles membuka hatinya. Ia merasa seluruh hidup dan kariernya hancur karena kelakuan istrinya. Tapi Butterworth menyatakan sama sekali tak pernah mendengar tentang penyelewengan Teresa.

Ia menasehatkan kepada Sickles untuk menjaga jangan sampai berita yang mencemarkan nama keluarga Sickles ini tersiar di kalangan luas, apalagi di New York mengingat bahwa Sickles adalah anggota Kongres dari kota ini. Woolridge pun sependapat dengan Butterworth.

Selama pembicaraan ini Sickles memandang ke luar jendela. Tiba-tiba ia bangkit dari kursinya, sambil menunjuk ke arah luar dengan tangan gemetar. Ternyata di jalan di depan rumah tanpa Philip Burton Key sedang berjalan mondar-mandir sambil mengeluarkan sapu tangannya dan mengangkat benda ini naik turun tiga kali. Kode rahasia bagi Teresa.

Rupanya Key tidak tahu bahwa asmaranya dengan Teresa telah diketahui oleh Sickles apalagi bahwa sang kekasih sudah diusir keluar kota oleh suaminya. “Lihat, bangsat itu!” Sickles berteriak. “Ya, Tuhan, ini sungguh menjijikan!”

Apa yang terjadi dikemudian, tak begitu jelas karena para saksi, terutama Woolridge dan Butterworth, tak banyak memberikan keterangan. Entah karena mereka tak mau memberikan kesaksian-kesaksian yang memberatkan Sickles, entah karena takut tersangkut-sangkut dalam perkaranya.

Bagaimanapun juga, menurut rekonstruksi berdasarkan keterangan-keterangan yang ada, pada garis besarnya urutan kejadian adalah sebagai berikut.

Setelah melihat Key mondar-mandir, Sickles tiba-tiba berdiri dan meninggalkan ruangan bibliotik. Sesaat kemudian ia muncul lagi dan telah mengenakan mantel tebal walaupun bulan Februari itu hawanya tidak begitu dingin. Katanya ia mau ke Cosmos Club sebentar. Bersama Sickles, kedua tamunya pun tentu saja pergi pula.

Sickles menemui Key dan berteriak mengguntur: “Key, bangsat kau. Kamu telah mencemarkan rumahku kau harus mati!” Pada saat itu juga Sickles merogoh saku mantolnya lalu menodongkan pistol Colt. Ia menembak Key dan melukainya ringan, Sickles mencoba menembak lagi, tapi pistolnya macet.

Beberapa orang di antaranya Butterworth dan Woolridge, melihat kejadian ini dari kejauhan, tetapi tak ada yang turun tangan. Menurut sementara saksi, Key setelah terluka, bergumul dengan Sickles dan memukul kepala penyerangnya dengan teropong.

Bahwa Key bersembunyi di belakang sebuah pohon dan melempar Sickles dengan teropongnya. Bagaimanapun juga, Sickles menembak lagi Key, kali ini dengan pistol kecil yang dikeluarkan dari sakunya yang lain. Key terkapar di tanah. Kemudian Sickles menempelkan moncong senjatanya pada kepala korbannya. Sekali lagi Sickles berteriak: “Key, kau telah mencemari rumahku kau harus mati”.

Key berusaha bangkit meminta-minta jangan ditembak. Tapi Sickles tak menghiraukannya. Pelatuk pestol ditariknya dan Key terdiam dan tak berkutik lagi. Ia diangkut ke Cosmos Club dan meninggal setengah jam kemudian.

Sickles sementara itu dengan tenang kembali ke rumahnya, mencuci tangannya lalu menyerahkan diri kepada Jaksa Agung Amerika Serikat. Dengan perasaan enggan, Jaksa Agung memerintahkan agar Sickles dipenjarakan. Tetapi cara-cara penahanan anggota Kongres ini sangat lunak. Ia tak dimasukkan ke dalam sel, tapi mendapat kamar yang bagus di markas penjaga penjara. Para anggota kabinet banyak yang menjenguknya di situ. Presiden Buchanan sendiri tidak mengunjunginya di penjara, tetapi menghiburnya dengan sepucuk surat.

Sidang yang mengadili perkara Sickles membuat para wartawan bahagia, karena koran mereka akan sangat laku, tetapi menempatkan para petugas pengadilan pada posisi yang sulit.

Jaksa Robert Ould misalnya, yang bertindak sebagai penuntut menghadapi kesulitan berikut. Ia adalah pengganti almarhum Philip Barton Key sebagai jaksa distrik Columbia. Jika ia mengajukan tuntutan keras, namanya akan hancur di mata Partai Demokrat yang pada waktu itu sedang berkuasa dan dalam mana Ould tergabung. Tapi jika tuntutannyai tidak keras, ia akan dikecam sebagai penegak hukum yang lemah. Dengan hati-hati sekali ia memilih jalan tengah, Rekwisitoarnya mantap, tetapi pada akhirnya ia toh minta agar tertuduh dibebaskan.

Proses dimulai pada tanggal 4 April 1859 dan berlangsung selama 3 minggu. Sebagian besar waktu dihabiskan untuk menyeleksi juri. Sickles dibela oleh 3 orang advokat terkemuka, satu di antaranya Edward M. Stanton, tahun berikutnya akan terpilih menjadi Jaksa Agung dibawah Presiden Buchanan dan pada tahun 1862 akan menjadi Menteri Pertahanan dalam kabinet Lincoln.

