array(1) {
  [0]=>
  object(stdClass)#49 (6) {
    ["_index"]=>
    string(7) "article"
    ["_type"]=>
    string(4) "data"
    ["_id"]=>
    string(7) "3643299"
    ["_score"]=>
    NULL
    ["_source"]=>
    object(stdClass)#50 (9) {
      ["thumb_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2023/01/05/cemburu-buta-110-tahun-penjara-o-20230105045532.jpg"
      ["author"]=>
      array(1) {
        [0]=>
        object(stdClass)#51 (7) {
          ["twitter"]=>
          string(0) ""
          ["profile"]=>
          string(0) ""
          ["facebook"]=>
          string(0) ""
          ["name"]=>
          string(13) "Intisari Plus"
          ["photo"]=>
          string(0) ""
          ["id"]=>
          int(9347)
          ["email"]=>
          string(22) "plusintisari@gmail.com"
        }
      }
      ["description"]=>
      string(136) "Pamela Mason ditemukan tewas mengenaskan di garasinya. Pembunuhan dilakukan secara profesional dan tidak ada harta bendanya yang hilang."
      ["section"]=>
      object(stdClass)#52 (8) {
        ["parent"]=>
        NULL
        ["name"]=>
        string(8) "Kriminal"
        ["show"]=>
        int(1)
        ["alias"]=>
        string(5) "crime"
        ["description"]=>
        string(0) ""
        ["id"]=>
        int(1369)
        ["keyword"]=>
        string(0) ""
        ["title"]=>
        string(24) "Intisari Plus - Kriminal"
      }
      ["photo_url"]=>
      string(113) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2023/01/05/cemburu-buta-110-tahun-penjara-o-20230105045532.jpg"
      ["title"]=>
      string(30) "Cemburu Buta 110 Tahun Penjara"
      ["published_date"]=>
      string(19) "2023-01-05 16:56:20"
      ["content"]=>
      string(36355) "

Intisari Plus - Pamela Mason ditemukan tewas mengenaskan di garasinya. Pembunuhan dilakukan secara profesional dan tidak ada harta bendanya yang hilang. Siapa tega melakukannya?

--------------------

Pamela Mason dikenal sebagai wanita yang baik. Di usianya yang sudah di atas kepala empat, ia masih tetap tampak cantik. Selain terkenal dan hebat, wanita ini juga kaya raya. Di Boone County, ia salah seorang pemilik Big Red Flea Market, semacam pusat jual beli (pelelangan) barang bekas yang sangat terkenal.

Sudah seumur-umur Pamela Mason tinggal di Boone County. Rumahnya, sebuah farmhouse, bangunan rumah megah di daerah pertanian amat luas. Letaknya dekat North Highway 421. Di tempat ini ia hidup berdua dengan seorang cucu laki-lakinya. Ia sudah bercerai dari suaminya, John Mason, dan mempunyai tunangan baru lagi.

Tak ada hujan ataupun angin, petir bagaikan menyambar kawasan yang tenteram itu. Suatu siang yang panas, pada tangga 15 Oktober 1985, Pamela Mason ditemukan tewas mengenaskan. Tubuhnya telentang di lantai ruang garasi dan lehernya melintir kaku dengan kepala menoleh ke satu sisi. Lelehan darahnya membekas dari sisi kanan kepala dan membentuk genangan yang lengket di atas lantai semen. Nenek seorang cucu ini dibunuh secara kejam.

Sheriff Ern Hudson agak terlambat datang di tempat kejadian. Pasalnya, pada saat terjadi pembunuhan itu ia berada di Kota Indianapolis dan sedang mengusut kasus kriminal lain. Begitu ia tiba di lokasi, jalan masuk yang berbentuk U di halaman rumah Pamela Mason sudah dipenuhi sejumlah mobil polisi dan mobil boks polisi. Usai menanyai petugas di tempat kejadian, Hudson masuk ke garasi, tempat di mana korban tergeletak. Dingin dan gelap.

Ern Hudson bukan sekadar sheriff biasa, melainkan juga kepala penyidik di Boone County, Indiana. Ia seorang detektif yang hebat. 

