array(1) {
  [0]=>
  object(stdClass)#49 (6) {
    ["_index"]=>
    string(7) "article"
    ["_type"]=>
    string(4) "data"
    ["_id"]=>
    string(7) "3753298"
    ["_score"]=>
    NULL
    ["_source"]=>
    object(stdClass)#50 (9) {
      ["thumb_url"]=>
      string(109) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/2023/05/26/tragedi-sebuah-perkawinanjpg-20230526103318.jpg"
      ["author"]=>
      array(1) {
        [0]=>
        object(stdClass)#51 (7) {
          ["twitter"]=>
          string(0) ""
          ["profile"]=>
          string(0) ""
          ["facebook"]=>
          string(0) ""
          ["name"]=>
          string(5) "Ade S"
          ["photo"]=>
          string(54) "http://asset-a.grid.id/photo/2019/01/16/2423765631.png"
          ["id"]=>
          int(8011)
          ["email"]=>
          string(22) "ade.intisari@gmail.com"
        }
      }
      ["description"]=>
      string(145) "Pembunuhan berencana dilakukan pada Mayor Hanika oleh salah satu saudara sepupu istrinya. Konon itu dilakukan atas desakan sang istri dan mertua."
      ["section"]=>
      object(stdClass)#52 (8) {
        ["parent"]=>
        NULL
        ["name"]=>
        string(8) "Kriminal"
        ["show"]=>
        int(1)
        ["alias"]=>
        string(5) "crime"
        ["description"]=>
        string(0) ""
        ["id"]=>
        int(1369)
        ["keyword"]=>
        string(0) ""
        ["title"]=>
        string(24) "Intisari Plus - Kriminal"
      }
      ["photo_url"]=>
      string(109) "https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/945x630/photo/2023/05/26/tragedi-sebuah-perkawinanjpg-20230526103318.jpg"
      ["title"]=>
      string(25) "Tragedi Sebuah Perkawinan"
      ["published_date"]=>
      string(19) "2023-05-26 10:33:25"
      ["content"]=>
      string(65152) "

Intisari Plus - Pembunuhan berencana dilakukan pada Mayor Hanika oleh salah satu saudara sepupu istrinya. Konon itu dilakukan atas desakan sang istri dan mertua yang ingin mengakhiri pernikahan itu.

---------------

Hari itu sudah larut malam pada tanggal 3 September 1923. Ladang-ladang yang mengelilingi kota Boskovice di Mähren sudah gelap gulita, waktu seorang agen polisi yang sedang berdinas keliling tiba-tiba mendengar dua tembakan. Tembakan seperti datang dari dekat Stasiun Kereta Api Skalice-Boskovice. Di tempat itu pula, sesudah ia mencari lama dan hari pun sudah hampir pagi, agen polisi menemukan mayat seorang perwira Cekoslowakia, di sebuah ladang kentang. Jejak-jejak jelas menunjukkan bahwa mayat diseret kakinya dari jalan kecil ke ladang kentang tadi. Pada mayat terlihat dua luka tembakan: sebuah tembakan masuk dari telinga kiri ke kepala dan itulah yang menyebabkan kematian, sebagaimana terbukti kemudian. Tembakan kedua berada di punggung, di bawah bahu kanan.

Orang yang dibunuh itu dikenal sebagai Mayor Karl Hanika, dari Yon ke-11, resimen Infanteri ke-43, Tentara Cekoslowakia. Resimen itu sedang latihan di daerah Boskovice. Mayor Hanika hari itu berdiam di Ujezd dekat Boskovice. Waktu diadakan penyelidikan di Ujezd, terungkap bahwa Mayor Hanika pada malam hari dengan ditemani oleh seorang preman telah pergi ke arah Stasiun Skalice-Boskovice untuk menginap di tempat keluarganya di Bruenn. Menurut keterangan pamen, ia akan berada di batalionnya lagi pada pagi hari.

Polisi curiga kepada preman yang menemani Hanika, yang menurut keterangan pamen tadi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: seorang anak muda dengan muka panjang kurus, mata biru, dan rambut cokelat. Ia memakai setelan hijau tua dan topi berwarna cerah.

Disangka bahwa si pelaku sesudah melakukan pembunuhan, pergi dengan kereta api dari Skalice-Boskovice ke Bruenn. Di situ dilakukan penelitian lebih lanjut, sebab menurut teman-teman satu resimen dan bawahan, Mayor Hanika sangat disegani di resimen dan tidak ada kemungkinan bahwa kejahatan dilakukan oleh seorang bawahan yang dendam terhadap atasannya.

Bersamaan dengan itu, maka di Bruenn juga didengar keterangan janda Mayor, Nyonya Hilde Hanika yang berumur 21. Juga ibunya, Franziska Charvat, yang hidup bersama anak dan menantu dalam satu rumah. Mereka tidak dapat memberikan pernyataan yang dapat dijadikan keterangan yang berharga. Pada hari itu ditangkap seorang guru yang mempunyai ciri-ciri yang sama dengan si pelaku, tetapi seperti dengan beberapa orang lain yang ditangkap polisi, semua harus dibebaskan lagi. Itu karena penyelidikan menunjukkan bahwa tuduhan terhadap mereka tanpa dasar. 

Segera pula kecurigaan diarahkan ke orang-orang tertentu. Berkat keterangan mereka yang datang memberi penjelasan dan yang dipanggil, terungkap bahwa di antara suami istri Hanika sudah lama ada ketidakcocokan yang mendalam. Selanjutnya diketahui bahwa istri korban mempunyai hubungan intim dengan sepupunya Johann Vesely dari Nosakov di Boehmen yang berusia 19 tahun. Ciri-ciri memang cocok, lagi pula diketahui bahwa Hilde Hanika dan sepupunya pada tanggal 28 Agustus telah membeli sebuah pistol berkaliber 6,36 mm di sebuah toko di Bruenn. Tembakan-tembakan yang dilepaskan pada Mayor Hanika berasal dari pistol semacam itu.

Pengusutan lebih lanjut membuktikan bahwa Hilde Hanika dan ibunya mengetahui lebih daripada apa yang mereka katakan. Waktu janda ini dipanggil, ia menutupi muka dengan tangan dan berkata, “Tuan Komisaris, andai kata Anda mengetahui, bagaimana tidak bahagianya perkawinan kami!”

Polisi menangkap ibu dan anak.Mereka menduga bahwa Vesely berada di Praha atau di tempat orang tuanya di Nosakov. Akan tetapi ia tidak langsung ditemukan. Baru sesudah seminggu ia ditemukan di Slowakia.

Vesely tetap pada keterangannya, meskipun pegawai polisi yang mengusut memintanya agar berterus terang.

Baru pada waktu Komisaris sambil mengusut, mengatakan bahwa karena perkawinannya yang tidak bahagia itu Hilde Hanika menjalin hubungan dengan beberapa pacar, maka yang ditahan menyerah kalah. Kini ia membuat pengakuan kedua yang dilakukan dalam keadaan jiwa yang sangat sedih.

Johann Vesely, Hilde Hanika, dan Franziska Charvat diserahkan pada pengadilan di Bruenn.

Orang-orang yang berada di luar gedung pengadilan dan yang berada di ruangan sidang mengerti bahwa perkara ini bukanlah sekadar perkara biasa saja. Namun perkara khas sebuah perkawinan sesudah perang dan bahwa akar-akar ketidakcocokan suami istri mempunyai dasar pada keadaan sosial dan moral masyarakat. Simpati umum — apalagi wanita-wanitanya — terletak pada kedua pelaku pria.

Mayor Hanika sewaktu perang telah ditempatkan di Prancis sebagai seorang perwira dari Legiun Cekoslowakia di situ. Sesudah pulang ke tanah airnya ia berkenalan dengan Hilde Charvat. Ibu Hilde seorang bidan dan ayahnya, ahli las, telah meninggal di sebuah rumah sakit jiwa. Hilde Charvat, lahir 1902 di Wina, adalah seorang gadis pirang yang cantik. Ia bersekolah di sekolah dasar di Bruenn dan meneruskan di sebuah kursus dagang. Kemudian ia menjadi guru pribadi ke Hungaria. Sesudah beberapa lama, ia kembali ke Breunn dan menjadi pramuniaga di toko piringan hitam. Ia mulai berkenalan dengan pria-pria, yang tidak dilarang ibunya, akan tetapi malahan dianjurkan.