Dalam pembelaan para pengacara terus terang mengakui bahwa klien mereka telah membunuh Key, tetapi mereka mengemukakan bahwa Sickles layak berbuat demikian karena Key memperdayakan Teresa kedalam perzinahan dengannya.

Para pembela menyebut “hukum tak tertulis” dan ini terjadi untuk pertama kali di Amerika dalam suatu perkara yang menarik perhatian seluruh negara. Seorang suami demikian kata mereka mempunyai hak untuk membunuh seorang lelaki yang kedapatan berzina dengan istrinya. Suatu pendapat yang aneh bagi pengertian hukum kita yang hidup di abad 20. Para pembela bahkan sampai mengemukakan keyakinan mereka, bahwa pembunuhan dengan alasan seperti itu tidak hanya dibenarkan kalau sang suami menangkap basah lelaki itu pada saat sedang berzina dengan istrinya, tetapi juga tanpa menangkap basah. Yang pokok bukanlah bagaimana cara memergok, tetapi kenyataan bahwa orang itu sungguh-sungguh telah berzina dengan istrinya. Dan kesaksian-kesaksian bahwa Key telah berzina dengan Teresa memang melimpah.

Alasan kedua yang diajukan para pembela ialah bahwa Sickles “sedang dalam keadaan gila” pada waktu membunuh korbannya. Alasan seperti ini di zaman kita kerap kali dilontarkan di ruang pengadilan, tetapi di Amerika sebelum proses Sickles belum pernah diajukan. Jaksa Ould mencoba menangkis alasan ini, tapi tanpa banyak hasil. Sejumlah sahabat dan kenalan Sickles memberi kesaksian tentang keadaannya “seperti orang linglung” (“aberrated”) setelah membaca surat kaleng dari R.P.G. tersebut diatas. “Ia berbuat seperti orang gila”, demikian pernyataan seorang saksi dibawah sumpah, “Saya takut kalau-kalau ia menjadi gila untuk selama-lamanya”, kata seorang lagi.

Sebelas di antara 12 juri sudah dapat menentukan sikap selagi mereka masih duduk di ruang pengadilan. Hanya seorang yang lebih dari satu jam lamanya tetap ragu-ragu. Anggota juri yang saleh ini berlutut di sudut ruang sidang juri dan berdoa mohon bimbingan Tuhan dalam perkara ini. Dan akhirnya ia berdiri dan menjatuhkan keputusan yang sama dengan pendapat rekan-rekannya “Tidak bersalah”.

Sorak sorai meledak ketika keputusan ini diumumkan dan Hakim Crawford membebaskan Sickles dari tahanan. Oleh para sahabatnya Sickles segera, dipikul di atas pundak dan dibawa keluar gedung pengadilan.

Di jalan para sahabat itu berdansa dan menari-nari, melepaskan kuda dari kereta Sickles dani menarik sendiri kendaraan itu. Sickles diarak ke rumahnya seperti seorang pahlawan. Menjadi lebih populer lagi nama Sickles ketika pada bulan Juli 1859 ia menerima lagi Teresa sebagai istrinya. Kepada orang-orang yang mengecam tindakannya ini, Sickles berkata: “Sepanjang pengetahuan saya tidak ada pasal atau ranya. Ada pula yang mengatakan kode moral yang menyatakan bahwa mengampuni seorang wanita adalah perbuatan hina”.

Teresa meninggal beberapa tahun kemudian. Sementara itu suaminya menjadi anggota Kongres sampai tahun 1861. Ketika Perang Saudara pecah, Sickles kembali ke New York untuk menyusun pasukan ”Excelsior Brigade”. la mula-mula mendapat pangkat kolonel dalam Union Army, kemudian naik menjadi Brigadir Jendral dan pada tahun 1863 ia menjadi Mayor Jendral. Dalam salah satu pertempuran yang ia pimpin, separuh dari anak buahnya tewas sedangkan ia sendiri kehilangan salah satu kakinya yang terpaksa dipotong setelah terluka oleh ledakan granat.

Karier Sickles sebagai tentara berakhir di sini. Setelah itu pada tahun 1865 ia dikirim oleh pemerintah A.S. dengan suatu tugas rahasia ke Amerika Latin. Tahun 1869 ia ditunjuk sebagai Duta besar untuk Spanyol.

Sebagai seorang diplomat Sickles tidak berhasil sedangkan dalam kehidupan pribadinya ia ternyata tak tahu diri. Di bidang kehidupan seks ia tidak lebih saleh dari pada almarhum Philip Burton Key. Selama tahun pertama kediamannya di Madrid, Sickles mempunyai seorang kekasih ternama, yaitu Ratu Elisabeth II sendiri hingga beberapa waktu diplomat AS itu di Eropa terkenal sebagai ”Le Roi Americain de l Espagne” (Raja Amerika di tahta Spanyol). Tahun 1870 Isabella meninggalkan suaminya dan merelakan tahtanya kepada puteranya, Alphonso XII.

Sickles tetap menjabat Duta besar AS untuk Spanyol sampai tahun 1873. Sementara itu pada tahun 1871 ia menikah dengan seorang wanita dari lingkungan istana Sepanyol, Senorit Carmina Creagh.

Sekembalinya ke negaranya, Sickles beberapa tahun menjadi ketua Panitia Monumen-monumen AS dan tahun 1890 menjadi anggota Kongres lagi. Selama tahun-tahun terakhir hidupnya Sickles terus menerus mengalami kesulitan keuangan. la meninggal pada tahun 1914 pada usia 89 tahun.