 

Tulang tengkoraknya retak

Penyidikan demi penyidikan dilakukan. Sejumlah detektif dan ahli masalah kriminal ditanyai. Hudson juga mewawancarai tunangan baru Pamela dan salah seorang keluarganya.

Perlahan-lahan kronologi kejadiannya mulai terungkap. Pada pukul 11.00, di hari yang naas itu, Pamela dan seorang familinya pergi ke Pittsboro untuk meninjau sebuah rumah yang hendak dibelinya. Setelah itu, mereka mampir untuk bersantap siang di sebuah restoran fast-food di Lebanon.

Pamela, kata familinya itu, kemudian mengantarnya pulang lalu melanjutkan perjalanan pulang lewat jalan yang sama ke farmhouse-nya. Rencananya, Pamela akan sekalian menjemput cucu laki-lakinya dari tempat penitipan anak. Namun, yang terjadi kemudian justru si famili menerima telepon dari direktur pusat penitipan anak tersebut. “Pamela ternyata tidak datang menjemput cucunya,” tuturnya kepada Hudson. “Saya curiga, pasti ada yang tak beres.”

la lantas mencoba menelepon Pamela di rumah. Tapi sama sekali tak ada jawaban. Akhirnya, setelah menjemput cucu laki-laki Pamela, ia langsung ke farmhouse.

Mobil Pamela Mason tampak berada di halaman tapi tak seorang pun membukakan pintu. Setelah mengecek lantai satu rumah megah itu, ia kemudian menelepon tunangan Pamela.

“Saya datang seketika itu juga,” ujar tunangan Pamela kepada Sheriff Hudson. “Saya periksa seluruh rumah, saya coba ke garasi.”

Pintu garasi terkunci. Dengan alat pengendali jarak jauh elektronik yang ada di mobil Pamela, pria itu berhasil membukanya dan masuk.

“Ia (Pamela) tergeletak di atas lantai,” tuturnya kepada Hudson. “Di lantai banyak darah.”

Penyidikan masih dilanjutkan hingga menjelang petang. Para pakar kriminal mengukur dan memotret jasad korban dan dengan cermat menyelidiki ruang garasi yang berantakan. Penyidikan diperluas ke seluruh bagian rumah, bahkan sampai ke tanah pekarangan.

Kasus pembunuhan itu betul-betul mengejutkan banyak orang. Menurut ahli patologi, dr. John Olson, korban mengalami luka memar yang sangat parah pada bagian sisi kanan kepala, tampak seperti bekas dihantam dengan martil. Pukulan itu meretakkan tulang tengkoraknya mulai dari telinga sebelah kanan sampai ke bagian atas mata kanan.

“Suatu pukulan dahsyat,” tegas ahli ilmu patologi itu. Kemudian korban ditembak empat kali, semua dari jarak dekat sekali.

Diduga, pembunuhan itu terjadi antara pukul 14.45 (pukul 14.30 - 14.45 seorang tetangga melihat Pamela berdiri di dekat kotak surat) dan pukul 15.30 (saat si famili memasuki halaman rumah itu).

Pembunuhan itu sangat profesional. Meskipun sudah dilakukan pengusutan secara teliti, para penyidik nyaris tidak menemukan petunjuk apa-apa, selain luka kepala bekas tembakan. Mereka lalu menduga, korban dijebak paksa masuk ke garasi yang besar, dingin, dan gelap seperti gua itu, tempat ia dieksekusi.

Motif pembunuhan yang mengerikan itu amat sulit dipahami. Sebagai pemilik Big Red Flea Market, Pamela sering kali membawa banyak uang tunai. Dompetnya berisi uang kontan senilai hampir AS $ 2.000. Anehnya, uang yang ditemukan di samping tubuh korban, masih utuh.

Tidak ada tanda-tanda pemerkosaan atas diri Pamela. Pun tak ada indikasi ia meronta-ronta melawan penyerangnya.

Di mata Sheriff Hudson, ini kasus yang aneh. Sungguh-sungguh aneh.

Hanya ada satu orang yang diharapkan bisa memperjelas keganjilan itu, yakni mantan suami Pamela, John Mason (47). Tanpa membuang waktu polisi meluncur ke apartemen mewahnya di Big Red Flea Market. Tapi yang diburu tidak ada di rumah.