Hilde Charvat dengan ibunya tinggal di Froehlichergasse Bruenn, sebuah jalan yang berdekatan dengan daerah wanita panggilan dan tangsi-tangsi kota itu. Ibunya mencari nafkah dengan menjalankan hal-hal yang terlarang. Sudah banyak pengaduan yang dilakukan terhadapnya, akan tetapi semua kemudian dibungkamkan. Kata para saksi, yang juga dipanggil di persidangan, mereka mengetahui bahwa di tempat bidan tadi selalu ada wanita-wanita yang keluar masuk, apalagi petani-petani, yang tentu saja mencari nasihat dan pertolongan padanya. Selain itu, Franziska Charvat masih mempunyai sumber pemasukan yang lain. Ia disokong oleh para pria yang mempunyai hubungan intim dengannya.

Waktu Hilde sudah mengenal bakal suaminya Hanika, ibunya memaksanya bertunangan dengan seorang pria yang telah dikenalnya di toko piringan hitam. Hilde lebih tertarik pada Hanika daripada tunangannya, akan tetapi ibunya sama sekali tidak senang pada Hanika. Apakah yang dapat diberikan seorang perwira yang tidak berharta kepada anaknya! Baru sesudah pertikaian yang lama dengan ibunya dan tunangannya, Hilde berhasil membatalkan pertunangan dan ia memilih si miskin yang ia cintai.

Tanggal 28 Juli 1921 Karl Hanika, seorang yang dicurigai karena pernah bekerja dalam tentara Kerajaan Austria, biarpun kini mengabdi di republik yang demokratis, menikah dengan anak bidan yang menolong menjalankan abortus. Ia menikah ketika bergaji 1.400 kronen Ceko (172 mark), tidak mengetahui atau tidak mau mengetahui bahwa istrinya yang berusia 19 tahun telah mengenal cinta dengan baik dan mengetahui bahwa hal itu dapat dijadikan uang.

Menurut saudara korban, adiknya tidak mengetahui apa yang dikerjakan ibu mertuanya. Tetapi ia seharusnya mengetahuinya dengan segera, sebab ia serumah dengan mertua.

Sang Mayor untuk sementara waktu masih ditempatkan di garnisun di dekat Bruenn dan dua kali seminggu pulang. Dalam waktu itu orang masih percaya bahwa Hilde Hanika mencintai suaminya, yang dinikahinya setelah melawan kemauan ibunya. Padahal sebenarnya ia mungkin dapat menikah dengan pasangan lebih baik. Tetapi bagaimanapun juga, berkat perkawinan itu, seorang anak bidan menjadi istri perwira. Si suami melindunginya terhadap ibunya. Ibu ini sudah sejak hari pertama tidak suka pada sang menantu. Ialah yang membayar ongkos perkawinan dan berbulan madu, juga membiayai rumah tangga baru. Semua itu tidak dapat dibayar oleh menantu karena masih mempunyai banyak utang yang harus dibayar.

Mertua membayar perabot rumah tangga pengantin baru dan melunasinya dengan 22.000 kronen Ceko dalam setahun. Dari mana uang itu?

Apakah Mayor telah membicarakan dasar-dasar material pernikahannya dengan Hilde? Tahukah ia bahwa mereka itu hidup dari uang pacar mertua ataupun dari uang wanita-wanita yang tidak menginginkan anaknya? Jika ia mengetahui hal yang sebenarnya, ia pun tidak dapat pula merubahnya. Meninggalkan istri yang disayangi dan mendapat ejekan teman satu resimen dan teman seperkumpulan olahraga itu tidak masuk akal baginya. Menjaga nama baik, itu hal yang terpenting baginya. Kesusahan, sakit hati, dengki semua itu dapat ditahan, selama tidak ada orang yang mengetahui. Mungkin jika mereka tidak menerima bantuan ibunya dan tidak hidup serumah, semua akan berjalan baik-baik. Asal ia mempunyai uang untuk pindah dan mendirikan rumah tangga sendiri! Tetapi dengan uang 1.400 kronen sebulan, ia harus sabar dulu.

Ibu mertua membencinya. Sang anak dibujuk melawan suami. Sebab kebencian itu aneka macam. Tidak hanya uang saja yang tetap membarakan kebencian terhadap menantunya. Mungkin juga karena ia tidak mungkin menjalankan pekerjaannya. Ia terpaksa mengingat adanya menantu dalam rumah. Mungkin ia mempunyai rencana dengan anaknya yang terhalang oleh adanya menantu. Anak ini muda dan cantik dan menarik perhatian laki-laki. Hidup akan lebih mudah jika hal itu dapat dipergunakan. Ditambah pula menantunya tidak memperlakukannya sebagaimana mestinya. Ia hidup dari pekerjaan ibu mertua yang dianggapnya kotor, yang dihinanya. Anaknya sudah jadi seorang istri perwira, akan tetapi dia tetap saja si Bidan Charvat.

Akhirnya anaknya pun tidak dapat mempertahankan suami. la ingin membantu suami dan mau bekerja lagi. la mengatakan hal ini kepada suaminya. Akan tetapi suaminya tidak setuju.

Selalu jika si menantu datang, ibu mertua dan menantu bertengkar. Bidan mengatakan kepada anaknya, bahwa ia hanya dianggap “kasur” oleh suaminya. Perkataan-perkataan ini tetap tinggal di benak anaknya, seperti ternyata dalam pengakuan sesudah hukuman. Mungkin ibunya juga tidak salah. Suaminya sama sekali tidak memberikan apa-apa untuk keperluan rumah tangga. Ia hanya memakai hak yang dimiliki sebagai suami. Lebih dari yang disenangi istri.

Pertengkaran antara ibu dan menantu memengaruhi hubungan suami istri. Hilde mulai tidak melayani suaminya. Suaminya memberinya 300 kadang-kadang 400 atau 500 kronen setiap bulannya untuk keperluan rumah tangga, akan tetapi beberapa hari kemudian memintanya kembali.

Pertengkaran tidak henti-hentinya. Hanika mulai mengata-ngatai istrinya terkait dengan apa yang dikerjakan mertua. Istrinya mengatakan bahwa tanpa pekerjaan itu, mereka tidak mungkin menikah. Mertua mengatakan kepada menantu bahwa ia harus memberi makan dan pakaian. Hilde Hanika mengatakan bahwa suasana di rumah sudah tidak tertahankan lagi dan bahwa pertengkaran-pertengkaran tadi menyebabkan ia mencari hiburan.

Ia sering pergi ke bioskop ataupun duduk-duduk di rumah makan, baik dengan ibunya maupun sendiri. Sering teman-teman menyertainya. Mereka itu adalah anggota-anggota perkumpulan olahraga, seperkumpulan dengan sang suami. Di antara mereka ada seorang dokter muda yang pernah mengobati ibu dan dirinya, seorang teman suaminya. Segera hubungan dokter ini dengan Hilde menjadi intim. Setiap hari ia datang berkunjung ke rumah keluarga Hanika. 

Sang Mayor, di satu sisi, tidak menyukai bahwa Hilde sering bergaul. Namun di sisi lain, ia sendirilah yang memperkenalkan Hilde kepada teman-temannya. Ia membawanya ke pesta dansa perwira, ke hiburan-hiburan dan acara melantai santai di klubnya. Ia selalu melihat Hilde dengan cemburu. Jika pulang dari pesta-pesta mereka bertengkar. Ibunya malahan memanaskan pertengkaran. Hubungan menjadi makin tegang.

Begitulah keadaannya waktu pertama kali dibicarakan perceraian. Perkawinan sudah menjadi tidak tertahankan lagi untuk keduanya. Hilde mencari pertolongan seorang pengacara. Mungkin ibunya yang menjadi pendukung. Lagi pula ia dapat mencari laki-laki untuk Hilde.

Sudah sekali kejadian, bahwa pada waktu Mayor berada di tempat latihan di Milovice di Boehmen, Nyonya Charvat meminta anaknya agar mengabulkan permintaan seorang laki-laki yang telah menegurnya di jalan. Ia menyarankan agar ikut dengan laki-laki ini ke Wina. Ia telah menasihati anaknya agar meminta 5.000 kronen. Hilde Hanika menceritakan dalam pengakuannya, bahwa ia kembali tanpa uang itu. Ia hanya mendapat koper baru dari laki-laki itu karena malu untuk meminta uang. Ibunya tidak diberitahu.

Ibunya juga pernah mengirimnya ke rumah seorang laki-laki dan ia mendapat bahan pakaian. Jika Nyonya Charvat mengetahui bahwa seorang laki-laki menaruh perhatian pada Hilde, ia segera mengirim anaknya. Ditambah, Hilde memang pandai dalam seperti itu. Begitu pula pada waktu ia pergi ke Praha dengan ibunya.