(Bahan dari: Secret of the House on Fifteenth Street, tulisan Charles Boswell & Lewis Thompson)

Baca Juga: Kekasihnya Tewas di Jalanan

 

" ["url"]=> string(76) "https://plus.intisari.grid.id/read/553835219/rumah-mesum-di-fifteenth-street" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1691169809000) } } [1]=> object(stdClass)#57 (6) { ["_index"]=> string(7) "article" ["_type"]=> string(4) "data" ["_id"]=> string(7) "3635988" ["_score"]=> NULL ["_source"]=> object(stdClass)#58 (9) { ["thumb_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2023/01/05/pengakuan-di-selembar-kertas_dan-20230105065843.jpg" ["author"]=> array(1) { [0]=> object(stdClass)#59 (7) { ["twitter"]=> string(0) "" ["profile"]=> string(0) "" ["facebook"]=> string(0) "" ["name"]=> string(13) "Intisari Plus" ["photo"]=> string(0) "" ["id"]=> int(9347) ["email"]=> string(22) "plusintisari@gmail.com" } } ["description"]=> string(107) "Sebuah keluarga yang hidup berbahagia harus menjadi korban pembunuhan lantaran kesalahpahaman di masa lalu." ["section"]=> object(stdClass)#60 (8) { ["parent"]=> NULL ["name"]=> string(8) "Kriminal" ["show"]=> int(1) ["alias"]=> string(5) "crime" ["description"]=> string(0) "" ["id"]=> int(1369) ["keyword"]=> string(0) "" ["title"]=> string(24) "Intisari Plus - Kriminal" } ["photo_url"]=> string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2023/01/05/pengakuan-di-selembar-kertas_dan-20230105065843.jpg" ["title"]=> string(28) "Pengakuan di Selembar Kertas" ["published_date"]=> string(19) "2023-01-05 18:59:03" ["content"]=> string(32463) "

Intisari Plus - Sebuah keluarga yang hidup berbahagia harus menjadi korban pembunuhan lantaran kesalahpahaman di masa lalu.

--------------------

Pasangan Charles dan Annie Goldmark beserta dua anaknya mencerminkan sebuah keluarga bahagia. Charles (41) adalah pria cerdas, bijaksana, dan sukses sebagai pengacara. Sementara Annie (43), istrinya yang asal Prancis, cantik dan menarik. Kesuksesan mereka bukan hanya dalam ukuran materi, tapi juga kehidupan rumah tangga. Kedua anaknya menyenangkan dan cerdas. Derek (12) amat berbakat dalam permainan bridge, sedangkan Colin (10) aktif di paduan suara sekolah. Charles sudah lama berkarier di Partai Demokrat. Sebagai penasihat hukum di Washington, D.C., ia pernah memainkan peranan penting saat kampanye calon presiden Gary Hart.

Kesuksesan Charles agaknya tak jauh dari apa yang sudah dirintis orang tuanya. Ayahnya, John Goldmark, dikenal sebagai politikus ulung. Reputasinya membuat John Goldmark sering jadi sasaran kritik lawan politiknya lewat publisitas murahan. 

Tahun 1956, setelah mengabdi Partai Demokrat puluhan tahun dengan pos terakhir di kawasan peternakan Colville Indian Reservation, negara bagian Washington, John Goldmark terpilih untuk dijagokan sebagai senator. Tapi digagalkan pada pertengahan tahun ‘60-an sesudah kampanye yang kotor dan penuh intrik. Seseorang dari partai oposisi menebar isu bahwa Sally Ringe, istri Goldmark tidak bersih “lingkungan”. Sally dituduh terlibat kegiatan komunis.

Masa itu komunis sangat ditakuti. Semua orang yang berbau komunis selalu dipojokkan, ruang geraknya dibatasi, kariernya dihancurkan dengan cara yang amat tidak adil.

Sally, ibu Charles yang energik, sensitif, dan jenius sejak kecil memang suka membantu orang dan selalu memihak kaum lemah. Ia pernah bekerja di National Youth Administration di Washington tahun 1930-an. Masa itu era pemerintahan Franklin D. Roosevelt mencanangkan program kesejahteraan. Saat itu ia membuat jaringan dengan beberapa lembaga sosial masyarakat untuk membantu memulihkan perekonomian.

Memang, Sally Ringe pernah tercatat sebagai anggota partai komunis, tapi hanya ikut-ikutan. Itu pun sudah lama ketika bersama teman-teman sebayanya ia membantu masyarakat. Namun lantaran kecewa atas kinerja kelompok ia lantas keluar. Rupanya namanya yang sempat tercatat di daftar kelompok terlarang itu, dipakai sebagai kartu truf para lawan politik untuk menjatuhkan suaminya. Isu tersebut akhirnya bukan hanya mencoreng muka Goldmark sebagai kandidat senator, tetapi sekaligus meruntuhkan nama baik keluarga.

Goldmark akhirnya menuntut fitnah itu. Meski kemudian di pengadilan mereka menang, karier politik John Goldmark telanjur kandas. Akhirnya tahun 1965 mereka pindah dari Colville ke Seattle, tempat John Goldmark berpraktik sebagai pengacara. 

John Goldmark meninggal tahun 1979. Sally masih hidup sampai enam tahun kemudian. Entah, apanya yang salah kalau ternyata kebencian pada John dan Sally itu “terwariskan” pada anaknya berpuluh-puluh tahun kemudian.