Menjelang petang pada hari itu juga, kebetulan John Mason menghubungi seorang familinya di Indiana bagian selatan dan mendapat kabar bahwa polisi mencarinya. Mason berjanji akan segera pulang.

 

Menolak uji kebohongan

Pada tanggal 16 Oktober, John Mason masuk ke kantor Sheriff. “Anda ingin bicara dengan saya?” tanyanya kepada Ern Hudson yang berada di hadapannya.

“Mungkin Anda bisa menceritakan kepada kami di mana Anda berada kemarin pagi?” kata Hudson balik bertanya.

Mason menggangguk.

Sebagai seorang pengusaha di Boone County, ia mengaku sibuk sekali pada tanggal 15 Oktober itu. Pagi hari ia pergi ke Boone County State Bank untuk membicarakan masalah bisnis pinjaman dengan seorang petugas bank. Sorenya, bersama teman wanitanya ia duduk minum-minum wiski campur es soda di sebuah bar di West Wilcox. “Sekitar pukul 18.00 mereka makan malam, kemudian meluncur ke Nashville, Tennessee.

“Saya baru mendengar kabar tentang Pamela ketika saya menelepon saudara saya itu,” tutur Mason kepada Sheriff Hudson. “Ia mengatakan, polisi mencari saya, jadi saya segera pulang.”

Mason ngotot tidak tahu-menahu perihal kasus pembunuhan istrinya. Meskipun sudah bercerai, ia mengaku masih merasa dekat dengan istrinya. “Saya menikahi wanita itu ketika ia berumur 14 tahun. Saya sangat mengenalnya,” ucap Mason.

Ia merasa sedih dan marah atas berita pembunuhan itu. “Saya berharap Anda bisa menangkap pelakunya,” pintanya kepada penegak hukum.

“John, maukah Anda melakukan uji polygraph?’ kata Sheriff Hudson kepada Mason, untuk mengungkap kebohongan.

“Tidak!” cetus Mason. “Tapi kalau uji itu bisa membantu Anda, saya akan melakukannya.”

Usai interogasi, Mason meninggalkan kantor Sherif.

Namun itu belum berakhir. Pada tanggal 22 Oktober, John Mason menyewa sendiri seorang detektif swasta Indianapolis untuk melakukan penyelidikan atas kematian mantan istrinya. la menawarkan hadiah $ AS 100.000 kepada siapa saja yang dapat memberikan info berharga.

Lucunya, justru uji polygraph tidak ia kerjakan dengan alasan pengacaranya tidak setuju.

Hal itu tak mengherankan Hudson, karena bagaimanapun, Mason adalah terdakwa utama dalam kasus pembunuhan istrinya.

“Semua terpulang ke motifnya,” ujar Hudson kepada seorang wartawan, bertahun-tahun kemudian. “Siapa yang diuntungkan atas pembunuhan itu?”

Jawabannya kembali lagi, John Mason. Semua terpusat sekitar perceraian mereka.

Berdasarkan pengakuan John Mason di hadapan penyidik, ia mengaku jengkel dan kesal ditinggal istrinya. Ia juga tidak senang mendengar Pamela diam-diam menjalin hubungan dengan lelaki lain, seorang juru lelang di Big Red Flea Market. Bagaimana Mason tak tersulut, ia sendiri yang merekrut pria itu.

Mason semakin terbakar karena Pamela dan teman prianya itu merencanakan membuka rumah pelelangan sehingga bakal bersaing dengannya.

Tapi yang paling menyakitkan Mason adalah urusan farmhouse. Sebagai bagian dan proses penyelesaian perceraian mereka, Pamela punya rencana menggadaikan rumah itu. Uangnya akan dibelikan rumah lain di Pittsboro. Transaksi itu mestinya diselesaikan pada tanggal 18 Oktober, 3 hari setelah Pamela dibunuh secara kejam.

Pukulan martil dan tembakan 4 buah peluru pada kepala Pamela Mason ternyata telah mengubah semuanya. John Mason sekarang punya hak penuh atas farmhouse dan Big Red Flea Market. Rezeki nomplok sebesar AS $ 300.000, yang mesti dibayar dengan nyawa Pamela Mason.