Oleh karena itu maka bidan tadi sangat mengharapkan anaknya bercerai. Bagi Mayor Hanika perceraian itu memberatkan. Ia seorang perwira dan tidak boleh membuat dirinya jadi bahan pergunjingan. Apalagi di kota kecil di daerah ini. Jika atasannya mengetahui bagaimana keadaan pernikahannya, pekerjaan mertuanya, serta kehidupan sebelum perkawinan sang istri, maka habislah karier perwiranya.

Agar dipercaya oleh pengadilan, maka Hilde Hanika menceritakan bahwa suaminya telah menyetujui perceraian.

Ya, memang dalam buku hariannya ada kalimat-kalimat yang menunjukkan bahwa Mayor Hanika mempertimbangkan perceraian. la bertanya pada diri sendiri apakah tidak lebih baik untuk memutuskan tali-tali, yang sebenarnya tidak dapat diputuskan.

Dalam surat terakhir pada istrinya, masih saja terlihat bahwa ia tunduk padanya. Ia membicarakan Iain-lain hal, tetapi tidak membicarakan perceraian.

“Hilde, aku meminta dengan sangat dan bacalah surat ini dengan baik-baik dan tidak dengan perasaan benci. Mungkin ini dapat kau lakukan karena engkau tidak melihatku. Aku tidak mau merubahmu, akan tetapi aku ingin memberikan keterangan yang sampai kini tidak mungkin kuberikan. Aku masih di rumah, karena masih dalam keadaan bingung, jadi tidak dapat bekerja. Kuharap bahwa aku akan lebih tenang sesudah menulis surat ini.

Waktu kita saling berkenalan, cinta kita murni. Waktu yang paling indah dalam hidupku. Kemudian kita menikah. Sangat indah. Kumasuki hidup baru dengan harapan akan bahagia. Cintaku sedemikian besarnya, hingga setiap rintangan rasanya dapat kulalui.

Orang yang sebelum perkawinan kita telah menunjukkan persahabatan dan perhatian untuk nasib kita, agaknya telah memisahkan kita dan telah menyebabkan pertengkaran yang pertama. Jika ia tidak ada, tentu hidup kita akan lain. Dialah yang menyebabkan kecelakaan!

Kesalahanku adalah bahwa aku marah karena engkau tidak mau menggauliku. Maaf, tetapi memang demikian, semuanya sudah terlambat.

Kemudian kejadian di pesta dansa di klub olahraga. Memang engkau muda dan perlu hiburan dan aku tidak dapat mencegahmu. Akan tetapi pada waktu aku melihatmu di kalangan laki-laki yang kasar dan penuh niat jelek, hatiku sakit, sehingga aku tidak tahu apa yang harus diperbuat. Demikian terjadilah pertengkaran yang kedua. Yang menjadi sebab lagi-lagi orang ketiga. Dari pihakmu hanyalah kepercayaan yang besar pada orang yang belum dikenal baik dan sangkaan bahwa aku tidak mau memberimu hiburan.

Waktu engkau dibisiki oleh teman-temanmu bahwa aku seorang yang pencemburu, engkau mulai marah dan meremehkan aku.

Mungkin karena topik pembicaraanku berkisar tentang kesedihan, orang lain mengira bahwa aku cemburu.

Bahwa aku setia itu tidak diragukan. Aku tahu, bahwa juga engkau tidak meragukannya. Aku bersumpah bahwa aku sebagai seorang suami tidak pernah melakukan sesuatu yang dapat mencemarkan kehormatan.”

Mayor selanjutnya menulis, bahwa oleh kebanyakan orang perkawinan mereka dianggap ideal. Oleh karena itu, orang tidak senang dan berusaha mencoba untuk memisahkan mereka.

“Percobaan itu telah berhasil padamu. Engkau percaya ocehan orang yang mengatakan bahwa aku menyebarluaskan cerita-cerita tentang hubungan intim kita! Hanya Tuhan yang mengetahui bahwa itu bohong belaka.

Malahan si B-lah yang pernah menanya-nanyakan padaku yang kotor-kotor tentang hubungan kita, tetapi telah kujawab sedemikian rupa hingga ia tidak mau berbicara lebih lanjut.

Aku curiga bahwa dialah yang memengaruhimu sehingga engkau percaya, sebab dalam waktu-waktu itulah engkau makin menjauh. Jadi jika hanya inilah sebabnya bahwa engkau menjauhkan diri, maka aku bersumpah bahwa aku tidak pernah melakukan hal itu. Dan jika dalam buku harianku telah kutuliskan akan kegairahanku, maka itu hanyalah tulisan belaka. Engkau mengetahui bahwa aku dapat menahan diri.

Kini engkau telah mengetahui bagaimana orang dapat berdusta. Orang-orang yang tidak berwatak dan yang hanya mau mencari keuntungan dari situasi yang buruk. Mudah-mudahan engkau sadar bahwa engkau telah bersalah terhadapku dan akan menjadi pelajaran bagimu bagaimana berlaku terhadap teman-teman yang mengaku sahabat.

Waktu engkau kukirim ke Franjzensbad, aku sedih sekali, akan tetapi kesehatanmu lebih kupentingkan. Aku senang sekali mendengar berita bahwa engkau sehat kembali. Waktu kudengar engkau akan kembali, maka aku menghitung hari dengan tidak sabar. Tetapi sayang sekali engkau ingin berhenti di Praha. Aku sangat kecewa sehingga semalaman tidak tidur.

Aku telah menerimamu dengan diam seribu bahasa. Kekecewaan itulah yang menyebabkan aku tak dapat berkata sepatah pun. Kewajiban dinas memaksaku segera meninggalkanmu dan aku pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Waktu aku kembali lagi, engkau makin kasar. Engkau mengira bahwa aku telah membuat ibumu gusar padamu. Tidak benar. Ibu dapat mengatakan sebaliknya.

Waktu aku meminta maaf sambil berlutut, aku mengharapkan bahwa semua akan kau lupakan. Akan tetapi, engkau makin membenciku. Waktu kulihat pandanganmu yang mengganas dan aku sudah tidak mengharapkan kembalinya rasa cintamu, maka seakan-akan engkau menyangka bahwa aku menginginkan kebinasaanmu. Tetapi aku malahan sangat cinta padamu dan ingin memintanya kembali sambil berlutut.

Watakku yang tidak dapat menyembunyikan perasaan, menyebabkan pertengkaran. Pertengkaran yang membuat aku putus asa. Hatiku hancur jika engkau melarangku berbicara denganmu dan engkau seakan-akan tidak melihatku. Waktu engkau tidak mengizinkanku untuk mengantarkanmu ke stasiun, aku menangis. Engkau tidak senang dan menganggap itu suatu kelemahan. Itu hanya warisan ayahku, yang juga seseorang yang peka. Engkau mengatakan apakah tidak lebih baik bercerai saja. Seorang laki-laki lain mungkin setuju, apalagi kalau diperlakukan seperti ini, tetapi aku tidak. Cintaku bukan hanya di permukaan saja. Dan aku yakin bahwa tidak akan kutemukan wanita lain yang dapat menyamaimu dalam hal kesempurnaan dan kesucian.

Mungkin masih terlampau dini bahwa aku mengira engkau dapat mengerti tabiatku. Bersama ini aku kembalikan alamat-alamat yang kusobek dari bukumu. Aku marah dan mohon maaf. Kukira bahwa laki-laki itu yang menjadi sebab bahwa engkau pergi ke Praha.

Kuanggap sebagai kewajiban untuk menceritakan semua dan aku akan berbuat apa saja agar engkau jangan mengira bahwa aku ini sejahat yang dikatakan.

Akhirnya aku percaya bahwa semua tidak akan begini andai kata engkau lebih mempercayaiku dan lebih jujur dan jika engkau menceritakan semua padaku. Aku tidak akan menulis lagi, jika engkau tidak memberi izin.”

Surat ini menjadi dokumen, manusia apakah yang telah terbunuh itu. Seseorang yang sukar menyatakan diri, yang berbicara panjang lebar, kemudian bertele-tele. Waktu ia harus menyatakan kesedihannya, ia malah mengatakan yang umum dikatakan oleh para prajurit. Ia mengatakan bahwa perkenalannya dengan Hilde itu sesuatu yang suci. Sebenarnya ia tidak membela perkawinannya akan tetapi membela kehormatannya.