 

Natal kelabu

Belum genap setahun sepeninggal Sally, sebuah tragedi dahsyat menimpa keluarga Charles Goldmark pada malam tanggal 24 Desember 1985. Warga Seattle dan segenap kenalan Charles amat terguncang.

Kasus itu dicatat dengan no. 85-551331 di kepolisian Seattle dan no. H85-365 di bagian unit pembunuhan. Sersan Sanford menugaskan Hank Gruber ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengusut tindak kriminal tersebut.

Rumah Charles Goldmark berada di distrik Madrona no. 36, Seattle. Suatu kawasan elite dengan pemandangan indah danau Washington terbentang di depan perumahan. Ketika tiba, Gruber melihat sudah ada unit patroli polisi. Kerlip cahaya lampu pohon Natal terlihat dari jendela depan.

Dane Bean, petugas patroli pertama yang sampai di lokasi, mengaku menerima laporan dari tetangga Charles. Di dalam, mereka menemukan sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Keluarga ini dibantai oleh penjahat barbar. Para korban bergeletakan berlumuran darah, bahkan seorang meninggal dunia.

Namun ada banyak hal yang terlihat janggal, tidak seperti ajang pembunuhan. Ruang makan dan dapur, begitu juga lantai atas, semua terlihat rapi. Sersan Rudy Sutlovich yang datang belakangan segera mengikutinya.

Kamar utama yang berukuran cukup besar sedikit berantakan. Ada lipatan-lipatan kertas, pita, lem, kotak, dan bahan-bahan lain yang belum sempat dibenahi. Permadani mahal itu ternoda percikan darah, sebagian sudah mulai kering. Tampak seorang anak tergeletak. Disampingnya, Anie Goldmark terbaring, tangannya diborgol di belakang. Tali melilit sampai di bagian punggung. Tak ada tanda-tanda perkosaan. Terdapat luka cukup dalam di bagian dada. Bekas pukulan mematikan tampak di bagian kepala. Sebuah gelang emas masih melingkar di tangan Annie dan cincin berlian di jarinya.

Pembunuh rupanya memakai senjata seadanya. Setrika uap dengan pegangan plastik rusak berat, helaian rambut dan darah mengering di bagian logam. Sebuah pisau kecil panjang tergeletak di dekatnya. 14 paramedis dan anggota pemadam kebakaran bergegas menuju ke rumah Charles. Paramedis setengah putus asa menyelamatkan para korban. Mereka berpacu dengan waktu untuk menghentikan perdarahan dari luka yang mengerikan.

Rudy Sutlovich terpana menyaksikan anak-anak Charles yang terbaring dengan cairan otak keluar dari kepalanya. Kemungkinan besar mereka mengalami kerusakan otak berat. Ketika para detektif ke kamar mandi, bak masih basah, lantainya lebih basah lagi. Baju pesta wanita berada di dipan. Kemungkinan Annie baru saja menggunakan shower dan bersiap mengenakan baju pesta ketika pembunuh masuk dan melukainya.

Menjelang pukul 10.45 Sutlovich, Gruber, dan Sanford bergabung dalam penyelidikan itu bersama detektif Sonny, Davis, Duane Homan, dan Jim Yoshida. Regu penyelidik ini terus mengumpulkan bukti, baik di tempat kejadian atau di rumah sakit sampai pukul 07.00 di hari Natal. Cuma mereka belum bisa mengorek keterangan dari para korban yang masih dalam kondisi kritis.

Para detektif percaya penyerang masuk dengan leluasa. Ketika mengamati situasi rumah polisi menemukan jalan yang mungkin dipakai keluar pembunuh. Pintu belakang di lantai bawah terbuka. Kuncinya hilang. Mungkin penyerangan dilakukan beberapa saat sebelum para tetangga datang.

Dr. Michael Copass, kepala bagian medis melaporkan, Charles tidak hanya dipukul secara berulang-ulang di bagian kepala, tetapi juga dilukai dengan pisau dan mengenai otak. Sementara anaknya pun ditikam di bagian kepala. Mereka semua dalam kondisi sangat kritis.

Dari TKP Charles Sutlovich dan Gruber mengambil apa saja yang ada di kamar yang kemungkinan bisa membantu penyelidikan. Salah satunya sapu tangan yang berlumuran darah.

Motif penyerangan masih samar. Tak ada tanda perampokan. Komputer, televisi, senjata antik, lukisan, berlian, dan peralatan elektronik tak disentuh. Satu-satunya yang diambil adalah dompet Charles. Barang itu berada di lantai kamar tidur dengan isi yang sudah berserakan. Siapapun akan terpukul oleh penyerangan yang membabi buta itu. Apalagi korban adalah orang yang terpandang.

 

Pengakuan para tetangga

Kepala polisi Patrick Fitzsimmons pun berada di ruang tamu RS Harborview tempat para korban dirawat. Di situ telah berkumpul teman-teman korban. Mereka yakin, korban tidak punya musuh. Juga tak pernah ada tekanan, ancaman, ataupun dendam atas kasus hukum yang ditangani Charles.

Salah seorang di antaranya, Janet Lilly sempat mengobrol beberapa kali dengan Annie selama beberapa waktu pada 24 Desember, pukul 18.00. Allie Chambers yang sempat membantu Annie mengatur meja bersama sore itu bercerita, “Saya pulang pukul lima kurang seperempat untuk berganti pakaian. Waktu itu Charles mengenakan baju merah dan celana jin. Sementara Annie memakai jin, sweater merah, dan syal biru. Dia akan berganti dengan baju pesta setelah mandi.”