Masuk akal bila harta warisan itu membuat John Mason sebagai calon tertuduh. Tingkah polah dan sikapnya selama interogasi pun tidak membantu. Di hadapan penyidik Mason menangis dan beberapa kali berhenti untuk mendapatkan kembali ketenangan.

Tapi Sheriff Hudson memberi ‘catatan khusus’ pada air mata itu, “la memainkan air mata buaya.” Berpura-pura.

Mason menyangkal terlibat dalam kasus pembunuhan istrinya. Meski demikian dalam interogasinya tercetus juga dari mulutnya, “Seorang pria yang sudah menikah selama saya, bisa melakukan apa saja bila istrinya menceraikan dia untuk kabur ke pelukan pria lain.”

la pun mengingatkan Hudson, “Ingatlah, Ern ... seorang teman baik tak akan buka mulut.”

Namun karena yakin bahwa Mason berada di belakang kematian mantan istrinya, Sheriff Hudson terus memeras otak, mencari bukti yang dapat melemparkan Mason ke balik jeruji penjara.

Sayang, Mason punya alibi yang amat kuat pada saat terjadi pembunuhan, Mason berada di Boone County State Bank atau minum-minum di sebuah bar setempat!

Jadi pastilah Mason tidak memegang martil ataupun menarik picu sendiri. Seseorang telah melakukan itu untuknya. Itu dugaan Sheriff dan para detektif. Jadi belum ada alasan kuat untuk bisa menahan John Mason.

 

Ibarat kucing hitam

Selama empat bulan berikutnya, yang berwajib berusaha melacak si pembunuh bayaran. Mereka menanyai lusinan saksi.

John Mason masih sebagai orang yang bebas dan kembali bekerja seperti biasanya. Bahkan Big Red Flea Market yang kini menjadi “miliknya” makin laris saja. Uang terus bergulir ke kantungnya. Duda tua itu tetap mempertahankan gayanya yang angkuh, menerima tamu di bar favoritnya, dan kerap kali ditemani wanita cantik.

Paling sering, ia berkencan dengan Ilse Daniels (43) pemilik rumah makan South Meriden Street. Keduanya kerap bermesraan dan minum-minum di bar langganannya.

Akhir bulan November, dua sejoli yang sedang mabuk asmara itu berlibur dan bersenang-senang selama dua minggu di Florida. Pada tanggal 8 Desember, wanita cantik tersebut ditemukan tewas dengan badan setengah telanjang dan wajah menelungkup, terendam air pantai Fort Pierce, di Florida bagian selatan. Berjarak ribuan mil ke arah selatan dari Kota Indianapolis.

John Mason memang sempat melaporkan bahwa Ilse hilang pada pukul 11.00, setelah mereka berpisah di pantai. la dan beberapa teman dekatnya diinterogasi. Mason mulai menghadapi kehancuran.

“Ini tragedi yang mengerikan,” kata Mason kepada polisi.

Memang tragedi. Tapi betulkah ini kecelakaan?

Dari hasil autopsi ditemukan bahwa Ilse tewas tenggelam. Namun kenyataannya menunjukkan, korban ditenggelamkan ke dalam air secara paksa, dan sebelumnya menerima beberapa pukulan pada bagian kepalanya. Ada seorang saksi mengatakan melihat seorang wanita meronta-ronta melawan seorang laki-laki di tempat itu.

John Mason menegaskan tak tahu apa-apa atas kejadian itu. Ketika ditanya penyidik, kenapa ia baru melaporkan Ilse hilang hampir 6 jam setelah mereka diketahui berduaan untuk terakhir kalinya, jawabnya, “Saya sedang mencarinya. Saya berharap dapat menemukannya.”

Mason masih belum bisa dituntut. Tapi yang berwenang di pantai Fort Pierce Florida, tetap curiga. Demikian juga Sheriff Ern Hudson.

Hanya dalam waktu dua bulan sudah jatuh korban dua orang wanita. Rupanya, tragedi itu setia mengikuti John Mason, ibarat kucing hitam.