Dalam surat itu juga disebut “orang ketiga” dan peranannya. Orang-orang ketiga itu adalah atasan-atasan Mayor Hanika, teman-teman yang seakan-akan sahabat, teman-teman di resimen dan teman klub, si B dan dokter yang menjadi temannya dan secara diam-diam juga merupakan pacar istrinya. Kalangan yang tidak bermoral.

Lalu wanita muda, yang datang dari kalangan rendahan, merasa terangkat ke atas, ke dalam kalangan para akademisi, perwira dan istri-istrinya. Ia ingin menyamakan diri dengan apa yang dilakukan “kalangan atas”. Suaminyalah yang telah membawanya masuk. Namun kini suaminya bersedih sebab istrinya ikut berbicara seperti laki-laki hidung belang kalangan itu. Tetapi istrinya juga bercanda-canda (yang tentu juga dilakukan istri-istri lain) dengan lelaki-lelaki itu, berkenes-kenesan dan minum-minum ataupun membiarkan dirinya dicium di tempat tersembunyi di ruangan pesta.

Mungkin Mayor Hanika tidak salah jika ia mempertanggungjawabkan sebagian kegagalan perkawinannya dan juga kematiannya nanti kepada mereka. Suatu kesalahan yang tidak dapat dibuktikan dan tidak menurut hukum, akan tetapi dalam persidangan merupakan sesuatu yang begitu nyata sehingga seakan-akan semua “orang ketiga”. Jadi seluruh kalangan atas itu pun ikut diadili.

Juga buku hariannya yang diberinya judul “Perkawinan saya, bagaimana mulainya dan kehancurannya. Ditulis untuk keterangan dan nasehat bagi orang lain”, dibacakan di ruang sidang.

Di dalam buku ini diceritakan Hanika bagaimana istrinya suka dandan, kesenangannya memburu kesenangan, dan juga membentangkan situasi materialnya. Jika dalam surat ada tuduhan terhadap kalangan atas, maka di dalam buku ada tuduhan terhadap negara, yang hanya membayar perwira dengan sedikit, akan tetapi mengharapkan cara hidup yang sesuai pangkat.

Hubungan Hanika dan istrinya sama keadaannya seperti diceritakan dalam surat terakhir dan buku harian. Dua bagian dari buku harian dibacakan.

Sesudah pesta dansa, pada waktu mana istrinya telah bercium-ciuman dengan seorang laki-laki yang tidak di kenal, mereka bertengkar dalam perjalanan pulang. Ibu mertua mencampuri pertengkaran itu. Akhirnya peristiwa itu di rumah membesar menjadi skandal, cerita Hanika.

“Jika saya tidak tetap tenang, maka pertengkaran akan berakhir mengerikan. Karena saya panas maka semuanya yang pernah saya dengar tentang keluarganya, ibunya, saya teriakkan kepada mereka berdua. Kemudian saya pergi. Waktu itu jam 5 pagi. Sejam kemudian, saya kembali. Rencana untuk tidak pulang lagi pun saya ubah. Hanya untuk menghindarkan terjadinya skandal yang diketahui semua orang. Hanya berdasarkan sebab ini, maka saya meminta maaf kepada istri saya dan ibunya dan dengan demikian membuktikan cinta saya yang murni pada istriku, meskipun saya harus mengorbankan kehormatan saya.

“Saya sudah begini disakiti oleh kelakuannya, sehingga mungkin saya tidak tahan lama-lama lagi dan akan menyetujui hal yang paling nista perceraian. Saya kira inilah yang dikehendaki istri saya, sebab kelakuannya membuktikan sangkaan saya itu. Jika harus hidup demikian, lebih baik terhina dan bercerai.”

Hilde Hanika menunjukkan kalimat-kalimat ini, tertera di situ bahwa sebenarnya ia tidak usah membunuh suaminya, ia toh akan pergi.

Tetapi Hanika yang kadang-kadang berpikir untuk lebih baik bercerai, juga menceritakan bahwa ia meninggalkan rumah pada jam 5 pagi untuk tidak kembali lagi, toh datang kembali 1 jam kemudian untuk menghindari skandal.

Ia tidak menghendaki skandal, tidak mau perceraian, ia ingin tetap memiliki istrinya yang sangat dicintainya. Dalam suratnya yang terakhir ia menulis, “Aku tidak dapat menyetujui, sebab cintaku tidak hanya di permukaan saja….”

Meskipun demikian seorang rekan mengatakan di depan pengadilan, “Mayor Hanika mudah sekali terganggu. Telah saya perhatikan bahwa jika ada teman-teman datang, Hanika segera berdempetan dengan istrinya. Ia senang sekali mengelus-elus istrinya di muka umum. Kini saya mengerti mengapa. Ia hanya dapat berbuat demikian jika ada orang lain. Waktu teman-teman pergi, ia tidak dapat berbuat demikian lagi. Nyonya Charvat pernah mengeluh bahwa Hanika menyakiti anaknya, meskipun tidak badaniah. Hanika selalu mengingini istrinya sehingga istrinya malahan tidak mau.”

Pengacara telah menasihatkan Hilde Hanika untuk meninggalkan suaminya dan baru kembali jika ada perintah pengadilan, kemudian pergi lagi dan memaksa suaminya untuk menyetujui perceraian.

Hilde Hanika menuruti nasihat ini, ia pergi, tetapi dipanggil kembali oleh ibunya. Mereka rukun sebentar. Kemudian pertengkaran dimulai lagi. Hilde pergi ke Franzensbad untuk berobat. Waktu ia pulang, ia mampir di Praha. Hal ini menyebabkan pertengkaran baru dan menjadi sebab surat Hanika yang terakhir. Hilde pergi lagi. Ia pergi ke Marienbad, hanya untuk beberapa hari, akan tetapi ia masih mempunyai cukup waktu, untuk pergi ke Nosakov pada tanggal 25 Agustus, mengunjungi sepupunya Johann Vesely. Ia ini seorang lelaki yang berumur 19 tahun, mukanya lonjong, rambut cokelat, dan mata biru. Johann mencintai Hilde sejak kecil. Ia seperti lilin di tangan Hilde, mudah dibentuk.

Pada tanggal 27 Agustus ia kembali ke Bruenn. 

Pada tanggal 3 September suami yang mengganggu sudah meninggal.

Johann Vesely ditangkap pada tanggal 11 September di Seize dekat Banska Bistrica di Slowakia, di rumah seorang masih keluarganya yang bernama Brazda.

Ia segera mengaku telah melakukan pembunuhan. Ia menyatakan bahwa ia akan bunuh diri jika sampai ditangkap. Ia menyangka bahwa ia akan melihat agen-agen polisi dari kejauhan jika mereka mengambilnya, jadi ia masih sempat pergi ke tempat penyimpanan alat-alat dan menembak dirinya di situ.

Di tempat alat-alat memang ditemukan pistol dan dua surat perpisahan, yang sebuah untuk orang tua Vesely dan yang lain untuk Hilde Hanika. Memang dapat dilihat bahwa ia telah mempersiapkan itu semuanya.

Vesely tidak mengaku bahwa Hilde Hanika dan Nyonya Charvat juga mengetahui rencananya. Ia menyatakan bahwa ia telah melakukan kejahatan itu karena ia tidak puas dengan pekerjaannya dan tidak mempunyai harapan untuk menemukan yang Iain. Lalu ia memutuskan untuk mati saja dan bahwa ia ingin mengajak Mayor Hanika. Ia mencintai sepupunya sejak kecil dan ia ikut sedih memikirkan perkawinan sepupunya yang tidak berbahagia.

Vesely dibawa ke Bruenn. Di sana dikatakan kepadanya bahwa ia pergi membeli pistol bersama Hilde Hanika dan juga bahwa polisi mengetahui bahwa ia berada di Bruenn sejenak sebelum pembunuhan dilakukan. Keterangan bahwa Hilde mempunyai hubungan intim dengan laki-laki lain, sangat menyedihkannya. Mula-mula ia tidak percaya. Tetapi komisaris polisi mengatakan bahwa hal itu sudah tidak usah diragukan lagi karena ketahuan tetangga di depan rumahnya.

Polisi mengatakan kepada Vesely, bahwa mungkin Hilde Hanika ingin membebaskan diri dari suami yang mengganggu hanya untuk dapat berhubungan dengan leluasa dengan lelaki lain. Ia juga mungkin ingin menikmati uang sejumlah 30.000 kronen, asuransi jiwa sang Mayor. Mereka menerangkan kepada anak laki-laki yang berumur 19 tahun itu, Hilde tidak sesuci yang diduganya.