Satu jam lima belas menit sesudah Allie Chambers pulang, dia kembali lagi ke rumah Goldmark bersama keluarganya. Dia terkejut lantaran lampu beranda mati. Mereka mengetuk pintu, tetapi tak ada sahutan.

“Saya kira mereka bergurau, lalu kami duduk-duduk di luar, menunggu. Kami akhirnya pulang dan meninggalkan pesan.” Sampai di rumah, Allie menelepon Goldmark, tetapi tak pernah bisa. Chambers pun kembali ke rumah Goldmark 20 menit kemudian. la mendengar suara samar-samar lewat lubang intip yang ada di pintu dan memanggil suaminya, Leif, dan tetangganya, Ben Walkers, yang mempunyai kunci duplikat rumah Goldmark.

Dengan kunci itu mereka membuka pintu. Lalu menuju sumber suara yang berasal dari lantai atas di kamar utama. Dengan sangat terkejut mereka menemukan keluarga itu di lantai. Leif mendengar suara Charles memanggil-manggil, “Leif .... Leif .... Saya terluka .... Saya terluka,” rintihnya dengan suara gemetar.

Telepon di rumah itu mati. Chambers dan Walker berusaha menutup luka yang ada di tubuh Charles. Mereka juga melihat anaknya tertutup bantal.

Atas permintaan Homan dan Yoshida, Allie Chambers diminta mengingat-ingat sesuatu yang terjadi beberapa jam sebelum pesta. Mereka melihat sebuah pikup truk Datsun hijau tahun 1975 berpenumpang dua orang yang beberapa kali ke rumah Charles.

Serentetan pertanyaan juga diajukan pada tetangga Charles. Dia membukakan pintu untuk seorang asing malam itu. Pria itu membawa kotak putih dan mencerca dengan kata-kata, “Charles ....” Wanita itu mengatakan ia tidak mengenal pria itu. Cuma ia ingat, orang itu bertubuh pendek, berambut gelap, dengan mata yang marah.

Sebetulnya pengirim paket gampang dilacak. Namun menjadi agak rumit karena banyak orang menerima paket di hari Natal. Para penyelidik menemukan sejumlah paket dengan bungkus putih yang tak jelas dari mana asalnya.

Perayaan Natal di rumah Charles urung sudah. Yang tinggal cuma kesedihan mendalam para tetangga yang menaruh karangan bunga di pintu depan rumah. Semilir angin menambah aroma kesedihan. Polisi memasang pita kuning. Tak seorang pun diizinkan masuk.

Kabar dari RS tidaklah menggembirakan. Charles, Derek, dan Colin dalam keadaan kritis. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya. Otaknya mengalami trauma yang berat.

Para detektif sejauh ini belum bisa mengungkapkan motif dan dalang pembunuhnya. Polisi telah mengambil sidik jari, tetapi itu belum cukup kecuali mereka bisa membandingkan dengan sistem identifikasi otomatis sidik jari. Lantaran pembunuh menggunakan sarung tangan, teka-teki pembunuhan semakin sukar dipecahkan.

 

Ditemukan tulisan cakar ayam

Sementara itu di distrik Seattle Broadway beberapa kilometer sebelah barat TKP, sesuatu sedang terjadi. Max Stingley penghuni apartemen di Broadway District yang dikenal baik hati, sore-sore kedatangan tamu tak dikenal. Seorang pria setengah baya mengaku bernama David mengetuk pintu. Sang tamu memperkenalkan diri sebagai salah seorang anggota Fox, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang dikenal beraliran bebas. Mereka sering berdiskusi untuk memperjuangkan kemurnian konstitusi AS. Max tak kuasa menolak David yang ingin menumpang. David tampak pucat dengan noda hitam di bawah matanya. Karena lelah, Stingley menyuruh David untuk segera tidur.

Ketika bangun pagi Stingley terkejut menemukan selembar kertas dengan tulisan cakar ayam yang tidak dimengerti artinya, di kamar tidur David. Tak urung tulisan itu membuat bulu kuduknya meregang.

Saya adalah orang yang dicari dalam kasus Goldmark. Saya sadar, apa yang telah saya lakukan adalah tindakan yang mengerikan. Itulah sebabnya kini Anda mencari saya.

Saya tegaskan, perbuatan ini tidak melibatkan orang Iain. Mereka yang dekat dengan saya pun tidak tidak tahu bahwa saya dicari polisi atas berbagai tuduhan. la menerima pesan di mesin penjawab, tetapi saya telah menghapusnya sebelum ia tahu.

Saya tidak menggunakan senjata yang saya beli beberapa minggu lalu. Saya telah membuang senjata itu. Saya mengelabui mereka dengan pistol mainan yang dapat Anda temukan di loker. 

Saya harap jangan membawa-bawa orang-orang tak berdosa dalam kasus ini. Apa yang saya lakukan sudah cukup. Mungkin saja saya akan mengatakan, mengapa saya lakukan hal ini. Sehingga Anda tak usah bertanya pada orang lain. Hidup saya kacau sejak ditinggal istri. Sue berusaha menguatkan diri saya, tetapi ....

Max Stingley belum mendengar kasus pembunuhan Goldmark. Selama dua hari ini ia tak sempat baca surat kabar atau melihat berita di TV. Setelah membaca tulisan aneh tersebut, ia kemudian mengamati David yang masih terkantuk-kantuk. Yang dia tahu David memang agak aneh.