Sheriff pun bertanya-tanya: Apakah Ilse Daniels tahu perihal pembunuhan atas Pamela Mason, sehingga ia sengaja dilenyapkan? Dengan begitu Ilse tidak akan pernah dapat menceritakan kepada yang berwenang. Polisi pun terus menduga-duga demikian.

Bulan berganti bulan terlewati. John Mason meninggalkan Florida, pulang ke Boone County dan kembali sibuk dengan bisnisnya seperti tidak terjadi apa-apa. la segera berkencan dengan wanita yang lain lagi. Tetap berlagak seperti tidak pernah ada masalah apa-apa.

 

Lima tahun kemudian

Tahun sudah berganti lima kali, sementara pelaku pembunuhan belum juga tertangkap. Di Kantor Sheriff Boone County, Sheriff Hudson masih terus bekerja keras untuk membongkar kasus dua tragedi pembunuhan itu. Perkara tidak dipeti-eskan.

Akhirnya, betul juga apa yang pernah diomongkan Hudson, “Cepat ataupun lambat seseorang pasti akan buka mulut.”

Kira-kira hampir lima tahun berlalu setelah pembunuhan Pamela, seseorang mau buka mulut.

Awal tahun 1990, setelah bertahun-tahun menderita serangan jantung, David Ralston menemui Sheriff Hudson.

“Anda masih ingat Pamela Mason?” tanya Ralston kepada penegak hukum itu.

Bagi Hudson, peristiwa buruk yang mengerikan itu senantiasa terpatri dalam benaknya, seperti kejadian kemarin sore.

“Ya,” jawab Sheriff. 

“Saya dapat membantu Anda memecahkan teka-teki itu,” ucap Ralston. Tapi sebagai balas jasa, ia minta kepada Sheriff untuk bermurah hati mau menolong anak laki-lakinya yang dipenjara gara-gara mengendarai mobil sambil mabuk.

“Baiklah,” sahut Sheriff Hudson.

Kemudian Ralston menceritakan kepada Hudson bahwa John Mason telah mengontrak seorang pembunuh bayaran untuk membunuh istrinya, Pamela.

Hudson manggut-manggut. “Siapa pembunuh bayaran itu?” tanyanya.

Tapi Ralston mengaku tidak tahu. Sepengetahuannya, Mason tidak pernah secara langsung bertemu dengan orang upahan itu. Ia berhubungan lewat seorang perantara, Bill Grand.

“Grand yang mengatur,” jelas Ralston.

Bill Grand adalah salah seorang teman lama Mason. Polisi pun menyelidikinya. Tapi begitu Sheriff menanyakan tentang kasus pembunuhan yang sudah terpendam selama hampir lima tahun itu, Grand (39) langsung menyangkal.

“Saaaya ... tidak melakukan itu!” akunya kepada Sheriff Hudson. “Sal Reidy yang mengaturnya.”

Nama itu sudah dikenal Hudson. Reidy adalah preman yang tinggal di apartemen belakang Big Red Flea Market dan sering disuruh-suruh Mason. Seperti halnya Ralston dan Grand, Reidy sudah pernah diinterogasi.

Namun tahun berikutnya, Reidy menghilang. Tak seorang pun tahu di mana ia berada, kecuali Bill Grand. “Dia pindah ke Florida,” kata Grand kepada detektif. “Orlando.” 

“Baik,” sahut Hudson. “Anda mesti menunjukkan kepada kami di mana tepatnya.”

Pada tanggal 9 April 1990, Sheriff Hudson, Detektif Francis Shrock dari Indiana State Police, dan Bill Grand berjubel dalam kendaraan tanpa identitas polisi dan siap melakukan perjalanan 16 jam ke arah selatan menuju Orlando, Florida.

Orlando adalah kota yang sarat dengan taman hiburan, di antaranya Disney World dan Epcot Center. Sebuah kota impian. Tapi kompleks apartemen yang mereka tuju, pada malam hari tanggal 10 April, ternyata kompleks yang kumuh dan muram.