Vesely menarik kembali keterangannya yang pertama dan memberi pengakuan yang panjang lebar. 

Kini ia mengatakan bahwa Hilde Hanika dan ibunya telah meminta dengan sangat agar ia membunuh Mayor Hanika. Waktu Hilde Hanika mengunjunginya pada tanggal 25 Agustus di Nosakov di Böhmen, ia menceritakan kesedihan perkawinannya, bahwa suaminya sangat cemburu dan selalu mengumpatinya. Kemudian Hilde mengatakan bahwa ia tidak dapat hidup dengan suaminya itu lagi.

Akhirnya ia telah mengajukan pertanyaan kepada Vesely, apakah ia tidak mau membunuh suaminya. 

Vesely menjawab, “Sukar bagiku, tidak tahu bagaimana caranya.”

“Mungkin dengan menembaknya,” saran Hilde Hanika. Ia tidak memberikan waktu untuk berpikir bagi Vesely dan menjanjikan tempat kerja di sebuah bank di Bruenn. Vesely bertanya bagaimana ia harus melakukan kejahatan itu. Menurut Hilde, Vesely harus pergi mengikuti Mayor ke tempat latihan dan menembaknya di sana. Orang akan mengira bahwa ia telah ditembak oleh seorang prajurit.

Pada tanggal 27 Agustus maka keduanya, Hilde Hanika dan sepupunya, pergi ke Praha dan kemudian ke Bruenn. Dari stasiun mereka langsung ke rumah. Mayor sudah berangkat ke tempat latihan. Nyonya Charvat diberitahu maksud mereka dan sama sekali tidak menunjukkan rasa heran dan tidak mencoba untuk menasihati anaknya agar jangan berbuat demikian. Ia malahan tidak yakin Vesely dapat mengerjakannya. Nyonya Hanika menjawab bahwa Vesely telah berjanji. Lalu sekali lagi Vesely berjanji bahwa ia akan membunuh Mayor. Sebenarnya ia mengharapkan bahwa hal itu jangan sampai terjadi, karena wanita-wanita itu tidak dapat menyediakan senjata. Pada malam hari ia disuruh ke luar rumah, karena kedua wanita itu menunggu datangnya seorang tamu. Mereka tidak menghendaki bahwa tamu tadi, yakni seorang dokter, melihatnya.

Pada pagi berikutnya segera dicoba untuk membeli sebuah revolver. Percobaan pertama tidak berhasil, karena tanpa izin membeli senjata, tidak dapat dibeli revolver itu. Nyonya Hanika kemudian mengunjungi seorang kenalan dan mengatakan bahwa Vesely menginginkan sebuah revolver untuk hari jadinya. Sehingga kemudian atas nama kenalan tadi, dibelilah revolver. Vesely dipaksa oleh Hilde dan Nyonya Charvat agar membunuh Mayor pada hari berikutnya.

Vesely menceritakan bahwa ia beberapa kali pergi ke sekeliling daerah itu dan kembali tanpa melakukan sesuatu. Pernah ia mengatakan bahwa ia tidak melakukannya karena katanya ia tidak dapat menemukan Mayor. Kali lainnya, ia melihat Mayor dikawal oleh seorang prajurit dan oleh karena itu ia tidak dapat menembaknya.

Kemudian Nyonya Hanika meminta pistolnya. Ia hendak bunuh diri. Tentu saja ia tidak memberikan senjata itu padanya. Atas perintah kedua wanita ia telah mengisi pistol dengan enam peluru, tetapi kemudian Nyonya Charvat meminta agar ia masih mengisikan peluru yang ketujuh. Vesely mengikuti perintah.

Pada tanggal 30 Mayor Hanika kembali ke Bruenn. Agar tidak bertemu dengannya, Hilde menginap di rumah seorang kenalan.

Vesely malam itu tidur di stasiun karena ia tidak boleh bertemu dengan Mayor. Pada hari berikutnya, Nyonya Charvat memerintahkannya agar ia menembak Mayor pada hari Sabtu tanggal 1 September pada pagi hari, jika Mayor pergi ke Spielberg. Ia berjanji untuk bertemu dengan Hilde di Obrovice, sebuah daerah dekat Bruenn. Hilde menangis dan sepanjang jalan ia meminta dan memperingatkan agar ia menepati janjinya. 

Sekali lagi Hilde menerangkan detail-detail pembunuhan. Karena diminta oleh Hilde, Vesely sekali lagi bersumpah agar ia menembak Hanika. Pada sore harinya ia berjanji bertemu dengan Nyonya Charvat di Dominikanerplatz. Pada kesempatan itu Nyonya Charvat mengatakan bahwa Hanika akan pergi ke tangsi Spielberg dan dari situ akan berangkat ke latihan.

Vesely benar-benar menunggu sang Mayor dan menemaninya ke Tangsi Spielberg. Mayor telah membicarakan latihan dengannya. Vesely mengatakan padanya bahwa ia tiba pada malam hari dan tidak pergi ke keluarganya karena tidak mau mengganggu mereka. Ia mengatakan selanjutnya bahwa ia pergi ke Bruenn, untuk meminta pertolongan Mayor mencarikan tempat kerja baginya. Meskipun sepanjang perjalanan ke Spielberg ada banyak kesempatan untuk melakukan penembakan, ia tidak melakukannya karena tidak sampai hati.

Kemudian ia mendapat 70 kronen dari bibinya dan pergi lagi menemui Mayor. Ia mengatakan bahwa ia datang untuk melihat latihan. Ia sendiri bersama Mayor selama 2 jam, akan tetapi meskipun demikian toh tidak dapat melakukannya.

Segera sesudah Vesely pulang, Mayor Hanika bersepeda ke Bruenn. Di rumah ada tamu dan Hanika meminta agar istrinya ikut ke kamar sebelah dengannya, karena ia ingin berbicara. Tetapi Hilde Hanika mengunci diri di dalam kamar mandi. Mayor Hanika meminta istrinya agar membuka pintu dan memperlihatkan kepalanya sedikit saja saja. Nyonya Hanika kemudian menceritakan bahwa ia takut suaminya menembaknya jika ia memperlihatkan kepalanya, sebab katanya ia juga mendengar suara pistol dikokang. Mayor Hanika kembali ke tempat latihan tanpa berbicara dengan istrinya. Sesudah ia pergi, Hilde pergi dengan ibunya dan dokter ke bioskop.

Vesely baru pada malam hari datang ke rumah kedua wanita itu. Pembantu mereka yang menerimanya. Si pembantu menceritakan bahwa atas perintah Nyonya Charvat, Mayor hendak menembak istrinya.

Vesely memainkan gramafon sejenak dan kemudian ia tidur.

Pada pagi harinya tanggal 3 September, Hilde Hanika dan Nyonya Charvat meminta dengan sangat agar ia melakukan pembunuhan. Vesely tidak melihat jalan keluar lagi dan pada jam 10 pagi pergi ke Boskovice. Dari situ ia pergi ke Ujezd. Di sebuah restoran ia mendengar bahwa Hanika akan masuk kembali dengan batalionnya pada jam 5 sore. Ia menanti di dekat desa sampai kelompok tadi kembali ke desa. Pada jam 6 ia pergi ke rumah Mayor, akan tetapi pembantunya tidak mau menerimanya, karena Mayor sedang tidur. Vesely tidak mau diperlakukan demikian, ia membangunkan Mayor dan mengatakan bahwa istrinya sakit jadi ia harus segera ke Bruenn.

Kedua laki-laki pergi bersama. Tadinya mereka berjalan di jalan besar, kemudian berbelok ke jalan kecil yang menuju ke Stasiun Skalice-Boskovice. Karena jalan itu memang sangat kecil mereka berjalan beriringan. Mayor di depan dan Vesely di belakangnya. Vesely menunggu kesempatan yang baik dan dari jarak satu setengah langkah ia menembak Mayor. Tembakan ini telah mengenai Mayor di kepala. Mayor langsung jatuh. Dari pistol Vesely terlepas sebuah tembakan lagi, yang mengenai Mayor di bahu. Hanika masih bergerak sejenak, akan tetapi tidak bicara lagi. Kemudian Vesely memegang Mayor pada kaki dan menyeretnya melewati beberapa deretan tanaman kentang ke sebuah ladang. Lalu ia berjalan ke stasiun Skalice-Boskovice yang tidak begitu jauh dari situ.