David bangun dan segera duduk di depan TV ketika Stingley keluar membeli rokok. Berita pembantaian keluarga Goldmark dibacanya dari halaman depan koran Post Intelligencer yang dibelinya dari kios rokok. Seketika perut Stingley mual. Tulisan yang ia temukan di atas meja bukanlah rekaan. Ia tersadar, semalam tidur dengan pembunuh Goldmark. Lewat nomor emergency 911, Max segera mengontak kepolisian setempat. Saat itu pukul 07.00 tanggal 26 Desember.

“Saya segera ke sana,” seru Sersan Sutlovich yang menerima teleponnya. Polisi yang penasaran ini langsung meluncur ke bukit Broadway bersama Sonny Davis. “Kau yakin orang itu pembunuhnya?” tanya Sutlovich pada Davis. Yang ditanya hanya mengangkat bahu. Rupanya David Rice sudah mencium tanda bahaya. la tahu kalau sedang dikejar polisi. Sebelum petugas masuk ke apartemen, ia kabur ke arah utara menuju Avenue 11. Dalam waktu yang tidak terlalu lama para petugas bisa meringkusnya dan segera membawanya ke kantor polisi. Rudy Sutlovich dan Sonny Davis pun segera datang.

Untuk pertama kali Sutlovich melihat orang yang bernama David Lewis Rice. 

“Mengapa kamu lari?” tanya Sutlovich. 

“Saya tak bisa menjawabnya.” 

David Rice (27), masih muda, berambut hitam, berkumis, dan bercambang. Dia sebetulnya tampan, meskipun kulitnya pucat, tetapi ada sesuatu yang aneh. Gerakan dan gaya bicaranya kaku, seperti orang yang menderita gangguan psikologis. Sesampainya di kantor polisi Rice menolak didampingi pengacara dalam proses penyidikan. Justru ia sendiri yang akan menceritakan semuanya kepada polisi.

 

Obsesi antikomunis

Di depan tim penyidik Rice mengakui bahwa kertas selembar dengan tulisan cakar ayam yang ditemukan di apartemen Max Stingley adalah miliknya. Pengakuan selanjutnya direkam dalam pita kaset.

Rice lahir pada 11 November 1958 dan besar di Arizona. Dia mempunyai dua kakak laki-laki dan satu perempuan yang tak pernah cocok. Kakaknya suka mengolok-olok dan menertawakannya karena ia paling lemah. Ada beberapa kasus psikologis yang pernah dialaminya sewaktu muda. Antara lain ketika berumur 11 tahun, sang kakak pernah menemukan Rice tergantung di tali tak sadarkan diri di kamarnya. Badannya sudah membiru. Mereka memotong tali itu, membawanya ke dokter dan selamat.

Untunglah ia kemudian menikah dan mempunyai anak. Rice rupanya tidak bisa bekerja dengan orang lain dan merasa dunia semakin tak berpihak padanya. Pada awal tahun 1980 Rice pindah ke Seattle karena merasa dekat dengan kakaknya yang tinggal di Washington. Kendati saudaranya sering mengejek, tetapi ia masih peduli pada Rice. Selama beberapa waktu ia bekerja sebagai tukang las di perusahaan baja, bahkan sempat punya toko. Tetapi kemudian bisnisnya bangkrut, sementara di tempat kerja ia diwajibkan melunasi hutangnya.

Pelan-pelan-semua ketidakadilan itu memicu kebencian dalam diri Rice. Rupanya dalam kondisi emosional itu ia terpengaruh oleh buku dan bacaan yang dibacanya. Tanpa sadar ia menjadi sangat antikomunis. Menurut pemahamannya komunislah yang menyebabkan nasibnya menjadi begitu. Kemampuannya sebagai tukang las tak lagi berarti. Ia gelisah dan lebih suka menganggur. Selama 18 bulan dia cuma berkeliling di Seattle, hidupnya penuh dengan rasa fitnah dan balas dendam. Dia sangat marah pada bekas bosnya yang dianggap telah menyengsarakannya.

Tanpa sengaja, di jalanan pada awal tahun 1985, Rice berjumpa dengan dr. Suzanne Perreau, seorang ahli tulang. Pengelola LSM ini mengajak David untuk ikut serta dalam kegiatan kelompoknya. Agaknya dia sangat bersemangat dengan diskusi-diskusi yang diselenggarakan oleh klub itu.

Rice pun mulai akrab dengan senapan, bahan-bahan peledak, aktivitas ketentaraan, dan usaha-usaha melawan komunisme.

Pada saat menganggur itu, Rice membaca artikel yang membahas soal perubahan peta politik dunia. Dia menyimpulkan artikel-artikel itu menunjuk pada sosok politisi Charles Goldmark sebagai pemimpin komunis. Rice agaknya kurang paham sejarah. Karena sebetulnya yang bersangkut paut dengan partai komunis adalah Sally Goldmark, ibu Charles. Itu pun puluhan tahun sebelum ia lahir.

“Anda tahu siapa Goldmark?” tanya Sonny Davis di ruang pemeriksaan bagian pembunuhan. 

“Ya, lewat sejarah,” jawab Rice ragu. 

“Sejarah yang mana?”

“Dari guntingan-guntingan koran ....” Padahal Charles Goldmark adalah sosok terkemuka dari Partai Demokrat. Rupanya daya ingat Rice agak terganggu. Para detektif penyidik itu sangat sedih karena sepertinya Rice salah sasaran. “Charles Goldmark tak pernah melakukan hal itu. Anda keliru sasaran.” 