Di luar apartemen, Sheriff mengikatkan mikrofon penyadap di dada Bill Grand dan memberikan arahan kepada Grand agar mengatakan kepada Reidy bahwa Mason sekarang sedang ketakutan karena khawatir ada temannya yang melapor ke polisi perihal pembunuh Pamela Mason. 

Bill Grand menuju ke apartemen tempat Reidy tinggal dan mengetuk pintunya. Pintu dibuka dan Grand melangkah masuk.

Sementara di luar apartemen, dengan merundukkan badan di balik mobil, para penyidik menyadap pembicaraan mereka.

Alat penyadap di dada Grand siap merekam pembicaraan mereka. Kepada Reidy, Grand mengaku takut pada Mason. “Ia (Mason) amat senewen,” ujar Grand kepada Reidy. “Semua orang dianggap lawannya.”

“Makanya saya nekat kabur dari Boone County,” sahut Reidy. “Saya tidak ingin mati konyol.”

Sementara itu di luar, di tempat parkir mobil, para penyidik terus menyadap pembicaraan rahasia itu. Setelah dirasa cukup, mereka matikan alat perekamnya dan melangkah menuju ke apartemen untuk menemui Grand dan Reidy yang lagi asyik ngobrol.

Sheriff Hudson merupakan penegak hukum pertama yang memasuki pintu apartemen itu. “Ada apa ini?!” seru Reidy, matanya melotot sebulat kuning telur mata sapi.

Hudson menjelaskan kepada Reidy bahwa penyidikan menunjukkan dialah perantara dalam kontrak pembunuhan Pamela Mason. Mereka memperlihatkan kepada Reidy mikrofon perekam yang terpasang di dada Grand dan kemudian memutar ulang sebagian dari hasil rekaman tadi.

“Anda perantaranya,” tegas Hudson. “Sekarang kami ingin tahu siapa pembunuh bayarannya.”

 

Menyewa pembunuh bayaran

Reidy menjadi serba salah. la betul-betul terjepit dalam dilema. Di satu sisi, John Mason adalah teman karibnya. Sementara di sisi lain ada Sheriff Hudson dan pita perekam pembicaraan menyangkut Reidy dan pembunuh Pamela Mason.

Akhirnya Reidy terpaksa menceritakan kronologi terjadinya kasus pembunuhan kejam itu.

Saat itu musim gugur tahun 1985. Reidy membuka sebuah kios senjata di Big Red Flea Market dan tinggal di apartemen di belakang bar pelelangan. John Mason adalah teman baiknya. Mereka berdua sering minum-minum. Mason sempat mengupahnya untuk suatu pekerjaan sambilan, antara lain berputar-putar menguntit Pamela Mason dan setiap kali melaporkan ke mana Pamela pergi dan siapa yang ditemui. Baginya itu pekerjaan mudah dan ia pun butuh uang. Suatu transaksi yang bagus, tentu saja.

Pada suatu hari, aku Reidy, Mason menemuinya dan menanyakan apakah ia punya kenalan orang upahan yang berlengan kekar dan kuat.

“Saya menjawab, ya,” cerita Reidy. “John ingin menyingkirkan laki-laki teman kencan Pamela. Saya pun siap mencarikan orang yang akan melakukan pekerjaan itu.”

Reidy memperkenalkan Mason dengan John L. Morgan (55), pria peminum berat bertubuh kekar dan kasar berasal dari Alexandria. Kemudian pada 15 Oktober 1985, Pamela Mason terbunuh.

“Apakah Morgan membunuh janda cantik itu?” tanya Sheriff.

“Saya sungguh tak tahu,” jawab Reidy. “Mason tidak pernah mengatakan itu, demikian juga Morgan. Tapi setelah pembunuhan itu, Mason memberi amplop tertutup kepada Morgan lewat saya. Kira-kira 1,5 inci tebalnya. Saya berani bertaruh, amplop tersebut berisi uang.”

Belakangan, menurut cerita Reidy, Mason mengirim lagi amplop lain berisi AS $ 1.000 kepada Morgan.

Setelah pembunuhan itu, Reidy masih sering menemui Mason. Cuma tidak seperti biasanya. “la nampak lain, uring-uringan terus,” jelasnya.