Pada jam 11 Vesely datang di Bruenn. Ia segera pergi ke Froehlichergasse. Pintu rumah dikunci. Tetapi Nyonya Charvat melemparkan kunci, sewaktu ia bersiul. Di atas, pintu dibuka oleh Nyonya Charvat sendiri.

“Saya telah menembak laki-laki itu dan tidak mempunyai uang. Saya meminta uang, Bibi, untuk pergi ke Slowakia.”

Wanita-wanita itu tidak mempercayainya. Sebab sudah ditentukan bahwa ia hanya kembali ke Bruenn jika ia tidak melakukan kejahatan. Tetapi jika pembunuhan berhasil, maka wanita-wanita itu menyarankan agar Vesely bunuh diri di situ juga atau langsung pergi ke Slowakia. Andai kata ia bunuh diri telah disiapkan kedua surat yang akan ditemukan pada Vesely jika ia mati. Surat itu akan ditemukan di dalam tempat alat-alat waktu ia ditangkap. Sepupunya telah menulis naskahnya sewaktu ia sedang menyeterika. Sesudah Vesely menulis surat-surat itu dengan baik-baik, maka naskah disobek oleh Nyonya Charvat.

Nyonya Charvat kemudian memberinya 100 kronen, dan sekali lagi bertanya, di mana dan bagaimana ia telah mengerjakannya itu. Tampaknya ia biasa-biasa saja mendengar berita itu. Baru waktu Vesely meminta diri, wanita-wanita itu menangis. Mereka memintanya untuk menulis, berjanji untuk mencarikan pekerjaan dan akan mengirim 500 kronen ke Slowakia. Vesely pergi ke Seize ke seorang sepupunya.

Pengakuan Vesely merupakan pengakuan yang sejati. Tentu saja seseorang anak laki-laki yang datang dari desa dan tidak berpengalaman bisa menjadi alat seseorang seperti Hilde. Bahkan yang berpendidikan sebagai Hanika pun tunduk padanya.

Semua pertanyaan polisi Bruenne dijawab oleh Vesely tanpa ragu-ragu dan tanpa membantah. Pada waktu dihadapkan dengan kedua wanita tadi, ia mengulangi pengakuan-pengakuannya dengan mendetail dan tenang. 

Tuduhan terhadap Hilde Hanika dan Franziska Charvat didasarkan atas pengakuan Vesely.

Di bangku juri duduk tukang batu dari Nultsch, tukang leding dari Holaseck, tukang batu dari Sebrovice, pedagang dari Austerlitz dan Bohonice, pemilik restoran dari GrossPavlovice, pemilik hotel dari Ivanovice, pemilik apotik dari Bruenn, petani dari Leskov dan Auspitz, seorang buruh dan penjaga rumah dari Bruenn. Semua orang-orang dari pedesaan dan berpenghasilan rendah melihat Hilde Hanika sebagai sesuatu yang menimbulkan amarah. Mereka percaya bahwa Hilde dapat berbuat sesuka hati dan menyuruh melakukan pembunuhan.

Di depan gedung pengadilan penuh sesak orang berteriak, “Gantunglah wanita-wanita itu!” 

Teriakan itu sampai ke ruang sidang. Publik yang duduk di situ diam, akan tetapi berpikir bersama.

Proses dimulai dengan permintaan pembela untuk mengundurkan sidang dan memindahkannya ke kota lain. Semua sudah berprasangka karena perasaan yang tidak tenang di Bruenn, oleh artikel-artikel di dalam koran-koran, sehingga juri seakan-akan sudah terpengaruh.

Pengadilan menolak permintaan karena kota lain pun tidak akan lebih menjamin objektivitas juri dari pada juri di Bruenn. 

Yang pertama didengar adalah Johann Vesely. Surat-surat perpisahannya dibacakan. Surat-surat yang katanya didiktekan oleh Hilde Hanika, sewaktu ia sedang menyeterika. Surat kepada Hilde berbunyi:

Hilduschka yang manis! 

Sebagaimana saya telah mendengar di Praha dan dapat membuktikannya sendiri waktu saya datang ke Bruenn, Karl seorang yang tidak baik dan engkau sangat tidak bahagia. Maka saya berpikir, bahwa kesusahanmu itu dapat saya gabungkan dengan kesusahanku. Saya ingin membebaskanmu. Engkau mengetahui bukan, bahwa orang tua saya menyangka bahwa saya bekerja pada seorang pengacara, padahal saya menjadi pesuruh belaka. Dalam zaman sulit mencari kerja tidak ada harapan yang lebih baik. Saya tidak bisa kembali ke rumah. Saya ingin menghabiskan hidup ini. Sebelum saya mengerjakan itu saya ingin membebaskanmu dahulu. Jadi apa yang saya lakukan itu sedikit-dikitnya dapat menolongmu. Saya ingin bahwa engkau mempunyai masa depan yang lebih baik dari pada saya. Saya mengerjakannya, sebab engkau pun tahu bukan, saya sudah sejak umur 6 tahun cinta padamu dan saya hanya memikirkan kebahagiaanmu.

Hilduschka, saya memohon dengan sangat, bahwa engkau meletakkan bunga di kuburanku pada hari saya dikuburkan. 

Johann

Surat kepada orang tua diakhiri dengan kalimat-kalimat: 

Permintaan saya yang terakhir kepada kalian adalah membawa saya dari Votice dengan kereta jenazah dan harus ditarik oleh Karla dan kuda hitam tetangga kita. Berikan juga iringan musik. Kalian mengetahui bahwa saya senang musik dan juga senang kuda. Saya sangat berterima kasih kepada kalian, salam kepada semua teman, si Toni, Christa, Mana. Semoga Tuhan beserta kalian! 

Johann

Dalam pengakuannya Vesely tetap mengatakan bahwa kedua wanita itulah yang dengan sistematis menyuruhnya membunuh. la tidak dapat menarik diri dari pengaruh Hilde. la menceritakan bagaimana kesannya mengenai kedua wanita itu pada waktu ia menceritakan bahwa ia telah membunuh. Waktu mereka mendengar keberhasilannya dalam membunuh Mayor, mata mereka bersinar-sinar.

Kemudian disusul dengan keterangan dari Hilde Hanika. Ia menceritakan perkenalannya dengan Hanika dan perkawinannya. Vesely telah mengatakan bahwa ia akan mencoba membujuk suaminya agar bercerai. Vesely kasihan padanya.

Selama pemeriksaan tiba-tiba Nyonya Hanika pingsan. Waktu ia sadar kembali, ia menyatakan bahwa sebelum ia bepergian untuk yang terakhir kali, suaminya memaksanya untuk bersetubuh. Suaminya juga mengancam akan mengadukan ibunya karena ia melakukan aborsi jika ia tidak mau menggaulinya.

Pembela Nyonya Hanika mengajukan permintaan, agar ditetapkan oleh pengadilan bahwa Nyonya Hanika sedang hamil 6 bulan. Pengadilan menyetujui permintaan itu. Sidang ditunda dan dokter pengadilan menyatakan bahwa Nyonya Hanika memang hamil sejak kira-kira bulan Agustus.

Jika pembela mengharapkan bahwa pemerasan seksual oleh sang suami itu menimbulkan rasa belas kasihan, maka harapannya itu ternyata sama sekali hampa.

Publik malahan mengejek dan harus ditertibkan. 

Siapa yang membuat Nyonya Hanika hamil di bulan Agustus? Oleh suaminya, oleh kekasihnya yang dokter? Oleh Vesely?

Waktu ruang sidang sudah tenang kembali, Hilde Hanika meneruskan keterangannya. la melukiskan kesan yang didapatnya waktu ia dan ibunya mendengar berita kematian. Ia tidak membuat pengaduan, karena Vesely telah membunuh dengan sebuah pistol yang dibelinya. Meskipun pistol sebenarnya merupakan hadiah hari jadi, tetapi ia takut akan terlibat dalam hal itu.

Pada pagi pembunuhan ia berada di tempat tidur. Sore hari ia membaca pembunuhan Hanika di koran-koran. Ia menyuruh memanggil dokter temannya dan pergi ke tangsi untuk mengetahui duduk perkara lebih lanjut. Di tangsi tidak diketahui apa-apa. Ia pulang ke rumah dan kemudian datang seorang pegawai reskrim yang membawa dia dan ibunya ke balai kota.