“Bagaimana Anda bisa tahu tempat tinggal Goldmark?” tanya Davis 

“Dari guntingan koran. Disitu diberitakan dia baru saja pindah ke rumah no. 36.” Rice kemudian mengatakan dia membaca berita itu di Seattle Times yang terbit bulan Maret 1983.

“Anda berbicara beberapa tahun lalu. Apakah Anda telah berpikir tentang keberadaan keluarga Goldmark, selama beberapa lama, paling tidak selama enam bulan terakhir.” Rice menjawab kalau ia telah mempersiapkan mental untuk melaksanakan rencananya.

“Apa yang akan Anda lakukan?” tanya Boatman.

“Saya akan membunuh Goldmark.” 

Pengakuan itu juga menunjukkan pada pertengahan tahun 1985 keputusan untuk membunuh Charles Goldmark telah bulat. Dia berpandangan Goldmark adalah pengikut komunis. Padahal dalam kenyataannya tidak begitu. Tetapi bagi Rice, Goldmark adalah musuh besar.

 

Pistol mainan dan karabin

Kesaksian yang diberikan dr. Perreau makin memberi gambaran betapa kondisi kejiwaan Rice semakin tidak stabil. Suatu hari lantaran mencuri dan menggadaikan televisi milik dr. Perreau, Rice diusir dari markas LSM tersebut tanggal 28 Desember.

“Saya perlu uang. TV itu tergadai sepuluh dollar,” kilahnya.

Namun lantaran menganggur, kondisi keuangannya semakin memprihatinkan. Kegiatannya cuma mengurung diri dan mencari “musuh” di perpustakaan. Ia semakin gelap mata pada komunisme.

Jawaban dari seluruh persoalannya tampaknya teramat gampang. Ia bermaksud ke rumah Goldmark dan mencuri sebanyak mungkin uang. Dalam pandangannya kesulitan keuangan itu disebabkan oleh Goldmark dan orang-orang yang sepaham dengannya.

Rice sudah bertekad membunuh Goldmark dan istrinya. Dia sangat benci kendati tak pernah bertemu. Ia cuma bermodal nekat karena tak pernah menyelidiki siapa sebenarnya Charles.

Tampaknya dunia telah menipu Rice. Pada hari Natal David pulang ke rumah dr. Perreau untuk menyiram tanaman. la mengenakan jin biru, sweater merah, sepatu bot, dan sarung tangan katun.

“Saya juga mengambil pistol mainan dan membawa senapan, tetapi saya pikir akan berisik jika ditembakkan,” begitu pengakuannya saat direkam polisi. Rice mengaku telah membeli karabin M-1 dari pasar senjata gelap. Tapi ia membuangnya dua minggu sebelum malam Natal karena dianggap terlalu besar dan berat.

“Jadi, kapan Anda membawa pistol mainan?” tanya Davis.

David mengatakan ia membelinya di toko mainan pada malam Natal, seharga tiga dolar. Dia juga membeli dua sarung tangan di toko olahraga. Dia memasukkan senapan, sarung tangan, borgol, dan dua botol obat bius pada tas hijau. Dengan bus no. 7 ia menuju kota, lalu berganti bus no. 3 ke rumah Goldmark.

Dia memasukkan dua botol obat bius karena ia pikir hanya terdapat dua orang, Tuan dan Ny. Goldmark di rumah itu. Hitung-hitung susdah enam bulan ia menyiapkan rencananya.

“Anda juga memasukkan Ny. Goldmark sebagai target?” tanya John Boatman. 

“Ya.” 

“Apakah juga termasuk orang lain yang ada di sana?” 

“Ya.” 

“Bagaimana Anda tahu bus yang menuju ke sana?” tanya Davis.

 “Saya sudah ke sana dua kali sebelumnya.”

 

Dipukul dengan setrika uap

Tanpa menyadari bahwa sebenarnya ia salah sasaran, pada minggu pertama bulan Desember dia ke rumah Goldmark dan berharap melihat calon korbannya lewat jendela. Tetapi rencananya gagal karena hari keburu gelap. Dia tetap berada di jalan selama satu jam. Ia takut ketika seseorang mengamatinya, sehingga dia segera ke belakang rumah di mana ada gang kecil dan garasi. 

Dia juga mengakui pergi ke kantor Goldmark, tetapi tak pernah mau ke ruang tamu. 

Pada hari naas itu Rice tiba di rumah Goldmark beberapa menit lewat pukul 19.00. Dia mengetuk pintu. Betapa terkejutnya ketika tahu yang membukakan pintu seorang bocah, anak Charles Goldmark.

“Saya tak menyangka mereka punya anak kecil. Saya kira di rumah itu hanya tinggal Charles dan istrinya. Tapi saya langsung bilang, ‘Saya dari Farm Cab, saya membawa paket untuk Charles.’ Anak itu lalu memanggil Charles.” Sementara itu Rice mengambil pistol yang disembunyikan di balik kotak.

“Secepat kilat Charles sudah berada di depan saya .... Saya perintahkan Charles menunduk .... Sementara anak itu berlari ke dapur.” Rice menutup pintu dengan menendangnya, sehingga tak seorang pun melihat dari luar. Goldmark sangat terkejut, karena ia kira tamu-tamu sudah datang, namun ternyata seorang bersenjata.

Rice meminta Charles memanggil anaknya dan kemudian membawanya ke lantai atas. Sesampainya di lantai atas Charles meminta istrinya yang sedang mandi keluar. 