Tak lama setelah pembunuhan, menurut beberapa saksi, Mason mabuk di bar. la berdansa dan ngoceh tentang pembunuhan istrinya.

Dua minggu kemudian, Ilse Daniels mati tenggelam di pantai Fort Pierce, Florida.

Sal Reidy mengatakan tidak tahu-menahu Mason membunuh Ilse atau tidak. Tapi ada kemungkinan, bahkan sangat mungkin.

Interogasi pun berakhir. Reidy telah membeberkan informasi cukup banyak kepada penegak hukum. Tapi itu belum selesai.

“Anda ikut bersama kami,” ajak Sheriff Hudson kepada Reidy.

“Ke mana?” tanya Reidy. 

“Indiana,” jawab Hudson. “Kami ingin Anda membantu membongkar rahasia pembunuhan Mason.”

Sheriff Hudson dan Detektif Shrock menangani kasus tersebut begitu serius. Tiga hari tiga malam tanpa tidur. Urusan belum juga selesai. 

John Morgan, si pemilik bar Alexandria, yang juga pembunuh bayaran itu, sedang menerima tamu di Center Point Tavern, di Alexandria. Sebelum menyuruh Reidy masuk menemui Morgan, lebih dulu penyidik memasang perekam di dada Reidy. Skenarionya sama seperti yang dilakukan Bill Grand saat menjebak Reidy. Reidy mengungkapkan tentang senewennya John Mason dan bagaimana peran Morgan sendiri bisa terbongkar. 

“Tak mungkin mereka dapat melacak pembunuhan itu ke arah saya!” kata Morgan kepada Reidy, sementara pengakuannya direkam secara diam-diam.

Selanjutnya giliran John Mason. Menjelang pukul 02.00 dini hari, penyelidik menemukannya di sebuah bar di Lebanon. Sementara Reidy dengan tape penyadap menemui Mason dan mengatakan bahwa Morgan kini sinting karena tindakan pembunuhan itu.

“Memangnya kenapa? Polisi dapat membuktikan apa?” tanya Mason. Mason sama sekali tak menunjukkan kekhawatiran. 

Mason punya alasan kuat untuk merasa aman. Lima tahun telah berlalu sejak ia dengan angkuhnya meninggalkan kantor Sheriff.

Mason menghabiskan minumannya. “Jangan khawatir,” katanya kepada Reidy. “Saya tidak akan kurang tidur hanya karena perkara ini. Apa yang sudah terjadi, ya sudah selesai.”

Ternyata ia keliru. Dengan pita hasil rekaman di tangan, penyidik tidak menemui kesulitan dalam melakukan penangkapan dan penggeledahan.

John Morgan, orang pertama yang ditangkap. Saat itu sore hari, tanggal 11 April, salah seorang saudara laki-laki Morgan menghubunginya untuk menyampaikan sesuatu yang penting. Mereka lantas bertemu di sebuah agen mobil Chevrolet di Alexandria.

Saudaranya itu juga seorang polisi. Ketika Morgan hendak masuk ke dalam mobil, Sheriff Hudson sudah menunggunya di sana. Begitu melihat ada Sheriff, Morgan berusaha menyelinap di bawah dashboard mobil. Hudson tak ingin kehilangan buruannya, ia pun bergegas membuka pintu mobil, lalu menempelkan moncong pistolnya ke muka Morgan dan menyuruhnya untuk tidak bergerak.

John Morgan ditangkap dan dijebloskan ke dalam jeruji penjara dengan tuduhan melakukan pembunuhan.

Tak lama kemudian, John Mason juga ditahan. “Apa-apaan ini, Ern?” tanyanya kepada Sheriff Hudson ketika hendak diseret ke sel penjara. Ketika Sheriff mengatakan akan menahannya, Mason bilang ingin menjumpai pengacaranya.

 

Divonis 110 tahun

Pada saat diinterogasi di kantor polisi, Morgan tidak banyak cincong. Pembunuh bayaran, yang sekaligus pemilik bar itu hanya mengatakan, “Saya menyerah.”

Cerita Morgan yang terekam selama beberapa kali penyidikan membuat bulu kuduk merinding.