Hilde Hanika kini dihadapkan dengan Johannes Vesely. Yang dibicarakan adalah perundingan di Nosakov dan permintaan untuk membunuh. Nyonya Hanika menyatakan:

“Saya hanya mengatakan, bahwa saya tidak dapat hidup lagi dengan suami saya! Tidak ada hal lain yang dibicarakan. Kami duduk-duduk di sebuah lapangan. Vesely tertidur. Saya memandangnya. Sesudah itu kami pulang. Saya mengatakan sekali lagi bahwa saya harus tahan hidup susah.”

Ketua: “Tidakkah Anda meminta agar ia membebaskan Anda?” 

“Tidak.”

 “Tidak dibicarakan penembakan suami Anda?” 

“Tidak.”

“Apakah yang dikatakan Vesely?” 

Ia berkata, “Suamimu telah menjanjikan saya pekerjaan di Slowakia. Saya akan pergi denganmu ke Bruenn.”

Ketua bertanya kepada Vesely: “Tertuduh, benarkah itu?” 

Vesely: “Semua itu tidak benar. Sampai-sampai keterangan duduk-duduk di lapangan. Saya tidak dapat duduk di lapangan, karena di sana hanya ada ladang-ladang.”

Hilde Hanika dengan agak marah, “Duduklah dan jangan berdusta. Engkau tentu mengira, jika engkau berdusta maka engkau akan bebas!” Kemudian ia berkata kepada Ketua, “Waktu dihadapkan untuk pertama kali, maka hakim berkata ‘Jangan takut, Vesely. Anda mempunyai pembela yang baik. Anda akan pulang sebagai seorang bebas.’”

Ketua: “Hakim akan saya dengar mengenai hal itu. Vesely, katakanlah dengan terus terang apa yang telah terjadi di Nosakov.”

Vesely: “Engkau dahulu mengeluh bahwa suamimu selalu mengumpat-umpatmu.” 

Hilde Hanika: “Itu bohong!” 

Vesely: “Engkau belum berkata sepatah yang benar.”

Ketua bertanya pada Hanika: “Apakah Anda memintanya agar pergi ke Bruenn?” 

Hilde Hanika: “Saya tidak dapat memintanya untuk pergi ke Bruenn, karena saya mengetahui bahwa ibu tidak mengharapkannya dan ia akan marah jika ia ikut.”

Vesely berteriak pada Hanika: “Engkau telah menyeret saya dari Praha ke Bruenn agar saya membunuh seorang manusia. Itu toh tidak akan saya lakukan atas kemauan sendiri. Kini engkau menangis, karena engkau tidak tahu apa yang harus engkau katakan. Kemarin engkau meloncat-loncat kesenangan dan berkata ‘Ibu, jangan dipikirkan. Kepala kita tidak dapat dipenggalnya.’”

Seorang dari juri bertanya pada Hanika: “Waktu menikah, apakah Anda mengetahui berapa sebenarnya uang yang dimiliki suami Anda?” 

Hanika mengira akan mendapat 1.000 kronen (125 Mark). 

“Anda mendapat bekal pernikahan?” tanya anggota juri tadi. 

“Hanya barang-barang. Saya mengharapkan bantuan uang dari Ibu. la berkenalan dengan seorang lelaki kaya.”

Anggota juri: “Anda menyangka bahwa anda dapat mendirikan rumah tangga dengan bantuan seorang lelaki yang kaya itu. Itu suatu hal yang aneh sekali.”

Kemudian Nyonya Charvat didengar keterangannya. la merasa dirinya tidak bersalah. la melukiskan keadaan perkawinan keluarga Hanika seperti apa yang telah dilukiskan oleh anaknya. la menceritakan bahwa Vesely selalu begitu mesra terhadap Hilde, sehingga Mayor cemburu. Apakah Hilde mempunyai hubungan intim dengan Vesely tidak diketahuinya. la selalu menyembunyikan Vesely agar Mayor tidak mengetahui bahwa Vesely telah datang bersama anaknya. la telah meminta Vesely agar pulang saja. Waktu Vesely mendengar bahwa Mayor hendak menembak Hilde pada Minggu sore, maka ia tidak tahan lagi dan ingin menembak Hanika dan kemudian diri sendiri. Lalu Nyonya Charvat menjawab: “Jangan mencampuri urusan Mayor! Biarkan saja dan janganlah menembak dirimu. Engkau muda, pulanglah. Hilde jangan kau pikirkan.”

Ketua memperingatkan Nyonya Charvat bahwa waktu didengar keterangannya oleh polisi, ia mengatakan kepada kemenakannya bahwa Mayor telah menyetujui perceraian.

Charvat: “Ya, kami telah menceritakan itu padanya.”

“Meskipun demikian, ia masih juga ingin menembak Mayor?” 

Nyonya Charvat nampak kebingungan. Pernyataan bohong bahwa Hanika setuju dengan perceraian dan oleh karena itu tidak ada alasan untuk menyuruh seseorang membunuhnya, kini menjadi bumerang dan merusak keterangan yang lain.

Nyonya Charvat mulai berkata: “Yah, Johann mengatakan sendiri bahwa ia sudah tidak ingin hidup. Akan tetapi ia masih ingin berguna bagi seseorang. Saya menasihatinya bahwa ia jangan berbuat demikian!” 

Ketua belum mau menyerah: “Jika Mayor Hanika setuju dengan perceraian, atas dasar apa maka Vesely ingin menembaknya?”

Franziska Charvat agak bingung: “Karena ia senang pada Hilde. Lagipula ia tidak mendapat uang dari rumah. Ia berkata bahwa hidup baginya sudah tidak berguna lagi”.

“Anda tidak mengambil pistol darinya waktu Anda mengetahui bahwa ia ingin bunuh diri?” 

“Itu urusan dia.” 

“Kapan dan ke mana Vesely pergi pada hari Senin?” 

“Ia pergi pada pagi hari, saya kira ke Böhmen.”

“Ia tidak kembali lagi?” 

“Ia kembali di malam hari.” 

Ketua mengatakan: “Baik, jika keadaan memang demikian. Anda telah menceritakan banyak hal, tetapi saya tidak percaya keterangan itu.”

Pembela Nyonya Charvat berdiri. Ia tidak setuju dengan Ketua karena telah menyatakan pendiriannya bahwa Nyonya Charvat ikut bersalah. 

Tetapi percuma, karena pernyataan tidak setuju terhadap seorang anggota pengadilan menurut peraturan harus diajukan 24 jam sebelum sidang dimulai, maka pernyataan tidak setuju tidak diterima.

Proses diteruskan. Pada waktu Vesely dihadapkan dengan Nyonya Charvat, maka terjadi hal yang sama seperti pada waktu Vesely dihadapkan dengan Hilde Hanika.

Pengadilan mempunyai sepucuk surat yang pernah dikirimkan Nyonya Charvat kepada anaknya:

Hilduschka sayang, 

Engkau nampak sakit. Coba makanlah makanan penjara.

Waktu saya diminta keterangan saya telah melihat Johann. Ia juga melihatku. Tetapi kami tidak saling menegur. Saya takut bahwa ia dapat mengkhianati kita dan bahwa ia akan mengatakan hari-hari lain sebagai hari di waktu ia berada di tempat kita. Jadi bukan Selasa dan Jumat. Saya tidak akan mengaku yang Iain-lain. Seorang lelaki telah mengatakan kepadaku bahwa Vesely akan mengaku semua. Hilduschka sayang, makanlah. 

Banyak-banyak cium, 

Ibu

Kemudian Vesely didengar keterangannya tentang percobaan memberi racun yang dikatakan telah dilakukan oleh Nyonya Charvat dan anaknya. Kata Vesely, Nyonya Charvat pernah mengatakan bahwa ia dahulu pernah mencoba membunuh Mayor dengan cara memberi kue yang beracun kepadanya. Nyonya Charvat mengingkari bahwa ia pernah mengatakan demikian. Pembela mengatakan bahwa penuduhan tidak didasarkan percobaan pembunuhan ini. Jaksa mengatakan bahwa hal itu hanya dibicarakan di sini untuk melihat apakah Vesely terus terang.

Pada sidang sore hari itu juga, Dr. Goller, salah seorang pembela Nyonya Hanika mengeluarkan buku harian Mayor. Buku ini ia temukan di rumah Nyonya Hanika. Polisi tidak menemukannya. Pembantu Franziska Charvat didengar kesaksiannya. Wanita ini mengatakan bahwa pada malam sebelum kejadian, atas perintah Nyonya Charvat, ia telah mengatakan kepada Vesely bahwa Mayor hendak menembak istrinya. Vesely tidak mengatakan apa-apa. Ia mendengarkan gramafon kemudian tidur. Pada malam pembunuhan ia tidak mendengar Vesely pulang. Nyonya Charvat telah membangunkannya di malam buta dan memerintahkan agar tidak mengatakan bahwa Vesely berada di situ “jika terjadi sesuatu”. Kedua wanita itu, kata saksi, sesorean berada di rumah, tidak bingung, tetapi berlaku sebagai biasa. Pada sore hari koran datang dan yang mengantar mengatakan bahwa Mayor telah dibunuh.