Keluarga itu digiring ke kamar utama, tempat kedua anaknya berkumpul ketakutan. Semuanya diminta menunduk sehingga mereka tidak melihat pistol mainan yang dibawa Rice. Ia mengikat kedua tangan Charles dan istrinya ke belakang dengan muka menempel pada lantai karpet.

“Anda masih ingat baju apa yang dipakai Charles?” tanya Boatman. 

Sweater coklat dan ... baju coklat ... em ... saya pikir pantalan abu.”

Untuk kesekian kalinya Rice bingung. Dia beranggapan Charles dan istrinya sudah tua dan tak menduga mereka masih punya anak kecil. “Saya sempat menghentikan niat saya selama beberapa menit. Badan saya gemetaran. Tapi apa boleh buat, saya telanjur berada di situ. Rencana harus jalan terus.”

Mereka semua tak berdaya di lantai kamar tidur utama. Kemudian Rice mengambil obat bius dan memaksa Goldmark membauinya sehingga ia tidak sadarkan diri dan terbaring di dekat Anne.

Sementara itu Rice turun ke dapur mencari pisau. Ia mendapatkan pisau panjang 25 cm. Selanjutnya ia mencari pemukul daging, tapi tak mendapatkannya. Akhirnya diambilnya sepotong besi.

Dengan senjata seadanya tersebut, Rice membantai keluarga Charles Goldmark yang tak berdosa. Karena membabi buta, pembunuhan sadis itu telah meninggalkan sisa-sisa darah di mana-mana, termasuk celana dan jaketnya. Sepatu kirinya yang juga ada bekas darah, ia bersihkan dengan bajunya.

Pukul 19.07, ia pergi sebelum para tamu pesta Natal datang. Rice bermaksud mengambil uang, tapi tak ada waktu untuk mencarinya. Yang pasti prioritas menghabisi “pengikut komunis” telah tercapai.

Setelah mematikan lampu, ia keluar lewat gerbang belakang ke arah jalan kecil. Dia bermaksud kembali ke rumah dr. Perreau dengan berjalan kaki, meski jaraknya cukup jauh 2 km. Padahal dengan pakaian yang penuh darah pasti jadi pertanyaan banyak orang.

“Ditengah jalan saya sadar kalau sarung tangan saya ketinggalan, lalu saya segera pulang ke rumah berganti pakaian dan kembali ke rumah Charles lewat lantai dasar mengambil sarung tangan,” akunya.

“Anda kembali lagi ke rumah korban?” tanya David heran. Sangat tidak masuk akal. Yang jelas Rice kembali ke tempat pembunuhan antara pukul 20.30 - 21.00. Dia mengira tindak kejahatannya belum diketahui orang. “Saya tidak melihat mobil polisi. Yang tampak cuma sedikit cahaya lampu dan kerumunan orang.”

Gila. Itu artinya ketika para detektif sampai di TKP, mereka tidak menyadari pembunuhnya cuma berada 17 m dari tempat itu.

“Saya pikir, saya akan tertangkap ... mereka mendapatkan sidik jari di sarung tangan.” 

“Anda menyesal atas apa yang Anda lakukan pada keluarga Goldmark?” tanya Sonny Davis. 

“Ya. Tapi semuanya telah terjadi. Sudah terlambat.”

 

Pengadilan yang ternoda

Dalam pada itu informasi terakhir tentang para korban yang dirawat di rumah sakit menjadi berita buruk bagi semua orang. Colin Goldmark akhirnya meninggal pada 28 Desember 1985. Tak lama kemudian Charles pada 9 Januari 1986 dan disusul Derek Goldmark pada 30 Januari 1986. Keluarga yang baik dan menyenangkan itu akhirnya pergi meninggalkan semua orang yang dicintainya.

Pengadilan David Lewis Rice dimulai pada Mei 1986. Dia didampingi dua pembela Tony Savage dan Bill Lanning. Para pengacara membela Rice yang mereka anggap kurang waras, hingga tidak dapat didakwa bertanggung jawab pada pembunuhan yang dilakukannya. Sementara Bill Downing, penuntut perkara, menegaskan Rice telah merencanakan penyerangan itu.

Pada tanggal 10 Juni juri mengumumkan Rice divonis hukuman mati. Tetapi kisah pembunuh Goldmark belumlah berakhir. Sampai akhir tahun 1986, ia masih tetap hidup. Bahkan melalui pengacaranya ia meminta persidangannya dibuka kembali di pengadilan yang lebih tinggi.

Masyarakat pun terkejut ketika pada 6 Agustus 1993 Hakim Jack Tanner dari pengadilan distrik membatalkan hukuman mati yang dijatuhkan pada Rice. Tanner berpandangan, Rice tidak bisa dijatuhi hukuman mati karena saat keputusan itu dijatuhkan ia tidak berada di ruang sidang. 20 menit sebelum hakim menjatuhkan vonis, Rice terpaksa dilarikan ke rumah sakit. 

Selidik punya selidik, ternyata beberapa jam sebelumnya Rice menelan beberapa bungkus tembakau yang ia campur air. Ia terpaksa dibawa ke RS Harborview untuk dipompa perutnya. Suasana pengadilan pun geger. Sampai kisah ini dibukukan keputusan belum diambil. Yang jelas hukuman yang layak dijatuhkan atas diri Rice adalah penjara seumur hidup tanpa syarat. (Ann Rule)

Baca Juga: Ketemu Tersangka Ketiga

 

" ["url"]=> string(73) "https://plus.intisari.grid.id/read/553635988/pengakuan-di-selembar-kertas" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1672945143000) } } }