Morgan pertama kali kenal John Mason pada tahun 1985. Ketika itu Mason menyuruhnya menghajar pacar Pamela. “Ia (Mason) mengatakan tidak menyukai laki-laki itu dan ingin mencelakainya,” ungkap Morgan.

Morgan melaksanakan pekerjaan itu tapi kurang sukses. “Laki-laki itu sulit terpisah dari kerumunan,” tuturnya kepada Detektif. “Di sekitarnya selalu banyak orang. Saya tidak dapat mendekatinya.”

Belakangan, lanjut Morgan, ia mengupah dua pria lain untuk melakukan pekerjaan itu. Tapi tak berhasil juga.

Morgan melaporkan kembali kegagalannya itu kepada Mason. “Ia mengira Mason bakal mengamuk. Tapi ternyata Mason punya rencana lain. “Lupakan saja dia,” kata Morgan, menirukan ucapan Mason. Lalu kepada Morgan, Mason mengatakan, “Saya ingin kamu menghabisi Pam.”

“Bagaimana dia ingin kamu melakukannya?” tanya Detektif Shrock.

“Dengan cara yang sama,” jawab Morgan. “Menembaknya!” Morgan menawarkan kontrak awal AS $ 5.000. Kemudian dinaikkan sampai AS $10.000.

Pada hari. “H” itu, menurut pengakuan Morgan, Mason dengan mengendarai mobil mengajak dirinya melewati farmhouse-nya dan menunjuk ke arah mantan istrinya, Pamela; yang sedang berkebun. Tak lama kemudian Morgan balik lagi untuk menemui dan mengatakan kepada Pamela bahwa mantan suaminya mengupahnya untuk memperbaiki pagar. “Kami masuk ke ruang garasi dan saya minta martil kepadanya,” ungkap Morgan. Setelah Pamela memberikan martil kepadanya, ia minta paku.

“Ketika ia (Pamela) bergegas mengambil paku,” lanjut. Morgan, “saya mengikuti dari belakang dan memukulnya tepat pada bagian kepala dengan martil.”

Pamela jatuh terkulai ke lantai, tapi ia belum mati.

Morgan keluar menuju ke mobil, mengambil pistol, kemudian kembali lagi ke garasi.

“Ia memohon-mohon dibiarkan hidup,” ucap Morgan dengan ekspresi dingin. “Jadi saya tembak dia.”

Peluru pertama tepat mengenai kepalanya, tapi tidak menewaskannya. Saat itu, masih menurut pengakuan Morgan, Pamela menggapai-gapaikan tangannya bermaksud menghentikan aksinya, tapi Morgan malahan menembaknya lagi.

“Itu pun masih belum menewaskannya,” aku Morgan. Sehingga ia menembaknya dua kali lagi. Akhirnya, empat logam bundar bersarang di kepala dan menamatkan riwayat Pamela.

Kemudian Morgan masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pulang. Sekitar 1 mil sebelah utara Highway 421, ia membuang martil dan pistol yang baru saja digunakannya untuk membunuh Pamela Mason. Belakangan Morgan balik lagi dan mengambil pistol itu. Karena, “Senjata itu bagus,” jelasnya.

Oktober 1990, John Morgan yang pertama dinyatakan bersalah dalam kasus pembunuhan Pamela Mason. Ia divonis 110 tahun penjara.

Setahun kemudian, September 1991, John Mason ganti diadili dalam kasus yang sama. Sidang diketuai oleh Hakim Jack O’Neil dan Rebecca McClure sebagai penuntutnya. Pada tanggal 5 Oktober, Mason divonis 110 tahun hukuman. Dalam pemeriksaan terpisah, Mason juga dinyatakan bersalah atas usaha pembunuhan terhadap lelaki tunangan Pamela. Untuk itu ia mendapatkan bonus hukuman 30 tahun.

Akhirnya, John Mason resmi menjadi penghuni bui. Sisa masa hidupnya dihabiskan di balik jeruji, dengan hanya bisa menyesali kesalahannya. (Bruce Gibney)

Baca Juga: Mayat Berselimut Rapi

 

" ["url"]=> string(75) "https://plus.intisari.grid.id/read/553643299/cemburu-buta-110-tahun-penjara" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1672937780000) } } }