“Saya pergi ke kamar dan mengisyaratkan Nyonya Charvat agar ia harus menyuruh anaknya keluar kamar. Kemudian saya mengatakan apa yang dikatakan pengantar koran. Sementara itu Nyonya Hanika masuk kembali. Nyonya Charvat menyampaikan berita itu kepada anaknya. Nyonya Hanika mengambil koran dan membacanya. Apakah itu benar? Ia tidak menangis. Hanya Nyonya Charvat yang menangis”

Ketua: “Apakah Anda percaya bahwa itu bukan air mata buaya?” 

Saksi: “Waktu itu saya percaya.”

“Kapan Anda tidak percaya lagi?” 

“Waktu semua terungkap.” 

“Apakah Anda tidak melihat bahwa kedua wanita itu telah bersiap-siap sewaktu Anda datang dengan berita tentang pembunuhan Mayor?”

“Waktu itu belum, tetapi kini saya percaya, bahwa mereka sudah mengetahuinya.”

Seorang saksi lain ditanya apa kesannya waktu Charvat menangis. 

“Tidak berkesan sama sekali. Hakim C (pada waktu diminta keterangan) telah menyatakan bahwa menangisnya itu hanyalah pura-pura belaka. Ia telah mengatakan kepada saya: “Jika wanita-wanita itu mengatakan ‘Syukurlah! Kita telah membunuhnya’, itu lebih normal.”

Seorang rekan Nyonya Hanika yang bekerja sama di dalam toko memberi keterangan: “Saya pernah mengalami bahwa ia berdusta.”

Pembela: “Apakah Anda menganggapnya sebagai seseorang yang suka berbohong?” 

“Saya mempunyai kesan, bahwa ia sama sekali tidak dapat dipercaya.”

Pembela: “Anda tidak dapat mempercayainya sampai mati?” 

“Saya tidak dapat mempercayainya lagi.”

Penjaga penjara ditanya apakah benar bahwa Hilde Hanika, seperti yang dikatakan Vesely, sebelum proses dimulai sangat gembira dan meloncat-loncat sambil mengatakan “Ibu, jangan dipikirkan. Kepala kita tidak dapat dipenggal.”

Saksi tidak melihat sesuatu yang menarik perhatian pada Hilde Hanika. Ia telah meredakan Ibunya yang menangis dan memberinya kekuatan.

Dokter teman Hilde, yang juga didengar kesaksian, menjawab pertanyaan Ketua soal hubungannya dengan Hilde. “Kami teman dekat,” jawabnya. 

Ketua: “Juga hubungan intim?” 

Saksi: “Saya mohon agar tidak usah menjawab pertanyaan ini.”

Para tetangga depan Nyonya Hanika sering melihat melalui jendela, apa yang dilakukan Nyonya Hanika dan temannya. Jika Hilde Hanika bagaimanapun juga bersikeras lidah mempunyai hubungan intim dengan dokter, maka itu karena takut juri tambah marah. Nanti dikira suami dibunuh karena adanya kekasih dan anak yang dikandungnya adalah anak dokter.

Bahwa dokter tidak mau memberikan jawaban itu memberatkan. 

Pembela dr. Stephan: “Nyonya Hanika, saya bertanya demi nama Tuhan dan hati nurani Anda, siapakah bapak anak itu?” 

Nyonya Hanika mulai menangis. 

Dr. Stephan: “Apakah itu Mayor Hanika?” 

Nyonya Hanika sambil menangis: “Ya.”

Ketua: “Anda mendengar bahwa saya telah bertanya kepada Dokter S apakah ia mempunyai hubungan intim dengannya. Anda mendengar bahwa ia tidak mau menjawab hal itu. Anda juga mendengar bahwa ia mengaku, telah bermalam bersama Anda dua kali. Saya menanyakan Anda kini, apakah Anda mempunyai hubungan intim dengan Dokter S?”

Hilde Hanika: “Ia selalu berlaku sebagai seorang teman yang baik. Ia merasa kasihan pada saya. Saya tidak pernah mempunyai hubungan intim dengannya.” 

Menurut seorang pedagang perabot Nyonya Charvat telah membeli perabot seharga 2.000 kronen yang dibayarnya dengan menyicil.

Ketua pada Nyonya Charvat: “Dari tanggal 8 Juli 1922 sampai tanggal 23 Februari 1924 Anda dapat membayar 22.000 kronen?” 

Nyonya Charvat: “Saya telah mendapat uang tadi dari lelaki tersebut.” 

Ketua: “Nah, ia seorang yang baik hati benar!”

Permohonan untuk memeriksa keadaan psikis tertuduh Vesely mengingat akibat-akibat masa puber, ditolak oleh profesor universitas bernama Dr. Berka, karena masa puber itu tidak banyak memengaruhi keadaan seseorang. Selain misalnya saja mudah bingung, kurang tidur, merajuk dan Iain-lain.

Dengan itu pemeriksaan bukti ditutup. Jaksa dalam pledoinya melukiskan Johann Vesely sebagai seorang yang cinta kebenaran, Hilde Hanika dan Ibunya sebagai otaknya. Pembunuhan itu merupakan pembunuhan suruhan.

Tetapi juga Vesely bertanggung jawab penuh atas apa yang telah dilakukannya. Kejadian itu makin jahat, karena dilakukan atas perintah ibu mertua dan istri korban. Jaksa memperingatkan juri agar mereka berlaku sebagaimana mestinya terhadap para tertuduh.

Pembela Vesely, Dr. Baeuml berbicara: Johann Vesely tidak lebih bersalah daripada pistol yang ditekannya. Ia seorang yang suci dan sederhana. Ia telah menganggap orang yang merayunya secara setan itu sebagai seorang bidadari. Ia tidak berlaku atas kemauan sendiri. Wanita-wanita itu telah mempergunakan segala tipu daya agar menjerumuskan anak muda ini.

“Anda sekalianlah yang menentukan apakah kesalahan terletak dalam jiwa anak desa ini, yang masih suci, ataupun dalam hati sanubari jahat kedua wanita. Kita telah mendengar bahwa si wanita tua itu telah hidup dari apa yang diberikan seorang lelaki padanya. Oleh karena itu ia melakukan prostitusi. Ada perkara-perkara yang keputusan pengadilannya merupakan keputusan umum, keputusan masyarakat. Inilah perkara semacam itu! Anda tidak berhak untuk memutuskan lain dari pada membebaskan klien saya!”

“Saya mengetahui bahwa di depan gedung ini telah menunggu ratusan manusia untuk mendengar keputusan hakim. Saya yakin bahwa orang-orang itu akan berteriak kesenangan jika mereka mendengar bahwa Vesely dibebaskan.”

Dr. Stephan, pembela kedua wanita, mengatakan bahwa masyarakat telah dipengaruhi perasaannya terhadap kedua wanita tertuduh. Pembela Vesely terpengaruh oleh perasaan orang di jalan. Bagi pembela Vesely, kliennya hanyalah seorang anak laki-laki yang dirayu dan mempunyai motif idealistis. Vesely itu mendasarkan pembunuhan atas cintanya pada Hilde. Ia telah menyeret wanita yang dicintainya ke depan pengadilan. Jikalau ia tidak mendengar dari polisi, bahwa pujaannya itu mempunyai hubungan zina dengan seorang dokter, maka Hilde Hanika tidak akan berdiri di bangku tertuduh. Cemburu, itulah sebabnya mengapa Vesely telah membawa Hilde Hanika dalam keadaan hina ini.

Vesely sering berlagak bahwa ia pandai menembak. Sesudah melakukan pembunuhan, ia melewatkan waktu dengan latihan menembak di Slowakia. Jadi memang dapat dimengerti bahwa ia benar-benar menghendaki sebuah senjata. 

“Apakah Hilde harus membelikannya sebuah pistol agar ia membunuh suaminya? Apakah ia tidak bisa memberikan sebuah pistol dari suaminya? Justru hal ini yang menu" ["url"]=> string(70) "https://plus.intisari.grid.id/read/553753298/tragedi-sebuah-perkawinan" } ["sort"]=> array(1) { [0]=> int(1685097205000) } } }